Aghnal (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 May 2022

“Demi kesejahteraan suku-suku kalian, kami membawa kabar bahagia dan hadiah dari dewa agung kami.” Ucap Jiju.

Zaiz, Ragaz dan Asays saling melontarkan tatapan bingung. Jiju segera mengeluarkan sesuatu dari sakunya, menekuk kakinya setengah membungkuk dan kepalanya tertunduk hormat kepada para kepala suku. “Tolong terima hadiah ini, wahai para kepala suku yang bijaksana.”

Ragaz mengulurkan tangan ragu, “Ragaz, jangan!” Zaiz melarangnya tetapi Asays menenangkannya “Zaiz, tidak apa, kita coba lihat dulu apa hadiah itu.” Ucapnya membiarkan Ragaz untuk mengambil hadiah itu. Zaiz gugup, Ragaz pun agak takut, tapi ia ingin tahu apa hadiah itu. Akhirnya, Ragaz membuka kain yang menutupi hadiah itu.

“Sepatu kaca?”
“Benar, yang mulia para kepala suku. Hadiah ini kami persembahkan untuk kepala suku yang paling dimuliakan dewa agung tertinggi, kepala suku Haerz, yang mulia Asays.”
“Aku? Benarkah?” Asays tersanjung, ia menutup mulutnya tak menyangka. Melihat dari tanggapan kepala suku Haerz, Keihn tahu betul kalau temannya berhasil menipu para kepala suku. Ia tersenyum dalam, tidak sia-sia ia memiliki teman cerdas seperti Jiju.

“Dewa Agung pemilik Aghnal dan semesta memberikan kabar gembira untuk para kepala suku, mereka akan menambah kekuatan untuk para kepala suku demi melindungi semua yang dewa Acha percayakan kepada kalian. Dan menurunkan berkah yang melimpah apabila dapat memberi kesempatan untuk kami, para manusia yang lemah. Karena itu, kami kemari, wahai yang mulia para kepala suku yang bijaksana.”

Ragaz dan Zaiz yang begitu taat pada dewa Acha, tersentuh, hatinya tergerak untuk menyembah dewa Acha. Memuja Asays sebagai bentuk syukur mereka pada dewa Acha. “Dewa Acha sungguh baik hati dan mulia, Asays adalah orang yang tepat untuk menerima berkatnya.”

Asays memejamkan mata, mengucap banyak syukur dalam hatinya. Tak lupa mendoakan keselamatan dan kesejahteraan para anggota suku. Dan pada akhirnya, para ketua beragam suku menyambut manusia-manusia itu dengan sangat baik. Diberikan jamuan yang banyak, tempat tinggal yang layak dan segala fasilitas terbaik yang mereka miliki.
Tak ayal para manusia juga memberikan sedikit ilmu mereka pada para anggota suku, sebagai balas budi dan —tentu saja, mencari titik lemah mereka secara tersirat.

Para anggota suku dari berbagai suku berkumpul untuk acara perayaan untuk manusia yang mereka tahu adalah utusan dari dewa Agung yang maha tinggi, dewa Acha.

“Aghnal akan menjadi tempat yang tentram dan akan terus terjaga kedamaiannya.”

Senyum-senyum yang terulas di bibir mereka, memiliki makna yang tidak dapat ditafsirkan para suku yang melihatnya dengan mata telanjang. Ada iblis dan hawa kegelapan yang menyelimuti sorotan mata mereka.

“Tidak kusangka, begitu mudahnya suku-suku lemah dan bodoh itu terperdaya.”
“Aku juga tidak menyangka, ini lebih mudah dari yang kubayangkan.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita juga merayakan kemenangan kita.”
“Tentu saja.”

Bungbung, Myugon, Jiju dan Keihn tertawa keras, merasa sangat puas dengan semua yang mereka dapatkan saat ini. Namun, belum merasa cukup, mereka berencana untuk melakukan sesuatu untuk menguasai Aghnal.
Mereka ingin menjadi tuan rumah Aghnal, bukan tamu Aghnal. Keserakahan, adalah salah satu sifat yang dimiliki para manusia.

“Lalu selanjutnya apa?” Tanya Bungbung.
“Membuat mereka tunduk pada kita.” Jawab Keihn.
“Caranya?” Myugon memasang muka bingung, dahinya mengerut tanda ia sedang berpikir.
“Mainkan rasa takut mereka.” Imbuh Jiju.

Dalam masing-masing suku, tentu mereka memiliki anak-anak yang tidak patuh dan ingin melakukan apapun sesukanya.
Anak-anak itu Croz dan Erst dari suku Haerz, Min dari suku Teo dan Yun dari suku Karo. Mereka merencanakan sesuatu sambil bisik-bisik, Ibu suri dari suku Haerz memergoki mereka. “Hei, apa yang kalian katakan? Coba ucapkan lebih keras.” Ucap Ibu suri mendatangi mereka, secepatnya Min mendorong teman-temannya agar menjauh darinya.
“Ibu suri, mereka yang mengatakannya, aku tidak bicara apapun.” Min menyangkal seraya menyilangkan tangan. Sementara teman-temannya hanya saling melontarkan tatapan.
“Kalau kalian berani berbuat macam-macam, ibu suri akan beritahu yang mulia kepala suku untuk menghukum kalian.”
“Ampun ibu suri.” Mereka memohon seraya bersujud di kaki ibu suri.

Para gadis suku yang baru saja menyelesaikan tugas mereka, menertawakan adik-adik yang sedang bersama ibu suri. “Kalian memang nakal.” Omel salah satu gadis diantara yang berbaris.

Malam harinya, keempat anak itu keluar dari Aghnal. Memanjat tembok besar yang dibangun Ragaz untuk benteng perlindungan mereka, hanya demi satu tujuan.
Croz, Erst, Min dan Yun ingin memetik buah Akebia di hutan Phelan. Tempat paling berbahaya di lingkungan mereka.

Kesedihan melanda para suku di Aghnal. Anak-anak mereka menghilang, ibu Selir dari suku Karo yang menyadarinya lebih dulu.

Para wanita dari beragam suku pun berduka, ibu Suri dan para ibu lainnya menangis tanpa henti mencemaskan anak-anak mereka, selain itu, para laki-laki dari beragam termasuk ketua dari masing-masing suku mencari keberadaan anak-anak hingga keluar perbatasan Aghnal bersama Jiju, Keihn, Bungbung dan Myugon.

“Sekarang saatnya!”

Cerpen Karangan: Xiuzeen
Instagram: @Xiuzeen_

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Aghnal (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tidak Beruntung

Oleh:
Sudah tiga hari aku mengalami kejadian tidak beruntung di kehidupanku ini. Bermula dari aku yang melanggar peraturan di desaku, dengan memijakkan kakiku ke dalam gua terlarang di dalam hutan

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

My Earth

Oleh:
Namanya Meli. Dia kini duduk di kelas 8, di sebuah sekolah ternama di kotanya. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal realistis yang membuatnya harus berfikir sampai jenuh. Bahkan dunia khayalnya

Penantian Berharga

Oleh:
Gadis berambut hitam itu terkejut ketika menemui sosok pria yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. “Lo kenapa sih ngikutin gue terus?” tanya gadis itu kian kesal. “Emang udah tugas

Desa Horseville

Oleh:
Tangisan pertamaku terdengar di Desa Horseville. Sesuai dengan namanya, desa ini dipadati dengan kuda-kuda, walaupun jumlah penduduknya lebih banyak, sih. Hampir semua penduduk desaku mempunyai kuda. Di samping kanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *