Adventure Land (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

Di suatu desa hiduplah gadis kecil yang bernama twilight. Twilight memiliki kebun kecil di belakang rumahnya. Di tengah kebun itu ada sebuah pohon besar dan lebat. Konon, ada warga yang pernah melihat cahaya putih dari batang besar pohon itu. Tapi, itu tak membuat Twilight malas merawat tanamannya. Ia tetap merawatnya dengan baik, tak terkecuali pohon besar itu.

Sampai suatu malam, saat Twilight mengunjungi kebunnya untuk mengecek hasil tanamnya tadi pagi. Twilight mendekati pohon besar itu. Memandanginya untuk sesaat. Dan meraba batang kayunya yang kokoh. Ia tahu, tak sehat ketika malam seseorang berdiri di bawah pohon. Karena akan terganggu pernapasannya. Tapi, kali ini, pohon ini yang seolah memanggilnya untuk dekati ia. Hingga sebuah cahaya muncul secara tiba-tiba. Twilight tak begitu peduli dengan adanya cahaya ataupun tidak. Tapi yang pasti, sebuah energi antah berantah seolah menariknya ke dalam pohon itu. Twilight berusaha melawan arus elektromagnetik itu sekuat tenaga. Tapi tak bisa, ia berusaha pasrah.

“AAKKHH!” dentuman kecil yang membuatnya berteriak, tapi bukan karena sakit. Tepatnya Karena kaget. Ia mencoba menatap sekitar. Padang rumput luas terbentang. Beberapa hewan jinak berlalu lalang di sini.
“Di mana aku?” kata twilight pelan. Anehnya rumput yang ia duduki saat ini empuk seolah sofa. Twilight segera berdiri, saat ia berdiri, ia bisa melihat rumah yang unik bermunculan dari dalam tanah. Entah itu efek apa, tapi itu nyata.

“Hey!” tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. “Umm, selamat datang di Adventure Land.” Seorang laki-laki seusia dengannya, tak bisa dikatakan menyambut karena ia berkata dengan dingin. Twilight menarik nafas. Lelaki di hadapannya membuatnya sulit bernafas. Kedua bola mata cokelat itu menatapnya tajam. Memberikan sensasi tersendiri bagi Twilight. Ia bergeming di tempatnya. Jarak antara wajahnya dengan lelaki hanya berjarak satu langkah anak kecil.

“E’ hem!” Lelaki itu berdeham kencang. Mengalihkan pandanganya. Dan segera berjalan di depan Twilight. “Aku adalah utusan Raja Brave, untuk menjemputmu.”
“Menjemputku?” Twilight menaikan sebelah alisnya. Berpikir kembali. “Jadi…” Twilight masih berdiri di tempatnya. Membuat lelaki yang tadi berjalan di depannya tiba-tiba berhenti. “Kamu yang selama ini membuat pohon besarku mengeluarkan cahaya setiap malam?”
Lelaki berkaos abu-abu dengan jaket merah itu menepuk dahinya. Seolah merasa bersalah. “Ya, mungkin itu juga bagian dari tugasku.” Katanya tanpa menoleh ke belakang. Dari suaranya Twilight tahu dia berkata sambil meringis. “Sorry, kalo kamu takut gara-gara cahaya itu.” Sambung lelaki itu. Ia kembali berjalan. Twilight mengikuti langkahnya. Ia menatap laki-laki itu sebal.
‘Nggak sopan banget sih jadi cowok, ada aku di sini malah disuruh ngikutin dia. Mana aku nggak tahu namanya lagi. Cowok mana sih dia!?’ Umpatnya dalam hati.

“Hey, kamu!” Twilight memanggil lelaki itu, tapi ia tak berhenti melangkah. Membuat Twilight harus mengejarnya hingga ia berada di sisi lelaki itu.
“Apa?” Lelaki itu bertanya pendek tanpa memandang Twilight.
“Ish! Singkat banget sih jawab. Nama kamu siapa?” Tanya Twilight sebal. “Aku nggak tahu namamu, tiba-tiba ngikutin kamu. Jadi kayak aku kucing hilang aja.” Rutuknya sebal. Lelaki di sebelahnya tiba-tiba menarik dua sudut bibirnya. Ia tersenyum. Membuat seluruh amarah Twilight luruh. Meski Twilight tahu senyumnya belum tentu untuknya.
“Oh, kamu penasaran sama namaku?” Lelaki itu masih mengulum senyumnya. Semua mindset kalau dia adalah lelaki terdingin dalam pikiran Twilight melayang. ‘Ge-er banget nih cowok’
“Namaku Flash Malfoy, panggil aku Flash.” Setelah tanda titik dalam perkataannya ia kembali menyimpan senyumnya dan kembali stay cool.
“Oh, namaku..,” Twilight tiba-tiba terbungkam ketika sebuah awan hitam berputar-putar dihadapannya. Lelaki itu menoleh ke wajah Twilight.
“Twilight, aku tahu namamu. Tenanglah itu tak berbahaya.” Ucap Flash tenang. Dengan tatapan tajamnya membuat segala hal yang dia bicarakn dapat dipercaya. Twilight menarik senyumnya dan menganguk kecil.

“Zzzzzrtt!” Tiba-tiba dari tangan kanan Flash muncul sebuah petir kuning. Twilight menahan nafasnya. Terlalu membuatnya shock dengan segala keajaiban dunia ini. “Zzzuuung!” Petir itu ia lempar tepat pada awan hitam yang bergerak cepat di hadapannya. “Zzzrtt..” Terdengar bunyi tersetrum dari awan itu. Twilight membuka matanya lebih lebar. Bagaimana bisa sebuah awan berelektron dapat menerima elektron asing dengan mudah? Yang ada dibayangannya, akan ada ledakan hebat dari electron yang berbeda saling bertabrakan.
“Hey, Flash! Serampangan banget sih kamu!” Teriak seseorang dari balik awan hitam itu. “Kamu pikir nggak sakit apa?” gerutu suara itu. Tiba-tiba awan itu melayang pelan menuju tempat Flash berdiri. Twilight melangkah mundur. Tapi Flash tetap tenang menunggu awan itu benar-benar ada di hadapannya.
“Makanya, jangan berani-berani gangguin aku, dan siapapun yang lagi ada di sampingku.” Ucap Flash datar.

Tiba-tiba, dari awan itu munculah seorang lelaki berambut cokelat acak-acakan yang duduk di atas awan hitam. Pipinya tembam dan matanya yang hampir sipit karena dihimpit oleh pipinya.
“Walaupun yang di sampingmu itu musuh, Flash?” Ucap lelaki itu sambil memicingkn matanya ke arah Twilight. Gadis berambut panjangitu cepat tersadar. Dan mendekati awan hitam itu, ketika ia tahu itu tak berbahaya.
“Hey, siapa yang kamu maksud musuh?” tantang Twilight. “Aku bukan orng jahat tahu! Lu aja kali tuh yag jahat. Kege eran banget!” Ia hampir menyentuh awan hitam itu, sebelum Flash menahan tangannya.
“Jangan ceroboh, kau belum tahu apa-apa di sini.” Tangan Flash yang kuat menggenggam tangan kecil Twilight yang lembut. Twilight menatap mata Flash sejenak. Kemudian ia menarik kembali tangannya. dan menundukan kepala.
“Tuh kan, dia bukan orang yang baik. Tampangnya aja sok cantik tak berdosa, ternyata…,” Tambah lelaki yang duduk di atas awan hitam. Twilight meremas jemarinya sendiri. Dan menaikan kepala perlahan. Matanya nampak berkaca-kaca hampir menangis.
“Jahat! Don’t judge me under my cover!” Twilight berjalan cepat meninggalkan 2 lelaki yang menurutnya menyebalkan.
“Cih, cengeng. Sok banget bisa bahasa Inggris!” Gumam lelaki si pemilik awan hitam sambil memeletkan lidahnya.
“Shut up, Dash!” Ucap Flash datar tapi terkesan marah. Ia berlari mengejar Twilight yang sudah beberapa meter didepannya. Dash, nama lelaki pemilik awan hitam itu adalah Dash.
“Twilight! Wait!” Flash dapat mengejar Twilight dengan sangat mudah. “Twilight, please stop.” Ucap Flash sambil menarik pergelangan Twilight. Twilight berhenti, lebih tepatnya tertarik. Ia tertarik hingga Flash benar-benar ada di hadapannya yang berjarak satu langkah. Flash dapat mendengar intonasi nafas Twilight yang tak beraturan. Ia bisa mendengar isakan tangis Twilight yang berusaha ditahannya. Ia juga bisa mencium aroma khas Twilight, yang beraroma green tea.
“Maaf.” Flash berkata pendek. Ia masih menunggu Twilight untuk menunjukan wajahnya. “Ummm.., maaf, aku nggak tahu kalo kamu cengeng,” Flash tiba-tiba melotot. Ia menyadari kesalahan kata-katanya. Dia meringis.
“Aku nggak cengeng.” Twilight berkata mantap. Ia menaikan pandangannya, sampai bertemu dengan tatapan Flash. “Aku nggak cengeng tauk!” Ucapnya sambil memukul-mukul lengan Flash dengan tenaganya.
“Auw, auw.” Flash mengaduh kesakitan. Ia masih menatap wajah Twilight dengan pipinya yang masih terlihat basah Karen air mata. Ia tahu, apa yang dikatakan Twilight itu salah. Buktinya, matanya benar-benar sembab karena tangisannya.
“Makanya, kalo ngomong itu dijaga!” ucap Twilight masih memukul-mukul Flash.
“Iya, iya, maaf. Tadi kan, aku dah bilang. Lagian kamu nangis karena ucapan Dash kan? Bukan aku.” Lawan Flash.
“Dash?”
“Iya, namanya Dash, karena dia punya kekuatan angin mendung.”
“Oh, laki-laki sok kece itu.” Gumam Twilight. Ia menatap tanah yang ia pijak. Tiba-tiba, dari bawah kakinya muncul seekor kelinci putih dari dalam tanah. Kelinci itu menatap Twilight lama. Flash memandangi keduanya.
“Hey, Angel.” Gumam Flash.
“Flash! Flash! Kau lihat Angel?” Tanya seseorang yang melayang dari kejauhan. Ia perempuan. Dan kini ia sedang terbang.

Twilight membawa kelinci putih itu ke pelukannya. Dan kembali memandangi perempuan yang kini sudah mendarat di hadapan mereka. Gadis cantik berambut pendek sebahu. Tampak manis dengan kaos putih tanpa lengannya, yang dipadukan dengan rok hijau muda yang mengembang. Di rambut sebelah kirinya tersematkan jepitan kupu-kupu berwarna pink.

“Hai, maaf apa kelinciku nakal?” Ucap gadis itu sopan. Ia agak menundukan bahunya.
“Oh, tidak. Dia tiba-tiba saja muncul dari bawah kakiku.” Twilight mengembalikan kelinci putih itu pada pemiliknya. “Kelincimu lucu ya.”
“Thanks.” Gadis itu membalas malu.
“Oh, Twilight, ini Fluttershy. Fluttershy, ini Twilight.” Flash saling memperkenalkan keduanya. Twilight memandang Flash sejenak. Kemudian ia mengulurkan tangannya dengan meksud memberi salam. Fluttershy menatapnya ragu. Beberapa menit kemudian ia baru menyalimi balik Twilight.
“Dia memang begitu, pemalu. Kau harus bisa beradaptasi dengannya.” Ucap Flash setelah Fluttershy kembali terbang bersama dengan kelinci putih-namanya Angel- yang diiringi oleh para koloni kupu-kupu.
“Apa dia termasuk dalam timmu?” Tanya Twilight.
“Eh, bagaimana kau bisa tahu kalo aku memiliki tim?”
Twilight menunjukan pelipisnya. Artinya ia mengatakan jika ia juga berpikir. “Cepatlah jawab!”
“Iya, Aku, Dash, dan Fluttershy sama-sama diberi tugas yang berat.” Kali ini, mungkin Twilight berhasil membuat Flash tampak lebih terbuka. “Kami sebenarnya orang biasa sepertimu yang dikirim ke sini untuk menyelamatkan dunia ini. Entah mengapa kita yang dipilih, tapi aku hanya tahu satu hal. Orang-orang yang kini berada di sini adalah orang-orang yang terpilih. Temasuk kamu.”
“Kami harus mengembalikan adventure land yang dulu. Yang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Karena semua hal itu, telah diambil oleh seorang pemimpin kejam di daerah seberang. Namanya Darko Vines. Sang pemimpin Dark Land yang penuh dengan kegelapan hati.”
“Dan bagaimana dengan penduduk di sini?” Twilight memperhatikan rumah-rumah unik yang nampak kosong tanpa penghuni.
“Mereka tertarik oleh Dark hole, hingga terjebak di dalamnya. Dan kini tak ada yang tahu mereka dimana kecuali sang pemilik kekuatan itu. Si Darko. Mungkin, bisa jadi mereka diculik sebagai tambahan prajurit mereka yang kurang.”
“Hiih, seram.” Komen Twilight. Membuat Flash tib-tiba menatapnya tajam.
“Hey, cengeng! Aku jadi merasa aneh sama kamu. Kenapa Raja Brave bisa memilihmu sebagai timku padahal kamu terlihat nggak mempunyai kemampuan apapun. Malah kamu terlihat penakut.” Celetuk Flash. Yang tiba-tiba langsug dibalas dengan serangan andalan Twilight. Cubitan.
“AKh! Akh, sakit tahu.” Flash menangkis tangan Twilight. Twilight tersenyum yang dipaksakan. “Akh, untung kamu belum punya kekuatan, kalo udah, mungkin aku sekarang udah nggak punya tulang belakang.”
Twilight malah menepuk punggung Flash kuat. “Sembarangan!”
Flash terkekeh. Ia segera berjalan cepat. Kedua tangannya ia masukan pada saku celana jeansnya. “Woy, cengeng cepet dong, keburu hujan nih!”
Twilight mengejar Flash. “Emang kita mau ke mana?”
“Menghadap Raja Brave.” Balas Flash datar. Ia melirik sekilas gadis di sampingnya. Kaos berwarna ungu muda melekat di tubuhnya dengan tambahan cardigan warna merah marun, tampak serasi dengan namanya, Twilight. Senja. Ya, langit senja.
“Woy! Ngapain liat-liat?” seru Twilight membuyarkan lamunan Flash. Flash tersenyum kecut. Kemudian, mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kamu sih, senyum-senyum sendiri. Serem tau nggak?” Flash mengusap tengkuknya. Kemudian berjalan lebih cepat dibanding Twilight.
“Flash, jangan kecepetan kali jalannya.” Twilighgt buru-buru menyusul.
“Woy, biar lebih cepet, kamu pegang tangan aku.” Perintah Flash. Twilight menurut. Ia menggenggam lengan Flash kuat. “Flash running!”
“Tungguin dong kalian berdua!” Teriak Dash.
“Nggak usah ikut campur lu!” Jawab Flash, sambil menyambar petir pada awan awan Dash sehingga Dash ikut tersetrum gosong.

Dalam sekejap, keduanya tiba di dalam kastil Raja Brave yang penuh dengan berlian dan intan. Semuanya Nampak bercahaya tertimpa cahaya mentari. Satu kata, indah.
Tak banyak tingkah, Flash segera membawa gadis disampingnya menuju singgasana raja. Twilight terlanjur terpesona dengan semua keindahan yang ia lihat. Jadi, tak banyak hal yang bisa ia bantah dari perintah Flash.
“Semua yang ada di dalam kastil ini indah, apa Raja Brave juga ganteng?” Gumam Twilight, tapi cukup terdengar oleh Flash yang sangat peka. Tiba-tiba Flash tersenyum lebar tanpa sebab, seolah menahan tawanya meledak.
“Silahkan masuk.” Seorang pengawal mempersilahkan. Twilight dengan senyum semangatnya masuk terlebih dulu. Flash kemudian.

Singkat cerita, pertemuan dengan Raja Brave saat itu membuahkan sebuah kekuatan yang besar bagi Twilight. Dengan symbol dan medianya yaitu, kalungnya yang awalnya berliontin huruf T kini berubah menjadi liontin bintang keunguan. Dan, mahkota yang terbuat dari emas putih dengan tiara dan permat bintang disana. Tentu saja twilight senang. Hal seperti itu tak pernah ia dapatkan semudah menjentikan jari. Tapi, satu kesimpulan dalam benaknya.
“Raja Brave nggak seganteng istananya yang indah. Orang tua yang tebel jenggotnya, dengan kulit hitam negro dan pendek itu meruntuhkan semua imajinasiku tentangnya.”
Satu hal, yang tak siapapun sadari. Bayangan hitam berkabut yang sedari tadi mengambang di jendela ruang raja. Pengintai.

Malam harinya. Empat orang pilihan dunia ini berkumpul di rumah khusus milik mereka. Berkumpul di satu ruangan dan merancang strategi bersama.
“Oke, strateginya gini, Fluttershy bakal minum ramuan tak terlihat ini, pas udah sampai di gerbang Dark land. Kita bertiga, menyerang prajurit dark land. Sementara Fluttershy menyusup ke dalam kastil dan mencuri peta rahasia Adventure Land di ratu Dark Land, Shimmer. Terus, waktu Fluttershy udah dapet petanya dan udah keluar dari kastil, kamu panggil kita. Pakai terompet lay itu. Bunyi terompet itu tandanya, Twilight harus menghentikan waktu sebentar. Agar kita bisa mnghilang tiba-tiba ditengah perang. Saat kita lari, kamu balikin lagi waktunya. Dan kita segera ke tempat kunci Adventure land. Dan kita satukan kekuatan kita di sana untuk membuka kunci itu. Menang!!!” Flash menjelaskan strateginya dengan hiperaktif. Ia tak bisa diam sekalipun satu menit. Membuat Twilight terus tertawa kecil.
“Dimengerti, Kapten!” seru Dash dengan tangan yang seolah sedang hormat.
“Yosh!” Fluttershy mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.
“Oke, jadi sekarang kita beres-beres!” Twilight mendahului teman-temannya memasuki kamar.
“Emang bisa langsung menang gitu?” Komen Dash, Flash menoleh ke arahnya.
“Sesukamu saja mau menang ato mati dimakan ulat Dark Land!”

Cerpen Karangan: El_mufid
Blog / Facebook: Arina Ilma Mufida

Cerpen Adventure Land (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akibat Mantra Sihir (Part 1)

Oleh:
“Aku sangat suka sekali dengan hal yang berhubungan dengan sihir” Kata Misa, sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser, lalu mengerut-ngerutkan hidung, dengan wajah kemerahan dan pipinya yang menggembung

Puisi Terakhir

Oleh:
Kita masih disini… Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini. Entah sampai kapan kita mampu bertahan. Tapi kita harus tetap berjuang. Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,

Dunia Permen

Oleh:
Suatu hari di SDN bunga melati 3 ada 4 orang sahabat yaitu agatha, ayu, zefanya dan Bagas. Mereka selalu bermain bersama. Pada suatu hari mereka membeli buku yang berjudul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *