Atas Nama Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 8 August 2016

“Aku cinta padamu Emma.” Ucap Sebastian lirih. “Aku juga cinta padamu, Ian. Tetapi, aku tidak bisa bersamamu. Aku adalah peri Musim Dingin. Sedangkan kamu adalah peri Musim Panas. Kamu tahu kan, Ian. Peri Musim Panas dan Musim Dingin tidak pernah akur. Mereka selalu memperebutkan mana di antara mereka yang paling pantas untuk membuat sebuah musim di bumi. Ditambah lagi, aku adalah putri seorang raja musim Dingin. Aku tak mungkin mempermalukan nama ayahku.” Emma menjawab. Terik siang itu seolah membakar hati Sebastian. Meninggalkan sekubangan air mendidih yang diam diam memakan cintanya. ‘Selalu kehilangan sebuah harapan’ mungkin seperti itulah posisi Sebastian saat itu. Sepasang peri jantan dan peri betina itu duduk di antara dahan pohon yang telah tumbuh dewasa nan kokoh. Emma mulai berkaca kaca lalu ia merintikan air mata. “Sebastian, apakah kau rela mati untukku?” Suara Emma agak bergetar. “Emma… sudahlah jangan menangis. Aku siap untuk apa pun yang menghalangi cinta kita, Emma.” Mereka pun saling berpelukan. Emma tenggelam dalam pelukan Sebastian sambil menangis haru. Mereka tahu, bahwa hari itu adalah hari terakhirnya mereka bertemu sebelum bangsa peri Musim Panas dan bangsa peri Musim dingin berperang. Mereka tahu, mungkin di hari esok salah satu dari mereka akan sirna dan kembali ke dalam pohon jiwa. Pohon jiwa, pohon yang menyimpan jiwa peri peri yang telah sirna. Entah itu Emma atau Sebastian yang akan sirna, mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan kini adalah bagaimana caranya untuk bertahan hidup dan mengukir kisah yang nantinya akan menjadi sebuah sejarah romantis.

Tibalah hari yang diramalkan itu. Hari dimana bangsa peri Musim Dingin dan Musim Panas berperang untuk membuktikan siapa yang paling pantas untuk membuat sebuah musim di bumi. Emma saat ini sedang berlari di koridor istana Musim Dingin. Brrak, “Ayahanda!!” Emma membuka pintu lalu berlari ke arah ayahnya. “Ayahanda, kumohon. Hentikan semua peperangan ini. Semua dapat dibicarakan dengan baik dengan pihak lawan, ayahanda.” Kata Emma perlahan sembari mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal senggal. Plakk, ayah Emma menampar Emma. “Bodoh! bicara apa kamu ini?!! apa kamu tidak sadar juga bahwa ibumu telah dibunuh oleh bangsa mereka!. Jangan bilang ini semua karena peri jantan gelandangan dari pihak musuh kita?!. Kamu memang anak yang benar benar bodoh, Emma! sadarlah! dia hanya memanfaatkanmu!.” Ayah Emma marah besar. “Ayahanda…” kata Emma lirih memegangi pipinya yang panas akibat tamparan ayahnya. Dia menyeka airmatanya yang hanya tinggal di ujung bulu mata. “Itulah mengapa ayahanda tidak pernah mengerti! itulah mengapa ayahanda kehilangan ibunda! itulah mengapa Ayahanda bisa kehilangan semuanya!. Oh, ternyata ramalan kambing tua betina itu benar apa adanya. Bahwa ada seorang raja yang tidak pernah mau memikirkan perasaan orang orang di sekitarnya. Sehingga dia tenggelam dalam kebenciannya sendiri. Dan satu lagi, Ayahanda. Sebastian bukanlah seorang Gelandangan! bahkan ia jauh lebih berharga dibandingan denganmu!” bentak Emma yang menggema di seluruh sudut ruangan ayahnya itu. Lalu Emma bergegas pergi meninggalkan ayahnya begitu saja.

“Persiapan sudah siap, Tuanku.” kata Sebastian. “Bagus.” kata Raja Musim Panas tersenyum puas. “Tetapi, tuanku…” Sebastian tidak berani meneruskan perkataannya itu. “Ada apakah gerangan?” tanya sang raja itu. “Bukankah lebih baik kita berdamai dengan bangsa peri Musim dingin? seperti membuat kesepakatan yang bijak, Tuanku?” kata Sebastian. “Hahahahaha” raja itu malah tertawa terbahak bahak. “Sebastian, dengarlah. Ada hal yang perlu kau ketahui dan ada pula yang tidak. Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Kita harus mempersembahkan kerja keras kita dan membuktikan kepada dunia bahwa perbedaan tidak menjadi halangan. Biarlah mereka tertusuk belati, namun di dalamnya akan ada sesuatu yang tidak pernah sirna.” kata Raja itu. Entah mengapa kata kata itu seperti merasuk ke dalam pikiran Sebastian. Kata kata yang membakar semangat Sebastian. Dia ingin membuktikan kepada dunia bahwa tidak hanya romeo dan juliet saja yang merasakan apa artinya cinta. Mereka, bangsa peri pun juga bisa merasakan cinta.

“Bidik!” Suara menggelegar. “Bersiap!” Para prajurit segera menarik pelontar. “Tembak!!” Ribuan anak panah berjatuhan di antara dua belah pihak. Bersamaan dengan itu, pasukan antara dua belah pihak saling menyerbu. Sebastian dengan gagah berani menunggangi kuda dan mulai mengayunkan pedangnya. Mempertaruhkan anatara hidup dan matinya demi Emma. Sementara itu, sebagai seorang wanita, Emma dilarang ikut berperang. Dia tetap tinggal di kamar istana bersama adiknya, Noe.

“Matahari kan bersinar. Menyinari alam. Di dalamnya ada cinta yang selalu terukir indah. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Memperjuangkan cinta. Memperjuangkan hati. Berjuang antara hidup dan mati. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang…” Emma bersenandung. Noe hanya mendengarkan. Adik perempuan Emma itu (Noe) mulai menguap lalu terlelap di atas kaki Emma. “Ian.., Ku kan selalu menunggumu.” Emma pun ikut terlelap.

Di dalam mimpinya Emma seperti berada di sebuah padang ilalang dengan cuaca yang sedikit mendung. Itu berarti Peri musim Panas dan Peri musim dingin sedang berperang. Ia duduk di bawah rindang pohon yang kini terlihat seperti rambut karena mendungnya langit. Emma mulai menangis. Ia menyesali apa yang digariskan oleh dewa untuknya. Ia menyesali perbuatannya saat 2 tahun yang lalu. Seharusnya hari itu dia tidak pergi ke hutan, ia mungkin tidak akan bertemu dengan Sebastian. Jika dia tidak pergi, mungkin Sebastian tidak pernah terjebak keadaan yang seperti ini. Ia mungkin tak pernah terlibat dalam peperangan yang memuakan ini. Ini semua salah Emma yang telah jatuh cinta padanya. Ia menyesali pertemuannya dengan Sebastian 2 tahun yang lalu karena sama saja dia membawa Sebastian menuju bahaya. Di dalam pikirannya hanya terdapat ‘jika dia’, ‘ia mungkin tak akan’, dan penyesalan penyesalan lainnya. Tanpa Emma sadari, munculah seekor kuda dengan penunggangnya yang gagah berani. Tubuhnya tegap. Rahang wajahnya kokoh. Ia berhenti di depan Emma. Tangan yang dingin itu menyentuh Emma. “Emma.. Jangan sesali apa yang pernah kita lakukan. Jangan pernah sesali itu. Mungkin setelah ini akan ada suatu pertanda yang akan membuatmu sadar bahwa aku memang tak pantas untukmu. Aku tidak berhasil Emma. Aku tidak berhasil menjadi Kesatriamu. Maafkan aku Emma.” Kata Sebastian lirih. Saat saat ini adalah saat saat yang sama dengan hari terakhir mereka bertemu lusa lalu. Tangis Emma semakin mejadi jadi. Ia jatuh ke dalam pelukan terdalam Sebastian. Namun kali ini sebastian ikut menangis. Dua sejoli di bawah naungan peperangan dan kehancuran. Hanya ada si awan hitam yang mempunyai pertanda. Mereka menguras seluruh sisa airmatanya. Lalu seketika itu munculah seberkas cahaya perpaduan antara kuning saga dan biru muda. Mereka menangis haru. Tak lagi menyesali apa yang dilalui selama ini. Lalu jatuh dalam hangatnya sentuhan bibir mereka yang sekian lama menanti keajaiban. Bibir yang sudah lama kelu menahan kata kata yang tercekat antara tenggorokan. Bibir yang sudah lama menangis berteriak meronta ronta. Mata mereka yang lelah itu terpejam sesaat. Menikmati setiap inci dari narasi saat ini. Emma tahu ini hanya ilusi. Tetapi tetap saja, ia ingin menumpahkan segalanya disini. Setetes sisa airmata terkhirnya menjadi cerah dan mengalir jatuh tepat di tangan Sebastian. Saat Emma membuka mata, narasi dan ilusi indah tadi telah berakhir. Ia menangis tak henti henti. Ia tersadar bahwa Sebastia telah sirna. Ia kembali ke pohon jiwa. Tak kuasa menahan sedih, Emma kabur dari istana dan menuju titik peperangan. Meninggalkan Noe yang masih tidur dengan lelapnya.

Ketika sampai disana, Emma histeris. Ia seolah tak percaya bahwa pertanda itu benar. Lututnya lemas, bibirnya kembali kelu, ia pun terjatuh tepat di samping mayat Sebastian. Air matanya telah habis, namun ia sedih sekali. Matanya terbelalak. Senada kemudian dia berteriak sekencang kencangnya lalu menangis darah. Darah dari matanya itu memenuhi wajahnya. Peperangan seketika itu berhenti karena teriakan Emma. Semua orang memandang Emma yang memeluk mayat sebstian itu. “S-sebastian…, kumohon… bangunlah. Aku akan menggantikan tempatmu. Sebastian!!” Darah semakin deras mengalir dari pelupuk matanya. Ia tak kuat menahan semua ini. Pikiran nostalgia bersama Sebastian pun muncul di kepalanya. Seperti layar proyektor yang tiba tiba hidup sendiri. Ia semakin tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam. Kubangan di dalam hatinya menjadi semakin besar dan membesar. Wajahnya dipenuhi darah segar dan darah kering. Sejurus kemudian dia mengambil pedang dan bunuh diri tepat di samping mayat sebastian. Brukk, tubuhnya terhantuk tanah. “Matahari kan bersinar. Menyinari alam. Di dalamnya ada cinta yang selalu terukir indah. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Memperjuangkan cinta. Memperjuangkan hati. Berjuang antara hidup dan mati. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang….” Disaat saat terakhirnya Emma bersenandung. Lagu yang menggambarkan kisah cinta mereka yang gagal namun tak pernah padam. Bak Adam dan Hawa dari kalangan peri. Bak Romeo dan Juliet yang menempuh kisah cinta yang haru dan menyakitkan. Emma dan Sebastian pun kembali ke Pohon Jiwa dengan damai dan tenang.

Karena kejadian itu, Raja peri Musim Panas dan Raja peri Musim Dingin berdamai. Mereka memutuskan menyelesaikan semua ini dengan cara yang aman dan kekeluargaan. Maka sejak dari itu, para pemimpin bangsa peri musim membagi waktu dan wilayah atas musimnya sendiri sendiri. Seperti musim panas di indonesia yang muncul pada bulan April – September dan musim dingin di indonesia yang muncul pada bulan Oktober – April. Akhirnya Kisah bak Adam dan hawa, Rama dan Shinta, Romeo dan Juliet, dan juga Ahei dan Ashima dari bangsa peri ini membuat musim musim menjadi berdampingan. Cinta yang tak pernah menjadi warna yang bias dan indah itu memberi bukti bahwa mereka mampu menaklukkan seluruh dunia peri musim karena kisanya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Doma Riza Chan
Facebook: Umaru Riza-Chan
OtaKu.

Cerpen Atas Nama Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melawan Rasa

Oleh:
Ketika takdir telah memainkan peranannya, kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Takdir telah tertulis sejak masih dalam kandungan seorang ibu. Takdir pula yang mempertemukanku

Fungus in Love

Oleh:
Pukul 2.30 PM. Hujan seakan menuntun gue pada suatu tempat yang kadang jadi tumbal PHP angkot cs. Gue ngerasa kayak manusia labil yang lagi long distance transportationship dan galau

A Thausand Promise (Part 3)

Oleh:
20 hari telah berlalu. Nia tak pernah berfikir bahwa mimpinya akan kandas diterpa ombak di pantai. Dia juga tak tahu bahwa semuanya ini nyata, atau tidak. Yang jelas, dia

Pertemuan Singkat

Oleh:
Seorang gadis yang mengaharapkan kebahagian dan kebebasan seperti gadis-gadis yang lain. Renzy.. itu nama sang gadis yang rindu akan kebebasan seperti gadis yang lain, dia sering di panggil zyzy..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Atas Nama Cinta”

  1. Mia Melia says:

    Ceritanya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *