Aku Melihat Ikan Paus Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 6 December 2016

Di desaku, pagi-pagi sekali para nelayan sudah turun melaut, beberapa ada yang membawa jaring besar, ada yang hanya membawa pancing. Ayahku, juga seorang nelayan, saban pagi ia turun melaut, sejak hari itu, ibuku tak pernah mau ikut. Ketakutannya melihat ikan paus merah membuat kenangan buruk dalam ingatannya.

Sore itu senja begitu cerah, ayahku dan ibuku yang sudah turun melaut dari subuh tadi akhirnya pulang juga. Hasil tangkapannya lumayan banyak, namun wajah ibu tak seceria biasanya. Tangkapan ikan yang banyak tak bisa membangunkan senyum pada wajah ibuku lagi, sore itu.
Cepat-cepat ayah memintaku mengambilkan selimut untuk membalut tubuh ibuku yang menggigil. Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan matanya penuh ketakutan.

“Jeritan, Jeritan itu.”
Ibu terus saja berkata tentang jeritan itu.
“Jeritan itu begitu memilukan, menyedihkan dan menyayat… Jeritan itu… Ahhh..”
“Apa?.. Apa?! Jeritan Apa, Bu?” Sahutku.
“Jeritan itu, jeritan ikan paus merah!”
Sejak hari itu aku baru mempercayai kalau ikan paus merah itu ada dan aku ingin sekali menyaksikannya untuk menghilangkan kesangsianku.

Orang-orang tak pernah percaya kalau ikan paus merah itu ada, bahkan setelah ibuku melihatnya. Orang-orang malah menganggap ibuku gila dan mengada-ada. Awalnya aku juga mengira ibuku gila, karena mengingat ikan paus merah itu yang sudah lama menjadi mitos puluhan tahun dan tak pernah terbukti adanya. Namun, yang sangat dipercayai jika ikan paus muncul dan ada yang melihatnya pertanda bencana alam akan segera menyarang tapi semoga saja tidak.
Setelah beberapa bulan sejak ibuku melihat ikan paus merah itu bencana alam tak kunjung datang, ya, itu mitos!.

“Bapak, aku ingin ikut melaut.”
“Tak usah, kau masih kecil. Di rumah saja dengan ibumu.”
“Tapi aku sudah lima belas tahun, Pak. Aku sudah gedhe.”
“Sudah kubilang, tak usah. Mau apa kau ikut melaut? Saban hari kamu juga sudah melihat ombak. Ikan tangkapan.”
“Tapi aku ingin melihat ikan paus merah, Pak.”
“Husstt… ikan paus merah itu tidak ada.”
“Tapi ibu melihatnya.”
“Sudah kubilang, ikan paus merah itu hanya mitos. Tidak pernah ada!” suara ayah sedikit meninggi.
“Sudah sana, temani ibumu di rumah. Ayah akan turun melaut. Nanti kalau hujan turun kau angkat jemuran ikan itu.”

Iya, ayahku memutuskan melaut sendiri dan tetap tak mengizikanku ikut. Hari itu aku lihat ayah berangkat dengan membawa jaring ikan di pundak kanannya, tangan sebalah kiri memegang bekal berupa nasi dan ikan asin yang digorengnya sendiri pagi tadi. Ya, sejak hari ibuku melihat ikan paus merah itu ibuku sakit dan jarang turun dari tempat tidurnya apalagi ke luar dari pintu rumah.

Siang begitu terik, beberapa ikan yang sudah dijemur sejak dua hari yang lalu sudah mulai mengering. Keluargaku hidup dengan pendapatan dari menjual ikan asin dan beberapa jenis ikan lainnya. Saat ikan sudah kering aku membawanya ke pasar untuk menjualnya. Ya, aku mulai melakukan pekerjaan ini sejak ibuku sakit karena melihat ikan paus merah itu.

Ah, sialan ikan paus merah itu, membuatku putus sekolah, membuat pemasukan keluargaku menurun drastis, membuat ayahku mudah marah. Aku ingin melihatnya, mencabut anak panah yang menancap di punggungnya dan menyumpal mulutnya hingga tak mampu menjerit lagi dan membuat orang-orang ketakutan dan berada dalam kesedihan dalam sisa hidupnya setelah mendengar jeritannya.

Pada hari berikutnya aku memaksa untuk ikut turun melaut dan Bapak kali ini mengizinkan. Benar saja setelah beberapa jam Bapak mendayung perahunya kami berhenti di tengah lautan. Di tengah lautan kami dikerubungi ombak-ombak yang terus meliuk dan membuat kepalaku pusing. Aku mabuk laut. Sebagai anak seorang nelayan, aneh bukan?

“Kamu ini aneh, anak seorang nelayan kok mabuk laut,” ujar Bapakku.
Huweeeekkkk… huwekkkkk… huweeekkkk… aku tak bisa menjawab omongan bapakku karena muntahan berupa air dari mulutku terus keluar. Pagi tadi kami tak sempat sarapan, hanya minum segelas air.

Saat aku merasa semua isi yang ada di dalam perutku sudah terkuras, aku mulai lemas. Aku mulai merebahkan tubuhku di tas perahu bapakku dan bapakku rupa-rupanya sudah mendapatkan beberapa ikan yang masuk ke jaringnya saat aku muntah-muntah tadi. Terik matahari mulai menyorot ke tubuhku yang masih lemas, setengah hari sudah aku tiduran di atas perahu bapakku. Masih kulihat bapakku sepertinya masih melemparkan jaringnya dan belum ada niat untuk pulang.
“Sudah, Kau lanjutkan saja tidurmu. Sudah kubilang tadi. Jangan ikut! Jangan ikut! Masih saja ngotot. Sudah kukatakan ikan paus merah itu tidak ada. Itu tahayul.”
Aku melanjutkan tidurku di atas perahu.

Senja sore mulai terlihat, awan kekuning-kuningan terlihat begitu indah, lautan bak disinari matahari sore. Indah sekali. Gelombang lautan kemerlip bak mutiara yang sedang dijemur. Menyilaukan mata. Dari kejauhan dengan mata yang sedikit terbuka aku lihat sepertinya ikan paus merah mulai meloncat-loncat. Ya, ikan paus merah itu tetap masih dengan panah yang menancap di punggungnya, benar, warnanya merah. Merah darah. Ah, sepertinya aku sedang bermimpi.
Aku buka mataku lebih lebar, aku perhatikan benar dan aku tajamkan pandanganku. Ah, benar, itu ikan paus merah!
“Bapak, lihat, itu ikan paus merah! Ikan paus merah itu memang ada, Pak!. Ada!”
Bapakku hanya terdiam dengan mata menatap ikan paus merah itu, dan tiba-tiba bapakku menangis tersedu-sedu.

Semarang, 10 Agustus 2016

Terinspirasi dari cerpen “IKAN PAUS MERAH” karya Seno Gumira Aji Darma.

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Facebook: Bintu Aql

Cerpen Aku Melihat Ikan Paus Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peri Penyelamat Airin

Oleh:
Jam dinding itu menunjukan pukul 21.15 waktu tokyo. Waktu yang sangat pantas untuk tidur dan beristirahat di tempat yang paling nyaman. Namun tidak bagi Airin Kinoshiwa, jam segini digunakannya

Setengah Jam di Pulau Tanpa Nama

Oleh:
“Please, Ella. Gue ga tau lagi mau ngajak siapa. Loe tau sendiri, gue udah kerja lama sama bos gue tapi belum juga naik pangkat.” Dinda masih saja merengek-rengek supaya

The Rain

Oleh:
Cerita ini dimulai saat hujan deras mengguyur kota seoul, korea selatan. Seorang gadis bernama cho yong ra tengah duduk di kursi taman sekolah sambil membaca buku novel yang ia

Planet Cokelat

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dengan mimpi aneh, mimpi yang menyenangkan dan seru jika itu adalah kenyataan. Aku bermimpi jika aku berada di planet cokelat yang sangat menggiurkan, di sana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *