Andai Ali Bupatinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Inspiratif
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

Cerita ini bermula dari kostan di pinggiran jalan kecil di Kota Jakarta, kostannya Ali. Ia terkantuk-kantuk setelah makan kenyang tadi sore di warung langganannya, warung nasi padang setengah masakan jawa. Wajar kalau nama warung padang itu namanya rumah makan “Pandawa”, rumah makan padang campur jawa. Kadang ada masakan manadonya di hari libur, “Cocoklah.. Pandawa Lima”, gerutu si Ali. Kata pelayanannya yang cewek manado yang cantik (namanya ningsih seingat Ali) katanya sih karena sebagian tukang masaknya libur makanya ia bantu masak seadaanya. “Oh pantes..” pikir Ali. Biasanya menjelang tidur Ningsih ini suka jadi topik lamunan Ali. Makanya kalau makan sabtu minggu di rumah makan “Pandawa” gak bakal kelewat sama Ali.

Kostan Ali di lantai dua, sengaja ia pilih karena strategis untuk beristirahat apalagi untuk tidur panjang di hari libur. Banyak pohon rindang di sekitar kamar dia, kadang-kadang canda burung pacaran di malam hari membuat suasana makin nyaman kamarnya. Kalau sore apalagi malam suasana kamarnya terasa nyaman. Angin malam dari pepohonan kadang membuai membikin serasa di pantai, jadi ngantuk. Jarang sekali ia mengajak temannya main ke kostannya, karena baginya kamar kostnya adalah privasi baginya. Baginya kamar kostnya adalah tempat untuk nyenangin diri dan untuk pergi sementara dari keramaian kota, alias tidur panjang!.

Malam itu Ali tertidur pulas, sampai-sampai ia lupa mengunci kamar kostan.

“Pak ada tamu… pak…”, panggil Ningsih.
“Iya bentar, suruh duduk aja dahulu” jawab Ali dari dalam kamar.

Setelah mandi Ali menemui tamunya di ruang tamu.
“Oh pak Kadis, dikira siapa…” kata Ali.
“Iya Pak Bupati, maaf sudah mengganggu”, kemudian tamu itu menjelaskan kepada Ali tentang maksud kedatangannya. Kemudian secara detail menyampaikan detail isu dan berita daerahnya kepada Ali. Ali mendengarkan penjelasan para tamu, kadang menyela menanyakan kalau merasa tidak paham. Dua jam kemudian para tamu pamit, dan Ali sepakat sama para tamu akan mengadakan rapat serta mengajak tim lain sebagai tindak lanjut dari obrolan mereka hari itu.

Ali baru menjabat setahun sebagai bupati di salah satu kabupaten kalimantan. Ia maju sebagai bupati melalui jalur independen, emang dia sebelumnya terkenal sebagai juragan tambang makanya pede raden mas Ali maju sebagai calon bupati. Ia pun menang telak dalam pemilihan tempo lalu. Dari 3 calon, Ali mendapatkan 98% suara dan masing-masing lawannya kebagian 1% saja. Ya mungkin itu kebaikan yang Maha Kuasa dari pada nol kan pasti bikin malu. Ali menikah dengan Ningsih 14 tahun yang lalu dan dikaruniai tiga anak, 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Si sulung yang anak laki-laki baru kelas 1 SMP sedang yang perempuan masih duduk di bangku SD. Bagi Ali, Ningsih adalah segalanya. Ali bangga terhadap Ningsih yang pandai mengurus dan membesarkan ketiga anaknya. Padahal Ningsih seorang sarjana hukum salah satu perguruan tinggi di Medan. Tapi demi baktinya pada suami Ningsih SH mengabdi di rumah mengurus segala urusan rumah tangga dan anak-anaknya.

Kabupaten yang Ali pimpin bukan kabupaten yang maju. Penduduknya pun masih dibawah 1 juta jiwa, padahal luasnya termasuk lumayan. Tapi sumberdaya alamnya yang berpotensi untuk dikembangkan. Posisinya yang di tepi pantai, banyak perkebunan sawit serta kaya akan bahan tambang. Kabupatennya merupakan satelit bagi kota kota ramai yang ada di sekitarnya. Ada beberapa kota yang sudah maju, pejabat di kota kota itu pun memandang kabupaten yang Ali bawahi layaknya sebuah dusun, dusun udik yang pantasnya sebagai tempat jin laut buang anak.

Saat ini banyak sekali berdatangan tamu dari Jakarta, pada intinya mereka menawarkan solusi. Tetapi Ali bukannya tidak tahu, ia pun berpikiran harus pintar-pintar menerima tawaran jangan sampai yang tadinya sebuah solusi yang ditawarkan malah menjadi beban daerahnya.

Tiga tahun berlalu, kabupaten yang Ali pimpin sudah demikian banyak perubahan. Malah sekarang statusnya menjadi kota. Kota tetangganya yang dulu ramai sekarang kalah ramai sama kota yang Ali pimpin. Di tahun yang sama Ali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai Walikota teladan yang telah memajukan daerahnya.

Sebut saja kota yang Ali pimpin adalah Kota Ali. Penduduknya pun melonjak dari dulu yang gak sampai satu juta sekarang sudah mencapai 4 juta jiwa. Hal ini karena terjadi karena banyak penduduk dari kota lama di sekitarnya menjadi warganya. Karena wajarlah hal itu di mana pun, kota yang nyaman bersih aman dan sehat selalu menjadi idaman warganya.

Tentang penduduknya sebagian besar adalah produktif, hampir dapat dikatakan tidak ada pengangguran di Kota Ali. Bahkan banyak penduduk asing yang diam sementara di Kota Ali. Sekarang Kota Ali sudah menjadi “Silicon Valley” negeri ini. Juga sebagai kota bisnis, di pulau ini, semua urusan bisnis pasti berkumpul di Kota Ali. Pejabat yang dulu mencibir Ali, sekarang sakit mendadak kalau ketemu Ali. Jangankan ketemu, mendengar nama Ali saja mereka keringatan panas dingin.

Kenyaman ini dirasakan salah satunya oleh Ningsih. Sekarang ia bisa memonitor ketiga anaknya baik di sekolah atau di tempat lainnya. Ibu Ningsih tanpa usah basa basi bisa mengetahui aktivitas anaknya di sekolah lewat TV atau smartphone. Setiap gerik anaknya ia tahu. Di sekolah misalnya, ia akan tahu jam berapa anaknya masuk kelas, materi apa yang diajarkan gurunya, lalu bisa tahu juga prestasi si anak per hari per minggu. Sehingga Bu Ningsih dan warga yang lainnya bisa mengantisipasi prestasi anaknya.

Dalam kegiatan sehari-hari yang lainnya juga begitu. Dalam urusan masak misalnya, Bu Ningsih tidak usah repot-repot ke pasar. Sekarang Bu Ningsih tinggal klik ponselnya, dalam hitungan menit makanan yang iya pesan pasti udah siap saji. Urusan sampah jadi terminimalkan, karena tidak seperti jaman dulu (jaman batu) untuk memasak satu dua piring saja pasti banyak aja sampahnya.

Kalau anaknya sakit, Bu Ningsih tinggal pijit ponselnya, gak lama pasti akan datang kiriman obat. Untuk pembayarannya banyak pilihan, bisa pake cash, internet banking atau uang digital. Oh ya di Kota Ali ini, diterapkan uang digital untuk alat pembayaran dan hanya berlaku di Kota Ali saja. Jika ada warga yang mau pergi atau ada pendatang bisa menukarnya dengan uang rupiah yang berlaku atau uang luar negeri.

Kota Ali emang sudah mencapai taraf kota yang sehat, atau orang bule menyebutnya smartcity. Bisa dibilang gak ada orang jahat di Kota Ali, memang nyaris tidak ada penggangguran. Kalau pun ada hanyalah nenek-nenek atau kakek-kakek yang sudah usia expire, dan Ali ingat pesan Firman Tuhan kalau yang sudah lanjut tidak boleh bekerja. Makanya ia sediakan panti jompo yang kualitasnya lebih bagus dari hotel bintang lima manapun. Malah kalau ada yang nganggur pun dijamin sama kas Kota Ali, makanya gak ada orang jahat yang minta-minat duit.

Dari sisi komunikasi memang seluruh kota bisa terkontrol, di setiap sudut di pasangin menara komunikasi. Gak perlu satelit untuk setingkat Kota Ali, cukup tower yang tingginya 40m sp 10 meteran. Aktivitas seluruh penduduk Kota Ali nyaris 99% terkontrol dengan alat komunikasi yang ada. Dengan alat ini di Kota Ali selama berada di wilayah jangkauan pake pulsa adalah gratis, malah yang banyak sekali makenya bakal dapat bonus.

Dari sisi pemetaan atau informasi geospasial, di Kota Ali petanya sudah menggunakan skala 1:500 tidak seperti di kebanyakan kota lain yang masih skala 1:1000. Kerennya lagi, datanya selalu update perhari.

Itu semua dari kepintaran Ali, yang dulunya seorang bupati idealis, ambisius, inovatif dan jujur yang utama. Di era Ali ini departemen pun gak sebanyak dulu. Sebagai contoh, departemen kebersihan sudah digabung ke departemen pekerjaan umum. Karena di Kota Ali sampahnya sangat terkendali secara otomatis tugas departemen semakin tipis.

Begitu sedikit contoh yang tentang Kota Ali, yang sudah meraih dan mengimplementasikan kota sehat dan sekaligus kota pintar. Smartcity kalau kata orang pusat, Ali gak mau pusing dengan semua istilah itu tapi Ali cukup menyebutnya dengan Kota Ali.

“Tok.. tok.. tok… misiii…”, tiba tiba ada mengetuk kamar Ali. Dan Ali terbangun dari mimpi panjangnya, ia kaget dan baru ingat kalau pagi itu ada presentasi beauty contess proyek smartcity.

Cerpen Karangan: Erdi
Blog: bukabapak.com

Cerpen Andai Ali Bupatinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


De Javu

Oleh:
Namanya Cahaya, nama itu diberikan oleh sang nenek yang juga menjadi bidan saat ibu Cahaya melahirkannya. Walaupun ibu dan ayah Cahaya kurang setuju dengan nama itu karena mereka telah

Pangeran Mimpi

Oleh:
Tetesan air langit kini tiada lagi berhamburan ke bumi. Sang raja cahaya kini mulai menampakkan dirinya yang tersipu malu, terhalang oleh mega. Di balik celah-celah batuan terjal kaki gunung

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

Sehari Sebagai Patriot

Oleh:
Aku aku berada dalam ruangan luas dengan dinding serba putih. Keanggunannya sebagai sebuah bangunan kokoh masih tampak walaupun catnya kusam dan sudah mengelupas. Langit-langitnya yang tinggi seputih kertas yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *