Aku dan Penelitian Ayahku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 May 2014

Dan, disinilah aku, di tempat aku mengawali semua kekacauan ini. Tempat aku melihat ribuan koloni kecoak berkembang biak tanpa bisa dihentikan. Tempat aku melihat guru-guru, dan teman-temanku bertemu ajal mereka dengan sangat mengerikan. Aku melihat, orang-orang turun dari tank dan kendaraan khusus yang membawa tabung-tabung besar. Mereka mengenakan pakaian khusus berwarna putih. Dengan tabung kecil di belakangnya, terlihat seperti baju astronot tapi sedikit lebih besar.
Aku juga melihat ayahku. Ia mengisi tabungnya dengan cairan kimia dari mobil khusus itu. Kedatangan mereka langsung disambut jutaan kecoak yang memenuhi sekolah. Mereka menyemprotkan cairan kimia itu ke berbagai arah. Tapi ternyata tidak semudah yang diperkirakan, karena kecoak-kecoak disini sudah lebih kebal dan besar ketimbang dengan kecoak-kecoak yang menyerang kota.

Mati-matian mereka melakukan berbagai cara untuk melawan monster-monster kecoak mengerikan yang bertebaran di sekitar mereka. Aku hanya bisa melihat dengan gemetaran dari dalam mobil ambulans. Aku tidak melihat ayahku! Kemana dia? Aku merenung sesaat, dan aku mengerti sekali, kalau ayahku sedang memancing induk semang kecoak itu untuk keluar dari sarangnya!

Dari semua hal yang aku sudah lihat dan rasakan, aku tahu bahwa kecoak-kecoak itu mengincar darah manusia! Mereka butuh protein dalam tubuh manusia untuk perkembangbiakan mereka! Tapi dengan baju pelindung seperti itu, mereka tidak akan berhasil untuk “memanggilnya”. Beranikah aku keluar? Kataku dalam hati. Karena sedikit saja aku melangkahkan kaki, mungkin riwayatku akan tamat sebelum bisa memanggil induk semangnya.

Marisa Frankland sangat panik begitu menyadari putrinya tidak ada di kamp. Ia ditemani petugas setempat mencari-cari keberadaan Ami. Setelah hampir putus asa, Marisa tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Mr. Hawkins, kau tadi mengatakan padaku kalau ada satu kendaraan rumah sakit yang datang terlambat karena ada masalah teknis. Tapi apakah kendaraan itu akhirnya berangkat juga?”
“Tentu saja! Karena kendaraan itu memang sangat dibutuhkan untuk kejadian-kejadian seperti ini. Ada apa Marisa?”
“Tolong, antarkan aku secepatnya ke sekolah Benchurch!”
“Apa! Tidak bisa!”
“Aku mohon, putriku ada disana!”
“Mustahil, bagaimana bisa!”
“Pokoknya tolong sediakan kendaraan agar aku bisa ke sana!”
Meski sedikit ragu, tapi setelah memaksa pihak kamp akhirnya mereka mengizinkan untuk memakai satu cadangan kendaraan khusus yang tersisa. Dengan perlengkapan seadanya, Marisa Frankland, dan Mr. Hawkins, serta ditemani beberapa petugas menyusul ke sekolah Benchurch.

Dengan memakai mantel yang biasa aku gunakan saat hujan, aku memberanikan diri untuk keluar dari mobil. Dugaanku tidak meleset, segera setelah aku melangkahkan kaki di tanah. Jutaan koloni kecoak langsung mendekatiku. Aku menjerit sejadi-jadinya, sambil memukul-mukul kecoak yang datang menghampiriku dengan tongkat baseball.
“Daddy!” Teriakku amat keras.
Beberapa petugas yang sedang sibuk membasmi koloni kecoak lain di dalam segera menyadari ada yang tidak beres. Mereka bingung karena mendadak kecoak-kecoak itu berhamburan keluar. Dan betapa terkejutnya mereka begitu melihat seorang ada seorang anak perempuan yang diselimuti moster-moster kecoak itu. Mereka berlari, dan berusaha menjauhkan monster-monster mengerikan yang berada di sekelilingku. Kemudian membawaku masuk ke dalam mobil.

“Siapa kau? Dan, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya seorang petugas padaku, yang aku rasa lebih mirip bentakan ketimbang pertanyaan introgasi.
“Aku Ami. Aku kesini karena ingin membantu ayahku.”
“Membantu ayahmu hah? Kau bisa mati disini!”
“Aku tahu! Tapi Mr. Aku ingin mengakhiri apa yang aku mulai!” Kataku mengulang kata-kata yang pernah ayah ucapkan padaku sebelumnya.
“Kau putri profesor Frankland?” Tanyanya terkejut.
“Benar!” kataku tegas.
“Ayahmu akan marah sekali jika mengetahui hal ini!”
“Ku mohon, izinkan aku ikut membantu!” Sebisa mungkin aku merengek-rengek di depan pak petugas itu. Ia awalnya tidak mengizinkan, namun setelah aku mati-matian membujuknya, ia akhirnya meminjamkan aku satu baju pelindung cadangan yang agak kecil. Kami pun keluar dari mobil, dan mencoba menerobos ke dalam kerumunan monster-monster kecoak mengerikan.

Tank-tank besar membantu menembakkan cairan kimia ke dalam bangunan sekolah. Aku tetap belum bisa menemukan ayahku! Aku berusaha melepaskan pegangan keras petugas itu dari tanganku. Aku ingin berlari ke dalam, akhirnya aku membuka sedikit bagian baju pelindung di lenganku. Dengan cepat kerumunan kecoak berlari ke arah kami. Saat sedang sibuk menghalau ratusan koloni kecoak itu, aku memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan pegangan petugas itu, dan berlari sekencang-kencangnya ke dalam.

Aku berlari melewati lorong lorong sekolah yang sudah tertutup oleh lendir dan sarang-sarang telur. Ada banyak larva juga disana. Aku menyalahkan senter kecil, meski sekolahku tampak sudah tidak berbentuk lagi, aku masih bisa mengenali beberapa ruangan berkat bantuan papan-papan penunjuk kelas. Kelas 2-E, berarti aku hanya tinggal melewati beberapa ruangan kelas lagi untuk sampai ke depan ruang kelasku, sambil terus menyemprotkan cairan kimia yang di buat ayah, aku mencari jalan tercepat untuk sampai ke laboratorium sekolah.

Sebisa mungkin aku menghindari petugas yang masih sibuk membasmi monster-monster kecoak itu. Butuh waktu lama untuk sampai ke depan ruang kelasku, dan begitu sampai, betapa terkejutnya aku begitu melihat keadaan mengerikan di seberang. Di laboratorium sekolah. Seekor kecoak dengan ukuran besarnya yang tidak masuk akal ada tepat di tengah ruang laboratorium yang sudah rusak total! Makhluk mengerikan itu ada di dalam sebuah kantung besar dengan telur-telur dan jaringan-jaringan lendir berwarna biru.

Aku benar-benar gemetar melihatnya. Ayahku berdiri beberapa meter di depan makhluk mengerikan itu. Ayah ingin memancingnya keluar dari sarang! Berkali-kali Ayah dan puluhan petugas di belakangnya menyemprotkan cairan kimia khusus. Namun, ia tetap tak bergeming.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Ketika aku mencatat bagian-bagian tubuh kecoak kecil yang aku bawa, aku sempat melihat ada cairan bening kebiru-biruan keluar dari bagian bawah perutnya. Kalau dugaanku benar, mungkin itu titik kelemahannya. Tapi bagaimana caranya aku kesana?

Yucks! Menjijikkan sekali, aku tertimpa lendir dari langit-langit lorong. Cairan itu menempel tepat di kepalaku. Untung saja ada baju pelindung ini, kalau tidak rambutku bisa rusak. Aku mengarahkan senter ke langit-langit, ada bayi-bayi larva disana, mereka menggeliat membuatku mual. Aku melanjutkan perjalananku, sambil memikirkan cara untuk bisa mendekat ke perut induk semang monster kecoak itu.

Ada monster kecoak lain di sana! Bersama dengan koloninya berada tepat di depan ruang kelasku, aku melihat ke sekeliling, mencari apapun alat bantu yang bisa kutemukan, tapi nihil! aku bahkan tidak bisa melihat benda apapun! Semua tertutup lendir. Aku mundur beberapa langkah, dan menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku. Sekuat tenaga aku berlari dan menyemprotkan seluruh cairan kimia dari bajuku. Sambil menghalau kecoak-kecoak yang mencoba menyerang dengan tongkat baseball yang tadi aku bawa. Oh tidak! Mantelku sobek karena terkena kibasan sayap salah satu monster kecoak. Aku mulai merasakan nyeri dan panas di lenganku. Darah segar yang memancar keluar segera menjadi santapan kecoak-kecoak mengerikan itu.
“Tooolllooooong!!” Teriakku sekencang-kencangnya. Aku menjerit-jerit tak karuan. Tapi sepertinya tidak ada seorang pun yang mendengarku.
“Daddy, tolong aku!!” Teriakku lagi. Baju pelindungku mulai sobek di beberapa bagian. Aku mulai merasakan berat dan sesak yang teramat sangat. Mataku mulai berkunang-kunang. Aku tahu kalau mustahil bagiku untuk bisa keluar dari sini.

Dalam keputus-asaan dan dengan tenaga yang hampir habis, aku melihat cahaya dari atas. Suara berisik mesin semakin mendekatiku. Sebuah helikopter! Apa mereka melihatku? Ada suara lain yang mendekat. Suara teriakan, dan seperti kerumunan orang-orang sedang berlari ke arahku.

Aku sempat tak sadarkan diri, yang aku ingat ada banyak sekali orang di dekatku, mereka mencoba mengeluarkanku dari serangan koloni kecoak yang mengerikan. Setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.

Sebuah Land Rover khusus berukuran besar mencoba menembus pagar penghalang di sekolah Benchurch. Mobil berkekuatan besar itu menghancurkan apapun yang ada di depannya. Dan, beberapa petugas di dalamnya terus menyemprotkan cairan kimia ke arah koloni kecoak yang mulai menyerang. Semakin dekat, mereka melihat jutaan koloni sedang mengelilingi satu sosok di ujung lorong sekolah.

Seorang wanita muda di dalam mobil itu segera berteriak, dan memberikan tanda pada semua petugas untuk menjalankan kendaraannya kesana. Dan benar saja, wanita itu sangat terkejut begitu menyadari siapa yang ada dalam kerumunan kecoak-kecoak itu.

Sekuat tenaga ia mencoba menyelamatkan gadis perempuan yang hampir tidak sadarkan diri. Sinyal yang diberikan helikopter di atas cukup membantu. Gadis itu segera dimasukkan ke dalam mobil. Dan dengan segera diberikan bantuan oksigen. Setelah cukup lama terbaring. Gadis perempuan itu akhirnya sadarkan diri.
“Mummy.” Katanya lesu. Wanita muda yang menemaninya tak kuasa menahan air kesedihan melihat putri kecilnya dalam keadaan seperti ini.
“Ku mohon jangan lakukan hal ini lagi Ami.” Katanya tersedu.

“Mummy izinkan aku keluar!” Teriakku pada Ibu. Aku terus merengek padanya, untuk bisa membantu ayahku. Sudah kutemukan titik kelemahan kecoak itu, dan aku harus memberitahukannya pada ayah! Sekali lagi aku ingin berontak, sampai-sampai aku tidak merasakan nyeri di sekujur tubuhku. Ibuku masih tak bergeming.

Entah kekuatan apa yang ada di dalam tubuhku ini. Aku tiba-tiba mendorong ibuku dengan amat keras, hingga membuat jarum infus di tanganku tercabut. Sambil menahan nyeri, dengan cepat aku mengambil baju pelindungku yang sudah rusak di beberapa bagian.

Aku berlari dan terus berlari untuk bisa sampai ke tempat ayahku. Aku melihatnya, dia dan puluhan petugas mati-matian melawan amukan induk semang kecoak itu. Dan, betapa terkejutnya ayah ketika melihatku sudah beberapa meter di muka. Ia menurunkan senjatanya. Kemudian mencoba menarikku yang sedang terengah-tengah.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya panik.
“Daddy, aku sudah tahu kelemahan makhluk itu!” Aku harus setengah berteriak menyampaikannya. Awalnya ayah tidak percaya, namun ia segera membawaku ke tempat yang lebih aman.
“Apa maksudmu?”
“Daddy, kalau kau mau membunuh makhluk mengerikan itu beserta koloninya, semprotkan cairan kimia yang ayah buat tepat di indung telurnya.”
Ayah terdiam sejenak.
“Aku sudah lihat, kalau ternyata jarak di antara kakinya lumayan besar, mungkin orang dewasa tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi, aku bisa melakukannya!”
“Mengorbankan nyawamu? Astaga Ami! Tidak akan aku izinkan!”
“Ku mohon daddy, ini patut di coba”
“Tidak!”

Ayah terdiam lagi. Cukup lama ia melihatku. Sebelum, kemudian ia bangkit dan memanggil beberapa petugas. Mereka terlibat percakapan yang cukup serius. Beberapa menit kemudian, ayah kembali.
“Pakai ini.” Ia memberikan pakaian pelindung berwarna silver padaku, serta beberapa tabung dan sebuah jarum suntik berukuran besar, dan sebuah tali. Ia mengikatkan tali yang lumayan panjang itu pada tubuhnya dan tubuhku.
“Jika keadaan di dalam terlalu menakutkan, segera tarik tali ini beberapa kali. Aku akan segera menarikmu keluar.” Kata ayah lagi. Aku mengangguk. Ia pun memelukku begitu erat.
“Aku menyayangimu dad.” Kataku.
“Aku juga.”

Beberapa petugas mencoba mengalihkan perhatian monster kecoak itu. Sementara itu, aku dan ayah bersiap mengambil jarak aman. Aku sempat melihat ada ketidakrelaan terpancar dari sinar mata ayah. Aku memberikan anggukkan kecil, perlahan tapi pasti, aku mendekat ke bagian belakang tubuh monster kecoak itu. Semakin dekat, dan aku berhasil melewati kaki belakangnya. Udara disini membuatku mual! Tapi aku harus tetap fokus, aku harus secepatnya menemukan indung telur dari kecoak ini.

Astaga! Itu dia! Di antara buku-buku kakinya, ada cairan lendir berwarna bening kebiru-biruan keluar bersamaan dengan telur-telur kecoak yang amat banyak. Begitu menemukan sumber kelemahan makhluk itu, aku segera mengarahkan senjata khusus berisi cairan kimia yang tadi diberikan ayah. Entah berapa lama lagi, para petugas di luar bisa mengalihkan perhatian makhluk mengerikan ini!

Shoot! Tembakku beberapa kali. Monster itu berontak! Tiba-tiba tubuhnya yang besar hendak menimpaku! Ditambah dengan gerakkan kaki-kakinya yang membuatku berlarian ketakutan untuk keluar dari injakkan kaki-kakinya. Aku menarik tali yang melingkar di pingganggu beberapa kali. Ayah mencoba menyelamatkan aku, tapi ia tidak bisa menembus ke dalam!

Aku menjerit ketakutan hingga menangis. Aku lihat beberapa petugas mencoba menghancurkan makhluk itu dari segala arah. Tapi ia terlalu kuat! Tank-tank besar menembakkan beberapa peluru. Disaat yang mencekam itu tiba-tiba saja tali yang menghubungkan tubuhku dengan tubuh ayah terputus! Aku semakin panik. Sekarang, aku berada di tengah-tengah jutaan telur kecoak. Senjata kimiaku tinggal sedikit. Selama beberapa saat, pikiranku buntu.

Brak! Aku mendengar suara salah satu kecoak yang patah. Semakin jelas, aku lihat sosok ayahku, berjalan penuh ketakutan sambil mengibaskan pisau besar yang ia bawa. Mematahkan setiap buku-buku kaki dan kulit monster kecoak yang amat keras. Kesadaranku sudah hampir habis. Aku semakin sulit untuk bernafas. Aku ingat, ayah sempat menanyakan sesuatu padaku, sebelum akhirnya ia memasukkan sebuah injeksi raksasa tepat ke dalam indung telur monster itu.

Ayah menarikku keluar dari sana. Makhluk mengerikan itu mulai menggeliat-geliat dan aku bahkan sempat mendengar teriakannya. Kami berhasil menyelamatkan diri sebelum tertimpa tubuh raksasa monster kecoak itu. Ayah membawaku ke dekat tank, agar bisa berlindung. Sementara, ia kembali bergabung dengan petugas lain untuk menghancurkan kecoak itu. Aku tentu tak bisa diam begitu saja! Aku tidak rela, ayah kembali kesana!

Saat itu aku hanya berpikir untuk membantu ayah. Tapi sekarang, aku benar-benar menyesal dengan keputusanku. Aku berlari mengejar ayah, dan mengambil beberapa tabung kimia lagi. Aku bermaksud memberikan tabung-tabung itu padanya. Namun ternyata, ketika aku mendekat, aku sama sekali tidak menyadari kalau monster mengerikan itu mengibaskan sayapnya yang sekeras baja itu tepat ke arahku. Ayah yang melihat kejadian itu segera mendorong tubuhku. Dan saat itulah tubuhnya terkena kibasan sayap monster kecoak itu. Setelah itu, hidupku bagai kiamat. Aku melihat tubuh ayah yang sudah tidak berdaya terinjak-injak kaki besarnya.

Aku berontak! Dengan spontan aku mengambil tabung paling besar dan berlari kembali ke dalam perut moster kecoak itu. Aku berdiri tepat di depannya dan aku masukkan cairan pembunuh itu tepat di indung telurnya. Monster itu meronta sekali lagi, sampai kemudian tubuhnya bergetar dan mengeluarkan lendir berwarna kecoklatan yang disertai dengan busa-busa kecil. Dalam hitungan detik, monster mengerikan yang telah menghancurkan seluruh kota itu tumbang.

Semua monster kecoak sudah mati. Kota sudah kembali aman. Namun, keberhasilan ini harus dibayar mahal. Nyawa ayahku tidak tertolong. Seluruh kota pun berduka atas kepergiannya. Aku terisak sepanjang hari. Aku benar-benar menyesal! Aku bahkan tidak sempat mengucapkan “terima kasih” pada ayah. Aku benar-benar membenci diriku saat itu.

Andai saja aku mendengarkan kata-kata ayah. Andai saja aku tidak hanya memikirkan egoku. Andai saja aku mencari serangga yang lain untuk tugas biologiku. Andai saja aku tidak menyepelekan apapun. Tentu semua ini tidak akan terjadi.

Setelah pemakaman dan para pelayat sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Aku dan ibu tetap tidak bergeming di pusara ayah. Aku menangis, dan terus menangis. Sampai akhirnya ibuku mendekat, ia membangunkan aku yang sedang meringkuk di samping pusara ayah. Ibu memelukku begitu erat.
“Sudah jangan menangis lagi Ami. Ayah pasti sudah memaafkanmu.”
Aku menengadahkan wajahku yang sembab.
“Mummy.” Kataku lesu. Ibu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung mantelnya. Sebuah kotak kecil berwarna putih.
“Kata ayah, kau harus menyimpan ini baik-baik. Ia juga mengatakan padaku, jika ia tidak bisa menemanimu saat ini, kau harus membuka kotak kecil ini.”

Mobil yang membawa kami ke West End melaju mulus melewati jalan-jalan di kota Bencurch. Pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah yang dibantu oleh masyarakat sekitar, membuat kota kembali pulih dan bersih lebih cepat. Aku membuka kaca jendela mobil, dan menikmati hembusan angin yang terasa sejuk menyapu wajahku. Menghabiskan senja hari yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.

Setelah menghabiskan makan malam pertama yang teramat berat tanpa kehadiran ayahku, aku memberanikan diri untuk berkeliling di laboratoriumnya. Aku bisa lihat ada beberapa percobaan ayah yang belum selesai. Membuatku semakin merindukannya. Aku termenung di kursi yang biasa ayah gunakan untuk makan malam. Ingatan akan kebersamaanku dengannya disini terasa sangat kuat.

Aku kemudian mengeluarkan kotak kecil yang ibu berikan di pusara tadi. Ternyata kotak itu berisi banyak sekali foto aku, ayah, dan ibu. Foto dari ketika aku baru lahir. Hingga kemarin, ketika aku lulus sekolah dan menjadi Siswa Tahun Ini. Menyenangkan! Hari-hari bersama ayah selalu menyenangkan!
Aku menaruh kembali foto-foto itu ke dalam kotak. Kemudian aku berjalan lesu keluar dari laboratorium. Aku melihat ibu juga termenung di sofa. Aku mendekatinya, dan mulai bersandar di bahunya.
“Maafkan aku Mummy.” Kataku pelan. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut ibuku. Tapi aku bisa merasakan, kalau ia sudah memaafkan aku dan mengikhlaskan segalanya.

Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa berguna dan bisa membantu orang-orang di sekitarku, seperti yang selalu ayah lakukan. Dan disinilah aku. Di usiaku yang menginjak 21 tahun, aku mengikuti jejak ayahku untuk menjadi seorang peneliti. Aku ingin buktikan padanya, kalau aku bisa memenuhi harapannya. Kalau seorang anak perempuan nakal bernama Ami Frankland sudah berubah dewasa. Dan akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya. Seperti yang sudah ia lakukan, untuk menjadi yang terbaik bagi kami semua di Benchurch.

Selesai

Cerpen Karangan: Arrum Yoanita Sari
Facebook: Arrum Yoanita Sari

Cerpen Aku dan Penelitian Ayahku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Akhir Waktuku

Oleh:
Ku buka tirai jendela kamarku. Matahari bersinar cerah, seperti berlawanan dengan suasana hatiku yang masih seperti semalam. Semalam jantungku berdegup kencang. Kini deg deg-an itu menghilang. Tapi resah itu

Petaka

Oleh:
Sore itu hujan deras membasahi bumi, Guruh bersahut-sahutan. Dengan langkah tergesa Ghea berlari sembari melindungi kepalanya dengan tas ranselnya. “Ghea, kamu habis darimana dek? Kok gak minta jemput sih?

Puisi Terakhir

Oleh:
Kita masih disini… Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini. Entah sampai kapan kita mampu bertahan. Tapi kita harus tetap berjuang. Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,

Tinggalah Lebih Lama

Oleh:
Tempat ini, aku selalu merindukannya sepanjang tahun, setiap liburan seperti ini aku menyempatkan singgah di rumah nenek karena menariknya di belakang Desa ada Hutan pinus yang selalu membius mataku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “Aku dan Penelitian Ayahku (Part 2)”

  1. Khansa Tamamiyah Mahendraswari says:

    Keren y ceritanya… wow 🙂

  2. Amilia says:

    Kereennn >_< good job 🙂 terimakasih

  3. Stephanie Angelina says:

    Wow…. Keren dan ceritanya menarik utk di baca ^_^

  4. fathan says:

    waw keren aku suka cerita seperti ini semoga ada cerita seperti ini lagi amin

  5. Salma Suhailah Rajwa says:

    Serius deh, Aku bacanya ngerasa SEDIH + TAKUT!!

    yg bikin Cerpen ini, PINTER!!! ini mah kayak kisah nyata, bukan Fiksi! Yg bikin ini, I?U!! GOOD JOB!!(Y) (Y)

  6. saba says:

    Point of view nya agak membingungkan,,ada beberapa hal yg bertolak belakang dalam cerita seperti gerombolan kecoak yg sudah sampai di rumah tokoh (apakah mkasudnya rumah tsb hancur jg) dan diakhir tokoh kembali ke rumah…penggambaran setting khssnya di klimaks agak bingung…tapi ceritanya bagus..penokohannya bagus

  7. Arrum Yoanita Sari says:

    Terima kasih untuk teman2 yang sudah menyukai karyaku ini.
    Terima kasih juga atas saran dan kritiknya, sangat membantuku dalam menyempurnakan karya2ku selanjutnya

  8. Arif Afrianto Suragadhing Kertabaya says:

    Hebat, aku seneng bacanya.
    Tapi sayang, seting tempatnya gak di INDONESIA terus nama-nama tokohnya juga gak pake nama orang INDONESIA. Misal di bikin film jadi gak ada ciri-ciri INDONESIAnya dong 🙁
    Tapi jujur ini cerpen keren banget, semoga cerita-cerita selanjutnya lebih keren dan berciri Indo, biar Indonesia bisa mendunia kaya Anime Japan & K-pop Korea. Semangat yah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *