Ball, I Wish…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 28 April 2016

Kamu terdiam perlahan, melihat sesuatu yang menurutmu aneh di meja belajarmu. Sebuah kotak? Kenapa ada sebuah kotak aneh di meja belajarmu? Sebuah kotak merah berukuran kecil, dengan garis-garis warna-warni yang membentuk pola menarik, seperti kotak itu sedang membujukmu untuk segera membukanya. Ini pasti bukan milikmu. Kamu yakin, karena kamu tidak ingat pernah memiliki kotak aneh itu. Tapi kalau ini bukan milikmu, lalu milik siapa? Tanpa basa-basi lagi, kamu mengambil kotak itu dari atas meja belajarmu. Perasaan penasaran telah menyelimuti dirimu untuk segera membuka kotak itu. Tapi tunggu, bagaimana jika isi dari kotak itu adalah salah satu dari kejahilan yang dibuat oleh adikmu?

Seperti yang dilakukan oleh adikmu padamu seminggu yang lalu, kamu mendapati buku matematikamu yang sudah dicorat-coret oleh adikmu menggunakan pensil warna. Atau mungkin seperti 4 hari yang lalu, sandal jepitmu kamu temukan di atas pohon mangga di depan rumahmu. Atau mungkin dua hari yang lalu, kamu menemukan mainan laba-laba di dalam tas sekolahmu. Kamu bahkan melempar tasmu ke luar dari jendela kelasmu waktu itu.

Tidak. Semakin kamu memikirkan kejahilan adikmu, semakin membuatmu mendidih. Bila benar isi dari kotak yang kamu pegang adalah kejahilan adikmu, kamu sudah siap untuk mengikatnya di bawah pohon mangga yang ada di depan rumahmu nanti. Kamu membuka kotak itu perlahan, berhati-hati bila ada kejutan tiba-tiba yang ke luar dari kotak. Namun nyatanya, setelah kamu membuka kotak itu dan melihat isinya, hanya ada bola biru kecil dan secarik kertas yang dilipat kecil. Kamu mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Ada sebuah pesan, dan kamu membaca isi pesan tersebut.

‘Hai, Teman baik. Ini khusus untukmu, sebuah bola kecil berkilauan dariku. Lagi pula, ini bukan sekedar bola biru biasa. Bola ini memiliki kekuatan sihir! (bisa dibilang ajaib). Semua keinginanmu, sebanyak apa pun atau sebesar apa pun, pasti akan dikabulkan oleh bola ini! Ini serius! Tapi, sudah banyak orang yang menolak bola ini. Apakah kau juga menolaknya? Kalau begitu, selamat berharap sebanyak mungkin!’

“Bola ajaib? Dari siapa ini? Lalu, apa-apaan ini mengaku sebagai temanku,” gumammu bingung. Lalu, kamu menemukan pesan kecil lainnya di balik halaman yang kamu baca,
‘Tapi ingat ya, kamu tak bisa menarik harapan yang telah kau ucapkan. Jadi, gunakan sebaik mungkin ya!’

“Jadi, aku bisa berharap apa pun dan bakal dikabulkan oleh bola aneh ini?” tanyamu, entah pada siapa. Kamu mengeluarkan bola biru itu dari kotak dan menelitinya dengan seksama. Bola itu berukuran sebesar bola pingpong. Jika kamu melihatnya lebih jelas lagi, bola itu layaknya sebuah bola pingpong yang dicat biru. Ada bagian di mana warnanya mulai luntur.

“Tak mungkin ini bola ajaib. Mana ada bola yang dapat mengabulkan permohonan. Memangnya ini jin dari lampu ajaib yang ada di Aladin?” katamu.
“Akan ku buktikan bahwa ini palsu,” katamu berusaha untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa ini adalah ulah Adikmu. Kamu melihat ke arah meja belajarmu yang masih berantakan, “Jika ini benar-benar berhasil, aku akan menari Gangnam Style di bawah pohon mangga!”

Kamu menarik napas dalam-dalam, kamu berusaha merangkai kata-kata yang ada di otakmu untuk dijadikan kalimat harapan, “Oke, Bola, aku berharap meja belajarku bersih, dan aku tidak perlu merapikan meja belajarku lagi! Selamanya!” harapmu. Beberapa detik kemudian, tetap tidak terjadi apa-apa. Kamu sempat bersyukur bahwa kamu tidak perlu menari Gangnam Style dan bola yang kamu pegang hanyalah kebohongan belaka, sebelum secara tiba-tiba muncul cahaya yang sangat menyilaukan di sekelilingmu. Kamu bahkan sampai menutup matamu karena cahaya itu sangat menyilaukan. Setelah cahaya menyilaukan itu hilang, kamu membuka matamu. Kamu sangat terkejut ketika melihat meja belajarmu menjadi sangat bersih dan rapi, padahal sebelumnya sangat berantakan, hampir mirip seperti sarang burung. Kamu tak bisa berkata apa-apa sekarang. Kamu masih mencerna apa yang terjadi barusan.

“Jadi, bola ini benar-benar ajaib?!” tanyamu panik.
Dengan kepanikkanmu, kamu tidak menyadari bahwa ada seseorang sedang mengintip dari jendela yang ada di belakangmu. Wajah orang itu menampakkan seulas senyum tipis.

-BALL-

“Kakak tidak apa-apa?”
Pertanyaan adikmu yang tiba-tiba membangunkanmu dari lamunanmu. Kamu sudah kembali ke alam sadarmu.
“Kak? Kau kenapa?” adikmu kembali mengulang pertanyaannya. Kamu menggeleng, “Tidak ada, habiskan sarapanmu,” perintahmu. “Ma, dari kemarin Kakak bersikap aneh,” kata adikmu pada ibumu.
“Maksudmu?” tanyamu tak mengerti, “Aku bersikap normal sejak kemarin.”
“Bohong, Ma. Kemarin Kakak aneh,” sahut adikmu keras kepala. Ibumu menghentikan aktivitas mengeringkan piring yang telah dicuci. Ibumu memerhatikanmu dan adikmu secara bergantian. “Memangnya ada apa dengan Kakakmu?” tanya ibumu. Kali ini ibumu ikut penasaran.

“Kemarin, aku melewati kamarnya Kakak. Aku baru ingin menempelkan laba-laba mainan di pintu kamar Kakak. Lalu, tiba-tiba aku mendengar kakak menjerit. Kemudian tiba-tiba lagi kakak membuka pintu kamar dan lari ke luar menuju halaman depan. Yang lebih parahnya lagi, aku ngelihat Kakak joget Gangnam Style di bawah pohon mangga sambil teriak-teriak,” cerita adikmu. Kamu langsung tersedak mendengar cerita yang baru saja disampaikan oleh adikmu. Ibumu tertawa terbahak-bahak, adikmu juga. Tentu saja kamu malu sekali. Kemudian kamu diam-diam mengambil bola biru dari saku seragam sekolahmu.

Diam-diam kamu berbisik, “Jika benda ini benar-benar berfungsi, Bola, aku berharap tidak ada satu pun yang mengingat kejadian ketika aku menari di bawah pohon Mangga!”
Seketika, tawa yang menyelimuti ruang makan itu mulai mereda. “Kenapa Mama tertawa?” tanya adikmu setelah ia berhenti dari tawanya. Ibumu menggeleng, “Kamu barusan juga tertawa. Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu! Nanti kalian terlambat sekolah!” seru ibumu.

Kamu tersenyum. Dalam hatimu, kamu berteriak senang bahwa keinginanmu terwujud. Kamu buru-buru menghabiskan sarapanmu dan berangkat sekolah. Sepertinya hari ini akan menarik untukmu. Namun, sekali lagi, kamu tetap tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang memerhatikanmu ketika kau berjalan ke luar dari rumahmu. Memerhatikanmu dengan senyum tipisnya, ia berada tak jauh darimu.

-BALL-

Kamu tidak memberitahukan ke siapa pun mengenai bola-biru-ajaib-yang-kamu-temukan-di-atas-meja-belajar milikmu. Kamu kembali menyimpan bola itu di dalam saku seragam sekolahmu. Dengan santainya kamu berjalan menyusuri sekolahmu yang lumayan besar, sambil sesekali menyapa teman yang kamu kenal. Ketika kamu memasuki ruang kelasmu, kamu mendengar suara-suara obrolan dari murid perempuan.

“Sudah mengerjakan PR Bahasa Indonesia?”
“Memangnya kenapa?”
“Ternyata ketua kelas kita lupa memberitahu ke kita bahwa hari ini pelajaran Matematika diganti dengan Bahasa Indonesia! Sudah gitu, pelajarannya pertama pula!”
“Eh?! Terus gimana dong?! Aku tak membawa tugas maupun buku Bahasa Indonesia! Aku akan tamat!”

Kamu menajamkan pendengaranmu untuk mendengarkan perbincangan yang sedang dibicarakan oleh murid perempuan. Setelah kamu mendengar kata ‘Bahasa Indonesia’ dan ‘pelajaran pertama’, kamu buru-buru mengeluarkan bola ajaib dari dalam saku seragam sekolahmu. Kamu menggenggam bola itu erat-erat sambil berbisik, “Bola ajaib, Aku harap semua guru di hari ini ada rapat atau pertemuan atau apalah itu. Aku harap hari ini tak ada pelajaran!”

Kriiing. Bel sekolahmu berbunyi nyaring. Namu belum terjadi apa-apa terhadap permohonanmu. Gagalkah? Atau kamu harus melakukan ritual dulu supaya bola itu bekerja? “HEI SEMUANYA!!” tiba-tiba kamu dikejutkan oleh salah satu temanmu yang tiba-tiba membuka pintu kelas dan berteriak nyaring. “Hari ini tidak ada pelajaran!! Semua guru sedang ada rapat dengan dinas!!” Ruangan kelasmu sempat hening seketika. Teman-temanmu masih memproses apa yang mereka dengar, termasuk kamu. Satu detik, dua detik, tiga.

“YEEESS!!! KITA NGGAK BELAJAR!! KITA BOLEH PULANG!!” teriak teman-temanmu girang. Kamu bisa melihat murid laki-laki yang berteriak girang sambil lompat-lompatan layaknya kelinci, ada pula yang berlarian mengelilingi kelasmu dengan menirukan gaya pesawat. Sementara murid perempuan nampak sedang membereskan tas mereka, bersiap-siap untuk pulang. Ada di antara mereka yang melakukan kegilaan sesama perempuan. Sementara kamu, kamu masih mencerna apa yang terjadi, memang nasibmu sebagai anak yang lemot sedikit lama menerima informasi. Tidak terbayang jika kau masuk sekolah pukul 07.00 dan pulang pukul 07.05.

“Ternyata ini benar-benar berfungsi!” kamu berseru senang. Sekarang kamu benar-benar yakin bahwa bola biru yang kamu pegang adalah bola ajaib yang dapat mengabulkan segala permintaan. Kamu ikut berteriak senang, dan tetap tak menyadari seseorang yang tengah memperhatikanmu dari luar melalui jendela kelasmu yang letaknya tak jauh darimu.

-BALL-

Setelah kejadian itu, tentunya kamu selalu meminta apa pun sesuai keinginanmu ke bola ajaib itu. Kau meminta apa pun, mulai menjadi pintar, kaya, terkenal, atau yang lainnya. Apa pun itu, sehingga membuatmu menginginkan segala sesuatu sesuai dengan keinginanmu. Membuatmu merasa lebih sensitif jika ada sesuatu yang tidak kau sukai. Jika kamu tak menyukainya, dengan mudahnya kamu langsung berharap itu menghilang atau tidak ada, tidak memikirkan dampak apa pun yang terjadi. Sekarang, sudah tak ada yang bisa menghentikanmu.

Lalu sekarang, hari ini adalah hari ulang tahunmu. Seperti yang biasa dilakukan, kamu merayakannya di rumah bersama dengan keluargamu. Karena merayakan di rumah merupakan kebiasaan setiap tahun, kamu tak berharap macam-macam untuk merayakan ulang tahunmu di gedung atau di restoran atau sebagainya. Kamu hanya ingin di rumah, itu saja. Semuanya berjalan baik-baik saja. Tak ada yang membuatmu kesal. Adikmu tak melakukan kejahilan lagi padamu. Kemarin, ayahmu memberikanmu hadiah pakaian yang sangat bagus dan kamu langsung menyukainya. Sekarang, kamu memakainya. Tiba-tiba, tanpa sengaja adikmu menumpahkan sepotong kue ke atas pakaianmu yang merupakan hadiah dari ayahmu. Krim kue itu melebar ke mana-mana. Tanpa peringatan lagi, tentu saja kamu marah pada adikmu. Bagaimana bisa adikmu mengotori pakaianmu yang merupakan hadiah. Bagaimana jika noda itu tak bisa hilang?

“Apa yang kau lakukan, hah?!” jeritmu kesal.
“Maaf Kak! Kali ini aku benar-benar tak sengaja!” adikmu memohon maaf padamu. Kamu tak semudah itu memaafkan kesalahan adikmu.
“Kalau ini tak hilang bagaimana?!” jeritmu lagi. Lalu ayahmu menepuk pundakmu perlahan, “Sudahlah, anakku. Ibumu akan membersihkannya untukmu.”
Karena rasa kesal telah meluap-luap, tanpa sadar kamu menepis tangan ayahmu, “Tapi ini kan dari Ayah! Aku nggak terima kalau ini kotor!” jeritmu untuk kesekian kalinya.

“Cukup! Hentikan! Adikmu itu kan tidak sengaja! Kamu tak perlu sampai marah seperti itu! Itu hanya noda cokelat!” bentak ibumu. Kamu kembali menjerit untuk kesekian kalinya, dan ibumu kembali memarahimu untuk diam. Semakin lama, semakin membuatmu kesal. Padahal itu hanya masalah sepele. Andai saja noda di pakaianmu tak ada. Andai saja adikmu tak menjatuhkan kue ke pakaianmu. Andai saja orangtuamu tak memihak pada adikmu. Andai saja.
“Ugh, bikin kesal saja! Oh, Bola biru, aku harap yang menyebalkan ini menghilang!” teriakmu, tanpa sadar kamu menggenggam bola biru ajaib itu. Kemudian, cahaya menyilaukan kembali muncul di sekelilingmu. Setelah cahaya itu menghilang, kamu menyadari bahwa noda cokelat di pakaianmu menghilang. Tentu saja kamu senang.

“Lihat! Nodanya hilang, Bu! Aya- eh? Di mana kalian?!” teriakmu ketika kamu menyadari kamu sendirian di ruang makan. Kamu berlari menuju ruangan lainnya satu per satu untuk mencari keluargamu. “Ayah! Ibu! Kalian di mana?”
“Tolong jangan bercanda! Kalian di mana!! Jangan tinggalkan aku!” tangismu. Kemana semua orang pergi? Apakah kamu berharap agar orangtuamu dan adikmu menghilang? Apakah kamu tidak sengaja berharap keluargamu menghilang?
“Oh, Bola biru, Aku harap yang menyebalkan ini menghilang.”

Apa bola ajaib itu menghilangkan hal yang menyebalkan untukmu? Bukankah noda cokelat di pakaianmu menyebalkan untukmu? Bukankah kamu tadi berpikir adikmu menyebalkan karena menumpahkan kue ke pakaianmu? Bukankah orangtuamu menyebalkan karena memihak adikmu? Apa jangan-jangan bola itu salah mengartikan ucapanmu? Kamu hanya berharap noda cokelat yang menyebalkan di pakaianmu menghilang, tapi tidak termasuk dengan keluargamu. Kamu buru-buru menggenggam bola biru itu.

“Tunggu! Itu bukan permintaanku! Aku tak meminta menghilangkan keluargaku, dasar bola bodoh! Kembalikan keluargaku! Aku tarik kembali kata-kataku. Bola bodoh! Aku harap keluargaku di sini!” tangismu keras. Kamu terus mengucapkan kata-kata itu berkali-kali, seakan-akan kamu lupa akan peringatan yang sebelumnya telah diperingatkan kepadamu saat kamu menemukan bola biru ajaib itu. ‘Kamu tak bisa menarik harapan yang telah kau ucapkan.’

Sekarang, kamu tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana caranya agar kamu dapat mengembalikkan keluargamu yang telah kamu harapkan untuk hilang? Apakah kamu harus hidup sendirian mulai dari sekarang? Sekarang kamu mengerti, kamu seharusnya berhati-hati dalam memohon sesuatu. Mungkin, ada baiknya keinginanmu tidak semuanya terwujud. Mungkin keinginanmu belum tentu baik terhadapmu. Tapi, mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Lalu, sosok itu masih saja memperhatikanmu dan kamu tetap saja tak menyadarinya. Senyum tipis terpampang di wajah seseorang yang sedang memperhatikanmu dari balik kaca.

Cerpen Karangan: Finaa
Facebook: Afina Syaifullah
Mungkin cerita ini masih berlanjut, karena belum terungkapnya sosok yang selalu memerhatikan si tokoh utama. Tapi, mungkin cerita ini tak akan dilanjutkan.

Cerpen Ball, I Wish… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Burukku

Oleh:
Namaku Ellie. Panggil saja aku Lie Aku ini adalah anak yang suka membangkang dan melawan ayah dan ibuku. Pada suatu malam aku tertidur sangat lelap. Sampai-sampai aku tak dapat

Princess Pegasus

Oleh:
Setiap peri di negeri pony pasti memiliki seekor kuda. Mereka akan mendapat kuda mereka sendiri setelah lulus dari Pony Princess Academy School. Aira sekarang duduk di tingkat 3 Pony

Misteri Di Taman Meja Batu

Oleh:
Pluk!!! Aku membanting buku yang ku pegang. “Kenapa? Gak suka bukunya?” Tanya seseorang. Sekilas aku melihat wajahnya, lalu aku menjadi acuh tak acuh. “Dia lagi, dia lagi!!” Batinku. “Kepo

Please Smile!

Oleh:
Suatu hari yang cerah ada anak bernama Fatimah Azzahra Launi, panggil saja Fatimah, ia kelas 4 SDIT. Pagi itu, Fatimah sudah siap dengan memakai seragam merah putih gamisnya. “Fatimah,

Menengadah

Oleh:
Sudah seminggu ku lihat anak perempuan kecil berambut putih itu diam di bawah pohon cemara belakang rumahku. Entah apa yang ia perbuat di sana. Aku tak pernah mengusirnya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ball, I Wish…”

  1. gebi says:

    wow bgs bngt. Di lanjutin y! Please?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *