Asam Manis Masa Sekolah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2019

Tahun 2054, dimana mesin-mesin canggih di dunia sudah berevolusi ke level yang lebih tinggi. Di depan cermin, berdiri seorang gadis dengan rambut lurus sepinggang yang cantik sedang bersiap-siap pergi ke sekolah, Celis Anggina namanya. Di hari pertama sekolah menengah pertama membuatnya gugup. Dia bersolek di depan cermin yang terletak di kamarnya, benda berharga miliknya. Ibunya sudah menunggu di mobil, dia buru-buru merapikan rambutnya dan masuk ke mobil. Sebuah mobil modern berwarna putih dengan permukaan bersih mengkilap dengan kendali otomatis yang hanya perlu menekan tombol hijau di depan kemudi dan mobil akan berjalan dengan sendirinya menuju alamat yang dituju, dengan sensor otomatis yang akan berhenti sendiri jika ada mobil lain yang berhenti mendadak. Ibunya menekan tombol hijau dan menonton tv di depan kemudi dengan santai.

Mobil berhenti, Celis sudah sampai. Ia turun dari mobil dan melambaikan tangan pada ibunya. Ia lalu masuk ke dalam gedung sekolah. Sampai di dekat pintu masuk, ia disambut oleh sebuah robot mirip manusia yang cantik. “Sebutkan nama dan ID anda”, Kata robot itu dengan nada formal. “Celis, ID 0108”, Celis menjawab. “Kelas anda di 7C, silahkan lewat sini”. Celis mengikuti robot itu sampai ke kelasnya.

Di kelas itu sudah ada beberapa murid yang datang lebih awal. Diantara murid itu ada beberapa orang yang ia kenali. Leon dan Veron, dua sahabatnya di taman kanak-kanak. Mereka bertiga sudah lama tidak bertemu karena Veron sekolah di luar negeri. Celis menghampiri Veron dan Leon yang tampak sangat berbeda dari terakhir mereka bertemu. Leon yang sudah jauh lebih tinggi dan Veron yang cantik dan berambut gelombang sepinggang dan juga lebih tinggi dari terakhir bertemu.

“Hai Cel, udah lama gak ketemu yah? Apa kabar?” Veron menyapa Celis
“Baik, kamu kapan pindah ke sini?”
“Baru seminggu lalu, kebetulan yah kita bertiga sama-sama daftar SMP di sini”
“Iya nih, kok kamu diam aja sih Leon?” Celis mengalihkan pandangannya ke Leon
“Yahh.. hanya kebetulan” Leon menjawab dengan datar
“Dia mungkin malu kali udah lama gak liat kamu makin cantik wkwk” bisik Veron

Tiba-tiba lonceng kelas berbunyi, murid-murid duduk di bangkunya masing masing. Celis duduk di baris kanan di samping jendela. “Selamat Pagi anak-anak, saya Rosa Madeline. Mulai sekarang, saya adalah wali kelas kalian” Sapa Bu Rosa dengan ramah. “Saya akan mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, kelas hari ini kita mulai dengan absensi kelas”. Bu Rosa mulai mengabsen satu per satu murid di kelas.
“Celis Anggina” kata Bu Rosa dengan lantang
“Saya Bu” Celis mengacungkan tangan
“Namamu bagus, terinspirasi dari Novel Promise yah?”
“Iya bu, Hehe” Celis menjawab
Bu Rosa melanjutkan absensi kelas.
“Albert”
“Ya bu”
“Leon Arnando”
Leon mengacungkan tangan tanpa mengucapkan apa-apa
“Lina”
“Saya”
“Veronika Radi”
“Hadir bu” Veron menjawab.

Setelah absen selesai, bu Rosa melanjutkan. “Okeh, kita lanjutkan dengan pemilihan pengurus kelas. Tulis nama teman kalian yang kalian anggap pantas menjadi ketua kelas di meja kalian”. Meja di kelas itu seperti tablet layar sentuh, kita tinggal menekan huruf di keyboard layar sentuh itu. Celis menulis nama Leon, menurutnya Leon lah yang cocok menjadi ketua kelas karena dia sangat tegas. Ketika semua nama dikirimkan ke meja Bu Rosa, Celis lah yang nama yang paling banyak ditulis. Dia bahkan kaget ketika namanya disebut, dia belum pernah dipilih sebagai ketua kelas sebelumnya. Veron nyengir lebar, senang karena dia juga ikut memilih Celis. Celis membuka matanya lebar-lebar, melotot pada Veron. “Ketua kelas yang terpilih adalah Celis” Bu Rosa menegaskan.

“Teng.. teng.. teng..” bel istirahat berbunyi. “Kalian boleh istirahat, Celis, saya ingin kamu mengurusi beberapa berkas ini”. Celis hanya menganguk. Akhirnya Celis hanya di kelas, mengurusi berkas yang diberikan oleh Bu Rosa. Sepertinya Veron menyesal karena dia telah memilih Celis menjadi ketua kelas, “Kalau dia jadi ketua kelas kan dia bakal dapat banyak tugas.. jadi sibuk.. jadi jarang bisa istirahat bareng, astaga bodohnya aku..”. Dia terus menggumam sendiri di kantin sampai Leon menghampirinya. “Nih makan” Leon memberikannya roti isi selai srikaya, lalu duduk di seberangnya.
“Gak usah dipikirin, gua aja kagak pikirin padahal gua juga ikut milih dia”
“Hah? Kamu milih dia?, padahal dia juga milih kamu lhoo.. ciee” Veron menggodanya
“Gak perlu gitu, santai aja.. mungkin cuma kebetulan” Leon menjawab dengan datar dan dingin. Veron hanya diam, takut dengan nada bicara Leon yang dingin.

Bel masuk sudah berbunyi, mereka masuk ke kelas bersama-sama. Sampai pulang sekolah, Celis langsung pulang. Ia bahkan belum melihat Veron dan Leon setelah pemilihan ketua kelas tadi. Veron merasa bersalah, namun ia tidak berani mengungkapkannya.

Keesokan harinya, pada saat pelajaran olahraga Celis disuruh oleh Bu Rosa mengantar berkas-berkas penting ke ruangannya, sehingga Celis tidak mengikuti pelajaran olahraga. Ia juga hanya bisa istirahat selama beberapa menit dan hampir tidak dapat menemui Veron. Karena pada waktu istirahat Celis tidak ada, Veron bergaul dengan teman lain. Dia punya teman baru, namanya Riana, dari kelas 7B. Dia sebenarnya ingin dekat dengan Celis, namun tidak ada kesempatan. Celis selalu sibuk dengan tugasnya sebagai ketua kelas, dia juga memiliki teman baru bernama Kelly dan Wina yang juga pengurus kelas. Sampai suatu hari, Bu Rosa memanggil Celis ke ruangannya. Ruangan itu dicat berwarna krem dengan garis horizontal berwarna abu-abu. Begitu Celis memasuki ruangan itu, Bu Rosa mempersilahkan Celis duduk. Ia digantikan sebagai ketua kelas. Kira-kira itulah inti dari kalimat yang Bu Rosa ucapkan tadi. Dalam hati ia agak kecewa dan bingung, karena dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun saat ia menjabat sebagai ketua kelas.

Pada jam istirahat, ia bertemu dengan Veron dan Riana.
“Hai, Celis” Veron menyapanya, namun dia tidak menjawabnya. Bel istirahat berbunyi, mereka masuk ke kelas. Bu Rosa menyuruh mereka membentuk kelompok dan tidak seperti biasanya, Celis tidak mengajak Veron sekelompok dengannya.
“Cel, kita sekelompok yuk” Veron mengajak Celis sekelompok dengannya
“Ya, boleh” Celis menjawab dengan nada datar
“Cel, kamu marah yah sama aku?”
“Enggak kok” Celis menjawab dengan santai, seperti tidak ada yang disembunyikan, namun Veron masih merasa bersalah. Ia bahkan tak tahu apa yang telah dia perbuat sehingga Celis jadi begini.

Hari demi hari berlalu, mereka sudah lama tidak saling berbicara. Ujian sudah dekat, mereka berdua belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah seminggu melewati ujian, Celis dikagetkan dengan nilai Veron yang jauh melebihi dirinya. Ia merasa kesal, senang, kecewa, sedih, dan juga marah. Perasaaan itu bercampur menjadi satu. Tak terasa mereka semua melewati masa-masa sekolah pertama begitu cepat.

3 Tahun kemudian, Celis dan Veron masuk ke SMA yang sama. Entah takdir atau hanya sebuah kebetulan, mereka juga sekelas. Hubungan mereka belum membaik dari 3 tahun lalu. Entah apa yang membuat hubungan mereka menjadi seperti itu. Mungkin mereka dipertemukan di sini untuk memperbaiki hubungan mereka. Leon melanjutkan SMA nya di Yogjakarta. Hari pertama SMA mereka tidak bertemu satu sama lain karena Celis tidak masuk sekolah. Hari kedua mereka bertemu di kantin sekolah secara tidak sengaja karena Veron menabrak Celis yang baru saja membeli makanan di kantin.

“Hey, kalau jalan pakai mata dong!” Celis membentak
“Apaan sih? dimana-mana kalau jalan tu pakai kaki bego!”
“… V-veron? .. s-sorry tadi gua gak liat” Celis berusaha menghindar, tidak ingin mencari masalah dengan Veron, dia tidak mengira bahwa yang menabraknya adalah Veron
“… Ikut gua” Veron menarik tangan Celis ke tempat yang kemarin dipakai Veron untuk bersantai, taman di samping lapangan basket indoor. Veron sudah jauh berbeda dari sebelumnya, dia yang dulunya tidak memiliki teman sekarang sudah memiliki banyak teman yang baik. Sedangkan Celis, Kelly dan Wina yang dulunya dia anggap teman baik sekarang menjauhinya setelah nilainya turun di ujian kemarin. Sesampainya di taman, mereka berdua diam, tak ada yang berani memulai percakapan. Sampai suara Veron memecah keheningan di taman itu

“Cel, gua pengen banget nanya ini dari 3 tahun lalu sejak lo ngejauhin gua tanpa sebab”
“…” Celis hanya mengangguk pelan, mengerti apa yang dirasakan temannya itu
“Apa sih sebenarnya alasan lo ngejauhin gua?” Veron bertanya dengan suara gemetar, setitik air mata jatuh di tanah
“gua.. gua bahkan gak tau.. 3 tahun lalu gua bahkan gak tau kenapa gua ngejauhin lo..” Celis menjawab dengan suara pelan
“..gua hanya merasa kalau lo itu nuduh gua karena gak punya waktu istirahat bareng sama lo..” Celis melanjutkan
“gua gak pernah nuduh lo!, malah gua yang merasa bersalah.. gua bahkan gak tau apa salah gua..” Veron menjawab sambil menangis
“Iya gua minta maaf Ver, lo mau kan maafin gua?”
“Iya, gua maafin lo… gua juga sebenarnya mau minta maaf, karena ujian.. nilai gua diatas lo.. nilai gua itu diharuskan tinggi sama nyokap gua.. dia pengen gua jadi penerus di perusahaan.. jadi yaa.. lo tau kan?” Veron agak ragu untuk menjelaskan
“Ooo.. iya gakpapa gua ngerti kok, … mm jadi sekarang kita temenan kaya dulu yah?”
“Iya Cel, gua gak pernah marah sama lo… berarti selama ini ternyata gak ada masalah apa-apa, cuma gara-gara diem-dieman aja kita jadi berantem kayak gini.. huft”
“Iya gua minta maaf deh Ver.. gua nyesel diem-dieman” Celis menggumam
“Iya gakpapa, yang penting kita udah baikan. Aku nanti kabarin Leon hehe”
“Lo jadian sama Leon?” Celis bertanya dengan nada penasaran
Seketika muka Veron merah padam, yang artinya menurut Celis jawabannya adalah iya.
“Cieee yang baru jadian.. ciee” Celis menggoda Veron
“Mmm.. ke kantin yuk! Bentar lagi bel, aku lapar!” Veron mengalihkan pembicaraan

Celis tak kapok, dalam perjalanan ke kantin Celis terus menggoda Veron yang mukanya sudah seperti kepiting rebus.
Bel berbunyi, mereka kembali ke kelas. Dengan hati yang lega karena sudah berbaikan. Mereka menghabiskan masa SMA mereka dengan kebahagiaan dan kesenangan bersama, Celis, Riana dan teman-teman Veron juga biasa mengunjungi rumah Veron untuk berkumpul bersama. Mereka jauh lebih akrab dan dekat dari sebelumnya. Menurut Celis, teman-teman Veron sangat baik dan ia merasa nyaman bergaul dengan mereka. Begitulah persahabatan, tidak bisa ditentukan sampai kapan. Sahabat adalah orang yang ada disaat suka dan duka. Karena jika bersama dengannya dapat membuat hati merasa damai dan tentram.

2 tahun pun berlalu…
Tak terasa masa SMA sudah memasuki tahun terakhir, siswa-siswa sudah siap untuk mengikuti ujian akhir. Mereka telah mempersiapkan diri masing-masing dengan baik berharap untuk dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Mereka merasa sangat antusias, karena setelah mengikuti ujian tersebut mereka akan segera melangsungkan pesta perpisahan, yang konon katanya seram… upss… menyenangkan dan tak terlupakan.

Hari ujian pertama dimulai, mereka tetap percaya diri untuk mengisi soal-soal yang diberikan walaupun sebagian dari mereka ada yang merasa tegang dan gugup. Ujian akan berlangsung selama lima hari. Dan selama lima hari mereka harus bertempur habis-habisan. Lima hari telah berlalu dengan baik. Dan sampailah pada pesta perpisahan yang telah dinantikan itu. Acara berlangsung dengan sangat meriah dan seru. Malam menakjubkan itu pun berlalu dan minggu depan adalah pengumuman nilai ujian. Siswa-siswa sudah nggak sabar menunggu nilai mereka.

Saat yang dinantikan pun telah tiba, wah! alangkah terkejutnya Celis dan Veron, nilai mereka hampir sama. Mereka sangat bangga dengan nilai yang mereka peroleh
“Cel, Nilai kita hampir sama lho..”
“Iya nih, eh kan nilai kita hampir sama, kita masuk ke kampus yang sama yukk”
“Oke, sip”
Masa SMA pun dilalui dengan amat sangat baik dan mereka akan membuka lembaran baru lagi di jenjang berikutnya.

Cerpen Karangan: Yonari

Cerpen Asam Manis Masa Sekolah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Salvation (Part 2)

Oleh:
Kedua tanganku disatukan dan diikat oleh seuntas tali tambang membelakangiku. Aku dikawal setiap sisinya oleh para pengawal bersenjatakan, benar-benar dianggap bak seorang buronan kelas kakap. Mendadak pengawal di belakangku

Cincin Berlian

Oleh:
Suara ombak yang berdebum di pinggiran pantai menyambut pagiku hari ini. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Aku berjalan menyusuri pantai sendirian, di saat mata-mata lain masih tertutup. Ini memang

Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

Putri Sofia

Oleh:
Alkisah, hiduplah seorang putri raja dari Kerajaan Berlian. Dinamakan demikian karena kerajaan tersebut kaya akan tambang berlian. Sebagian besar penduduknya pun mencari nafkah dari menambang berlian dan dijual ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *