Bahtera Nabi Nuh (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 27 February 2021

Dengan sajadah biru ibu yang kusandang di bahu aku berangkat ke musalla saat kumandang azan Magrib mengalir di udara. Langit terbungkus selendang hitam yang bergulung di atas sana. Angin yang bersembunyi di balik rahasia menusuk tulang dan meniup pepucuk dedaunan pohon pisang yang masih basah. Air yang menggenangi aspal jalan kampung berlarian mencari lubang drainase dan parit yang akan membawanya menuju sungai. Katak di lumbang bernyanyi dengan riang bagai koor sebuah musik orkestra pada sebuah konser dunia. Gerimis masih berjatuhan dari kelopak langit yang meneteskan airmata. Sampah-sampah dedaunan kering pohon jambu air dan belimbing terbawa oleh air dalam parit sehingga jalanan menjadi bersih.

Sesampainya di musalla aku masuk ke dalam dan duduk bersama para jamaah yang lebih duluan datang. Setelah kumandang azan selesai, kami melantunkan puji-pujian kepada Tuhan persis seperti jemaat yang sedang menyanyikan pujian kepada Roh Kudus. Berselang tiga menit kemudian, setelah Kyai Zayadi selesai shalat sunnah, shalat Magrib pun didirikan. Dan sama seperti sebelumnya aku melakukan sebuah gerakan shalat yang sama sekali tidak aku ketahui asal-usulnya. Aku pun juga tidak tahu bagaimana cara paling benar menghadap kepada Allah.

Keesokan harinya pulang dari sekolah aku diajak oleh seorang temanku di sekolah. Namanya adalah Muhammad Taufiq. Dia mau mengajakku ke Pulau Gili. Dia memang berasal dari Pulau Gili yang masuk kabupaten. Letak pulaunya berada di utara laut pelabuhan kota. Di kawasan Kebon Sari Kulon memang banyak warga Gili yang pindah ke sana, termasuk keluarga Taufiq salah satunya. Dia mengajakku untuk berkunjung ke rumah neneknya. Maka aku minta izin kepada ibu dan emak supaya membolehkan aku untuk ikut Taufiq ke Gili.

“Mad, ikut aku yuk!,” ajak Taufiq yang saat itu pulang bersama aku, Taufiqqurrahman dan Muhammad Sholihin.
“Kemana?,” tanyaku lalu menggigit ujung bungkus cilok yang kupegang.
“Ke rumah nenekku”
“Gili?”
Ia mengangguk.
“Tidak. Tidak. Aku tidak mau”
“Kenapa? Takut?”
“Bukan itu. Aku pasti tidak diperbolehkan ikut kamu ke Gili sama ibu dan emakku,” ujarku lalu mencomot tahu isi cilok yang masih hangat dan mengunyahnya pelan.
“Kita kan tidak berdua pergi ke sana”
“Sama siapa?”
“Nanti juga ada Cak Sayyid dan Iwan juga bapak”

Aku kira kami pergi ke Gili hanya berdua. Ternyata juga ada dua teman sekelas kami dan bapaknya Taufiq. Aku akan mencoba minta izin sama ibu dan emak, siapa tahu aku diberi izin ikut. Lagipula selama ini aku belum pernah pergi ke sana kecuali melihat pulaunya dari ujung pelabuhan. Kehidupan di sana aku juga belum tahu. Tapi yang pasti pulau itu dulunya masih menyatu.

“Rencananya kapan mau pergi ke sana?”
“Hari Ahad depan. Di sana bakalan ada acara larung saji. Pasti seru karena ramai!”
“Larung saji?,” aku mengernyitkan kening.
Taufiq mengangguk.
“Memangnya seperti apa larung sesaji itu?,” tanyaku penasaran.
“Larung sesaji adalah sebuah acara tradisi masyarakat yang tinggal di pesisir laut. Ah aku juga susah mau menjelaskannya. Kamu saksikan saja sendiri nanti kalau sesampainya di sana.”
“Memangnya ada apa saja di Gili?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya biar kamu bertambah penasaran dengan pesona yang tersimpan di Pulau Gili. Biar surprise!”

Habis dari Goa Kucing kami berenang di pantai bersama anak-anak nelayan. Setelah puas mandi kami diajak pulang untuk makan. Sore harinya kami shalat di masjid lalu turun dari masjid kami bakar-bakaran ikan tenggiri di tepi pantai. Saudaranya Taufiq bekerja sebagai nelayan dan mempunyai sebuah perahu sedang. Aku mencoba naik ke atas kapal itu untuk melihat sisi interiornya bersama Iwan. Ternyata di dalam lambung kapal terdapat tiga kamar tidur, tempat bak air, dapur, dan tempat mesin kapal. Ketika ikan-ikan sudah matang kami makan ikan bersama di atas badan kapal sambil menggelar tikar. Di atas sana tampak bintang-bintang bertaburan seperti bebatuan permata yang dihamparkan di atas gaun hitam bidadari. Kami makan ikan bakar sambil mendengarkan deburan ombak yang datang dari laut utara.

“Kenapa kalau malam-malam begini tidak ada orang yang berani mencari teripang di laut?,” tanyaku.
“Karena mereka takut disengat ular laut,” sahut Kang Ismail.
“Apakah bisa ular laut lebih berbahaya daripada bisa ular darat?”
“Benar. Bisa ular laut jauh lebih mematikan daripada bisa ular darat”
Kami bergidik mendengarkan penjelasan dari abang sepupunya Taufiq itu.

Ketika kami berempat sudah mengantuk, akhirnya kami tidur di dalam kamar lambung kapal. Kami menuruni sebuah anak tangga yang terbuat dari kayu.

Keesokan harinya, ketika matahari sudah naik, aku mendengar suara ramai-ramai dari penduduk sekitar. Kutengok Iwan dan Taufiq sudah tidak ada di sebelahku. Kemana mereka? Tanyaku membatin. Lalu aku keluar dari kamar dan naik menuju punggung kapal. Matahari sudah meninggi dan panasnya jauh lebih panas dari di Pulau Gili. Dan seketika sepasang mataku terkesiap ketika di depanku aku hanya melihat hamparan tanah. Tidak ada lautan. Dimanakah aku? Dan kemana perginya teman-temanku?. Lalu aku berjalan menuju tepi kapal dan alangkah semakin terkejutnya aku ketika melihat kapal ini mempunyai ukuran yang besar sekali. Jarak aku berdiri dengan tanah sekitar dua puluh meter.

Ketika aku melihat ke bawah, tampak sekumpulan orang sedang tertawa-tawa sambil mengolok-olok seseorang.
“Kamu itu membuat kapal sebesar ini untuk apa heh?! Lha wong di sini tidak ada laut atau samudera,” ujar seorang pria paro baya sambil tertawa terkekeh-kekeh menghina.
“Kemarin kamu mengaku sebagai seorang nabi, utusan Tuhan, dan mengajarkan kepada kami sebuah ajaran yang haq, tapi sekarang kamu malah menjadi nelayan. Hahahaha,” timpal yang lain.
“Yang aku katakan kepada kalian memang salah. Menyembah Tuhan memang tidak perlu dikenal dan disaksikan terlebih dulu,” sahut pria paro baya yang sedang menghaluskan dinding kapal itu dengan berkata kalem dan mengulum senyum.
“Kamu bilang, barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Memangnya kamu sudah pernah melihat Tuhan? Apakah kamu sudah melihat dirimu sendiri? Atau, kamu sudah pernah menyaksikan Tuhan?”
“Hehehe”
Pria paro baya itu menundukkan kepalanya.
“Saya sama sekali belum pernah menyaksikan Tuhan dan diri saya sendiri”
“Kalau kamu belum pernah menyaksikan Tuhan, kenapa kamu mengatakan kepada kami kalau kamu sudah mengenal Tuhan heh?”
“Kamu itu pendusta!”
“Huuuu!”

Setelah puas membully pria paro baya itu, kelompok lelaki itu pergi meninggalkannya dengan sikap pongah. Lalu aku menuruni anak tangga yang panjang untuk sampai di daratan. Sementara itu aku masih bertanya-tanya di manakah aku saat ini dan dimanakah teman-temanku?. Anehnya ketika aku sudah sampai di dekat pria paro baya itu, dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Lalu siapakah pria tua itu?.

Pada malam harinya, pria paro baya itu duduk di atas sebuah bangku, sementara pengikutnya duduk bersila mengelilinginya. Mereka mendengarkan apa yang disampaikan oleh pria tua itu sambil mendengarkannya dengan saksama.
“Aku tidak akan mengabdi kepada sesuatu yang tidak aku kenal,” kata pria tua itu dengan berkata lembut. Aku mengernyitkan dahi. “jadi percuma ibadah yang kita lakukan seumur hidup kalau belum kenal dengan Tuhan yang kita sembah. Percuma dan hidup akan merugi kalau selama hidup kita tidak mengenal kepada diri kita sendiri”
“Allah berfirman di dalam hadits-Nya, “Barangsiapa berharap kepada selain Aku berarti tidak mengenal-Ku, Barangsiapa tidak mengenal-Ku berarti tidak mengabdi-kepada-Ku, Barangsiapa tidak mengabdi-kepada-Ku, maka berarti menjadi-wajiblah kemurkaan-Ku. Barangsiapa takut kepada selain Aku, halal baginya pembalasan-Ku”

Keesokan harinya, kurang lebih dari delapan puluh lima orang yang tadi malam ikut mendengarkan pengajian pria tua itu naik ke atas kapal beserta hewan-hewan. Kemudian langit menghitam. Mendung bergulung-gulung. Puting beliung menari-nari di atas penderitaan. Angin kencang mengamuk. Petir sambar-menyambar. Dan kilat bersahut-sahutan. Lalu hujan turun dengan menggila. Tak lama kemudian perkampungan itu ditelan oleh banjir. Perahu pun melaju.

Ruang Kosong, Januari 2021

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Khairul A.El Maliky, Author dan tim penulis fiksi
Buku Antologi Muara Kasih Bunda dan
Rain Story in December (Penerbit Maharani,2021).
Karyanya sudah terbit di Play Store.
Email: bahterapustakautama[-at-]gmail.com
Twitter: @kh_elmaliky. IG: @khairulazzamelmaliky

Cerpen Bahtera Nabi Nuh (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

Taman Rahasia

Oleh:
Hay namaku husnul. Orangtuaku meninggal 2 hari yang lalu sekarang aku tinggal bersama bibi jauhku, aku saja baru tahu kalau aku punya Bibi jauh di sini rumahnya sederhana tidak

Kontes Memasak Endemmo

Oleh:
“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini. “Nanti saja, sedang banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bahtera Nabi Nuh (Part 1)”

  1. Nabil says:

    Kok Allah berfirman dalam hadistnya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *