Angel From Hell

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Cahaya mentari menusuk mataku, dengan enggan aku membuka mataku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk menghilangkan perih mataku. Rambut pirangku tampak kusut berantakan.
“Nia bangun!” seru ibuku dari bawah. “aku sudah bangun mah!” aku menjawab seruan ibuku. Dengan malas, aku berjalan melangkah menuju kamar mandi. Aku merupakan seorang gadis yang cukup malas, tugas dari sekolah saja sering tidak dikerjakan.

Aku mengendarai motor maticku menuju sekolah. Nyaris saja aku terlambat, begitu sampai bel masuk sekolah berbunyi. Aku segera memarkirkan motorku dan bergegas menuju kelasku.
“anak anak, pagi ini kita kedatangan murid baru, silakan perkenalkan namamu.” ujar Pak Yanto. Rupanya murid baru itu seorang lelaki dengan tubuh tegap dengan wajah tampan sekali. Aku sedikit terpesona kepadanya. Ia juga sempat melirik diriku yang membuatku salah tingkah.
“Selamat pagi kawan, namaku Robi Robitho. Aku berasal dari Kuningan. Sebelum pindah kesini, aku bersekolah di SMK MODEL PATRIOT di Ciawigebang, Kuningan. Salam kenal.” ujarnya. Ia lalu dipersilakan duduk di samping mejaku yang kosong. Aku hanya menundukkan kepalaku seraya pura pura menulis. Ia melirikku dengan mata beningnya. Pelajaran pun berlangsung seperti biasanya.

Bel istirahat berbunyi, aku segera menuju kantin karena perutku sudah meronta ronta. Aku kembali ke kelasku dan kembali duduk di mejaku. Aku harus mengerjakan pr ku yang belum sempat kukerjakan. Robi menghampiriku dengan membawa sebotol minuman teh di tangannya.
“hai, kalau boleh tahu, namamu siapa?” tanyanya.
“namaku Kania Devy Annur.” jawabku dengan nada sedikit malu.
“kamu sedang mengerjakan apa?” aku agak ragu menjawab pertanyaanya itu. Kalau kujawab dengan jujur, aku pasti dianggap sebagai anak malas olehnya. Tapi ya kenyataannya memang aku seorang anak yang malas.
“a… aku sedang mengerjakan pr ku, soalnya tadi malam aku sibuk membantu ayahku merapikan gudang belakang.” jawabku dengan sedikit berbohong.
Obrolanku dengannya berlangsung lama hingga bel masuk berbunyi.
Aku mengikuti pelajaran dengan sedikit malas.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan semangat sekali. Aku ingin cepat cepat bertemu Robi.
“hai Nia!” sapanya. Aku kembali berbincang bincang dengannya. Sepulang sekolah aku diajaknya ke rumahnya. Aku ikut dengannya ke rumahnya. Rumahnya cukup megah, sayangnya ia hanya tinggal sendiri di rumahnya.
“orangtuamu sedang bekerja ya?” tanyaku.
“orangtuaku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku tinggal di sini juga karena aku dipaksa oleh tanteku untuk menghuni rumah ini.
Aku hanya mengangguk, aku berjalan menyusuri rumahnya. Ada sebuah ruangan yang membuatku penasaran. Ruangan itu ditutupi pintu merah dengan daun pintu bermotif bunga.
“ini ruangan apa Rob?” tanyaku seraya menunjuk pintu itu. Wajah Robi tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.
“itu kamar ibuku, tolong jangan dibuka, aku tidak ingin ruangan ibuku kotor.” jawabnya. “silakan duduk” ucapnya mempersilakanku. Aku lalu duduk di kursi tamunya.
“kamu ingin minum apa?”
“tidak usah, aku tidak haus.” ucapku menolak secara halus meskipun tenggorokanku sangat kering.
“sudahlah jangan sungkan, kamu ingin minum apa?” aku pun dengan sedikit sungkan meminta segelas air putih.
“hanya air putih?” ia bertanya dengan nada heran.
“ya.” jawabku. Tak lama ia sudah membawa dua gelas jus jeruk.
“aku kan meminta air putih.” ucapku heran.
“yang ada di rumahku hanya ini he… he…” aku pun mengambil segelas jus jeruk itu lalu meneguknya.
Aku pun mengobrol dengannya hingga kepalaku terasa pusing. Tanpa sadar aku terjatuh tak berdaya.

Berapa lama aku pingsan aku terbangun, aku berada di ruangan dengan dinding dan hiasan serba merah. Aku terbaring di atas kasur merah, di sampingku Robi sedang memainkan sebuah pisau.
“Dimana aku? lalu mengapa kamu memainkan pisau itu?” tanyaku. Tetapi Robi tanpa basa basi lagi mengayunkan pisaunya menuju perutku. Aku berguling menghindari hujaman pisau itu, akan tetapi tangan kiriku tertusuk pisau itu. Aku berlari menuju pintu merah yang merupakan satu satunya pintu. Aku berlari mencari jalan keluar tetapi rumah ini terasa asing bagiku. Aku hanya berlari sekuat tenaga, di belakang tampak Robi berjalan mengikutiku.
“kamu mau kemana Nia?” tanyanya dengan tangan menggenggam pisau tadi. “kamu baru bangun jangan lari dulu.” aku tidak menghiraukan ucapannya. Tetapi tali sepatuku lepas dan membuatku terjatuh. Robi sudah semakin dekat, aku bangkit kembali dan berusaha lari sekuat tenaga, tetapi tangan Robi sudah mencengkeram lengan kananku dan menyeretku menuju kamar tadi. Aku dijatuhkan ke atas kasur tadi.

“mengapa kamu melakukan ini Robi?” tangisku.
“dahulu ketika aku masih SMP, aku menyukai seseorang. Ia juga tampaknya menyukaiku. Wajahnya sangat cantik, rambutnya pirang sepunggung. Ketika aku menyatakan cintaku padanya, ia menolakku dengan alasan ia sudah memiliki seseorang. Aku sungguh sedih, dengan sebuah kayu yang tergeletak, aku menghantam kepala cantiknya itu. Sejak itu aku membenci wanita berambut pirang. Termasuk ibuku.” jawabnya. Dengan sekuat tenaga, aku menendang tangannya lalu menubruk kaca jendela, anehnya jendela itu menghubungkan dengan ruangan lainnya. Aku berlari sekuat tenaga, Robi sudah berlari mengejarku. Aku lari dengan lebih cepat, tetapi kakiku bertambah berat. Tenagaku makin lama makin habis. Robi sudah berada tepat di belakangku dan menendang kakiku hingga aku terjatuh. Ia menyeringai dan mengayunkan pisaunya. Aku menendang selangkangannya hingga ia meringis kesakitan. Tanganku segera meraih pisau yang ia jatuhkan lalu menusukkannya ke perut Robi. Robi menatapku dengan tatapan marah. Segera aku berlari. Robi mencabut pisaunya dari perutnya dan berlari mengejarku. Aku melihat sebuah tongkat bisbol tergeletak lalu mengambilnya. Dibalik sebuah dinding aku bersembunyi dengan tongkat bisbol di tanganku.

“Nia dimanakah kau?” seru Robi. “Aku tahu kau bersembunyi disini. Keluarlah, jika kamu keluar maka kamu akan mengalami kematian yang indah. Jika tidak, aku tidak menjamin kamu mati dengan tidak berlumur darah.”
Begitu melihat Robi, aku segera menghantamkan tongkat itu hingga patah. Robi tampaknya menghiraukan pukulanku itu. Ia berbalik dan menusuk perutku. Aku kesakitan, tetapi disampingku ada sebuah jendela, aku kembali menerobos jendela dan berhasil keluar. Robi berlari mengejarku, aku segera berlari menjauh dan tanpa diduga sebuah mobil menabrakku.

Diriku terbangun disebuah ruangan dengan bau obat yang menyengat. Di sampingku ibuku tengah menangis.
“aku ada dimana bu?” lirihku. Ibuku terkejut dan segera menghapus air matanya.
“Kamu tadi kecelakaan, katanya kamu tertabrak mobil ketika hendak menyeberang. Untung saja pemilik mobil itu bertanggung jawab. Dia mengantarmu kesini.”
“oh” jawabku. Aku tidak ingin melaporkan kejadian yang aku alami tadi. Akhirnya aku dirawat di rumah sakit beberapa hari hingga sembuh.

Begitu sampai di rumah aku segera mengunci pintu kamarku lalu merebahkan diriku di atas kasur empukku.
“Kau sudah sembuh Nia?” tiba tiba suara lelaki menanyaku. Aku berbalik dan melihat Robi sudah berdiri di depan pintu kamarku dengan pisaunya.
“apa!!?” pekikku. Ia berjalan mendekatiku lalu mengayunkan pisaunya kedadaku. Setelah itu semuanya gelap.

Cerpen Karangan: R.G Solehudin
Facebook: D’Hashlingingslasher
Namaku R.G Solehudin. Aku bersekolah di SMPN 1 CIAWIGEBANG. Aku suka sekali membuat cerita.

Cerpen Angel From Hell merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Let’s Game or Die (Part 1)

Oleh:
Craang… Craaang…. Crang bruukkk… Crang… Aarrrggghhttt… Ku kernyitkan mataku sambil ku tutup rapat-rapat kedua telinga ini dengan bantal mengharap bisa menghalau suara gaduh yang sudah hampir menjadi alarm pagiku.

Menerjang Waktu

Oleh:
02 januari 2016 Minggu yang begitu mendung, selingan awan-awan gelap menggantung di langit samudra hindia. Mungkin beberapa menit lagi akan turun hujan atau badai. Ada rasa sedikit khawatir di

Tenggelamnya Sekoci Yin Galama

Oleh:
Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya. Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *