Adventure Land (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

Pagi, fajar mulai menyingsing dari sebelah timur. Membuat secercah cahaya menerobos masuk ke kamar para gadis. Twilight bangun dibuatnya. Cukup waktu satu menit untuk memulihkan kesadarannya. Kemudian langsung beranjak mandi.
“Eh, kok udah ada kamu sih?!” seru Twilight begitu keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, baru dikeramas. Handuk ungu kecilnya tersampir di bahunya.
“Dari tadi juga udah di sini kali.” Balas Flash, ia sedang duduk didepan meja makan sambil sok sibuk menuliskan sesuatu di buku sakunya.
“Waktu aku baru bangun juga?”
“Hm,”
“Aduh, gawat. Dengan penampilan baru bangun tidur udah diliatin sama cowok absurd ini. duh…, malu nih.” Batin Twilight. Tapi ia berusaha menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Twilight berjalan ke meja masak. Entah apa yang ia lakukan, mungkin membuat sesuatu.
“Flash, tolong jelasin kekuatanmu dan yang lain dong.” Ucap Twilight, tanpa menoleh sedikitpun. Ia tetap dalam posisi memmbelakangi Flash.
“Oh, kalo kekuatanku sederhana aja, Cuma tiga elemen bumi. Api, air, tanah. Itu yang Raja Brave tanamkan dalam diriku tanpa perantara. Kalo yang pakai perantara jam tangan ini adalah, pedang.” Twilight sempat menoleh sebentar kemudian kembali lagi. “Raja sengaja menyembunyikan senjata-senjata kita, agar memudahkan. Kalo symbol pahlawannya ini.” Flash menunjukan pelipisnya.
“Apaan di situ?” Twilight mendekati Flash.
“Ini tanda lahir aku. Bentuknya kayak petir gitu deh. Begitu raja tahu aku punya tanda lahir ini, dia memasukan symbol kepahlawananku di sini.”Jelas Flash.
“Oooh.. Kayak Harry Potter gitu ya..” Twilight ber-oh singkat. Kemudian membawa nampan berisi dua cangkir cokelat panas.
“Nih.” Dia menyodorkannya pada Flash. “Kalo Dash?”
“Dia bisa ngubah molekul suatu zat, dari jam tangan hijaunya. Symbol pahlawannya adalah ikat kepalanya yang warna-warni. Kalo senjata dia, busur panah. Khusus untuknya, senjatanya nggak dirahasiakan karena busur panah mudah dibawanya.”
“Fluttershy, dia punya kekuatan pengatur gravitasi, medianya jam tangan pink. Di jam tangannya juga tersembunyi terompet-senjata dari Raja. Symbol pahlawannya, kalung dengan liontin kupu-kupu.”
“Oh, paling keren yang aku dong kalo gitu.” Twilight nyengir sombong. “Bisa ngatur waktu pakai jam tangan biru, sekaligus ada bumerangnya di dalam. Symbolku mahkota lagi, aduh.., jadi seolah ratunya. Hehe.” Twilight berbangga.
“Hah, gimana kamu aja deh.” Flash menyesap cokelatnya yang kini berubah hangat. “Oh, makasih cokelatnya.”
“Hm, sama-sama.” Twilight tersenyum manis.
“Hey, sekarang giliran aku yang nanya.” Flash mendekatkan wajahnya dengan wajah Twilight. Tapi, Twilight tak menghindar.
“Apa?” tatapan matanya sudah saling terikat dengan tatapan Flash. Degup jantunganya menjadi semakin cepat. Seolah melarangnya untuk mengedip sebelum tatapan ini berakhir.
“Apa kita bakal bertemu lagi?” Tanya Flash. “Maksudku, di dunia kita, nanti setelah kita berhasil membuka kunci adventure land?”
“Bertemu lagi? Di dunia kita? Maksudmu, kita bakal berpisah setelah kita berhasil Flash?” Twilight malah balik bertanya.
“Ya, kukira kau sudah tahu.”
“Kamu beneran Flash?” Twilight menatap Flash tidak percaya. Dalam hatinya berteriak, ‘aku nggak mau berpisah sama Flash.’
“Bener, jadi gimana jawabanmu?”
Twilight kembali berpikir logis. “Kupikir, bisa. Selama hati kita masih terikat satu sama lain, bukan begitu?”
“Hm, mungkin kamu benar. Sebenarnya aku juga nggak mau sih berpisah sama.., kalian. Karena, Cuma kalian yang tahu aku yang sebenarnya seperti apa.”
“Aku juga nggak mau, ng.., gimana kalo kita janji bakal bertemu di dunia sana.” Twilight mengajak untuk berjanji, pinky swear.
“Aku janji.” Flash mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Twilight.
“Kita juga janji!” Dash dan Fluttershy tiba-tiba muncul dan ikut mengaitkan kelingking.
“Kalian dah siap?” Tanya Flash.
“Hehe, belum mandi deng.” Dash nyengir dan langsung ngacir ke kamar mandi.
“Aku juga!” Fluttershy ikutan ngacir ke kamar mandi yang lain.
“Hahaaha!”

Singkat cerita, mereka sudah dalam perjalanan menuju Dark Land. Twilight berada di barisan paling depan, paling bersemangat. Begitu percaya diri dengan penampilannya, kini. Baju berwarna ungu berlengan panjang dengan celana panjang berwarna marun. Begitu pantas dengan liontinnya yang bercahaya keunguan. Ia membawa tas selempang, untuk menyimpan mahkotanya. Rambutnya yang panjang juga sudah diikat rapi, seperti ekor kuda.

“Wah.., banyak banget bunganya.” Pekik Twilight, semenjak memasuki kawasan ladang bunga. Tapi, tiba-tiba ia terdiam. Memandangi bunga itu satu persatu dari jauh membuatnya ingat akan sesuatu. Twilght berhenti berjalan. Tapi yang lain malah, berjalan santai didepannya. Mereka tertawa, seolah ini semua bukan perjalanan yang sulit.
“Guys, yang kayak gini rintangan kita?” Sindir Dash pada bunga-bunga itu. “Hahah, nggak banget deh ya.”
“Haha, iya Dash. Aku setuju sama kamu.” Ucap Flash kemudian disetujui oleh Fluttershy.
“Tunggu guys, kayaknya aku tahu bunga itu deh..” Twilight berusaha mencegah teman-temannya, untuk mendekati bunga-bunga. Perasaan buruk hinggap.
“Kenapa? Ini hanya bunga yang mencolok dengan aroma yang enak.” Balas Fluttershy. Ia sudah menghisap aroma bunga itu dalam-dalam. Dash dan Flash mengikuti.
“Guys, itu bunga beracun!” Twilight berteriak. Terlambat, teman-temannya sudah terhuyung seolah ingin tidur. Sebelum Flash benar-benar jatuh ketanah dan tertidur, Twilight menahannya. Flash bersandar di lenganTwilight yang menahan bahunya.
“Flash, bangun Flash.” Twilight menepuk-nepuk pipi Flash. Flash belum sepenuhnya tertidur. Tapi alam halusinasi sudah menenggelamkannya. Alhasil Flash tak bisa bangun kembali sebelum pengaruh dari racun ini berakhir.
“Twilight…” Diluar dugaan. Flash masih dapat berkata lirih. Entah ia sadar atau tidak. Tapi, tangan kirinya yang bebas, berhasil bergerak meraih wajah Twilight. Twilight menahan nafas. Sentuhan tangan Flash yang pertama kali menyentuh wajahnya. Mengingatkan ia akan lamanya waktu yang telah berlalu tanpa kasih sayang seorang Papa. Twilight tersenyum namun air matanya tak bohong. Ia menangis.
“Flash, bangun…” Twilight menyentuh punggung tangan Flash yang kini berada di pipinya. Twilight mengenggam tangan Flash erat.
“Jangan nangis, cengeng…” Flash kini sudah terpejam. Tenaga tangannya yang terangkat untuk menyentuh wajah Twilight pun sudah hilang. Jika twilight tak menggenggam tangannya saat itu, pasti otomatis akan jatuh ke tanah. Tapi, twilight masih menggengamnya, dan masih menempelkan telapak tangan Flash di pipinya.
“Bodoh, aku tidak cengeng.” Bisik Twilight, ditelinga Flash. Kedua bibir Flash bergerak. Membentuk senyuman.
“Tapi, aku malah jatuh cinta pada sosokmu itu, twi.., light.” Kata-kata itu terucap dengan lancar di bibir indah Flash. Merasuki segala alam bawah sadar Twilight. Membentuk sebuah danau cinta dihatinya. Dan hanya ada Flash seorang disana. Di hatinya.

“Saahhhhh…” Bunga-bunga Nampak semakin ganas. Mereka, tidak menunggu seseorang untuk menghisapnya, tapi mereka meyemburkan gas dan aroma yang membuat siapa saja yang menciumnya tertidur. Tak disengaja, Twilight menghirupnya. Walau sedikit, tapi berefek hebat. Tangan twilight yang menggenggam tangan Flash terkulai lemas. Tubuhnya tak kuat lagi. Ia juga tertidur, dengan posisi memeluk Flash.

Sekitar 5 menit mereka tertidur. Entah apa yang dilakukan olehpara bunga pada mereka selama itu. Untungnya, Twilight berhasil membuka matanya sebelum para bunga benar-benar menelan mereka. Twilight terkesiap begitu ia membuka mata. Kedua mata Flash yang pertama kali ia lihat. Dengan posisi tergantung membuat rambut Flash yang biasanya menutupi dahi, terangkat. Wajahnya terekam begitu jelas di semua pikiran Twilight. Yang membuat jantungnya menjadi berdebar-debar tak menentu.
“Yak!” Twilight menyadarkan dirinya sendiri. Segera ia mengeluarkan Bumerangnya.
Karena dalam posisi tergantung hanya senjata itu yang dapat menolong. Pertama ia putuskan belalai tanaman yang melilitnya dan Flash. Dan langsung mengaktifkan manipulasi waktu diperlambat. Sebelum semua tanaman itu menyadari Twilight telah bangun, Twilight menghajar habis tanaman liar yang berusaha menelannya dan teman-temannya. Fluttershy dan Dash sudah diselamatkan lebih dulu. Dan mereka sudah terbaring aman di tanah. Setelah itu semua selesai, manipulasi waktu terhenti. Tanaman liar yang sudah habis terpotong-potong ambruk ke tanah. Dan dari setiap pori-pori mereka, mengeluarkan cairan hitam kelam yang menurut Twilight itu semua kerjaan Dark Land. Sebeenarnya tanaman dan bunga-bunga itu tak berbahaya kecuali diganggu. Tapi entah mengapa, mereka malah jadi ingin melenyapkan Twilight dan temannya.

“Guys, mimpinya selesai.” Ucap Twilight. Ia kembali mengamankan bumerangnya, dan membersihkan bajunya yang terkena debu.
“Hoaaam…, apa kita bermalam di sini?” Fluttershy menguap lebar. Ia yang bangun lebih awal. Twilight menghampirinya.
“Fluttershy, kamu nggak papa kan?”
“Nggak papa, emangnya ada apa?” Fluttershy tak sadar dengan kondisi saat ini.
“Tanaman itu hidup! Kita nyaris ditelan tadi.” Twilight begitu histeris menceritakannya. Hingga membuat Flash terbangun.
“Twilight?” Satu kata yang pertama kali ia ucapkan begitu bangun.
“Flash?!” Twilight menoleh. Kemudian tiba-tiba ia berlari ke arahnya, tanpa pikir panjang Twilight memeluknya. “Kamu nggak papakan?”
“Ng…, nggak papa kok.” Flash mengacak-acak rambutnya. Kemudian segera bangkit.
“Dash!” Sekarang Twilight berlari kearah Dash. “Dia belum bangun?”
“Hoaaam.., Twilight maaf ya aku dah kasar sama kamu.” Dash yang baru bangun langsung mendapati Twilight dan Fluttershy di sampingnya.
“Nggak papa kok.” Twilight tersenyum.
“Eh, bunga ini benar-benar beracun ya? Mereka memanfaatkan waktu tidur kita untuk memakan kita.” Ucap Flash ringan. Ia sudah mulai berjalan kedepan. Teman-temannya yang lain memandang Flash sebal.
“Dasar, kamu Flash! Santai banget sih jadi orang, kita hampir mati tauk?!” Gertak Fluttershy yang benar-benar sebal padanya. Flash menyengir, ia berlari duluan sebelum Fluttershy menimpuknya dengan tinjunya.

Satu malam berlalu, perjalanan hanya terhenti saat tumbuhan hidup tadi, melilit mereka. Selanjutnya, mereka terus berjalan menembus hari yang semakin gelap. Dan, tepat 2 jam sebelum fajar terbit. Empat pahlawan ini, telah sampai di tujuan akhir. Kastil Dark Land yang penuh dengan kegelapan.
“Oke, ayo kita laksanakan rencana!” Koor Twilight, sebelum mereka memasuki pintu masuknya yang berupa batu hitam tajam yang menjulang.
Fluttersy mulai meminum ramuan tak terlihat yang dibuat Flash. Dalam hitungan detik tubuh Fluttershy menjadi invinsible. Ia meluncur di atas udara Dark Land yang kelam dan segera menuju sasarannya. Ratu Shimmer. Sementara, Flash, Twilight, dan Dash, mereka menghadapi para prajurit Dark Land yang sudah siap dengan pertempuran. Oke, semuanya beraksi!

Waktu terus berjalan, Fluttershy dengan mudah mengambil peta Adventure Land dari Ratu Shimmer. Sebelum mereka sadar, Fluttershy sudah kembali meluncur di udara sambil meniupkan terompet lay. Suara yang memekakan telinga seolah meracuni semua prajurit Dark Land, mereka tampak bergeming begitu terompet itu dibunyikan. Twilight mengambil kesempatan itu untuk untuk menyegerakan manipulasi waktu. Flash dan Dash terkecuali, mereka tak terhalang oleh kekuatan manipulasi yang membuat waktu sseolah slow motion itu. Dengan cepat mereka membelah barisan para prajurit dan segera meluncur ke tempat kunci Adventure Land.

“Oke guys, kita harus konentrasi.” Ujar Twilight begitu sampai di tempat kunci Adventure Land. Ia segera mengenakan mahkotanya dan berharap banyak pada tuhan.
“Tak bisakah kita salam perpisahan sebentar?” Fluttershy merajuk.

Melihat pasukan Dark Land yang nampak terbang dari kejauhan, ekspresi Fluttershy berubah. Ia resah. Dan segera memakai kalung berliontin kupu-kupunya. Sedangkan Dash dan Flash sedang mengumpulkan kekuatan.
“Maafkan aku, tapi kita tak punya banyak waktu.” Twilight mulai mengucapan kalimat-kalimat berbahasa Perancis. Dan tiba-tiba cahaya keluar dari sumber kekuatan masing-masing pahlawan. Cahaya ungu keluar dari liontin mahkota Twilight. Kemudian cahaya itu merambat ke cahaya pink yang dikeluarkan oleh liontin Fluttershy. Terus menimpa cahaya putih yang dikluarkan oleh kedua jam tangan Flash. Cahaya itu membaur menjadi satu warna, dan warna putihlah yang dominan. Hingga cahaya itu bergerak dan menimpa jam tangan Dash, Cahaya putih itu memantul kembali dengan warna yang berbeda. Mejikuhibiniu. Itu warnanya. Ya, pelangi. Cahaya pelangi itu memantul kesalah satu dinding kaca ruangan kunci, tiba-tiba, sebuah lubang kunci berbentuk bintang muncul, cahaya pelangi itu mewarnai habis lubang kunci itu. Hingga memantul lagi membentuk banyak cahaya, dan cahaya itu terus menyeruak keluar. Menyelubungi seluruh negeri mimpi ini.

Twilight dan teman-temannya seketika jatuh dari tempat mereka mengumpulkan kekuatan. Twilight sempat membuka matanya walau sekejap. Ia melihat tiga temannya yang terjatuh dengan wajah bahagia. Ia pun begitu. Bibirnya bergerak pelan.
“Sampai jumpa lagi, kawan.”
Walau jelas suara itu tak akan tedengar oleh mereka, tapi Twilight yakin suara itu akan terdengar dari hati mereka. Dan, begitulah kisah empat pahlawan yang menyelamatkan negeri yang mereka pun tak tahu apa negeri itu. Tapi mereka yakin negeri itu adalah awal yang membuat semua orang di dunia tersenyum. Sebelum teleportasi otomatis aktif, Twilight melambaikan tangannya pada Flash, yang terbaring lemah namun ia tetap tersenyum. Seberkas cahaya, segera menarik tubuh mereka masing-masing ke tempat asal mereka.

Cerpen Karangan: El_mufid
Blog / Facebook: Arina Ilma Mufida

Cerpen Adventure Land (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tikus Mutan dan Gadis Hantu

Oleh:
Sebuah got yang dipenuhi tikus mutan yang sangat ganas. Yang akan keluar mencari mangsa pada malam hari. Namun bila merasa terganggu mereka tidak akan segan-segan untuk menyerang walaupun itu

Cinta dan Takdir

Oleh:
“Jay, lihat gadis itu!” Jill menunjuk ke arah seorang gadis berambut pendek cantik yang baru saja ditinggal mobilnya. “Aku ingin punya sahabat seperti itu. Dan mungkin ia bisa aku

Shalom Sang Pengembara

Oleh:
Tak terasa, perjalanan Shalom menuju Kerajaan Mattawijaya sudah menghabiskan waktu dua hari. Tidak mudah memang untuk pergi ke Kerajaan Mattawijaya, karena harus melewati Sungai Bodri, sungai yang luas dan

Hakim Gemblung

Oleh:
Pada suatu hari, di sebuah negara demokrasi. Hiduplah seorang hakim yang benar-benar tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan di negara itu. Hakim itu bernama Said yang baru saja dilantik

Penantian Berharga

Oleh:
Gadis berambut hitam itu terkejut ketika menemui sosok pria yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. “Lo kenapa sih ngikutin gue terus?” tanya gadis itu kian kesal. “Emang udah tugas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *