Aku dan Penelitian Ayahku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 May 2014

Namaku Ami Frankland, ini adalah kisahku saat aku berusia 13 tahun. Kisah paling mengerikan dan telah merubah hidupku. Bahkan menjadi sejarah besar di kota kelahiranku -Benchurch. Ayahku – Charles Frankland adalah seorang profesor paling disegani di kota, dan telah membuat banyak penemuan penting untuk membantu masyarakat disini. Meski begitu, sesibuk apapun ayah, ia selalu ada waktu untukku.

Bulan Juni yang cerah tahun 2004, awal tahun ajaran baru di Sekolah Menengah Pertama yang amat menyenangkan bagiku. Tidak sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru meski amat berbeda dengan saat aku di Sekolah Dasar dulu. Pagi ini, kelas kami ada jam pelajaran Biologi. Madam Morrison masuk ke laboratorium sambil membawa sebuah tabung kecil yang berisi seekor serangga kecil, itu belalang kayu, mudah bagiku untuk menebaknya. Selama dua jam kami mempelajari tentang struktur tubuh berbagai jenis serangga. Sepuluh menit menjelang instirahat, Madam Morrison menuliskan sesuatu di papan tulis.

“Minggu depan, kita akan mempelajari tentang perkembangbiakan serangga, oleh karena itu Ibu ingin masing-masing dari kalian membawa satu ekor serangga, dari jenis apa saja.” Katanya tegas.

Hari-hari berlalu, aku semakin menikmati kegiatan belajar di sekolah baruku. Terlebih lagi, aku sangat bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di sekolahku, seperti palang merah remaja dan bela diri karate yang membuatku amat sibuk setiap harinya. Sampai-sampai aku hampir saja lupa dengan tugas biologi yang harus dikumpulkan Senin besok kalau tidak diingatkan oleh Jessamy.

Sepulang dari latihan bela diri, aku menyempatkan untuk mencari-cari serangga di sekitar pekarangan rumah. Meski lelah, aku berusaha mengumpulkan tenaga yang tersisa, menyusuri tanaman-tanaman ibu. Sampai akhirnya aku menyerah, entah kenapa, sulit sekali menemukan serangga-serangga itu. Tanpa hasil, aku segera kembali ke ruang makan begitu mendengar ibuku memanggil.

“Ami, bawakan ini untuk ayahmu.” Kata Ibu sambil memberiku nampan berisi makan malam untuk ayah. “Ayahmu sibuk sekali beberapa hari ini, jadi jangan berisik ok?”
“Iya mummy” jawabku.

Ruang laboratorium ayah ada di seberang ruang keluarga, dengan perlahan aku membawa makan malam ayah. Aku lihat ternyata pintu laboratorium tidak dikunci. Aku mendorongnya pelan dengan kaki kiriku.
“Daddy, ini aku bawakan makan malam.” Kataku. Ayah yang sedang sibuk dengan beberapa botol cairan di tangannya segera berbalik begitu mendengar suaraku.
“Taruh saja dulu di meja sebelah sana dulu. Aku akan cuci tangan sebentar.” Katanya lembut.

Tak berapa lama, ayah kembali. Aku masih menunggunya, karena amat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan ayah.
“Kelihatannya lezat” Ayah segera menyantap makan malamnya. “Oya Ami, bagaimana sekolahmu? Menyenangkan?”
“Sangat menyenangkan daddy!” Jawabku bersemangat. Aku lihat ayah tertawa kecil.
“Bagus sekali. Oh, Ami, jangan sentuh itu!” Kata ayah lagi, begitu melihatku hendak mengambil beberapa botol cairan yang tadi dipegangnya. Aku hanya bisa patuh, namun aku tetap penasaran, dan mulai berkeliling-keliling melihat berbagai peralatan dan percobaan-percobaannya yang rumit.

Aku tahu, meski menikmati makan malamnya, tapi pandangan mata ayah tidak lepas mengawasiku sedari tadi. Karena suatu kejadian, aku sudah berjanji padanya untuk tidak nakal selama berada di dalam laboratoriumnya. Tapi, hari ini aku “terpaksa” harus melanggar janjiku itu begitu melihat ada sebuah kotak kecil tergeletak di samping lemari kaca besar. Kotak yang diberi penerang khusus di atasnya itu berisi seekor kecoak.

Ada tulisan kecil di bagian luarnya S.OP103. Aku tidak mengerti maksudnya. Tiba-tiba saja aku langsung teringat tugas biologiku. Tapi aku yakin betul ayah tidak akan mengizinkanku untuk mengambilnya. Ia berdehem keras, dan menyadari aku berdiri agak lama di depan kotak serangga itu.
“Sudah selesai dad?” Tanyaku. Ia mengangguk.
“Itu serangga percobaan terbaru ayah dan teman-teman peneliti lain. Rencananya serangga ini akan digunakan untuk uji coba di dunia militer.”
Saat itu aku tidak begitu mendengarkan penjelasan ayah, karena yang aku pikirkan hanyalah mengambil serangga itu untuk tugas biologiku. Aku merapihkan kembali makan malam ayah. Sambil berlalu ke luar ruang laboratorium.

Aku tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana tidak, mungkin hanya aku satu-satunya di kelas yang tidak membawa serangga besok. Karena rasa cemas yang berlebihan, aku memutuskan untuk mengambil susu agar bisa tidur.

Aku segera turun ke dapur, dan mengambil satu kotak susu dari lemari pendingin. Setelah meminum beberapa gelas, aku hendak kembali ke kamar. Namun, begitu aku melewati ruang keluarga, aku memutuskan untuk ke laboratorium ayah.

Dengan bantuan senter kecil, aku mengawasi keadaan sekitar, kalau-kalau ayah atau ibu terbangun. Tapi, tidak ada siapa-siapa disana. Jantungku mulai berdegub kencang.
“Tidak terkunci!” Kataku pelan. Dengan sigap, aku segera menutup pintu laboratorium kembali. Tidak sulit menemukan letak kotak itu, karena memang diberi lampu penerang berwarna ungu di atasnya. Aku menaruh kotak serangga itu di dalam kantung piyama ku. Betapa terkejutnya aku, begitu mendengar suara botol kaca terjatuh. Huufffttt, hampir saja aku menjatuhkan tube ayah.

Situasi aman. Aku kembali ke kamarku dengan senyum lebar. Meski begitu, aku sedikit khawatir. Ayah pasti akan marah jika tahu, aku mengambil salah satu percobaannya.

Ternyata perkiraanku salah! Pagi ini sepertinya ayah sedang terburu-buru setelah menerima telepon dari temannya, beberapa kali Ibuku memperingatkannya untuk membawa ini, membawa itu, memakai ini memakai itu. Ia bahkan sampai lupa untuk menghabiskan sarapannya, dan langsung berlari ke mobilnya. Aku hanya bisa tertawa geli melihat ekspresi wajah ibu yang kebingungan. Meski sebenarnya, kami sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Beberapa menit kemudian bus sekolahku sudah tiba, aku segera meminum tegukan terakhir jus jeruk masam yang ibu siapkan. Setelah berpamitan pada Ibu, aku segera berlari ke dalam bus.

“Baiklah anak-anak, sekarang keluarkan serangga yang kalian bawa!” Kata Madam Morrison.
Kami segera mengeluarkan serangga masing-masing dari dalam tas. Ada hal aneh terjadi. kecoak kecil yang aku ambil dari laboratorium ayah terlihat mengeluarkan lendir berwarna bening kebiru-biruan. Jangan-jangan kecoak ini akan mati, pikirku. Tapi aku segera menepis pikiran itu, dan langsung sibuk dengan instruksi-instruksi yang diberikan Madam Morrison.

“Hey Jessamy, aku pinjam pinsetmu.” Jessamy yang sedang membuat beberapa catatan segera memberikan pinset yang tidak ia pakai itu. Aku mengangkat kaki kecoak itu satu persatu dengan perlahan, sekali lagi, aku melihat lendir yang keluar semakin banyak. Aku jadi sedikit kawatir.

Ketika aku sedang serius menuliskan bagian-bagian tubuh kecoak kecil itu. Tiba-tiba Bill yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Julian, berlari dengan amat kencang ke arahku. Anak itu tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya, aku mencoba menghindar meski begitu, aku tetap ditabraknya. Dengan spontan aku bertahan pada rak berisi cairan kimia untuk menyelamatkan kecoaku. Dan ternyata kami bertiga malah jatuh tertimpa rak itu!
Madam Morrison segera berlari ke arah kami. Aku menangis histeris sekencang-kencangnya. Madam Morrison menarik tanganku sedang anak-anak yang lain membantu mengangkat rak besar itu. Guru-guru lain juga berdatangan setelah beberapa temanku memanggil mereka di ruang guru.

Dalam keributan itu, aku sempat mencari-cari dimana seranggaku. Dan, aku pun menemukannya di bawah salah satu botol cairan kimia. Aku segera mengambilnya, untung saja bagian atas kotak kaca seranggaku itu hanya retak sedikit. Tapi sayangnya, sepertinya seranggaku terkena sedikit cairan kimia di tubuhnya.

Aku, Billy, dan Julian segera di bawa ke klinik sekolah. Beberapa kali aku harus menahan sakit saat Mrs. McAdle memberikan alkohol di lenganku yang terluka lumayan parah. Setelah selesai diobati, aku merasa lelah sekali, tanpa sadar aku pun tertidur pulas di klinik sekolah.

Jam di ruang klinik menunjukkan pukul 3 sore. Aku lihat ada Ibuku disana, sedang berbicara dengan Madam Morrison. Kepalaku pening sekali, belum lagi luka memar maupun luka terbuka yang aku rasakan semakin sakit saat aku bangun tidur.

Aku juga sempat melihat ke arah Billy dan Julian. Mereka masih tertidur pulas. Aku benar-benar marah besar pada mereka berdua! Sempat terpikir olehku untuk membalas mereka. Tapi kemudian aku buang jauh-jauh pikiran itu. Ibu menghampiri aku begitu melihat aku mencoba duduk. Ia amat cemas, aku bisa merasakannya. Ia segera membantuku untuk duduk, dan kemudian membelai lembut rambut coklatku.
“Aku sudah beri tahu ayahmu.” Katanya lembut. Aku segera memeluk ibu, dan bersandar di dadanya.
“Mummy, bagaimana dengan seranggaku?” Tanyaku tiba-tiba.
“Kau sempat-sempatnya bertanya tentang hal itu?”
“Madam Morrison tidak membuang seranggaku kan Mom?”
“Tadi, Madam Morrison memberitahu ku, kalau semua serangga yang dibawa hari ini akan di simpan di laboratorium sekolah untuk praktik lanjutan minggu depan. Termasuk seranggamu.”
“Syukurlah.”

Beberapa hari kemudian, aku sudah lebih baik. Billy dan Julian juga sudah beraktifitas seperti biasanya. Tapi karena ulah mereka, pihak sekolah memberikan sanksi disiplin. Aku benar-benar lega. Apa lagi setelah, kemarin mereka berdua meminta maaf langsung padaku.

“Ami, jangan lupa persiapkan pidatomu untuk Senin besok.” Kata Mr. Evans-wali kelas kami.
“Baik Mr. Evans.”

Saat itu jam pelajaran sejarah telah selesai, aku dan Jessamy sedang menyusun buku-buku untuk dikembalikan ke perpustakaan. Tugasku lumayan banyak minggu ini. ditambah dengan tugas pidato rutin yang secara bergilir diadakan oleh sekolah. Untung saja, ibu dan ayahku begitu mengerti, jadi mereka pun sering membimbingku untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Tibalah hari Senin yang menegangkan itu. Semua murid mulai dari tingkat pertama sampai ke tiga berkumpul di tengah lapangan. Begitu pula dengan guru-guru kami. Setelah mendengarkan sedikit pengarahan dari Kepala sekolah Mr. Edward Malone, aku pun di panggil untuk menyampaikan pidatoku.
“Dan sekarang, kita akan mendengarkan pidato dari Ami Frankland siswi tingkat pertama dari kelas 1-D.” Kata Mr. Malone. Aku segera naik ke podium. Jantungku berdegup amat kencang.
“Selamat pagi. Yang saya hormati kepala sekolah kami Mr. Edward Malone, para guru beserta staf sekolah, serta tidak ketinggalan, teman-teman yang saya cintai.”
Baru beberapa detik aku berdiri di podium, tiba-tiba hal mengerikan terjadi. Puluhan siswa yang berdiri di baris paling belakang menjerit histeris dan berusaha lari sekuat tenaga. Diikuti siswa lain di depannya. Keadaan di lapangan berubah seketika menjadi amat mencekam. Beberapa orang guru yang berusaha mencari sumber ketakutan anak-anak malah berlari berbalik arah. Sialnya, aku tidak bisa melihat apapun! Keadaan lapangan sangat kacau, namun aku segera tersadar, di belakang sana ada seperti tumpahan cat merah! Astaga! Itu darah! Ada apa sebenarnya ini, ratusan siswa berusaha melarikan diri, mereka berhamburan ke segala arah.

Mengerikan sekali, semakin aku melihatnya semakin aku menyadari bahwa ada banyak mayat bergelimpangan di depanku! Dalam kepanikan yang teramat sangat, aku berusaha kembali ke ruang kelas, aku ingat ayah pernah memberiku sebuah ponsel kalau-kalau ada sesuatu yang penting terjadi. Jadi aku bisa menghubunginya. Aku berlari melawan arus.

Ruang kelasku ada di seberang laboratorium biologi dengan jarak sekitar 10 meter. Dari balik kaca di ruang kelas, aku melihat sumber kengerian ini. Beribu-ribu koloni kecoak keluar dari dalam ruang laboratorium. Amat banyak dan buas! Mereka menerkam apa saja yang ada di depannya, mereka menyebar sangat cepat! Aku hampir pingsan melihatnya.

Aku segera berlari meraih ranselku dan berusaha sekuat tenaga, mengeluarkan ponsel ayah di dalamnya. Tanpa aku sadari ribuan koloni kecoak itu mengejarku semakin dekat dan semakin dekat lagi. Aku berlari dan berteriak tak karuan, seluruh sekolah telah diselimuti ribuan kecoak ganas. Aku benar-benar terguncang melihat beribu-ribu mayat dan banyaknya darah di hampir seluruh sekolahku yang lumayan besar! Aku masih mencoba menelpon ayah, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Hidupku seperti akan berakhir hari itu! Ayah belum juga menjawab teleponku. Aku benar-benar sudah putus asa. Beberapa menit kemudian terdengan suara sambungan telpon. Dengan histeris aku berteriak pada ayah untuk menjemputku secepatnya. Beruntung, tempat kerja ayah hanya berjarak beberapa blok dari sekolahku. Begitu sampai, ayah segera berlari ke arahku. Keadaan ku sudah tidak karuan.
Ribuan kecoak mengejarku dengan amat cepat! Beberapa meter menuju ke mobil ayah, aku baru menyadari kalau mereka semakin dekat dengan kami!

“Daddy!!” Teriakku histeris. kecoak-kecoak itu sudah mengerumuni kaki kanan ku. Aku menangis sejadi-jadinya! Mereka menempel di sepatuku. Aku makin histeris begitu merasakan nyeri yang teramat sangat dan melihat kakiku berlumuran darah. Ayahku berusaha melepaskan sepatu dan kaus kakiku. Berhasil! Ayah langsung melaju sekencang mungkin begitu aku masuk ke dalam mobil.

Begitu tiba di rumah, aku tahu yang akan terjadi selanjutnya. Ayah, marah besar padaku. Ia marah sejadi-jadinya. Ibu yang masih membersihkan lukaku, tak sampai hati mendengar kemarahan ayah. Ibu mencoba membelaku, namun tak berhasil.
“Membawa serangga percobaan untuk tugas sekolah! Bukankah ayah sudah memberitahumu kalau ini adalah serangga yang akan digunakan untuk dunia militer? Ayah pikir kau mengerti Ami! Kau lihat sekarang dampaknya! Ribuan orang meninggal seketika dan kota ini dalam ancaman besar! Butuh berapa lama untuk memusnahkan mereka! Kenapa kau selalu seperti ini! Ayah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak menyentuh apapun dalam laboratorium ayah!”
“Charles sudah hentikan! Bukan semuanya kesalahan Ami, kau kan yang membiarkan pintu laboratorium tidak terkunci sehingga Ami bisa dengan mudah masuk? Kau juga ceroboh!” Teriak Ibuku. Melihat orang tuaku bertengkar hebat, aku makin menangis sekencang-kencangnya!
“Sudah hentikan tangisanmu!” Bentak ayahku lagi.
Ibu segera menggendongku kembali ke kamar. Aku merasa bersalah sekali, pada ayahku, pada ibuku, pada teman-temanku, pada sekolahku. Karena aku, semuanya kacau karena aku.

Kurang dari satu jam, berita tentang adanya terror kecoak di sekolah menengah Benchurch menyebar ke seluruh kota. Pemerintah setempat sampai membuat kamp-kamp pengungsian di luar dan berusaha memindahkan penduduk terdekat secepat mungkin. Seluruh jalan dipadati masyarakat yang ingin menyelamatkan diri, begitu pula di stasiun kereta dan bandara. Ribuan orang berebut untuk mendapatkan akomodasi agar bisa mengungsi ke luar kota sebelum terror kecoak semakin meluas.
Ayahku sibuk menerima telepon dan harus bolak balik dari rumah ke laboratorium kota setiap hari. Berbagai media masa juga tak henti-hentinya memberitakan tentang kejadian mengerikan ini. Pemerintah Benchurch kemudian menetapkan jarak isolasi dari pusat kejadian. Tapi mereka sedikit terlambat, karena ternyata kecoak-kecoak itu berkembang biak lebih cepat dari waktu ke waktu!
Ayah sampai tidak sempat pulang ke rumah. Bersama pemerintah, aparat setempat dan para peneliti lainnya berusaha menemukan cara paling ampuh untuk menghentikan semua kekacauan ini. Sementara itu, segala persiapan untuk mengungsi sudah disiapkan Ibu. Kami akan mengungsi ke tempat nenekku di London. Sejujurnya, sampai saat ini aku tidak mengerti penyebab kecoak yang aku bawa berubah menjadi sedemikian mengerikan seperti ini.
Aku tidak bisa bertanya apa-apa pada ayah! Tidak ada kesempatan! Ayah hanya pulang sesekali sekedar untuk mengambil beberapa barang yang di laboratorium. Ibuku bahkan tak sempat berbincang padanya sedikitpun! Barulah ketika aku dan Ibu hendak berangkat ke London, ayah baru berhenti sejenak. Saat itu hari Rabu siang, ayah kembali ke rumah untuk mengambil beberapa serum.

“Charles, aku dan Ami akan berangkat ke London malam ini.” Kata Ibuku. Ayah tak bergeming sesaat, kemudian ia mendekat ke arah Ibu dan memeluknya erat sekali. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat sekalipun ayah menangis. Tapi sekarang, aku melihatnya begitu rapuh. Aku jadi semakin merasa bersalah. Semua kekacauan ini karena aku! Aku memberanikan diri, aku mendekati ayah.
“Maafkan aku daddy.” Kataku memelas. Aku tidak berani menatap matanya. Ayah yang menyadari keberadaanku segera merunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan ku, sambil menyeka air matanya.
“Maafkan aku juga.” Ia mengusap lembut kepalaku.
“Daddy, apa yang sebenarnya terjadi pada kecoak itu?”
Ayah terdiam sesaat, sebelum kemudian ia menjawab.
“Percobaan S.OP103 atau kecoak kecilmu itu, adalah percobaan yang belum sempurna, ayah menaruhnya di bawah sinar ultraviolet agar rangsangan gen nya pertumbuhannya semakin cepat. Serangga itu sebenarnya akan dilatih untuk uji coba sebagai mata-mata dalam perang. Oleh sebab itu, ayah dan teman-teman ayah mencoba meningkatkan ketahanan tubuhnya, dan kecerdasannya, seperti yang diminta pihak militer kita. Tapi sayangnya, kau mengeluarkannya dari karantina saat kesempurnaan gennya baru mencapai 71%. Terlebih saat kau membawanya ke sekolah, serangga itu sempat terkena cairan kimia akibat insiden dengan temanmu itu. Kerusakan dalam tubuh kecoak kecilmu itu lumayan fatal. Tapi kami akan terus berusaha untuk mencari penawar yang ampuh. Tidak ada masyarakat di kota ini yang menginginkan kota kelahirannya menjadi kota mati.”
Aku mengangguk. Kali ini aku benar-benar mendengarkan penjelasan ayah. Ayah kemudian berpamitan pada kami. Aku sedih sekali. Saat itu aku ingin terus ada di sisi ayah. Aku ingin menemaninya!
“Aku tidak mau pergi, mummy! Aku mau disini saja.” Kataku pada Ibu. Saat itu kami sudah siap naik ke mobil.
“Ami, keselamatanmu adalah segala-galanya untuk Ibu.”
Aku amat geram mendengarnya.
“Apa daddy tidak penting bagi mu?” Bentakku seketika.
“Tentu saja. Tapi..” Ibu menghentikan kata-katanya begitu melihat air mata mulai menggenangi mataku. Dengan sigap ia menelpon Mr. Hawkins, petugas keamanan setempat yang juga berjaga di kamp pengungsian.

Mobil yang ibu kendarai melaju kencang menuju kamp. Ada banyak mobil militer, rumah sakit, dan tenda-tenda darurat. Aku sempat melihat ayah di salah satu tenda yang digunakan sebagai laboratorium darurat. Karena laboratorium kota yang letaknya hanya beberapa blok dari sekolahku juga sudah terkena terror kecoak-kecoak itu.

Daily Maxfield hari ini mengabarkan bahwa, koloni kecoak sudah sampai di bagian selatan West End, yang artinya sudah melewati rumah kami dan tinggal beberapa mil lagi menuju kamp pengungsian! Semua bersiap, aku lihat ayah semakin kacau setiap harinya. Setelah bekerja keras hingga tidak tidur satu minggu lamanya, akhirnya tim peneliti berhasil menemukan ramuan yang tepat. Aku baru mengetahui kalau ayah menggunakan sampel kecoak yang menempel di kaus kakiku untuk penelitiannya.
Tapi sekarang, permasalahan terbesar adalah bagaimana menembus jutaan koloni kecoak yang amat ganas dan buas itu, untuk sampai ke pusat induk semangnya? Kendaraan biasa bisa dipastikan mustahil untuk melakukannya.

Puluhan tank besar dan beberapa kendaraan khusus berisi tabung-tabung besar dengan cairan kimia di dalamnya berjalan menuju Sekolah Menengah Pertama Benchurch. Menyusuri jalan-jalan besar yang ternyata sangat padat dengan keadaan mencekam. Lalu lintas kacau, tidak ada yang mau menunggu semua pengendara saling berebut jalan, karena menghindari terror kecoak yang semakin meluas. Ditambah dengan pemberitaan dari media masa yang menambah kekhawatiran. Helikopter juga disediakan untuk memantau keadaan yang semakin tidak kondusif.

Ayahku sebagai ketua tim khusus ini berangkat dengan kendaraan militer paling terakhir. Karena ia masih harus menyiapkan segala sesuatunya, untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Setelah meminta izin, ibuku dan aku akhirnya diperbolehkan menemui ayah di tenda laboratorium. Ibuku langsung memeluk ayah dengan erat. Begitu pula dengan ku. Ayah menggendongku selama beberapa saat. Aku benar-benar tidak rela atas kepergiannya hari ini. Tapi ia meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan ia juga mengatakan kalau ia harus mengakhiri apa yang telah ia mulai.

Ibu menarikku keluar kamp. Aku sempat melihat ayah melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam tank. Dalam hati aku ingin berontak! Semua ini salahku! Tidak seharusnya aku biarkan ayah berangkat sedirian. Tiba-tiba sebuai ide gila melintas di benakku. Perlahan tapi pasti, aku mencoba mengalihkan pandangan ibu dari ku. Aku lepaskan, tangannya dengan hati-hati. Aku kemudian mengatakan padanya ingin tidur lebih awal. Ibu tidak curiga, karena ia juga sedang sibuk berbincang dengan Mr. Hawkins.

Tapi aku tidak ke dalam kamp. Aku tadi sempat mendengar kalau ternyata ada satu kendaraan rumah sakit yang tertinggal karena masalah teknis, setelah diperbaiki, kendaraan ini siap diberangkatkan ke sekolahku. Aku mengambil beberapa barang penting yang memang sengaja aku tinggal di dalam mobil. Kemudian, aku lihat letak parkir kendaraan rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari mobil ibu.
Aku mengendap-endap untuk bersembunyi di bagian belakang mobil. Berhasil! Tidak perlu waktu lama untuk menunggu. Mesin kendaraan dinyalahkan, dan aku sudah sangat siap untuk membantu ayahku. Meskipun aku tahu, ibu pasti akan khawatir sekali.

Dari balik kaca, aku bisa lihat dampak mengerikan yang terjadi di kota. Aku bahkan tidak mengenali kota Benchurch yang dulu sangat indah, sekarang berubah menjadi lautan darah. Aku juga sempat melihat rumahku, segala penjuru di tutupi kecoak-kecoak ganas yang siap menerkam kapan saja. Aku sempat takut sesaat, tapi aku seperti mendapatkan sebuah kekuatan lebih begitu membayangkan wajah ayahku.

Cerpen Karangan: Arrum Yoanita Sari
Facebook: Arrum Yoanita Sari

Cerpen Aku dan Penelitian Ayahku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mungkinkah Kau Kembali?

Oleh:
Sahabat? Sahabat seperti apa aku ini? Masih pantaskah aku menjadi sahabatnya? Aku yang selalu membutuhkannya, dengan mudahnya aku memaksanya untuk berada di dalam genggamanku. Bagaimana jika aku tidak membutuhkannya?

Ayah… ini Aku

Oleh:
Tubuh Mungilnya menggigil kaku… ia duduk di sebrang trotoar, sambil terus menggigil kedinginan.. tiba tiba dua orang sosok berbadan tegap dan gelap mendekatinya “Dasar Anak gak tau diri kamu!!!,

Pohon Cinta

Oleh:
Pohon tersebut tumbuh besar dalam dua hari, Aku sangat terkejut melihat perkembangannya yang sangat cepat, ia tumbuh di belakang rumahku, Berbentuk seperti pohon cemara. Tiga minggu pun berlalu, pada

I am Sorry

Oleh:
Senior High school. Duduklah beberapa remaja, yang sedang berbahagia karena pulang lebih awal dari pada biasanya karena guru yang sedang rapat. Tania Micell Darwin yang sedang duduk Di koridor

Penyesalan

Oleh:
Saat itu matahari sudah mulai memuncak, aku masih setia berada di dalam ruang kecil tempat tidurku, menatap sayu langit biru yang berbatas kaca cendela. Aku masih enggan melangkahkan kakiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Aku dan Penelitian Ayahku (Part 1)”

  1. rahma says:

    yaampun ini harus dibikin film, pasti keren punya film fiksi buatan orang indonesia sendiri

  2. josephine korin says:

    Bagus
    banget
    Pinter
    yg
    Bikin
    Cerpennya

  3. franklind says:

    Kapan part2 nya….keren loh. 😀

  4. Arrum Yoanita Sari says:

    Terima kasih untuk teman2 yang sudah menyukai karyaku ini.
    Bagi kalian yang ingin membaca part 2 nya silahkan cari dengan key words “Aku dan Penelitian Ayahku (Part 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *