Are You Brave? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 4 December 2017

“Fariha!”, “Dret! Dret!”, “Far, bangun dong. Kita kan ke sekolah bareng!”, “Ok. Aku tinggal saja ya!”.
“Aaaa!” aku teriak sekesal-kesalnya. Bagaimana tidak, mama dan kakak memanggilku dengan teriakkan khas mereka ditambah jam weker berbunyi terus. Untung saja pintu kamar kukunci. Kalau tidak dikunci, mereka bisa masuk ke kamar dan seenaknya mengguncang tubuhku agar aku terbangun.
“Berisik ya kamu!” kesalku pada jam weker sambil mematikannya. “Iya mama, kakak, aku bangun.” aku membalas teriakkan mama dan kakakku. Aku langsung menuju ke kamar mandi.

“Selamat pagi Fariha!” sapa kakakku. Aku hanya cemberut dan duduk di kursi meja makan. “Kok cemberut sih? Ada apa?” tanya ayahku. “Ayah, tadi mama dan kakak teriak-teriak di kamarku. Ditambah jam weker terus berbunyi. Berisik tahu yah!” aku langsung mengeluarkan kekesalanku pada ayah.
“Sayang, mama dan kakak meneriakimu agar kamu bangun. Coba kalau gak dibangunkan, kamu bisa gak bangun seharian.” aku terdiam dengan ucapan ayah.
“Sudahlah, aku mau makan.” aku langsung mengambil sendok dan garpu kemudian memakan makanan di hadapanku.

“Hai Aldi!” sapaku pada teman sebangkuku ini. Aldi hanya menatapku kemudian kembali menulis di bukunya.
“Al, memang ada PR ya?” tanyaku padanya. Ia kembali menatapku kemudian meneruskan tulisannya. Ih, dia manusia atau batu sih? Apa dia diciptakan sebagai batu berbentuk manusia? Nah lho, gimana tuh?
“Della, memang ada PR?” tanyaku pada teman yang duduk di belakangku. “Gak ada.” jawab Della. “Memang kenapa?” tanya Della. Aku langsung menarik tangannya dan keluar dari kelas.
“Kenapa sih?” tanya Della lagi. “Aku kira ada PR soalnya Aldi tulis sesuatu gitu di bukunya. Dia serius banget. Ya.. kukira dia mengerjakan PR di sekolah. Makanya gak mau diganggu.” jawabku sejelas-jelasnya.
“Dia memang begitu,” ucap Della. “Sebelum kamu datang, dia suka senyum sendiri habis nulis. Aku gak mengerti arti senyum itu.” aku mengerutkan dahi. “Tapi aku pernah melihat bukunya. Isinya gambar semua. Mungkin dia menggambar kali ya bukan menulis. Aku salah lihat.”
“Apa!” kaget Della. “Tapi aku sering melihatnya menulis, bukan menggambar.”, “Aku sering melihatnya menggambar Della. Gambarnya bagus deh.”, “Aku sering melihatnya menulis Fariha.”
“Eh, baru pkl.06.22 nih. Ke kantin yuk!” ajak Deira tiba-tiba. Dia sahabat SMP Della. “Ayo!” jawabku dan Della bersamaan lalu menuju kantin. Lebih baik kami ke kantin daripada memikirkan Aldi.

“Eh, aku ada berita lho!” ucap sang ketua kelasku, Asnia. “Berita apa?” semua teman kelasku berkumpul kecuali… kecuali Aldi.
“Oliva hilang!” ucap Asnia. “Oliva siapa?” tanyaku datar. “Dia kelas 10. Dia hilang secara misterius tanpa jejak!”, “Kok bisa sih?”, “Gak tahu deh.”, “Jangan-jangan dia diculik!”, “Apa!” kaget kami setelah Gafira membuat dugaan seperti itu.
“Diculik? Ada-ada saja kamu!”, “Walau berita penculikan sudah jarang diberitakan, tapi tetap saja ada penculikan. Kalian kira kasus penculikan sudah gak ada lagi?” kami masing-masing saling memandangi teman kami.
“Oh ya, kamu dapat beritanya dari mana?” tanya Orka pada Asnia. “Aku sedang mengumpulkan tugas ke Ibu Jessica, pas aku keluar ruang guru, aku mendengar percakapan guru piket dan ibu Oliva. Ibu Oliva nangis tersedu-sedu. Aku gak tega.”

Aku kembali ke tempat dudukku sambil memikirkan Oliva. Kenapa dia bisa menghilang secara misterius? “Kenapa?” tanya Aldi tiba-tiba sambil menatapku tajam. Tumben dia tanya. Biasanya dia sangat pendiam.
“Aku lagi memikirkan Oliva.”, “Oliva siapa? Bukan siapa-siapa kamu kan? Buat apa dipikirkan?” tanyanya bertubi-tubi tapi emosinya tetap datar.
“Tapi dia adik kelasku. Kelas 10, 11, dan 12 ini keluarga. Ya aku tentu sedih Oliva menghilang.”, “Gak usah sedih. Nanti dia ditemukan lagi. Gitu saja khawatir!” aku terkejut dan langsung menoleh pada Aldi. “Kamu aneh banget sih.” ia tak menjawab. Ia kembali menulis lagi. Entah apa yang ia tulis.

“Teman-teman, Della menghilang!” ucap Asnia pada kami. “Apa? Della?” heranku sekaligus kaget. Della, teman dekatku, menghilang?
“Kamu bohong ya?” tanya Quilla. “Apa wajahku seperti orang berbohong?” tanya balik Asnia. “Gak sih!”, “Teman-teman, bagaimana ini? Apa kita telepon polisi?”, “Boleh juga. Telepon yuk!”, “Tapi kita sampaikan ke guru saja!”, “Ya sudah, ayo!” kami sekelas langsung ke ruang guru dan lagi-lagi Aldi cuek saja. Apa dia diciptakan tanpa hati nurani?
“Ibu sudah menelepon polisi. Polisi akan datang dan menanyakan ke orangtua yang bersangkutan.”, “Baik bu. Terimakasih.”
“Oliva dan Della kenapa menghilang?” heranku saat aku duduk di bangku. “Nanti juga ketemu.” jawab Aldi tanpa menatapku. Aku kesal dengan jawaban datar tapi menyebalkan itu.
“Al, itu temanmu sendiri lho. Hatimu terbuat dari apa sih?” tanyaku agak emosi. “Dari batu. Puas?” jawabnya marah sambil berdiri menatapku. Aku berdiri menatapnya. “Hatimu dari batu? Oh, pantas. Dugaanku benar.”, “Terserah kamu. Lagipula mereka yang menghilang pasti ditemukan lagi. Kamu memikirkan banget sih!”, “Tapi kan aku khawatir.”, “Bicara denganmu menghabiskan waktu!” Aldi langsung keluar dari kelas. “Aldi, sebentar lagi masuk!”.
“Dasar orang aneh!” kesalku. Aku menatap ke teman-teman karena mereka terkejut melihat pertengkaran kami. “Aku minta maaf ya. Sudah, kalian hafalan lagi.” mereka kembali menatap bukunya. Aku kembali duduk dan berusaha menenangkan pikiranku.

“Bu, bagaimana dengan Della? Kenapa bisa menghilang?” tanya Asnia sebagai ketua kelas pada wali kelas kami. Aku ikut serta bersamanya.
“Orangtuanya bilang, waktu makan malam, Della masih ada. Tapi pagi harinya dia menghilang tanpa jejak.” aku melongo mendengar jawaban wali kelasku. “Kok kejadiannya sama dengan Oliva ya?”, “Ya, hampir sama. Orangtua dari Della dan Oliva sama-sama menceritakan kasus yang sama.” aku semakin heran dengan kejadian ini.

Dua minggu kemudian, “Wow, cerita yang bagus!” ucap Aldi sambil melihat gadgetnya. Dia baca apa sih? “Kamu baca apa sih? Sepertinya seru banget. Bareng dong bacanya.”, “Gak!” jawab Aldi tegas. Aku terkejut mendengarnya.
“Kenapa? Aku juga suka baca cerita kok. Ya sudah kalau gak mau. Setidaknya kamu bisa cerita secara lisan padaku.”, “Buat apa? Aku gak suka bercerita dengan orang lain.”, “Ayo dong Aldi.”, “Kamu memaksa banget sih. Gak usah ganggu aku!” lagi-lagi Aldi keluar kelas. Ah, kenapa aku harus duduk sebangku dengannya? Oh, wali kelasku, kenapa aku harus dipasangkan sebangku dengannya. Sudah sangat pendiam, aneh, dan cuek lagi.

“Hei, aku punya cerita bagus lho!” ucap Aldi tiba-tiba saat masuk kelas. Tumben dia mau berbagi cerita. Biasanya dia tidak memedulikan itu. “Boleh. Bagi-bagi cerita dong!” jawab Hirca penasaran. Mereka berkumpul.
Aku penasaran dan aku menghampiri kumpulan itu. Tapi.. dret! dret! bel masuk sudah berbunyi. “Makasih ya Al!” ucap teman-teman serentak. Cerita apa sih yang dimaksud Aldi?
“Al, katanya kamu punya cerita bagus. Judulnya apa?” tanyaku saat guru menjelaskan di depan kami. Aldi diam saja sambil mendengar penjelasan guru. “Aldi..”, “Aldi..” aku menyolek bahunya tapi ia tak menoleh. “Aldi!”, “Fariha!” aku tersadar bahwa aku berteriak.
“Kenapa kamu panggil Aldi?” tanya guruku tegas. “Gak kok bu, gak apa-apa.”, “Bohong. Apa perlu ibu hukum karena kamu gak menjawab pertanyaan ibu?”, “Eh.. iya deh bu aku jawab. Itu, aku mau tanya tugas kelompok IPA. Kumpulnya di rumah siapa, sudah itu saja.” jawabku membuat guruku menggelengkan kepala.
“Kamu bisa membicarakan saat istirahat sekolah kan?” tanya guruku. “Hmm.. bisa bu.”, “Ya sudah. Kenapa harus tanya saat ibu menerangkan pelajaran? Kalau tujuanmu ke sekolah hanya untuk mengobrol dengan teman, kamu ibu persilahkan keluar dari kelas.”, “Tidak bu, aku gak mau keluar kelas. Maafkan aku bu.”

“Lonia menghilang!”, “Rafa hilang!”, “Zella hilang!”, “Wirsha hilang!” hari ke hari, aku terus mendengar kabar kasus hilangnya murid. Mulai dari teman kelasku, kakak kelas, sampai adik kelas perlahan menghilang satu persatu.
“Ya ampun, sebenarnya ada apa ini?” tanyaku sambil memijit kepalaku. Kenapa temanku perlahan menghilang? Polisi tidak bisa memecahkan masalah ini. Aku harus bagaimana? Sekolah jadi sepi karena kasus ini.
“Gitu saja dipikirkan!” Aldi… “Aku bosan dengan ucapan tidak pedulimu ini. Kalau kamu gak peduli, gak usah tanggapi aku. Kamu gak peduli kan? Hatimu dari batu kan?”, “Tapi berisik tahu. Aku lagi baca!”, “Ya sudah. Aku keluar dari kelas saja. Gitu saja repot!” aku langsung keluar kelas sambil menggertak kakiku.

“Kenapa kamu duduk di sini?” tanyaku saat kulihat Aldi duduk di sebelahku. “Memang gak boleh?”, “Katanya berisik!”, “Tapi aku suka duduk di sini. Ini punya sekolah, semua warga sekolah boleh duduk di sini.” aku diam. Aku tak mau bahas lagi. Aku lelah.
“A.. aku minta maaf deh. Maaf ya.” ucap Aldi bersalah. “Buat apa minta maaf?”, “A.. aku.. gak apa-apa. Mau minta maaf saja.” aku membuang muka. Aku tak peduli.
“Kamu tanya cerita yang aku baca kan? Aku kasih tahu deh.” ucap Aldi. Aku langsung menatap Aldi. “Judulnya apa?”, “Nih, baca saja sendiri.” Aldi menyerahkan gadgetnya padaku. Aku mulai membuka cerita itu. Judulnya ‘Are You Brave?’ Are you brave for what? Berani untuk apa? Aku jadi penasaran.
Ceritanya mengenai seorang anak yang terjebak dengan sebuah cerita yang dibaca di gadgetnya. Ia tersedot ke dalam gadgetnya sendiri dan… “Aaa…” aku tersedot ke dalam gadget Aldi.

“Kamu siapa? Kenapa banyak harimau di belakangmu?” tanyaku. Aku berada di sebuah hutan gelap. Aku melihat seorang perempuan sebayaku dan di belakangnya banyak harimau yang siap menerkamku. Hei, aku salah apa?
“Are you brave?” tanya dia padaku. “Brave For what?” tanyaku balik. Ia menatapku sangat tajam dengan senyum penuh artinya. “Ini di mana sih? Tolong bilang padaku.”, “Harus aku bilang sama kamu?” tanya dia. Aku menatapnya geram.
“Kalau kamu mau selamat, jalani tantangan dari kami!” bukan, bukan dia, tapi ada orang lain. Aku menoleh ke sebelah kiri, kanan, dan belakangku.
“Kalian siapa?” tanyaku melihat delapan orang mengelilingiku. Salah satu orang itu ada yang sangat kukenal. Dia adalah… Aldi. “Aldi. Kenapa kamu di sini? Kamu terjebak juga ya? Ayo kita berjuang bersama. Kau ini temanku. Aku gak akan biarkan kamu terjebak juga!” Aldi menatapku tajam, ia tersenyum, dan memandang ke arah orang-orang yang mengelilingiku.
“Hahaha!” tawa mereka tiba-tiba termasuk Aldi. “Kenapa kalian tertawa? Aku tak melucu!”, “Hahaha.. dia lucu ya Delix.”, “Hahaha!” apa? Delix? Tapi yang dia ajak bicara itu Aldi. “Hei, nama dia itu Aldi bukan Delix!”, “Oh ya? Hahaha..”.
“Delix Ovargan, itu nama asliku.” ucapnya datar sambil menatapku. Delix Ovargan? “Namamu Aldi Afrindo, bukan Delix Ovargan!” jawabku tetap teguh. “Itu namamu saat menyamar? Huh, lebih bagus nama aslimu!”, “Hahaha!” mereka asyik tertawa sementara aku benar-benar geram.
“Diam!” geramku pada mereka. “Huh, dia galak!”, “Keluarkan aku dari sini, aku gak ada urusan dengan kalian!”, “Oh ya? Tapi kamu sudah baca cerita kami. Berarti kamu ada urusan dengan kami.”, “Cerita apa?”, “Cerita Are You Brave.” aku tertegun dengan jawaban salah satu dari mereka. Benar, aku membaca cerita itu.
“Apa hubungannya dengan cerita itu? Aku belum selesai membacanya!”, “Memang belum selesai. Kau yang akan melanjutkan kisah ini. Kau yang akan menentukan cerita ini.”, “Sudah banyak orang meninggal gara-gara gagal menyelesaikan tantangan dari kami. Termasuk teman-temanmu dan adik serta kakak kelasmu!”.
“Jadi mereka menghilang gara-gara cerita kalian?”, “Wow, kau pintar juga ya!”.
“Jadi, Are You Brave?” tanya Aldi alias Delix itu. “Apa tantangannya?” tanyaku balik. “Kamu gak perlu tahu. Jawab pertanyaanku dulu. Are You Brave?” Delix menekankan kata demi kata.
Aku belum menjawab tapi mereka sudah membuatku pingsan.

“Hei, aku belum menjawab pertanyaan kalian!” kesalku saat aku terbangun. Oh tidak, aku berada di hutan yang lebih gelap daripada sebelumnya. Ya ampun, aku dimana?
“Lho, kok ada selembar kertas dan karung? Hm.. ada tulisannya.” aku membaca tulisan di selembar kertas itu.
‘Selamat datang di Are You Brave. Kamu sudah baca cerita kami berarti kamu harus menjalankan tantangan kami. Tak ada tolakan, kamu harus siap.

Cerpen Karangan: Salma Sakhira Zahra
Facebook: Salma Zahra

Cerpen Are You Brave? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hikayat Sepucuk Surat

Oleh:
Namaku Zainal. Biasa dipanggil dengan sebutan “Zai”. Wajah pas-pasan sedikit rupawan. Kulit sawo matang bercampur putih. Rambut berpotong cepak klimis ala anak muda zaman sekarang. Kalian bingung menggambarkanku? Ah

Jembatan

Oleh:
Hampir setiap petang menjelang magrib aku selalu memperhatikan lelaki aneh itu, wajahnya kusut-masai, mengenakan celana hitam, baju hitam, sepatu hitam. Berjalan bolak-balik di atas jembatan, kadang terlihat ia menjambak

Pangeran Dan Putri Naga

Oleh:
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang Pangeran yang merupakan keturunan Ratu Naga. Pangeran bukanlah satu-satunya putra Ratu Naga, Pangeran mempunyai 6 saudara yang masih dalam wujud telur, Ratu Naga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *