Are You Brave? (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 4 December 2017

Ada tujuh tantangan yang harus kau lalui:
1. Ambil peti harta karun di dasar sungai
2. Ambil peti harta karun di pohon paling besar di dunia Are You Brave
3. Ambil peti harta karun di sebuah rumah
4. Ambil peti harta karun di sebuah kebun
5. Ambil peti harta karun di sebuah pantai
6. Ambil peti harta karun di ujung tebing
7. Ambil peti harta karun di dalam tanah yang sudah kami beri tanda X

Setelah mendapatkan peti itu, masukkan ke dalam karung. Dan.. kamu tak semudah itu mendapatkannya. Ukuran peti itu sedang. Kenapa peti harta karun semua? Nanti kau pasti tahu. Kami akan selalu mengganggumu. Kami akan membuatmu meninggal seperti teman-temanmu. Hahaha…’

“Aku harus selamat. Semangat Fariha!” aku menyiapkan mental agar bisa selamat dari dunia menyebalkan ini. Aku mulai berjalan dengan percaya diri.

Sepanjang perjalanan, ada saja hal yang menganggu pikiranku. Seperti suara memanggilku, orang menyangkul, dan sebagainya. Padahal sepi sekali hutannya.

“Nah.. ini sungainya!” aku langsung menyelam ke dasar sungai dan mencari keberadaan peti itu. Tiba-tiba ada yang membekapku dan menahan kaki serta tanganku. Lalu ada ular sungai. Oh, tantangan apa ini?

Aku sempat melihat orang tersebut. Dia Delix. Aku berusaha melepasnya. Akhirnya aku terlepas dan berenang cepat menjauhinya. Ular sungai terus mengejarku. Aku benar-benar tak tahu di mana peti harta karun tersebut. Aku benar-benar menyelam sampai ke dasar sungai.

Aku menemukan sebuah peti. Aku langsung mengambil dan langsung menuju ke daratan. Sampai di daratan, aku langsung berlari secepat mungkin. Aku takut Delix mengejarku.

Peti satu sudah kudapatkan. Peti kedua ada di pohon terbesar di dunia Are You Brave. “Aaa..” teriakku. Aku digigit kakinya oleh.. seekor harimau. Ah, ini membuatku terjatuh dan tak bisa berjalan. Tiba-tiba kulihat pria berpakaian ksatria menghampiriku. “Kau siapa?” tanyaku sambil berteriak. “Jangan mendekat!” aku sampai menyeret tubuhku menjauhinya. Aku berusaha untuk bangkit tapi tak bisa. Gigitan ini sangat sakit.

Aku melihat pohon yang sangat besar. “Itu pohon dan petinya.” aku berusaha untuk memanjat. Lagi-lagi ada gangguan. Beberapa nyamuk menggigitku. Huh, kecil-kecil menghanyutkan juga ya. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus memanjat.

“Dapat!” seruku dan menjatuhkan diri ke tanah. Ksatria dan harimau itu sudah tak ada. Mereka meninggalkan luka bagiku. “Aku harus semangat dan selamat!” aku terus menyeret tubuhku menuju misi selanjutnya.

Perlahan sakit ini hilang namun lukanya masih ada. Aku sudah bisa berdiri namun jalanku masih terpincang-pincang. Dimana rumah tempat peti harta karun ketiga?

“Ah, itu rumahnya!” aku berjalan kesana. Tapi.. “Petinya di depan rumah? Hm.. memudahkanku untuk mengambilnya..” dengan langkah pincang, aku melangkah cepat ke arah rumah tersebut tapi…, “Aaa..” tiba-tiba aku terpental. Seperti ada kekuatan tersembunyi.

“Fariha..” aku menatap seorang pria. “Delix, kau tak puas membuatku hampir meninggal? Kau mau apalagi?” geramku. Ya, pria itu Delix. “Misi kami memang mengganggumu kan? Rasakan saja luka itu!”, “Sekarang, apa maumu? Kenapa kamu menghalangiku?”, “Kamu harus melawanku.”, “Baik. Aku akan melawanmu.”, “Melawan seperti apa? Beladiri? Maaf, aku punya kekuatan lain.”, “Jadi aku harus melawanmu pakai tenaga dalam? Aku tak punya kekuatan itu.”, “Ya.. kau harus siap tak siap.”, “Baik. Aku akan melawanmu.”

Beberapa kali aku kalah karena kekuatannya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Namun.. “Aku tahu!” aku langsung mengambil posisi menyila. Aku menutup mata dan menahan nafasku. Berharap aku bisa menahan tenaga dalamnya.

Aku merasa tenaga itu terus menyerangku. Tapi aku tetap bertahan. Sampai kudengar suara teriakkan kekalahan Delix. Aku membuka mata dan dia menghilang. Aku mengambil peti harta karun ketigaku.

Peti harta karun keempat, yaitu menemukannya di kebun. “Kebunnya di mana ya?” tanyaku penasaran. Tak lama, sebuah kebun sudah terlihat di mataku.

“Are you Brave, Are You Brave, Are You Brave..” terdengar kumpulan anak sedang menyanyi sambil mengelilingi peti harta karun keempat. Aku langsung ke arah anak-anak tersebut.

Das! lagi-lagi aku terpental. “Lari!” seru anak-anak dan lari meninggalkanku. Aku mengejar mereka. Mereka larinya sangat cepat. Berbeda denganku yang larinya masih keadaan terluka. “Bagaimana caranya?” tanyaku terus berpikir. “Ah.. aku tahu!” aku menjatuhkan tubuhku dan menutup mata.

“Hei, dia kenapa?” tanya mereka tiba-tiba mendekat. Aku merasakan sentuhan peti di lenganku. Aku memutuskan untuk pura-pura pingsan walau aku merasakan sentuhan peti tersebut.

“Dapat!” aku langsung lari secepat mungkin. Hahaha.. mereka tertipu. Aku terus berlari tanpa memedulikan luka di kakiku.

“Lho, kok aku jadi ke pantai?” heranku saat yang kuinjak adalah pasir dan terdengar deburan ombak pantai. “Oh.. ini misi peti harta karun kelima.” aku mencari keberadaan peti tersebut.

“Hei, itu petinya!” peti itu terbawa arus ombak. Jaraknya lumayan dekat dari tempatku berdiri. Aku langsung mendekati perairan. Aku mengejar peti itu.

“Aku tak mau sampai masuk kedalaman!” ya, peti itu kadang mendekat, kadang menjauh. Bagaimana ini? Aku tak bisa meraihnya.

Sudah beberapa kali aku mencoba dan akhirnya aku berhasil meraihnya. “Tinggal dua peti lagi!” ucapku. Tiba-tiba, gelombang ombak besar mendekatiku dan aku berusaha menjauh lalu berlari menjauhi pantai.

“Nah, ini tebingnya!” ternyata tebingnya dekat pantai. Aku mencari peti harta karun keenam itu. “Dapat!” tak ada kendala, aku langsung meraih peti itu. “Aaa..” seseorang mendorongku. Peti itu hampir jatuh ke pantai tapi aku bisa meraihnya.

“Kamu bisa menghadapi tantangan kami? Gak mungkin!” tiga orang tiba-tiba ada di atasku. Mereka tersenyum senang sedangkan aku ada di antara hidup dan mati. Ini sangat menyebalkan.

“Hahaha… kasihan sekali!” mereka tertawa sepuas-puasnya. Karena geram, aku melempar karung berisi peti ke arah mereka. Mereka langsung terjatuh dan menghilang. Aku berhasil menyentuh tanah lagi.

“Itu tanah tanda X. Aku harus menggalinya!” aku langsung menggali tanah itu. Aku langsung meraihnya dan tak ada kendala. “Hore aku dapat tujuh peti!” tiba-tiba delapan orang tadi ada di hadapanku.

“Kekuatanmu kuat juga ya!” ucap tiga orang yang kulempar peti tadi. “Memang semudah itu kau langsung keluar dari dunia ini. Kamu gak mau tahu isinya apa? Terus kuncinya mana?” ternyata aku belum selamat. Ah, apalagi sih yang mereka mau.

“Keluarkan mereka!” pinta salah satu dari mereka. Dengan kekuatan ajaibnya, Delix mengeluarkan… mereka. Ya, mereka yang membuatku terkejut.

“Della, Wirsha, Rafa, Asnia, ah.. banyak sekali!” mereka ada di udara dengan gelembung yang melindungi mereka. Mereka dalam kondisi tak sadar.

“Temanku belum meninggal kan? Aku akan membawanya ke duniaku!”, “Semudah itu? Hahaha!” aku geram melihat tawa puas mereka.

“Kalau kamu mau menyelamatkan mereka. Kunci menyelamatkannya ada di peti itu!”, “Ada apa dengan peti ini?”, “Makanya kamu harus mendapatkan kunci dari kami.”, “Bagaimana caranya?”, “Kamu harus menjawab pertanyaan kami dengan jelas dan tuntas. Kalau tidak, nasibmu seperti mereka.” mereka? teman-temanku? Tidak, aku tak mau seperti mereka.

“Menurutmu, berani itu apa sih?” tanya Delix memulai pertanyaan. “Pertanyaan macam apa ini?”, “Sudah jawab saja!” aku memikirkan jawaban yang pas agar aku bisa keluar dari dunia ini.

“Berani adalah karakter seseorang yang membuktikan dirinya bisa. Dirinya hebat. Dirinya tak takut apapun. Misalnya berani tanggung resiko, berani berkorban, dan sebagainya!”, “Jawaban yang bagus!”.

“Pentingan mana, orangtua atau sahabat?”, “Dua-duanya!”, “Gak boleh, pilih salah satu!” pertanyaan ini menyebalkan sekali. Huh, orangtua atau sahabat ya?

“Orangtua!” jawabku mantap. “Kenapa?”, “Karena tanpa orangtua, kita bukan apa-apa. Tanpa orangtua, kita tak bisa mengenal dunia luar dan bersosialisasi.”, “Tapi itu bisa didapatkan di sekolah dan dirimu sendiri. Orangtua tak semampu itu.”, “Percuma kita sekolah tapi kalau kita pendiam, kaku, sama saja kita gak punya teman. Orangtua akan mengajarkan kita bagaimana cara bergaul yang baik di dunia luar!”.

“Terus, kenapa kamu gak pilih sahabat?”, “Aku juga suka sahabat. Tapi, sahabat itu gak sehebat orangtua. Orangtua pandai menjaga rahasia, sedangkan sahabat tidak seperti mereka. Sejati apapun sahabat itu, pasti dia bisa membongkar rahasia baik cepat maupun lambat. Terus, ada kalanya kita sering berantam dengan sahabat dan bisa saja sahabat memutuskan tali persahabatan. Kalau aku sendiri, aku biarkan saja. Aku masih punya orangtuaku yang bisa kujadikan sahabat selama aku hidup maupun aku sudah meninggal. Jika aku meninggalkan mereka lebih dahulu, aku akan menunggu mereka di surga. Aku ingin bersama mereka selamanya!”, “Wow, keren!”.

Pertanyaan demi pertanyaan mereka luncurkan dan aku selalu mendapat pujian yang menandakan aku selalu lolos. Sampailah pada pertanyaan yang membuat dahiku mengerut. “Pilih Cinta atau Kasih Sayang?”, “Dua-duanya sama!”, “Tentu beda. Ini pertanyaan terakhir. Jika kamu bisa menjawabnya, kamu selamat. Tapi kalau tidak bisa, nasibmu seperti mereka!”.

Aku terus memikirkan pertanyaan tersebut. “3.. 2.. sa..”, “Aku pilih Kasih Sayang!”, “Kenapa?”, “Cinta itu bermacam-macam. Ada cinta pada orangtua, teman, sahabat, dan sebagainya. Tapi cinta itu kadang buta. Ada juga cinta karena hawa nafsu atau mencintai seseorang karena ia cantik atau kaya. Itu namanya Cinta Ada Maunya,”, “Aku pilih Kasih Sayang karena cinta tanpa sayang itu hambar. Bilang cinta pada orangtua mudah, tapi untuk membuktikannya susah. Ya, membuktikan kasih sayang susah. Kasih sayang lebih hebat daripada cinta.”, “Kamu lolos. Ini kuncinya!” Delix memberiku kunci. Aku tak sabar ingin melihat isi peti ini dan yang membuatku tak sabar lagi adalah selamat dari dunia ini.

“Waktumu 10 detik!”, “Apa!”, “Waktu sudah berjalan!” aku cepat-cepat membuka peti ini. Saat peti ketujuh, aku hampir tak selamat karena waktunya hampir habis. Akhirnya aku bisa membuka semua peti.

“Oh.. tidak!” mereka terkejut karena aku bisa membuka semua peti. Aku melihat perubahan mereka yang semakin lama hancur menjadi abu dan terbang bersama angin.

Ternyata, isi peti ini adalah 224 gelembung kecil. Jadi satu peti isinya 32 gelembung kecil. Gelembung itu satu persatu menghampiri gelembung yang berisi orang-orang yang tak sadarkan diri. Mereka jatuh ke tanah bersamaan.

“Hore..!” senang mereka saat mereka sudah sadar. Mereka langsung memelukku. Beberapa dari mereka ada yang tak kukenal. “Makasih Fariha!” ucap mereka. “Sama-sama!”, “Selamat Fariha!” aku terkejut melihat perempuan berpakaian peri di hadapanku. “Ini hadiah untukmu!” aku diberi sebuah kalung olehnya.
“Fariha, kau perempuan yang hebat. Kau pemberani, kau cerdas, kau terbaik!” puji peri tersebut. “Aku akan membawa kalian ke dunia nyata!”.

“Fariha..”, “Della..”, “Oliva..”, “Wirsha..” seperti seseorang mengguncang tubuhku. Aku membuka mata. “Ibu Ranka!” ucapku terkejut. Ia wali kelasku. “Ibu menemukanmu dan murid-murid di lapangan sekolah.” apa? Lapangan sekolah. Aku melihat sekitar. Benar, ini sudah di dunia nyata.
“Fariha, banyak sekali lukamu. Mari saya obati.” aku dituntun menuju UKS dan diobati. Aku masih merasakan perih. Tapi perih ini membawa kebahagiaan untukku dan teman-teman. Aku rela berkorban demi kebahagiaan.
“Fariha.. kami sayang kalian!” murid-murid yang terjebak di cerita Are You Brave langsung memelukku erat. Aku sangat bahagia karena bisa menyelamatkan mereka.

Aku mendapat banyak terimakasih dari guru, teman, dan orangtua murid. Dan kedua orangtuaku masih tak percaya dengan kemampuan dan ceritaku serta teman-teman yang terjebak dalam cerita itu.

Seminggu kemudian, “Kak Fariha!” panggil seseorang padaku. Aku menoleh ke arah orang yang memanggilku dengan sebutan ‘kak’.

“Oliva!” kagetku saat ia sudah ada di hadapanku.
“Terimakasih kak sudah menyelamatkanku. Aku kira kak Aldi alias Delix itu berhasil membunuh kakak. Nyatanya tidak. Dari sekian cerita yang ditulis, hanya kakak yang ingin dibunuhnya dengan caranya sendiri.”
“Maksudmu?” aku benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud Oliva. Oliva mulai menceritakan sejelas-jelasnya.
“Jadi kak Delix ingin membunuh kakak dengan caranya karena kakak teman sebangkunya kak Delix. Jika kakak dibunuh, maka kakak merupakan korban terakhir mereka dan mereka sangat bahagia melihat orang yang tak bersalah dibunuh,”
“Dan.. kak Delix juga bilang, dia mengubah pandangan kakak bahwa ia sedang menggambar bukan menulis. Sementara pandangan teman kakak yang lain menganggap bahwa kak Delix sedang menulis. Kak Delix menulis rencananya dalam buku itu. Ia juga sengaja membuat tulisannya jelek dan cepat agar teman-teman kakak tak tahu rencananya. Ya, alasan kak Delix menggambar dalam pandangan kakak juga sama. Yaitu, agar kakak tak tahu rencananya.”
“Dia licik sekali!” kesalku setelah mendengar penjelasan Oliva. “Tapi, bagaimana caranya hampir satu sekolah ini tahu ada cerita itu?” tanyaku penasaran.
“Mereka mempunyai blog sendiri dan kak Delix juga membantu dengan membagikan cerita tersebut pada teman-teman kakak.”
“Oh, begitu. Aku benar-benar kesal dengan mereka!” huh, cerita demi cerita yang Oliva ungkap membuat amarahku naik.
“Sudah kak tak perlu dipikirkan. Yang penting sekolah kembali seperti semula. Sekali lagi aku berterimakasih kak karena dengan keberanian kakak, kakak bisa menghancurkan cerita Are You Brave itu.”

Permainan telah selesai. Pertanyaan yang terus mengangguku tentang Aldi alias Delix itu sudah terjawab. Cerita sudah lenyap. Are You Brave tak akan meresahkan orang-orang lagi. Aku sangat senang.

SELESAI

Cerpen Karangan: Salma Sakhira Zahra
Facebook: Salma Zahra

Cerpen Are You Brave? (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dark Rain (Part 2)

Oleh:
Matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya, anak anak pecinta alam itu tampak sibuk membersihkan tubuh masing masing di aliran anak sungai dekat mereka mendirikan tenda. yang wanita mandi dengan kain

Kak Rangga

Oleh:
Hujan turun begitu deras, diikuti kilatan segara disusul Guntur. Ku buka jendala kamarku. Aku mulai hanyut dalam derasnya hujan. Dingin memang, tapi enggan ku tutup jendela kamar. Percikan air

My Son Is My Brother

Oleh:
Masa liburan belum tiba tapi karena aku akan lulus tahun ini jadi aku dan teman-temanku bisa berlibur lebih cepat untuk menghilangkan penat setelah ujian selesai. Hari ini kami putuskan

The Witches

Oleh:
Penyihir tua itu terlihat sedang meracik sebuah ramuan dengan memasukkan beberapa bahan-bahan ajaib di dalamnya. Sambil tertawa tercekik, ia menambahkan sebuah bahan yang ajaib dan terlarang ke dalam penampungan

Bersauh

Oleh:
“Jadi, apa pedulimu dengan tempat ini, Nak?” tangannya gemetar memegang pagar besi setinggi perut di depannya. Matanya layu. Kutebak mata itu sebentar itu akan menutup. Tetapi, jelas terlihat nasionalisme,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *