Aku Tak Pernah Dilahirkan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 July 2018

Tettt tetttt tetttttt…
“Raya… bukain pintu tolong. Ibu masih di kamar mandi nih”

The boys know what you’re giving
You give the boys such a lot of fun
And by the way that you make a living…

“Rayaa!! Denger gak sih?!!”
(mematikan lagu) “iya bu denger” (menuju pintu dan membukanya)

INTRO…
Namaku Raya. Aku tak pernah memikirkan apa rencanaku sebelum melakukan suatu hal. Aku tak pernah menghentikan sesuatu terjadi padaku. Kubiarkan seolah ku menikmatinya. Aku tak pernah memikirkan tindakan yang kulakukan setelah ku bangun tidur, setelah ku mandi, setelah ku makan bahkan setelah aku dilahirkan.

BACK
Aku tak pernah mengenali orang ini. Apa karena Ibu pernah menyuruhku untuk memperhatikan orang asing sebaik–baiknya. Aku menatap pria itu dari ujung sepatu hitam mengkilap yang dipakainya hingga topi ala coboy coklatnya. Aku terdiam beberapa saat hingga pria itu membuka kacamata hitamnya dan berbicara padaku dengan tersenyum sinis. “Kamu mirip ibumu”. Aku berkedip dan mataku terbelalak kaget. “Bapak siapa ya? Mau cari siapa?” tanyaku polos. Pria itu menatapku semakin tajam dan membuatku agak risih. “Saya teman lama ibumu. Ibumu ada di rumah?”. Jawaban pria itu membuatku sedikit agak lega. Setidaknya ibuku mengenalinya. “Oh Ibu, Ibu… Ibu ada di dalam. Siahkan masuk pak”. Langsung saja kupersilahan pria itu masuk dan menemui ibuku.

Aku berjalan mengiringi pria itu ke ruang tamu. Cermin terpasang di sepanjang lorong menuju ruang tamu. Aku tetap menatapi pria itu dari belakang karena keunikan busananya. Tak sengaja ku menoleh ke arah cermin sambil melewatinya. Aku terhenti dan mengelus-elus kedua mataku ketika ku menyadari saat tadi ku melewati cermin hanya bayangan pria itu saja yang tertangkap. Namun aku tak terlalu memikirkan dan tak berniat memastikan kembali, karena aku yakin ini adalah efek otakku yang kurang tidur semalam. Ku memanggilkan ibuku untuk bertemu pria itu.

(mengetuk pintu) “Buu cepetan udah ditungg..” (ibu membuka pintu) “Siapa?” (menoleh pria itu). “Saya datang ke sini hanya menanyakan kabarmu dan keluargamu” kata pria itu. Kulihat ibu tersenyum dan memeluk pria itu. “Ke mana saja kau? Oh ya saya tau. Kau sudah memiliki perusahaan di Malaysia dan kau sudah melupakan teman temanmu di sini kan?” Canda ibuku. “Hahaha lawakan kau tidak berubah ya. Sama seperti dulu”. Aku hanya menonton perbincangan mereka yang mungkin menurut mereka sangat seru. Dan memilih meninggalkan mereka untuk mengenang masa lalunya.

“Demi apa Ray? Lo ke luar rumah gak izin? Plis deh Ray. Gua gak mau kena marah nyokap lo lagi”. Panik Andre temanku. “Kali ini gak apa ndre. Gua yakin!”. Sahutku. “mau Raya diizinin kek, gak diizinin kek. Udah gak ngaruh. Ini kita udah setengah jalan kali”. Kata Acha sahabatku sambil mengendalikan stir mobil. Aku sengaja memberikan waktu untuk teman lama ibuku. Melihat tadi wajah ibu yang sangat gembira dan aku yang tidak disadari keluar rumah, aku memilih untuk ikut pergi bersama kedua kawanku ke puncak. Aku pun tak akan memikirkan bagaimana amarah ibuku kepadaku nantinya. “Asal kita gak nginep, gua aman-aman aja sih”. Tekanku.

“Eh dompet lo jatoh” teriak andre memperingatiku. Dengan sigap Andre mengambil dompetku yang sudah ada di dekat kakinya. Ia melirik fotoku saat aku bayi bersama ibuku yang ada di dalamnya. “Ini elo? Gendut banget”. Ledeknya. “Eh sini sini” sahutku sambil menarik dompet yang dipegang Andre. “Ih bentar, gua mau liat. Tapi lo dulu lucu juga. Ini nyokap lo kan? Gila beda banget ya dulu” Lanjut Andre. “Udah ah (menarik dompet) ini tuh foto udah bertahun tahun yang lalu. Lo tuh gak usah sok kaget gitu deh, gua yakin waktu lo kecil lo pasti lebih gendut dari gua kan” Candaku. Kita bertiga tertawa geli di dalam mobil milik Acha, hingga suasana mulai hening. Aku masih menggenggam dompetku. Tanganku membukanya dengan spontan. Mataku yang mengarah ke luar jendela mobil beralih ke foto yang ada di dompet. Ketika itu aku masih bayi, lemah dan tak mampu mengurus diri sendiri. Kuelus wajah ibuku di foto itu yang sedang menggendongku sambil tersenyum. Senyumnya persis seperti sebelum ku tinggal tadi.
Aku tersentak sadar bahwa aku meninggalkan ibuku berdua dengan orang asing yang tak pernah kutemui sebelumnya. Apa yang telah kulakukan? Bahkan aku tak meminta izin untuk pergi?.

“Udah sampeeee” teriak Acha. Aku kaget dengan teriakan Acha dan melihat keluar jendela. “Cha? Lo bilang, kita ke puncak kan?”. Tanyaku. “Iya ini udah di puncak” sahut Acha santai. “Ini bar yang ada di puncak. Gitu loh Ray!”. Tegas Andre. “Bar? Bar apa?” tanyaku panik. “Bar ya bar. Lo gimana sih Ray. Kan gua udah bilang ini kita perginya ke bar yang di puncak” jawab Acha sedikit emosi. “Tapi…”. “Udahlah, udah terlanjur nyampe sini”. Potong Andre sambil merangkulku. Acha dan Andre menyeretku masuk ke bar itu secara halus. Dan jangan harap aku memikirkan apa yang akan terjadi padaku nantinya.

Aku terkejut melihat orang-orang di dalamnya. Ini bukanlah orang-orangku. “weh sob! Lama kali kau tak ke sini lagi?. Sapa laki-laki darah timur kepada Andre. “Hey kau bawa kawan barukah ini?” tanya laki laki itu. “Hahaha ini temen-temen gua. Ini Acha, dan yang ini Raya” Memperkenalkan kita. “Oh bagus-bagus. Sini kan ku kenalkan kau dengan produk baru”. Apakah firasat dan akalku sudah tidak berfungsi lagi? Bahkan hal seburuk ini tidak terpikirkan olehku untuk dihindari. Ya. Awalnya hanya berniat untuk mencicipi. Namun entah kenapa aku teguk minuman itu bagaikan pelari yang kelelahan sedang meneguk air mineral.

Ku mendengar suara ribut kendaraan. Aku merasa untuk pertama kalinya menghirup udara. Perlahan kulit yang menyelimuti mataku ini terbuka. Beberapa kali ku berkedip dan mengelu-elus mataku. Aku kebingungan mengapa aku ada di dalam mobil tua yang tidaklah mungkin ini milik Acha. Aku pun bangun melawan sakitnya kepala yang tidak berhenti kurasakan. Dan terkejutku mengalahkan sakit kepala ini. Pria yang mengaku teman lama ibuku mengendarai mobil tua ini. Aku mengelus-elus kembali mataku untuk memastikan yang kulihat ini tidak salah. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dan pengingatanku saat itu mendadak terganggu. Aku hanya mengingat aku diperkenalkan oleh Andre kepada temannya di bar kemudian aku mencicipi minuman di sana. Semakin aku memaksa untuk mengingat semakin pula kepalaku ini sakit dan aku tak tahan untuk memuntahkannya.

“jika tidak terbiasa minum, ya jangan coba-coba”. Kata pria itu sinis. Aku pun mulai berusaha berbicara. “Kenapa gua bisa ada di sini? Andre sama Acha mana?” tanyaku melengking. “hm, sudah bagus saya selamatkan” jawabnya sambil mengegas mobil dengan kencang. Aku pun sedikit terpental sambil memegang kepalaku. Aku berusaha bangun kembali melawan mual yang belum sepenuhnya hilang. Aku meraih dompetku yang jatuh. Aku melirik foto yang tak sengaja terbuka di dompetku itu. Ibu. Maafkan aku. Ibu? Aku? Aku kembali bingung karena foto yang seharusnya ibu menggendongku berubah menjadi Ibu yang sedang mengandung. Bahkan aku tak pernah melihat foto ini sebelumnya. Aku yakin aku hanya menempel satu foto di dompetku. Aku tak tau aku salah melihatnya atau ini efek mabukku.

“Nyokap gua di mana?” tanyaku. Namun pertanyaanku tidak dijawab. “di mana nyokap gua woy!” tanyaku dengan nada lebih kasar. Namun pria itu tetap tidak menyahutiku. Aku pun semakin emosi dan berusaha keluar dari mobil tua itu. “hahaha jangan berbuat aneh. Kau belum tau bagaimana dunia yang sebenarnya” kata pria itu. “Lo gak usah sok bijak gitu ya! Gua udah gede! Gua tau apa yang gua lakuin! Gua mau lu bawa gua pulang sekarang!”. Bentakku. “lama-lama kau memang akan mirip dengan ibumu. Tegas, berani, tidak kenal resiko heh, tapi sayang kecantikkannya membutakan pikirannya”. Kata pria itu sambil tertawa. “Lo tu ngomong apa si. Lo apain nyokap gua? Pulangin gua sekarang!!” Teriakku. “kau menghawatirkan ibumu ya? Hm manisnya. Apa kau pernah berpikir apakah ibumu pernah mengkhawatirkanmu?” sahutnya. “Gak! Sedikitpun gua gak pernah mikir. Karena gua gak punya otak! Puas lo?!” Amarah dan emosiku berhasil membabi butakan semua perkataanku. “hm, tidak. Otakmu belum terbentuk” sahutnya sambil mengerem mobilnya. Aku melihat ke luar jendela dan ternyata ia memberhentikan mobilnya di depan rumahku. Aku pun langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah.

Aku berlari melewati cermin dan berhenti kembali karena aku tersadar bayanganku kembali tidak tertangkap oleh cermin itu. Aku kembali berlari menuju depan cermin untuk memastikannya. Mataku terbelalak ketika bayanganku benar-benar tidak ada di cermin itu. Aku menutup mulutku yang spontan terbuka kaget. Aku tak percaya dan mengelus-elus mataku. Aku menampar dan mencubit diriku sendiri berharap semua ini hanya mimpi. Namun sepertinya kenyataan aneh ini tak bisa kuhindari. Apa aku sudah mati? Atau aku sudah berubah menjadi hantu?. Aku menangis ketakutan dan tak lama pria itu mendekatiku. Aku melihat ke cermin dan betapa sedihnya saat bayangan pria itu tertangkap cermin seperti biasa. Aku takut, panik, terkejut hingga aku melupakan ibuku.

Aku berteriak memanggil ibuku. Namun ibuku tak menyahutiku. Aku ingin berlari kembali namun kakiku sudah tidak sanggup berdiri kembali. Kakiku mati rasa layaknya orang lumpuh. Aku semakin menjerit memanggil ibuku. Ketika pria itu sudah melihatku menyerah dan pasrah ia pun semakin mendekatiku. “paham? Apakah kau pernah berpikir ibumu mengkhawatirkanmu?”. Aku melemah saat pria itu bertanya seperti itu. Semakin ia bertanya semakin lumpuh anggota tubuhku. Hingga akhirnya ia menanyakan sesuatu yang melemahkan jantungku. “apa kau pernah berpikir ayahmu di mana?”. Aku tak kuat bernafas. Mataku mulai berat dan jantungku serasa berhenti berdetak.

Gelap, dingin, sunyi.
Ibuuuuuuu …
Rasa ini mulai mendatangiku kembali. Rasa entah apa namanya. Aku mulai bisa menggerakkan tanganku, mulai bisa bernafas kembali. Dan aku dapat merasakan detak jantungku kembali. Perlahan aku membuka mataku. Bernafas dan bergerak sedikit demi sedikit. Aku lega aku kembali. Namun.. Ibu? Apakah aku ini buta? Mengapa di sini gelap sekali. Aku mendengar suara ibuku yang sedang berbicara. Walaupun tidak jelas namun aku lega. Setidaknya ibuku sudah di dekatku. Tunggu. Aku mendengar suara lainnya. Suara laki-laki? Apakah itu ayah? Aku bahagia akhirnya aku mendengar suara ibu dan ayah. Namun mengapa di sini gelap? Aku berusaha menggerakkan badanku. Namun badanku terlalu lemah untuk itu. Aku merasakan perutku terikat di dinding gelap itu. Aku di mana?.

“nggak!! Pokoknya saya tidak sudi dengan bayi yang kau kandung itu!”
“tapi bukan berarti kita mengaborsinya kan” (menangis)
“saya tidak mau tau! Pokoknya sekarang aborsi anak itu!!”
“sa.. saya nggak mau! Saya mohon!
“Saya tidak peduli! Itu adalah resikomu karena kau selalu bersama teman lamamu itu! Kau tak sadar kalau saya suamimu hah? Kau sudah dijodohkan dengan saya tapi apa? Kau tak pernah menghargai saya sebagai suamimu! Kau malah bersama teman lamamu!! Ini yang dinamakan rumah tangga hah?!”

Apa? Siapa? Aborsi? Siapa yang akan diaborsi bu? Ibuuuuu mengapa sekarang aku tak bisa bersuara? Ibu apakah yang dimaksud ayah itu adalah aku? Ibu aku tidak mau diaborsi bu. Aku yakin Ibu menyayangiku dan tidak akan melakukan hal itu kepadaku. Tetapi, ada apa dengan kepalaku bu? Kepalaku berasa ditarik. Ibu, aku mohon jangan lakukan ini bu.

Aku kembali merasakan kelumpuhan. Aku mulai sulit untuk bernafas. Seluruh organ tubuhku seperti tidak berfungsi. Sakit. Hanya sakit yang tak terdefinisikan yang kurasakan. Aku tidak tahu benda apa yang telah menggerogoti tubuhku ini. Aku tak dapat melihat bagaimana benda ini menghancurkan tubuhku. Aku tak dapat bereteriak kesakitan. Aku menahan sakit ini dalam diam. Tali yang mengikat perutku dengan dinding gelap itu mulai keropos dan aku pun terlepas dari ikatannya. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Aku tak mampu bersuara untuk menghentikan hal buruk ini.

Perlahan aku mulai melemah, melemah dan tidak tau lagi apa yang terjadi padaku. Aku tak tahu lagi bagaimana wujudku saat itu. Aku tak tahu selama ini aku ini apa. Karena aku sedikitpun tak memikirkannya. Aku tak tahu di luar sana apakah nasib Acha dan Andre sama sepertiku. Aku tak tahu apa yang dilakukan teman lama ibuku kepada ibuku. Ya. Aku tak pernah memikirkan apapun. Bahkan ternyata aku tak memikirkan bahwa aku tak pernah dilahirkan.

Cerpen Karangan: Cintya Karuniadevi
Blog / Facebook: Cintya Karuniadevi
IG : @cintyakk

Cerpen Aku Tak Pernah Dilahirkan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tanduk Rusa Jantan

Oleh:
Entah aku sedang berada di mana. Yang ku lihat hanyalah ilalang setinggi pinggangku dan beberapa pohon raksasa di ujung utara. Aku berjalan sendirian dengan mengenakan baju terusan selutut berwarna

Malaikat Dan Iblis (Part 2)

Oleh:
Kita langsung bergegas ke bawah, aku sempat melihat jejak kaki Wanita tadi, jejaknya mengarah ke atas dan hanya sebagian saja yang terlihat, dikarenakan jejaknya berada di ujung tangga itu,

Misteri Kertas Hilang

Oleh:
Aku, Icha, Anisa, Endhita dan Leony adalah satu regu di ekstra kurikuler sekolahku. Aku dan teman-teman sepakat untuk memberi nama kelompok kita dengan nama “Melati”. Setiap ada kegiatan Pramuka

Kukuk Beluk (Misteri Burung Pemanggil)

Oleh:
Di desa terpencil yang jauh dari hingar-bingar modernisasi jaman terdapat binatang misterius, binatang itu adalah seekor burung bernama Kukuk Beluk. Warga desa kami menamai Kukuk Beluk karena suaranya seperti

Jokomen

Oleh:
Joko senang bukan kepalang ketika mendapatkan CD Super Hero dari tukang CD bajak*n terdekat, dia terus melihat-lihat cover CD itu dengan kagum, joko langsung mengeluarkan dompet dan membayar CD

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku Tak Pernah Dilahirkan?”

  1. Dinbel says:

    Walau agak rumit, tapi seru juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *