A Tree Which Song Fruited

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 December 2015

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri yang baru seminggu menikah. Mereka bernama, Callesia dan Rovert. Mereka berdua sebelumnya adalah seorang janda dan duda. Masing-masing memiliki seorang anak perempuan. Nanalia anak si istri, dan Hanavel anak si suami. Mereka hidup bahagia di sebuah rumah yang cukup mewah, karena Rovert adalah seorang pekerja keras, sehingga dia amat kaya raya. Karena kekayaan itu, yang menjadi latar belakang Callesia menikahi Rovert. Sehingga Callesia tak pernah suka terhadap Hanavel, putri satu-satunya Rovert.

“Istriku, tak apa kan kau ku tinggalkan selama berhari-hari?” tanya Rovert memeluk erat Callesia.
“Oh suamiku, tak apa aku kau tinggalkan berhari-hari, karena aku tahu Kau dalam pekerjaan yang teramat penting. Maka dari itu aku rela, asalkan kau jaga diri baik baik. Doaku senantiasa mengiringimu,” jawab Callesia lalu mengecup kening suaminya itu.
“Ayah! Jaga diri baik-baik, Hanavel selalu mendoakanmu,” ucap Hanavel dengan tangisan membasahi pipinya.
“Ayah, Nanalia sayang Ayah,” sambung Nanalia. Lalu kedua anaknya pun mengecup pipi Rovert. Akhirnya Rovert pun pergi ke tempat pekerjaannya yang jauh itu. Perlahan sosoknya mulai hilang bak ditelan rimbunnya hutan.

Dua hari berlalu, Hanavel dan Nanalia sedang asyik bermain boneka peri mereka. Tampak akrab seolah mereka adalah Kakak beradik sedarah. Tiba-tiba, Callesia berteriak memanggil Nanalia dari dalam rumahnya. Nanalia pun meletakkan boneka perinya lalu masuk ke dalam rumah menemui Ibunya. Tak lama kemudian, Nanalia ke luar dari dalam rumah lalu pergi ke sebuah toko buah yang jaraknya cukup jauh. Hanavel yang sedang asyik sendirian bermain pun, tiba-tiba didekati oleh sesuatu yang cepat dan bercahaya.

Hanavel yang terkejut lalu hendak masuk ke rumah, namun langkahnya terhenti oleh sesuatu yang bercahaya itu. “Jangan takut Hanavel, Aku adalah peri. Kau bisa memanggilku Etena,” ucap makhluk yang ternyata Peri itu. Semenjak itu Hanavel dan Etena menjadi akrab tanpa sepengetahuan Callesia, dan Nanalia.
“Hanaveeel!!!” teriak Callesia memanggil Hanavel dari arah dapur. Dengan cepat Hanavel pun menuju dapur.
“Hanavel, tolong ambilkan jeruk itu di dalam peti itu!” perintah Callesia sambil meminum segelas teh.
“Baiklah Bu,” Hanavel pun mengiyakan perintah Ibu tirinya itu. Hanavel lalu membungkuk saat mengambil buah jeruk itu sehingga kepalanya berada di dalam peti.

“PRAAAKKK!!!”

Callesia menutup peti itu sekencang-kencangnya sampai kepala Hanavel putus dan bersimbah darah. Callesia rupanya berhasil menghilangkan nyawa Hanavel hanya dengan waktu yang sekejap. Dengan terburu-buru, Callesia si jahat pun membersihkan darah dan menyembunyikan jasad Hanavel di sebuah gudang.
“Buu!!” suara Nanalia mengagetkan Callesia. Dan Nanalia sangat terkejut kala melihat jasad Hanavel yang mengenaskan.

“Ibu.. Ibu apakan Hanavel?” tanya Nanalia perlahan menangis.
“Diam Nanalia sayang, sekarang Hanavel sudah tiada. Kau sekarang dapat berleluasa menguasai dan mendapatkan kasih sayang Ayah tirimu itu. Diam! Atau kau ku pukul!” ancam Callesia membuat Nanalia terpaksa tutup mulut atas kelakuan kejam Ibunya itu.

Rovert akhirnya pulang dengan sekarung emas dan berlian. Callesia dan Nanalia pun menyambut gembira kedatangannya.
“Kau pasti lapar sayangku, mari kita makan! Sudah ku siapkan!” ucap Callesia sembari memboyong Rovert menuju ruang makan. Di sana sudah tersaji makanan yang terlihat sangat lezat. Nanalia lalu pergi dengan alasan hendak ke kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Rovert segera melahap hidangan yang disediakan Istrinya itu.
“Bagaimana dagingnya sayangku? Enak bukan?” tanya Callesia.
“Ya, kau memang Istriku yang terbaik,” puji Rovert dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Tiba-tiba, seberkas cahaya berkilauan di pinggir rumah Rovert dan Callesia. Karena penasaran, mereka pun ke luar dan melihat apa yang terjadi. Ternyata, telah tumbuh pohon ajaib yang indah. Lalu, dari tangkainya munculah buahnya yang berwarna merah darah. Keajaiban terjadi di sini, buah itu mekar dan mengeluarkan sebuah nyanyian yang indah.
“Lalalalala… Ahahahahaha.. Dudududu.. Namaku Etena,” nyanyian terdengar sampai ke pusat Desa sehingga banyak warga datang menyaksikan kejadian ini.
“Malangnya, nasibmu. Temanku yang jelita.. Huhuhuhu.. Kau dirundung cinta di balik neraka..” tiba-tiba saja Rovert menanyakan Hanavel.

Namun buah itu kembali menyanyi sehingga Callesia tak menjawab.
“Ibumu membunuhmu. Ayahmu memakanmu. Oh malangnya.. Ha… Na.. Vel..” sontak apa yang terdengar itu membuat Rovert marah besar kepada Callesia. Callesia pun mengakui bahwa dia telah membunuh Hanavel dan menghidangkan jasadnya untuk Rovert.

“Ohh.. Ayahku. Maafkanlah istrimu. Tapi tolonglah.. Balaskanlah..” buah itu kembali menyanyi namun akhirnya buah itu layu dan hancur bersama dengan berakhirnya nyanyian itu.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen A Tree Which Song Fruited merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimensi

Oleh:
“Tapi sekarang aku cinta sama kamu Na” Arfan berkata agak keras karena Runa berada agak jauh darinya. Runa hanya diam. Memandang Arfan sebentar. “Jangan pergi” Arfan lari, tapi tiba-tiba

Menaklukkan Naga (Part 4)

Oleh:
Madfire si naga merah tiba di ibukota. Sesaat ia terlihat terbang berputar-putar di atas istana, seolah mengamati. Lalu si naga terbang lebih rendah. Geramannya menggema memekakan telinga siapa saja

Mawar dan Kekosongan

Oleh:
Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Kekosongan atas diri manusia. Pada dasarnya manusia itu sama saja. Sama-sama lemah dengan perasaan. Tidak ada

Tubuhmu Membiru

Oleh:
4 November, 3025 Suara-suara itu masih terdengar. Tidak sedikitpun membuat lamunanku buyar, justru membangkitkan hasratku yang besar, bergemuruh bagai suara tuntutan yang harus dibayar. Aku berdiri di sini, di

Rainy Girl

Oleh:
Namaku Anita, aku dikenal sebagai gadis pembawa hujan sekaligus gadis pembawa sial. “pergi kau dari tempat ini!” “Jangan ke sini… nanti pakaianku tidak bisa kering!” “Dasar, pembawa hujan sial!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *