Bahtera Nabi Nuh (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 27 February 2021

Perahu pun melaju. Setelah mengalami perjalanan panjang akhirnya aku menginjakkan kakiku di sebuah pulau yang subur, dimana padi menguning, sungai meliuk-liuk, gunung berjubah awan, dan burung-burung saling bermesraan di antara reranting pepohonan. Aku bertanya-tanya, apa nama pulau asing itu.

Aku berjalan seorang diri sebagai orang asing. Aku sama sekali tidak mengenal penduduk di kota ini. Hingga sampailah aku di ujung sebuah jalan besar. Di kanan dan kiri jalan raya yang masih berupa tanah itu aku melangkahkan kaki tapi aku bingung mau ke mana.

Di depanku berdiri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tanah liat. Aku berjalan hingga sampailah aku di sebuah tempat yang ramai dengan orang-orang berjualan. Di sisi kanan dan kiri badan jalan yang lebar itu berdiri tenda-tenda di depan toko. Di sana para pedagang menggelar barang-barang dagangannya, sementara para pembeli sibuk memilih barang yang akan dibelinya.

Lalu aku melewati sebuah lorong pasar yang berada di tengah-tengah los pedagang kain, gerabah, lampu, dan kedai nasi. Yang ada di hadapanku adalah segala aktivitas jual-beli antara pedagang dan pembeli. Mereka menggunakan bahasa yang kedengarannya aneh di telingaku. Sepertinya bahasa yang mereka gunakan sama persis dengan bahasa yang sering diucapkan oleh orang-orang ketika shalat. Tapi tetap saja berbeda jauh. Ya bahasa sehari-hari yang mereka ucapkan sama persis dengan bahasa Arab, tapi bukan bahasa Arab. Aku mengernyitkan dahi untuk memahami bahasa yang mereka ucapkan.

Saat aku mencoba untuk mencerna tiap kata-kata yang mendarat di telingaku, tiba-tiba di depanku tampak seorang pria kurus berlari dengan sangat kencang. Nafasnya bahkan sampai ngos-ngosan. Mukanya tampak pucat pasi seakan-akan ia sedang dikejar-kejar oleh setan. Barang apapun yang menghalangi jalannya ditabraknya sehingga berhamburan ke jalan. Bahkan aku juga sempat ditabraknya namun aku langsung menghindar dengan cara menepi. Akan tetapi entah bagaimana kemudian lelaki kurus itu terjatuh dan terkapar di atas tanah. Lalu tampak tiga orang berbadan besar menghampirinya dan menangkapnya. Ketiga lelaki itu menyeret pria kurus itu seperti menyeret seekor anjing.

“Hei, kenapa dengan pria itu?,” tanya salah seorang pedagang yang menjual pelbagai kerajinan gerabah.
“Dia habis mencuri rumah salah seorang orang kaya di kota ini,” jawab salah seorang pekerja kuli angkut yang bekerja serabutan di pasar itu.
“Malang nian nasib pria miskin itu. Dia akan berhadapan dengan penegak hukum kerajaan dan akan menerima hukuman potong tangan”

Tapi belum lama pria penjual gerabah itu mengatakan demikian muncul seorang pria paro baya berpakaian preman dan mengejar ketiga anggota kerajaan yang menyeret pria yang katanya habis mencuri salah seorang orang kaya di kota ini. Semua pedagang tidak mengenal siapa lelaki asing itu.
“Hei, tunggu!,” pria paro baya itu berseru untuk menghentikan langkah ketiga prajurit yang menyeret pria miskin itu. “mau kalian bawa kemana pria malang tersebut dan apa yang telah ia diperbuat sehingga kalian menyeretnya seperti menyeret hewan?. Di manakah hati nurani kalian sebagai manusia sehingga kalian tidak memanusiakan manusia? Meskipun dia bersalah, orang itu tetaplah manusia yang layak dihormati”

Ketiga prajurit bertubuh kekar dan berwajah sangar itu menghentikan langkahnya lalu menghadap ke belakang. Salah satu dari mereka lalu berjalan menghampiri pria paro baya itu dengan langkah yang pongah dan penuh angkuh.
“Anda siapa, Tuan?,” tanyanya dengan nada penuh selidik.
“Saya bukan siapa-siapa selain hamba Tuhan,” sahut pria paro baya itu dengan berkata lembut.
“Lalu apa urusan Anda dengan pria kurus itu?”
“Aku hanya ingin tahu, kenapa Anda bertiga menyeretnya layaknya anjing kurap berpenyakitan? Apa salah yang telah ia perbuat?”
“Dia telah mencuri!”
Pria paro baya itu mengernyitkan dahinya.

“Mencuri? Rumah siapakah yang telah ia curi?”
“Dia telah mencuri sebuah perhiasan milik istri Tuan Tanah”
“Perhiasan? Apakah Anda telah memeriksanya dan menemukan perhiasan itu?”
“Dia telah menjualnya kepada seorang kafilah yang kebetulan melintasi kota ini.”
“Apakah Anda sudah menemukan uang dari hasil menjual perhiasan hasil curian itu?”
“Kenapa Anda banyak bertanya, Tuan?”
“Sebelum Anda punya bukti kuat dan menuduh lekaki itu sebagai pelaku pencurian, Anda tidak bisa menyeretnya ke penjara kerajaan dan menghukumnya dengan dalih menegakkan ajaran agama”

Lantas pria paro baya itu berjalan menghampiri pria kurus itu dan memandangnya dengan penuh kelembutan.
“Apakah Anda telah mencuri perhiasan milik Tuan Tanah?,” tanyanya dengan berkata lembut.
“Demi Tuhan, saya tidak pernah mencuri barang berharga milik siapapun di dunia ini, Tuan,” sahutnya dengan nada polos dan penuh kejujuran.
“Jangan bohong kamu!,” hardik salah seorang prajurit yang berkepala plontos.
“Apa yang dia katakan adalah sebuah kejujuran,” kata pria asing itu membela pria kurus tersebut.
“Apakah Anda kenal dengan pria kurus ini sehingga Anda berkata begitu?!”
“Secara fisik aku belum pernah mengenalnya, tapi secara batin aku sudah lama mengenalnya,” jawaban yang meluncur dari mulut pria asing itu membuatku mengernyitkan kening untuk mencernanya.
“Lalu kenapa Anda sampai bisa ditangkap oleh ketiga tikus kerajaan ini?,” tanya pria asing itu dengan tatapan penuh selidik selayaknya seorang detektif. “apakah Anda bisa menceritakan kronologi ihwal kejadiannya?”

Dan ternyata… pria itu sudah lama bekerja menjadi seorang pelayan di rumah besar milik Tuan Tanah di kota ini. Saban hari tugasnya adalah menyapu dan mengepel lantai rumah besar Tuan Tanah yang bersepuh emas murni. Segala peralatan dan barang-barang berharga yang ada di dalam rumah itu harus dibersihkan olehnya. Dengan sepenuh hati ia melakukan pekerjaannya dengan harapan dari pekerjaannya ia mendapatkan upah supaya bisa bertahan hidup.

“Saya sudah lama bekerja sebagai seorang pembantu di istana Tuan Tanah, Tuan,” tutur lelaki kurus itu dengan kedua kaki bergetar seperti helai bunga mawar yang ditiup oleh bibir angin. “saya mendapat tugas sebagai tukang bersih-bersih. Mengepel dan menyapu lantai merupakan tugas saya saban hari. Selain itu saya juga ditugaskan untuk membersihkan gelas-gelas emas, piring-piring emas, patung-patung emas, meja dan kursi berlapis emas, dan segala barang berharga yang berada di dalam rumah itu. Selama bekerja di sebuah rumah yang penuh dengan kemewahan harta duniawi, sama sekali tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mencuri. Menyentuhnya pun karena saya harus membersihkannya dari debu yang menempel. Setelah itu saya kembali menyimpannya di dalam tempatnya”
Pria paro baya asing itu mendengarkannya dengan seksama cerita yang berhamburan dari dalam mulut lelaki kurus tersebut. Ia sama sekali tidak menyela.

“Berapa lama Anda bekerja di rumah itu?”
“Hampir dua puluh tahun, Tuan”
“Dan selama itu tidak pernah terjadi kejadian seperti ini?”
“Tidak pernah, Tuan. Tapi, selama hampir dua puluh tahun bekerja di sana saya sama sekali tidak pernah mendapatkan upah dari pekerjaan saya,” pria kurus dan miskin itu menitikkan airmata yang membuat hati orang-orang yang mendengarnya menjadi iba dan simpati.
“Anda tidak digaji?”
“Saya hanya diberi makan selama tiga kali dan itupun hanya berupa nasi yang sudah basi yang layak untuk makanan tikus. Jangankan saya yang tidak mau memakan nasi itu, seekor kucingpun tidak mau, Tuan”
Pria itu manggut-manggut mendengarkan kisah dari pria kurus yang penuh dramatis itu. Ulu hatinya seperti dirajam-rajam. Betapa kejamnya Tuan Tanah yang telah mencuri hak pelayannya.

“Apakah Anda sudah tahu kejadian yang sebenarnya?,” tanya pria paro baya asing itu kepada ketiga prajurit yang telah menangkap pria miskin tak bersalah itu.
“Dia bisa saja berbohong, Tuan,” sahut salah satu dari mereka.
“Tuan, apakah Anda bersedia dipotong lidahnya jika Anda telah menceritakan berita bohong kepada kami yang ada di sini?,” tantang pria asing itu kepada lelaki kurus tersebut.
“Tuan, lidah saya siap dipotong baik di dunia maupun di akhirat kelak jika saya telah menceritakan berita bohong kepada orang-orang yang ada di sini,” jawabnya dengan tulus. “buat apa saya mau mendustai diri sendiri?”
Muka ketiga tikus kerajaan itu menjadi pias.

Ruang Kosong, Desember 2020

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Khairul A.El Maliky, Author dan tim penulis fiksi
Buku Antologi Muara Kasih Bunda dan
Rain Story in December (Penerbit Maharani,2021).
Karyanya sudah terbit di Play Store.
Email: bahterapustakautama[-at-]gmail.com
Twitter: @kh_elmaliky. IG: @khairulazzamelmaliky

Cerpen Bahtera Nabi Nuh (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tianna Dan Peri Yang Dikutuk

Oleh:
Aku membuka lembar demi lembar album foto yang sudah lama sekali. Album itu berisi foto-foto diriku bersama kedua sahabatku dulu, tapi sekarang mereka berubah, mereka bukan sahabatku lagi. Bulir

Doppelganger

Oleh:
“Hei, Rika, kemarin sombong banget sih,” Ujar Dika sambil membalikkan badannya, menatap seorang gadis bersurai cokelat ponytail yang baru saja duduk di meja di belakangnya. “Maksudnya?” Iris caramel Rika

My Angel

Oleh:
3 Juli 2014, pukul 23.30 di taman kota, terlihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang rapi sedang berlari mengejar anak anjing yang sedang berlari di depannya. Gadis itu berusaha

Persahabatan Di Dunia Fantasi

Oleh:
Ebby adalah salah satu anak yang pintar di kelasnya. Ia memiliki sahabat sejati, yang bernama ishaq, nanda dan ismi. Sahabat sahabatnya memiliki keahlian masing masing. Ishaq adalah orang yang

I Will Always Love You

Oleh:
Dede Risan pov 2010 Cinta, seperangkat rasa yang membalut berbagai ekspresi hati yang tengah merajalela, mengalahkan bentuk lain dari kasih sayang. membentuk lekuk senyuman yang terkadang menyulitkan kegilaan tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *