Azalea : First Meeting

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 9 June 2014

Stevan kebingungan. Itu pasti karena dia hanya sendirian di kamar yang lampunya masih menyala terang ini. Pemuda blonde itu merasa malam ini, malam yang sangat berat baginya. Mungkin akan menjadi lebih ringan jika dia mempunyai seorang roommate, tapi sialnya hanya dia sendiri yang menjadi penghuni di kamar ini.

Jendela dengan tabir merah marunnya yang sewarna darah itu tak bergoyang karena penutup jendelanya sudah tertutup rapat. Malahan sudah tertutup sejak langit masih terang.

Ini petaka! batin Stevan penuh kecemasan. Aku tak bisa tidur kalau lampunya menyala terang tapi juga tak bisa tidur kalau aku terus saja merasa ketakutan di kamar ini. Dan setelah lama bergumul dengan pikirannya sendiri, akhirnya Stevan memutuskan untuk keluar mencari udara segar sambil berharap ada murid lain yang bisa ditemuinya untuk diajak mengobrol.

Kepalanya menyembul keluar. Menengok ke kiri dan ke kanan. Hening. Tak ada siapa pun. Gedung 2 lantai dengan halaman utama berada tepat di tengah-tengah 4 gedung besar untuk 4 asrama itu sangat lengang. Meski juga sama menakutkannya dengan di dalam kamar, tapi Stevan memilih untuk melangkah keluar sepenuhnya.

Dia duduk di deretan kursi yang disediakan di sepanjang koridor asrama. Sambil memandangi taman yang disinari dengan lampu yang temaram, Stevan mampu melihat keindahannya — padahal tadi sore dia sudah cukup puas mengelilingi taman itu.

“Musim semi di sini lebih indah daripada di Boston. Lebih hijau…” gumamnya yang tak dia tujukan pada siapa pun.

“Akan lebih indah kalau suaramu tak membuat polusi,” seloroh sebuah suara — mungkin yang dimaksudnya adalah suara Stevan menganggu ketenangan.

Stevan tersentak. Matanya sontak menoleh ke segala arah namun tak ditemukannya seseorang di manapun. Wajahnya seketika memucat takut. Mengira kalau suara itu adalah hantu yang tak suka dia ganggu.

“Aku bukan hantu, 47!” kali ini nada suaranya lebih tajam dari sebelumnya.

47? Dia tahu nomor kamarku? Stevan baru menyadari bahwa asal suara terdengar seperti ada di atas kepalanya. Pikirannya meluncurkan hal-hal yang tidak-tidak. Seperti ada hantu yang melayang-layang di atasnya dan begitu dia mendongak, hantu itu akan menerkam tanpa ampun atau bayangan paranoid lainnya. Oleh karena itu dia agak enggan untuk mendongakkan kepala.

Pluk!

Sesuatu jatuh pas di pangkuannya. Mata Stevan terpaku. Coklat? Tangannya meraih benda yang baru saja jatuh itu. Mengamati dengan seksama kalau-kalau dia salah lihat. Tapi mau diamati ratusan kali pun coklat batangan berwarna kemasan biru gelap itu tetap takkan berubah.

“Coklat bisa menghilangkan stress,” ucap sosok tak tampak itu.

Kali ini Stevan berani mengangkat kepala. Mata itu tertumbuk pada dua telapak kaki seorang gadis yang berayun-ayun. Stevan berdiri dan ingin melihat lebih jelas lagi siapa orang itu, begitu dia melangkah menuju ke pinggir halaman dengan jelas dia melihat seorang gadis tengah duduk di tembok pembatas di lantai dua. Piyama warna merah marun —lagi— yang tampak kebesaran membuatnya terlihat menjadi sosok yang mungil.

Tahu sedang diamati bagai seorang penjahat, gadis itu menyorotkan pandangan galak pada Stevan. “Apa aku tak boleh duduk di sini?!”

“Eh? Ti-tidak kok,” Stevan mengelak padahal hatinya mengiyakan. Apa kau tak takut jatuh dari situ?

“Lalu?”

“Lalu?” Stevan mengerutkan alis. Bingung.

Dia memutar bola matanya, heran akan ketidakmengertian Stevan. “Lalu kenapa kau masih memandangiku?” lanjutnya. Nada tajam muncul lagi. “Cepat makan coklat itu lalu tidur!” Sang gadis menyuruh sambil mengangkat kakinya, sepertinya ingin turun dari tembok dan kembali ke kamarnya. “Kalau tidak suka buang saja.”

Dan selanjutnya hanya ada keheningan. Gadis itu sudah menghilang. Stevan masih berdiri di pinggir taman. Ketus… tapi baik juga. Senyuman tersungging di bibirnya dan rasa takutnya entah terbang ke mana.

FIN

Cerpen Karangan: Cuncun
Facebook: www.facebook.com/hanacuncun
Seorang Penulis yang gila berimajinasi. Seorang pecinta warna hitam yang menyukai keheningan. Dan seorang pendiam yang tak pandai berbicara namun suka bersajak.

Cerpen Azalea : First Meeting merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alter Ego

Oleh:
Namaku Rendi Siregar, pemuda biasa yang hidupnya biasa-biasa saja. Hanya ada satu hal yang tidak biasa, saat aku melamun, waktu berlalu dengan cepat, bahkan mungkin terlalu cepat. Seperti kemarin,

Alien dan Pribumi

Oleh:
Hujan saat itu adalah Hujan di awal bulan Agustus, tidak mengenal pagi, sore atau malam hari, hujan memang tak bisa diajak bernegoisasi untuk berhenti. Banyak orang yang gembira saat

I’m Not a Monster

Oleh:
Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang

Please Give Me A Friend

Oleh:
Aku ran, sejak dulu aku bingung dengan duniaku, duniaku sangatlah berbeda, duniaku seperti komputer bisa diatur dengan sebuah I pad, aku bisa membuat apapun yang kumau, namun aku sendiri,

Hampa

Oleh:
Senja semakin mendekati klimaksnya, semburat awan yang semula putih kini menjadi kuning oranye sempurna. Suara uap air dalam ketel yang terus berhembus dan mendesak keluar, meramaikan suasana sore itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *