Aku Dan Manusia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Siapa yang tak mengenal aku? “Tak ada!”. Siapa yang tak pernah bermain denganku? “Tak ada!”. Aku diciptakan berdampingan dengan manusia. Kadang aku iri dengan mereka yang terbiasa berjalan tanpa tempat. Mungkin, Aku juga seperti mereka. Kadang berjalan dengan tenang, kadang pula berjalan dengan sedikit kencang bahkan hingga menghanyutkan.

Aku diciptakan untuk mereka. Aku benci pada mereka yang mempermainkanku. Membuang aku begitu tak dibutuhkan. Jika aku telah tiada, mereka mencariku. Berharap aku datang membantu. Saat aku berbaik hati, mereka meracuniku dengan sampah-sampah, dengan limbah yang membuat tubuhku berubah warna hingga mengeluarkan bau busuk. Mereka makhluk keji yang merugikan dirinya sendiri. Mereka adalah “Manusia”.

Aku tak pernah menyesal mengapa kita diciptakan untuk saling membutuhkan. Tak adakah yang berterimakasih padaku? Dalam keheningan langkahku. Suara-suara manusia mulai terdengar. Mereka mendekatiku seraya berkata “Wah airnya jernih ya. Kita mandi saja di sungai ini”. “Ah aku tak mau, kamu lihat saja di sana pasti banyak warga kampung yang membuang sampahnya ke sungai”. “Ah iya yah sayang sekali, padahal air di sungai ini jernih. Hei kamu, jangan membuang sampah di sana”. “Ah tidak apa, mereka juga sering mengotori sungai ini. Air pun pasti takkan marah, lihat saja! Mereka tetap mengalir dengan tenang”. Seketika aku mulai berpikir. Aku terlalu baik terhadap mereka. Seakan mempunyai kekuatan yang dahsyat. Aku mulai melangkah lebih cepat. Mengalir dengan deras. Menghanyutkan manusia-manusia itu. Manusia yang tak menghargai keberadaanku.

Saatku lihat manusia-manusia itu mulai menyerah. Menerima takdir yang membawanya. Aku mulai merasakan kesakitan mereka, aku sedikit berpikir. Apa aku pantas menghukum mereka dengan cara seperti ini? maka aku sama saja dengan mereka. Aku mulai melangkah perlahan. Menggotong mereka ke tepian. Alangkah indahnya jika aku berjalan dengan tenang. Tanpa ada gejolak kebencian. Mereka bilang aku adalah penyejuk raga. Aku tak pernah berpikir ingin hidup di antara mereka, membagi keuntungan dan menyia-nyiakan hidupku. Aku tak boleh terus mengeluh, tuhan menjanjikan surga untukku. Aku akan berada di sana beserta manusia-manusia yang baik. Mereka akan memperlakukanku dengan bijaksana. Tak akan ada lagi manusia yang seperti mereka yang tak pernah mendengar jeritanku, kesakitanku dan semua yang mereka ketahui hanya kesenangan. Mereka tak pernah memikirkan dampak dari perbuatan mereka, saat aku marah. Mereka baru menyerah. Meminta ampun pada tuhan dan berjanji takkan mengulang. Tetap saja! aku yang merasakan dampaknya, berharap mati dan tak melihat mereka lagi.

Aku adalah air…
Meskipun wujudku tak seindah pelangi. Meskipun tak sebagus bintang-bintang. Aku ada untuk mereka, untuk mereka yang tak pernah menganggap aku adalah sebagian hidup. Aku juga seperti awan. Menyelimuti mereka dari kehausan dan kebinasaan. Mereka yang serakah! Menguasai segalanya sedangkan aku hanya diam. Ikan-ikan dan binatang lain yang hidup denganku. Mereka mengambil paksa. Dengan cara apapun mereka lakukan tanpa berpikir apakah teman-temanku kesakitan? Mereka harus berpisah dengan keluarganya, memang itulah takdir. Tuhan tahu segalanya, yang tuhan lakukan pasti yang terbaik. Tapi apakah manusia enggan merubah takdir? Bagaimana jika keadaan berbalik? Mereka jadi aku dan aku jadi mereka. Aku akan lebih banyak membuat kehancuran. Mulai saat ini, aku enggan lagi berbicara. Percuma saja, mereka hanya mendengar sekali lalu tak peduli. Aku akan katakan pada tuhan “Hancurkan” maka dalam sekejap, aku akan datang beserta yang lain. Membinasakan manusia lalu tertawa. Inilah pembalasan, namun mereka tetap tak menyerah. Semakin membuat aku terus terlena. Menggenangi seluruh pulau dan menjadikannya lautan. Mentiadakan manusia dan berjalan dengan tenang. Aku ingin hidup tanpa mereka. Lalu tuhan menyuruhku, membinasakan semuanya tanpa tersisa “kiamat” dan aku menjadi lautan air yang membara. Aku tersadar inilah akhir riwayatku. Bumi dan isinya hancur berserakan. Aku dan manusia memang ditakdirkan untuk selalu bersama.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Aku Dan Manusia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampah di Masa Depan

Oleh:
Aku Clara, remaja absurd yang hidup penuh kebebasan. Tak ada yang istimewa, kecuali rasa bebas. Tak seperti gadis-gadis lain yang selalu diatur jam pulang dan jam tidurnya. Hidup terpisah

Popo Si Raksasa Salju

Oleh:
Di sebuah gunung yang diselimuti salju tebal, tinggal raksasa bernama Pipo. Raksasa ini sangat kesepian. Dulu Pipo si raksasa tinggal di negeri yang selalu disinari matahari dengan rerumputan hijau

The Salvation (Part 2)

Oleh:
Kedua tanganku disatukan dan diikat oleh seuntas tali tambang membelakangiku. Aku dikawal setiap sisinya oleh para pengawal bersenjatakan, benar-benar dianggap bak seorang buronan kelas kakap. Mendadak pengawal di belakangku

Seribu Bukit Pelangi

Oleh:
Hujan turun deras, suara gemuruh atap pun bersautan. Maklumlah rumah yang sudah lama kami tepati ini hanya terbuat dari dinding kayu yang beratap rumbia. Sudah beberapa minggu ini hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Aku Dan Manusia”

  1. Daniel says:

    Keren lah cerpennya

  2. Gylan says:

    Bagus… Ada pesan moralnya jg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *