Anggapan Albert

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 16 August 2014

Masa-masa liburan sekolah telah tiba. “Time Is To Bored”, mungkin ungkapan itu lebih tepat direkatkan ke Albert. Dalam masa liburannya, ia begitu menginginkan seorang saja cewek yang setia mendampingi masa-masa liburannya. Itulah secarik doa Albert pada tuhan. Albert memang pecinta wanita, ia beranggapan bahwa setiap wanita itu baik. Padahal sih tidak semua. Namun Albert merasa paling benar dengan anggapannya itu.

Seperti liburan yang sudah-sudah dan sampai sekarang masih dipertahankan, Albert bangun lambat selalu. Kadang jam 10 lah, kadang jam 9 dan berbagai macam variasi jam lainnya. Akibat kesuntukannya sebagai seorang pelajar yang ngawur amburadulan ia memutuskan untuk browsing internet. Dalam benaknya sudah terencana, bahwa pertama kali situs yang akan dikunjunginya adalah situs Facebook. Situs internet terkenal sejagat (mungkin). Ia lihat pemberitahuan di Facebooknya, ada 13 yang tertera, ternyata semua itu hanya status dari teman dekat yang dijadikannya saja nan beronggok. Tak ada like, tak ada undangan ini itu, tak ada komen ini itu, alangkah miris.

Ia tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa gundah gulana, risau, galau dan sejenisnya. Merasa bosan di Facebook, lalu Albert mengunjungi situs lain yang juga tak kalah terkenalnya dengan Facebook, apa sih itu? Tak lain, tak bukan adalah Youtube.

“Katanya sekarang ini ada video senam yang iya iyalah” gumam Albert. Selidik punya selidik, akhirnya ketemu juga itu video.
“Ya.. terhibur dikit sih, tapi kok orang Jepang mau-maunya ya senam kayak gitu?, ah sudahlah…. Mendingan saya cobakan untuk melamar anak pak Lurah dengan gaya senam yang lebih kreatif” ujar Albert sembari raut wajahnya berseri-seri.

Keesokan harinya ia sadar bahwa ia belum pantas untuk menikah karena masih berstatus sekolah (tapi BUKAN satu SMA ya.!). Kendati Albert tidak pendek ide, Albert memang takkan mungkin melamar saat sekarang apalagi dengan gaya senam, tapi bisa saja memikat hati perempuan sebayanya dengan senam. “This Brilian” katanya sambil bermuka senyum-senyum.

Jam 13.04 Albert mulai beraksi, dia ajak Sanita untuk main ke rumahnya. Awalnya Sanita menolak ajakan Albert, namun gara-gara disogok pake uang ceban (Rp. 10.000) langsung Sanita ngangguk-ngangguk tanpa ada adegan geleng-geleng. Albert memperlihatkan gaya senamnya yang meniru sebagian gaya Senam Yang Iya Iyalah dicampur dengan tarian dangdut.

Setelah melihat Albert mempertontonkan gerakan senam campurnya itu, Sanita berkomentar. “Lebih baik kamu gak usah senam aja deh, jijik tau gak?!, Cari keahlian lain kek, masak Laki hobinya senam. Issh” tangkas komen Sanita. Mendengar komentar itu, Albert tersentak, terkejut dan tersadar. Albert sadar ia hanyalah seorang yang bukan multi talent lagi bodoh pula di dunia ini. Albert berputus asa dan kecewa, kemudian mengusir Sanita dengan senyum sembari ramah.

Albert yang dulunya beranggapan bahwa wanita selalu baik, yang dalam unsur-unsur pikirannya jua terkandung bahwa baiknya wanita itu tidak berkomentar pedas, tajam. Namun kini sirna terbakar kenyataan yang membludakkan hatinya sendiri. Sekarang ia beralih anggapan, bahwa setiap wanita itu jahat. Mengapa Albert bisa sembarangan menuduh kaum wanita tanpa bukti yang jelas dan luas?. Ya, wajar saja karena dirinya sedari lahir hidup bersama ayah saja, pergaulannya dengan para wanita kurang, sehingga lahirlah anggapan-anggapan sesuai fakta sesaatnya.

Suatu ketika, ia ingin menjurusi bidang lain, yang tentunya bukan senam melainkan bidang tarik suara (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nyanyi). Awalnya Albert memang tidak pandai bernyanyi namun dia bertekad akan selalu berlatih nyanyi guna mendapat bakat tetap untuk masa sekarang sampai masa depan. Walaupun Albert kurang pergaulan dengan para wanita, namun Albert masih punya cewek yang mau menjadikan dirinya sebagai teman dan Albert pun senang akan hal itu. Selain Sanita yang rela menjadikan Albert teman, ada lagi yang namanya Nika. 2 itu saja kok teman ceweknya, tak banyak-banyak. Nika adalah tetangga Albert, waktu kecil mereka sering bertegur sapa tanpa bermain. Albert mengatakan “Hai”. Nika mengatakan “Hai juga”. Begitu saja sampai kelas 2 SD, percakapan rutin itu terhenti gara-gara terjadi konflik antar keluarga Albert dengan Nika. Namun, masa terus berjalan, konflik itu lama kelamaan padam. Tidak usah disebutkan konfliknya, mungkin pembaca bisa menelaah apa kira-kira konflik dalam hidup bertetangga yang mereka alami. Selamat menerka. Oke, lanjut ceritanya.

Albert mengajak Nika untuk ke rumahnya guna mendengar Albert bernyanyi. Setelah mendengar satu lagu, Nika berkomentar: “Suaramu cukup bagus, dan bolehlah dikata penyanyi, dan lagi… aku suka kok sama lagu kamu, makasih ya sudah hibur aku” ujar Nika dengan senang hati.

Kini Albert beranggapan lebih bijak, bahwa tidak semua wanita baik dan tidak semua wanita buruk. Albert mendapat pelajaran dalam hidupnya walaupun tidak sebanyak air di laut, walaupun tidak setinggi gunung, walaupun tidak sekaya harta koruptor.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Rio Oktonas
Facebook: Rio Oktonas
Rio Oktonas seorang pengetik cerpen fiksi imajiner yang ala kadarnya. Idenya tak tau seberapa, kreasinya tak tau hingga mana, yang penting ngalir aja sudah. Fighting Spirit yeah.

Cerpen Anggapan Albert merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cincin Berlian

Oleh:
Suara ombak yang berdebum di pinggiran pantai menyambut pagiku hari ini. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Aku berjalan menyusuri pantai sendirian, di saat mata-mata lain masih tertutup. Ini memang

Di Acara Kawinan

Oleh:
Secercah sinar memasuki indra mataku. Dengan gerakan pelan, mata yang tertutup itu terbuka. Tak ada yang berubah. Dan seperti biasa, aku hanya bangun. Duduk di tepi ranjang, meminum segelas

Aurora

Oleh:
Aku satu-satunya yang tersisa di rasku. Ras Aurora. Rasku habis di bantai ras Dark ville. Tapi, bukan ras Aurora namanya kalau menyerah begitu saja. Aku menjadi seorang kesatria Aurora

My Age To Seventeen Years (Part 3)

Oleh:
Aku dibawa ke dalam ruangan mewah, dan mereka meninggalkanku di sana seperti meletakkan barang beharga. Sejenak aku terdiam melihat keadaan sekelilingku. Ada banyak lukisan indah dan barang-barang aneh yang

GARIS (Part 3)

Oleh:
Jam kuno itu berdentang 12 kali. Bunyinya melambung ke seluruh sudut rumah, menggetarkan kaca- kaca di dekatnya. Itulah suara jam kuno yang ada di menara belakang rumah. Setelah bunyi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Anggapan Albert”

  1. yohana rumanti says:

    seru baca cerpennya, bagus-bagus, bisa ngisi waktu luangku 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *