Are You… From Another World?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 6 March 2019

Kring, kring. Suara bel alarm sudah berbunyi yang menandakan bahwa sekarang waktunya David untuk bangun dari tidurnya. Dan seperti biasa, alarm tersebut tidak begitu berfungsi. Tangan kanannya yang sedang berada di balik selimut pelan-pelan keluar dan berusaha menekan tombol pada alarm agar segera mematikan suara bisingnya. Setelah bunyi yang mengganggu tersebut, ia pun membuka matanya sambil menatap langit-langit kamar yang berwana abu-abu suram itu dengan tatapan kosong.

5 menit berlalu dan sekarang David merasa ia sudah mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melipat selimutnya dan duduk di ranjang, sambil melihat dirinya sendiri di sebuah cermin yang berada di dekat tempat tidurnya.
Ah… hari lain yang membosankan, pikirnya. David memang seperti itu, sikapnya yang dingin terhadap orang lain menjadikan ia hanya memiliki sedikit teman. Sudah 1 tahun berlalu sejak ia sekolah di SMA Santaver, dan ia hanya mempunyai 2 orang teman. Sebenarnya dia masih mempunyai satu orang teman lagi, namanya Avena. Avena adalah teman masa kecil David. Saat itu David masih berumur 7 tahun, ia bersama dengan keluarganya pindah ke sebuah rumah minimalis yang berada di sebuah kawasan strategis yang terletak di tengah kota. David kecil penasaran dengan lingkungan barunya, ia pun memutuskan untuk jalan-jalan keliling sebentar.

“Wah! Nyaman sekali di sini. Duduk di bawah pohon ditambah angin yang sepoi-sepoi. Rasanya seperti di surga!” gumam David sambil duduk di bawah salah satu pohon. Tempat itu berdekatan dengan taman main anak-anak. David melihat ke arah taman tersebut, ia menyadari ada seseorang yang sedang bermain di taman itu. Anak tersebut terlihat sangat senang, walaupun ia hanya bermain sendirian. David memutuskan untuk berkenalan dengan anak tersebut. Ia pun berjalan dengan santai ke arah anak itu sambil melihat sekitar. Saat ia memalingkan matanya kembali ke arah anak tersebut, sebuah wajah tepat berada di depannya.
“AHH!” David kecil langsung mengambil beberapa langkah ke belakang sambil menatap wajah tersebut. Sambil berusaha menenangkan dirinya, ia memberanikan diri untuk bertanya. “N-nama kamu siapa?” saat itulah David menyadari bahwa anak itu adalah seorang perempuan. Rambutnya sebahu dan memiliki kedua mata yang bulat. Senyumnya benar-benar menawan, dan cara bicaranya yang halus dan lembut. “Avena, namaku Avena..” kata anak tersebut, malu-malu. “K-kamu?” David kecil diam sambil melihat wajahnya. Ia benar-benar mengagumi kecantikan anak itu, sampai-sampai ia hanya diam dengan mulut yang sedikit terbuka. “H-hei, aku tanya siapa nama kamu?” kata Avena sambil menepuk bahu David. Ia pun seketika tersadar dari lamunannya. “Aku David”, ia mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan anak itu dan langsung disambut dengan senyum di wajahnya. Sejak saat itulah mereka berteman, mereka sering bermain bersama di taman itu, membicarakan tentang film anak-anak yang mereka sukai, dan lainnya.

Suatu saat, David dan Avena sedang bermain bersama di taman itu. Tiba-tiba Avena terjatuh ke tanah karena dua tangan yang mendorongnya dengan kuat. David melihat ada 2 orang anak yang tampaknya seumuran dengan mereka. “Pergi sana, kami mau main di sini.” Kata salah satu anak itu. “Aku kira ini tempat umum.” David membalas. Anak yang mendorong Avena itu tampak kesal, ia memukul David tepat di perutnya. David kecil pun terhuyung ke belakang sambil memegangi perutnya. Ia berusaha membalas anak itu dengan sebuah tinjuan ke arah wajahnya. Mereka mulai berkelahi sementara Avena bergegas berlari ke rumah David.

Sekitar 30 menit kemudian, ayah David datang ke taman tersebut. Dengan sigap, Ayah berusaha meleraikan mereka kemudian membawa David pulang dalam keadaan babak belur.
“Sudah berapa kali Ayah ingatkan, jangan cari masalah sama orang lain.”
“Mereka duluan, Yah. David ga terima kalo harus mengalah sama mereka.”
“Huft-.. Lain kali jangan dilakukan lagi nak.” Ayah mengusap kepala David dengan lembut, membuat hati David menjadi lebih tenang. Ayah memang menjadi salah satu pahlawan dalam hidupnya. Saat ia terkena masalah, sosok Ayah pasti akan selalu membantunya. Ayahlah yang selalu menenangkan David dengan sikapnya yang penuh kasih sayang itu.

Suatu hari, David kecil hendak pergi ke taman untuk menemui anak itu. Dan seperti biasanya, ia duduk di bawah pohon yang bedaun lebat sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Setelah sekitar 1 jam menunggu, sebuah mobil hitam berhenti di dekat taman. Satu pintu terbuka dan Avena keluar dari mobil tersebut sambil mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Pakaiannya terkesan /berkelas/, dilengkapi dengan sebuah tas kecil yang diapitnya.

“Uh.. David. Gimana kabarmu?” tanya Avena.
“Yah, seperti biasanya. Kamu?”
“Aku juga baik. David, begini.. aku bakal pergi ke Kanada, alasan keluarga. Aku ke sini mau ngucapin selamat tinggal.”
“T-tapi, kata kamu kita bakal sama-sama terus? Kenapa tiba-tiba?” David kecil bertanya-tanya dengan heran, tak menyangka bahwa teman baiknya akan pergi meninggalkannya dengan tiba-tiba begini. Tapi Avena tidak mengatakan apapun, dia cuma memberi senyuman tipis ke David dan segera berjalan kembali ke mobilnya. Sebuah air mata terjatuh dengan pelan dari pipi Avena yang menandakan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi. David kecil hanya bisa menatap dengan sedih kepergian temannya yang benar-benar di hargainya itu. Mobil hitam itu pun berlalu dari hadapannya. David kecil cuma bisa berjalan ke rumah dengan murung ditemani dengan cahaya senja langit sore.

6 bulan sudah berlalu sejak kepergian Avena. Hari-harinya hanya ia lalui dengan bermain game sepanjang hari di kamarnya. Sore itu, Ayah pulang dari tempat kerjanya, dengan bersemangat ia mengatakan bahwa meraka akan pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan kantor Ayahnya.
“Kita bakal pindah rumah sekitar seminggu dari sekarang. Ayah minta barang-barang harus udah mulai disiapin dari sekarang.” Kata Ayah dengan bersemangat. David kecil hanya bisa menuruti kemauan ayahnya, dan mulai mengemasi barang-barangnya… termasuk kenangan yang pernah dia miliki sejak tinggal di komplek ini.

“Apa yang bisa aku makan hari ini…” gumamnya sambil membuka kulkas. Ia menemukan sebotol susu coklat dan roti. Tanpa banyak berpikir, ia langsung mengambil susu dan roti tersebut dan segera memakannya. “Rasanya lumayan juga.” Ia mengunci pintu rumah dan bersiap untuk berjalan ke sekolah. Hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuknya agar bisa sampai di sekolah. Ia selalu memakai earphone yang terhubung dengan IPodnya sambil berjalan. Dan sama seperti biasanya, ia akan bertemu dengan temannya, Axel, saat dalam perjalanan.

“Hoi, David!” seseorang memanggil David. Orang itu tak lain lagi adalah Axel.
“Hm..” dengus David seadanya. Ia memang dingin kepada semua orang. Sepertinya kepergian teman kecilnya itu sudah mengambil semua kehangatan yang dulu ada di dalam dirinya, dan perlahan-lahan hatinya pun mulai membeku.

Setelah 5 menit berjalan bersama dengan Axel, akhirnya mereka sampai di sekolah. David melepaskan earphonenya dan menyimpannya di dalam tas berwarna hitam itu. Dengan langkah lesu, ia segera menuju kelas 2B.
“Hai, David. Apa kabar?” David berusaha mencari asal suara tersebut.
Dia lagi…, gumam David. “Baik.” Jawabnya sederhana dan langsung berlalu masuk ke dalam kelas.
Orang yang mencoba menyapa David adalah Karin. Bisa dibilang, Karin adalah salah satu dari jajaran cewek cantik di SMA itu. Rambutnya panjang dan di urai, memiliki mata yang bulat, serta hangat kepada semua orang. Banyak sekali siswa di SMA ini yang mencoba mendapatkannya, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Setiap kali ada seseorang yang menyatakan perasaan padanya, ia akan langsung menolak dengan alasan bahwa ia sudah menyukai orang lain.

“Huff..” Karin cuma bisa cemberut karena sikap cuek dari David. Axel yang tadi sedang bersama David melihat wajah Karin dan mencoba menghiburnya. “Uh, maklumi dia ya? Dia memang seperti itu orangnya.” Kata Axel dengan pelan, yang disambut dengan anggukan kecil dari Karin.

5 menit kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi, dan mereka langsung masuk ke dalam kelas dan duduk di tempatnya masing-masing. Kegiatan rutinitas sekolah pun dimulai dan berakhir pada jam 1 siang.

“Oke, pelajaran pada hari ini selesai. Kalian boleh mengemasi barang-barang kalian dan pulang.” Kata Bu Puspa, seorang guru bahasa Indonesia. Kalimat ajaib /boleh pulang/ tersebut langsung terngiang di telinga siswa sekelas. Mereka yang tadinya sudah lesu, dan bahkan ada yang sudah tertidur dari tadi, langsung mendapat kembali seluruh tenaganya. Dengan cepat mereka mengemasi barang-barangnya dan keluar dari kelas.

Saat sampai di gerbang sekolah, David melihat ada seseorang yang melambaikan tangan kepadanya. Dia menyadari bahwa orang itu adalah Karin.
“Kenapa?” tanya David yang menghampiri Karin.
“Uh.. kita pulang bareng yuk? Kan rumah kita satu arah..”
“Ah, oke.” Jawab David, ia berpikir tak ada masalah jika mereka pulang bersama.

Saat itu, kondisi cuaca semakin memburuk. Langit yang tadinya mendung, sekarang mulai meneteskan air hujan dengan perlahan namun semakin deras. Mau tak mau, mereka berdua harus mencari tempat untuk berteduh. Untungnya, terdapat sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari mereka.
“Hei, kita berteduh dulu di kafe itu. Daripada bajunya jadi basah semua.” kata David sambil memperhatikan Karin yang tampaknya sedang kedinginan. Mereka segera berlari masuk kedalam kafe, dan memesan 2 cangkir susu coklat panas. David melihat ke luar melalui jendela yang berada di samping meja mereka. Hujan sudah deras sekarang. Entah kenapa, melihat hujan deras begini mengingatkannya kembali akan kenangan masa lalunya. Kejadian yang pernah dialaminya bersama dengan Avena.

Saat itu jam 4 sore, hari minggu. David sudah berjanji kepada Avena untuk menemaninya bermain sepeda keliling komplek. Mereka berjanji untuk bertemu di taman bermain dengan menggunakan sepeda masing-masing. Saat itu, cuaca mendung. Awan hitam tampak menyelimuti langit hampir tanpa celah. Apa dia benar-benar menungguku di taman? Seharusnya dia sudah tau kalau sebentar lagi akan hujan dan pulang ke rumah. Pikir David. Dia melihat ke luar jendela dan berencana untuk membatalkan rencana bermain sepeda itu. Ia kembali ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya.
Perlahan tapi pasti, hujan turun. Berawal dari gerimis dan akhirnya menjadi deras. David sudah hampir tertidur di atas ranjangnya. “Hei David! Ayo main sepeda!” Suara itu membuat matanya kembali terbuka. Ia segera melihat ke luar dan melihat Avena sedang menaiki sepeda dengan pakaian yang basah karena hujan. David langsung membuka pintu rumahnya.
“Kenapa kamu masih main sepeda?! Kan lagi hujan?!” tanya David.
“Gapapa! Ayo ambil sepeda kamu, jarang-jarang kan begini..”
“Ah, yaudah.” David masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia juga keluar dengan menggunakan sepeda. “Ayo!”, mereka pun bermain sepeda keliling komplek dengan bahagia. Sungguh sebuah pengalaman yang indah. Bermain sepeda bersama teman baiknya sambil di guyur hujan.

BRAK!, Avena terjatuh dari sepedanya saat ingin berbelok. Ini terjadi karena kondisi jalan yang sedang licin karena hujan itu. “Huaaa…” Avena menangis. Melihat Avena terjatuh dari sepedanya, David langsung berhenti dan berlari ke arah Avena. “Kamu gapapa?!” tanya David, ia pun melihat tangan kanan Avena yang berdarah. Dengan cepat, ia segera membantu Avena untuk berteduh di bawah pohon besar. “Kamu tunggu di sini, aku bawain plester sama minum.” Kata David sambil menaiki sepedanya dan pergi.

10 menit kemudian, David kembali sambil membawa plester luka dan sebotol air mineral. Yang pertama dilakukannya adalah membersihkan luka di tangan kanan Avena dengan air dan memplester lukanya. “Huff.. kamu ada-ada aja, bisa jatuh gitu.” Kata David ke Avena yang sekarang sudah berhenti menangis. Avena hanya diam, dan menatap David. Karena ditatap begitu oleh Avena, David salah tingkah. Ia tidak bisa menatap lama-lama mata Avena dan langsung menoleh ke arah lain. Avena pun menyandarkan kepalanya di bahu David, membuat David menjadi semakin salah tingkah. David hanya diam dan berusaha membuat Avena nyaman. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya hujan pun berhenti dan berganti dengan langit yang mulai malam. Mereka pun saling mengambil sepeda masing-masing dan pulang ke rumah. “Terima kasih ya, aku suka kamu.” Bisik Avena kepada David sambil menaiki sepeda dan melambaikan tangannya dengan senyum indah di wajahnya. David hanya bisa diam terpaku di sepedanya. Wajahnya mulai memerah sementara Avena sudah mulai menjauh.

“David?” suara Karin mulai menyadarkan kembali David dari ingatan masa kecilnya. “Kamu kenapa kok senyum-senyum gitu?” tanya Karin.
“A-ah, gapapa kok..” jawab David sambil menyembunyikan senyumnya.
“Hayo, abis ngelamunin apa tadi?” goda Karin sambil tersenyum.
“Kenangan masa lalu yang ga bakal kembali.” Jawab David sambil meminum pelan-pelan susu coklat panasnya. Karin diam dan menatap wajah David selama beberapa saat kemudian kembali meminum susu coklat panasnya.

Sekitar 20 menit berlalu, cuaca sudah semakin membaik. Langit yang tadinya hanya berwarna abu-abu suram, sekarang perlahan-lahan sudah menampakkan birunya. Matahari yang dari tadi tertahan di balik awan, juga mulai mengeluarkan cahayanya yang menyengat. David bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah kasir dan membayar pesanannya.
“Hujannya sudah berhenti, aku rasa kita bisa pulang sekarang.”
“Ya, ayo.” Jawab Karin dan segera memakai tas nya kembali. Mereka berdua keluar dari kafe itu dan berjalan bersama.

“Ah, aku sudah sampai. Terima kasih ya, David. Udah mau nemenin aku.” Senyumnya benar-benar menawan, seperti milik Avena.
“Sama-sama.” Jawab David sambil terus berjalan.

Clack. David langsung masuk ke rumahnya. Suasana rumahnya sepi, dan suram. David memang tinggal seorang diri di rumah ini. Ia adalah anak satu-satunya dan orangtuanya sedang bekerja di luar negeri dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Pada saat mereka akan pergi ke luar negeri, mereka berjanji akan pulang secepatnya. Hal pertama yang dilakukannya saat sampai di rumah adalah menonton TV.

“Acaranya benar-benar membosankan…” gumamnya. Ia melihat ke arah jendela yang menghadap langsung ke sebuah halaman hijau yang luas. Tiba-tiba matanya langsung terpaku pada seorang sosok wanita yang memakai seragam SMA lengkap, rambut hitam di uraikan yang sedikit terbang karena ditiup angin, sedang menatap ke hamparan daratan yang luas. I-…Itu?! A-Avena?!, David langsung mengamati sosok tersebut dengan teliti. Ia tidak bisa mengetahui siapa wanita itu karena ia hanya bisa melihat bagian punggungnya. A-APA BENAR DIA?!, David hanya bisa bertanya-tanya tanpa tau jawabannya. Dia menutup matanya sejenak, dan saat ia kembali membuka matanya, sosok itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah menghilang. “Huh? Apa cuma halusinasiku saja?” gumam David. Tapi di dalam hatinya dia benar benar yakin, sosok wanita itu adalah Avena. Terlalu banyak yang terjadi hari ini. Ingatan masa lalu yang kembali menyapa, hingga sosok wanita yang mirip seperti Avena. Hal-hal ini membuat David pusing dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat.

“Ada apa? Kelihatannya kau lesu sekali hari ini.” Tanya Axel, orang yang selama ini duduk bersebelahan dengan David. “Ah, aku memang selalu begini.” Jawabnya sambil membenamkan wajahnya di meja. “Apa benar itu dia? Apa selama ini dia ada di sini?” pikirnya sambil menutup mata.

Tak lama kemudian, Bu Rita, wali kelas mereka masuk ke dalam kelas. Wajahnya tampak gembira sekali.
“Anak-anak, hari ini kita mendapat seorang murid pindahan. Nah, silahkan perkenalkan dirimu.” Seorang perempuan masuk secara perlahan ke dalam kelas. Ia menggunakan seragam sekolah. Ia selalu menunduk saat masuk ke dalam kelas. Saat berada tepat di depan kelas, ia pelan-pelan mengangkat kepalanya.
“U-uh, nama saya Violet. Saya murid pindahan dari London.” Ucapnya malu-malu. Matanya yang berwarna keunguan itu berhenti saat melihat wajah David. Saat itu juga, pandangan mereka bertemu. David merasakan suasana di sekitarnya menjadi suram, semuanya menjadi abu-abu. Hanya tersisa mereka berdua yang saling bertatap. Mata Violet yang ungu itu mengesankan sesuatu yang aneh, aneh yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Ia bisa merasakan sebuah asap hitam menghampiri dirinya. Perlahan asap hitam itu memasuki tubuhnya yang ketakutan itu. Ia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya terdiam membisu di dalam suasana suram dan mencekam itu. David merasakan sesuatu yang panas di bagian dadanya. Tatapan mata terkejut itu benar-benar terlihat jelas saat ia melihat dadanya yang bersimbah darah. Pandangannya mulai kabur, bersamaan dengan rasa sakit yang dideritanya ini membuatnya terjatuh ke lantai. Perlahan, ia menutup matanya dan kehilangan kesadaran.

“Vid, hei-… David!”
Ia mendengar suara yang memanggilnya. Matanya pelan-pelan terbuka sambil berusaha menyelaraskan pandangan dan kesadaran. Sekejap, ia langsung sadar kalau ia masih berada di dalam kelas. Kondisi kelas saat itu lumayan sepi karena sedang jam istirahat. Rasa takut yang dialaminya, membuatnya linglung. Ia tampak seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruknya.

“Hoi, kenapa lo?”
“Uh-… tidak.” Jawab David dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia masih tidak bisa melupakan apa yang baru saja dialaminya tadi setelah bertatap mata dengan Violet, anggota baru kelasnya. Mereka baru saja bertemu, tapi sudah mengukirkan ketakutan ke dalam diri David.

Bunyi bel pulang sekolah sudah berbunyi, murid-murid langsung bergegas membereskan barang bawaannya dan bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan David, ia langsung bergegas untuk pulang. Saat berada di pintu kelas, ia berpapasan dengan Violet yang juga ingin keluar. Lagi-lagi, tatapan mereka bertemu. Tatapan dingin itu, sudah mengukir kuat ancamannya di hati David. Tatapan itu hanya berlangsung sekitar 2 detik, dan keheningan pun kembali seperti biasa. Ia berjalan terhuyung-huyung ke arah gerbang sekolah sambil sesekali melihat ke arah belakang.

Saat tinggal 1 langkah tersisa untuk melewati gerbang sekolah, tiba-tiba langkahnya terhenti. Seluruh tubuhnya menjadi kaku serasa ditahan oleh tangan besar tak terlihat. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, nafasnya memburu, detak jantungnya menjadi sangat cepat, matanya yang biasanya selalu terlihat lesu itu menjadi terbelalak. Pandangnya terhenti saat melihat ke depan. Ia melihat dirinya sendiri sedang berjalan menjauh. Sekitar 5 langkah bayangan dirinya itu berjalan lurus, dan tiba-tiba menghilang seperti debu yang tertiup angin. Saat itu pula, belenggu yang menahan tubuh David serasa menghilang. Ia bisa bergerak dengan bebas seperti biasa.

Setibanya di rumah, seluruh tenaganya sudah terkuras habis. Mulai dari melihat darah sebanyak itu, merasakan sakit yang luar biasa, tatapan dingin dari murid yang baru saja pindah, tubuhnya yang tiba-tiba kaku, serta melihat bayangan dirinya sendiri menghilang. Kejadian-kejadian itu sudah terus berputar-putar di dalam kepala David. Tanpa sadar, ia sudah terjatuh ke lantai. Tangan dan kakinya terasa sangat lemas dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia hanya bisa melihat ke langit-langit rumahnya. Warna coklat pekat dengan sedikit ukiran dari langit-langit rumahnya seakan-akan berubah menjadi sebuah lubang hitam yang muncul dari tengah langit-langit dan membesar dengan cepat menyelimuti seluruh ruangan.

Suasana ruangan tersebut menjadi dipenuhi warna abu-abu dan suram, sama seperti yang dialaminya saat di sekolah. Tubuhnya masih tidak bisa digerakkan, dan matanya hanya terus-terusan melihat ke atas, melihat warna hitam pekat. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa-apa.

“Ah, seperti ini lagi. Mungkin akan bertambah buruk. Aku sudah bersiap.”
Ia sudah benar-benar pasrah terhadap keadaan. Dia sudah bersiap untuk merasakan rasa sakit yang luar biasa lagi, atau lebih buruk. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sampai sekarang, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencari tau.

Dari langit-langit, muncul sebuah pedang berwarna emas. Pedang itu benar-benar terang, membuat mata David menjadi sipit karena silau cahayanya. Pedang itu dengan cepat menukik ke bawah, menusuk tepat ke dada David. Mulutnya langsung memuntahkan darah, ditambah dengan rasa sakit tiba-tiba ini. Pandangannya menjadi kabur dan menjadi hitam.

Cerpen Karangan: ExbzvS
Facebook: facebook.com/rikky.setiawan2

Cerpen Are You… From Another World? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Shalom Sang Pengembara

Oleh:
Tak terasa, perjalanan Shalom menuju Kerajaan Mattawijaya sudah menghabiskan waktu dua hari. Tidak mudah memang untuk pergi ke Kerajaan Mattawijaya, karena harus melewati Sungai Bodri, sungai yang luas dan

Sun of San

Oleh:
Munculah kau wahai sinar yang begitu hangat di pagi hari, iringi langkah hariku dengan sinarmu dan tutuplah hariku dengan keindahanmu yang tak pernah bisa dibayar dengan apapun. Terbangun di

The Dragon’s Tale

Oleh:
Suara itu menggema di ingatannya. Ia yang setengah sadar akhirnya terbangun, mendapati dirinya dalam gelap. Di hadapannya ada sebuah dinding batu yang menguncinya dalam gelap. Kemudian ia teringat akan

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Dialog Pikiran

Oleh:
Hawa panas mulai memasuki kamarku. Gorden jendela kamar kubiarkan tetap menutup. Suasana kamar terasa sedikit pengap, tapi kubiarkan saja. Keadaan di sekitar sudah tidak berpengaruh banyak. Aku sudah tenggelam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *