Bangku Cadangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

Suara suporter bergemuruh. Sayup-sayup terdengar hingga ke luar stadion. Papan skor masih menunjukkan angka sama kuat, yakni 0-0. Wajah kedua pelatih tampak mengisyaratkan ketegangan. Dari bangku cadangan, pemain yang dicadangkan juga merasakan hal yang sama. Ini pertandingan final turnamen sepak bola terbesar di dunia. Pertandingan antara sang juara bertahan tiga tahun berturut-turut melawan penantang yang merupakan tim underdog di turnamen ini. Bahkan, ini pertama kalinya tim underdog berhasil lolos ke turmanen ini. Bagai sebuah keajaiban, tim underdog langsung berhasil menembus partai puncak.

Tim underdog tampil perkasa sebelum sampai ke partai puncak. Sedangkan juara bertahan, berhasil melenggang mulus, bahkan sampai ke final dengan mencetak rekor belum terkalahkan. Di luar itu semua, sebagian besar orang hingga bursa taruhan, memprediksi, juara bertahan akan membawa pulang gelar keempatnya secara beruntun. Dan mencatatkan sejarah baru sebagai tim pertama yang memenangkan turnamen ini empat tahun berturut-turut. Namun, pertandingan terasa menjemukan. Kedua tim bermain sangat hati-hati dan cenderung bertahan.

“Ricardo.. Ricardo.. Ricardo..”

Sorak sorai suporter juara bertahan kepada pemain bintang tim ini, sekaligus dinilai sebagai pemain terbaik dunia abad ini. Suara suporter itu mengisyaratkan kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan. Karena, sang pelatih membangku cadangkan sang mega bintang. Suporter ini berpikir, inilah penyebab permainan tim menjadi membosankan. Dan mencetak gol menjadi sebuah keniscayaan.

“Pelatih, sudah saatnya kita menurunkan Ricardo,” ujar asisten pelatih kepada sang pelatih juara bertahan.

Sang pelatih bergeming, teriakan suporter dan anjuran dari asisten pelatih diabaikannya. Ia tidak menginginkan jasa sang mega bintang tersebut. Perilaku kurang disiplin dan kerap memperlihatkan sikap emosional di lapangan dari sang mega bintang membuatnya jengah. Terlebih, pada latihan terakhir, wajah sang pelatih dihajar oleh sang mega bintang. Tidak sampai luka, namun pukulan itu membekas di hatinya.

“Apa-apaan kau,” ungkap sang pelatih sambil mengusap wajah yang dipukul oleh sang mega bintang.
“Berhentilah mengatur hidupku, gaya permainanku, terlebih sikapku. Selama ini kita tetap bisa menjadi juara kan,” kata sang mega bintang kepada sang pelatih. “Bahkan kita berhasil mempertahankan gelar tiga tahun berturut-turut. Dan aku memberikan peranan besar di sini.” Sang pemain pun berlalu meninggalkan latihan.

Insiden pemukulan sang pelatih oleh sang mega bintang menjadi pemberitaan besar di media massa seluruh dunia. Berita itu, lebih besar, mengalahkan cerita perjalanan luar biasa tim underdog sampai ke partai puncak. “Kita punya skuat terbaik di dunia. Kehilangan satu pemain tidak akan masalah,” ujar pelatih kepada asistennya. “Lihatlah, kita pasti memenangkan pertandingan ini.”

Sang juara bertahan tampil begitu offensif tampil menyerang sejak menit awal. Namun, pertahanan tim underdog begitu kokoh. Bak memiliki tembok besar China di barisan pertahanan, sang juara bertahan terlihat kewalahan. Serangan yang dibangun tidak pernah sampai ke jantung pertahanan. Bahkan, sang penjaga gawang tim underdog terlihat santai, karena jarang memungut bola dari gawangnya. Di sisi lain, serangan balik dari tim underdog terus berhasil menembus jatung pertahanan juara bertahan. Meskipun, intensitasnya sangat sedikit.

“Alex… Jangan lengah,” teriak sang pelatih kepada salah satu pemain bertahan.

Nyaris saja sang pemain bertahan tersebut membuat blunder, dia seolah memberi kesempatan kepada penyerang lawan untuk melakukan tembakan langsung ke arah gawang. Beruntung, sang penjaga gawang begitu tangguh, ia merupakan penjaga gawang terbaik di dunia. Pada kompetisi ini saja, dia tidak pernah kebobolan, penjaga gawang tersebut telah mencatatkan rekor cleansheet alias tidak pernah kebobolan sepanjang turnamen.

“Ayoooo!!!” teriak sang pelatih.

Sang penjaga gawang langsung melemparkan bola jauh, dan langsung menuju ke arah sang striker utama. Pertahanan lawan tampak lemah, pemain belakang yang bagai tembok China tadi seakan lengah. Sang striker berlari sendiri. Tepat di depan sebelum kotak penalti, dia langsung melakukan tendangan keras ke arah gawang. “Arrrgggghhh,” teriak sang pelatih. Tendangan tersebut melenceng, jauh ke atas tiang gawang. Suporter juara bertahan tampak kecewa. Wajah yang tampak bahagia karena kesempatan yang ada, terbuang sia-sia.

“Ricardo.. Ricardo.. Ricardo..”

Nama itu kembali diteriakkan oleh suporter juara bertahan. Para supporter ini menginginkan sang striker yang menyia-nyiakan kesempatan tadi diganti oleh sang mega bintang. Namun, lagi-lagi pelatih seolah tak mendengar.

Prittt… Prittt.. Prittt …

Peluit tanda berakhirnya babak pertama ditiupkan. Para pemain langsung bergegas ke ruang ganti.

“Apa-apaan permainan tadi,” ujar pelatih kepada seluruh pemain, sambil mengepalkan tinju ke arah dinding, di ruang ganti. Para pemain tertunduk lesu, kecuali sang mega bintang yang tampak terus menyunggingkan senyuman sinis, bahkan sejak awal pertandingan. “Bodoh,” ungkap sang mega bintang dengan suara pelan.
“Serangan kalian tidak pernah sampai ke jantung pertahanan lawan,” kata sang pelatih. “Dan kau.” Pelatih menunjuk ke arah sang striker yang gagal mencetak gol tadi. “Itu kesempatan emas kita, kenapa kamu sia-siakan. Saya tidak mau tahu, saya tidak ingin ada kesalahan lagi.”

Sang pelatih menyadari keberadaan senyum sinis dari sang mega bintang, sejak tadi. Namun dia tidak ingin menggubris. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana memenangkan pertandingan ini, tanpa adanya kehadiran sang mega bintang.

Babak kedua dimulai. Sang pelatih mengganti beberapa pemain, bahkan salah satu pemain belakang diganti dengan gelandang serang. Sang pelatih ingin terus menyerang, suplai bola kepada striker harus semakin deras. Ia tidak ingin kekalahan. Karena, jika menang, ia akan mencetak sejarah. Pelatih pertama yang memenangkan turnamen terbesar di dunia tersebut, empat tahun berturut-turut. Sebetulnya dia telah mencetak rekor tahun lalu, dengan memenangkannya tiga tahun berturut-turut. Namun, sang pelatih berambisi untuk mencetak rekor lebih.

“Ayo bodoh. Kalian bisa main bola tidak,” sang mega bintang tiba-tiba mulai bersuara. Ia terlihat geram dengan permainan yang dianggapnya menjemukan.
“Kita harus menang. Jadi, kita bisa memberikan sejarah kepada sang pelatih,” kata sang mega bintang kepada salah satu pemain di bangku cadangan. Kalimat itu dikeluarkannya dengan nada sinis, untuk menyindir sang pelatih yang tidak mau menurunkannya.

Para pemain juara bertahan menguasai bola di lapangan tengah. Mereka terus melakukannya untuk mencari celah mengoperkan bola kepada striker. “Ayolah, dari tadi kalian hanya memutar-mutarkan bola ke arah situ-situ saja,” ungkap sang mega bintang kepada rekan-rekannya.

“Oooyyy.” Tiba-tiba sang pelatih berteriak kepada sang mega bintang. Ia tampak kesal dan ia pun kembali teringat akan pukulan sang mega bintang ke wajahnya. “Sebaiknya kau diam dan duduk saja. Biarkan aku menjalankan tugasku, tidak usah kau ikut campur.”
“Hahahahaa.. ayolah pelatih, kau bisa lihat kan, tim kita bermain membosankan. Bahkan, serangan balik tim lawan lebih membahayakan, dibandingkan dengan serangan yang kita bangun.”
“Pelatih, dia ada benarnya. Sudah saatnya kita mengganti pemain,” sahut asisten pelatih.
“Ricardo.. Ricardo.. Ricardo..”

Suporter kembali meneriakkan nama sang mega bintang. Dari lapangan, striker utama tidak lagi menjalankan tugasnya dengan baik. Gerakannya mudah dibaca pemain lawan. Fisik sang stiker juga terlihat kelelahan. Bahkan, ia tidak mendapatkan bola sama sekali di lima menit terakhir, waktu pertandingan normal. Jika tidak ada yang mencetak gol, maka permainan akan dilanjutkan ke babak tambahan.

Teriakan suporter, celotehan sang mega bintang, anjuran asisten pelatih, dan kondisi di lapangan, membuat sang pelatih jengah, kepalanya seakan pusing. Semua suara seolah menghantui pikirannya. Ia harus mengambil keputusan tepat, kalau tidak timnya akan kalah dari tim underdog yang dianggapnya hanya beruntung bisa sampai ke babak final.

Prittt..

Tendangan sudut diberikan kepada tim underdog. Meski tidak berbahaya, serangan balik tim tersebut mampu membuahkan sebuah tendagan sudut. “Pelatih, coba pikirkan lagi, waktu sudah semakin pendek. Saatnya kita memainkan Ricardo,” kata asisten pelatih. Pemain sayap tim underdog bersiap melakukan tendagan ke arah gawang, dari sudut lapangan. Seluruh pemain, kecuali penjaga gawang tim underdog berada di kotak penalti tim jawara bertahan. Ini situasi mendebarkan bagi suporter dan ofisial juara bertahan.

Tendangan dilesatkan, wajah kedua suporter tampak tegang. Lima menit terakhir yang krusial. Bola melambung dan tepat menuju ke mulut gawang. Di sana, pemain belakang tim underdog siap menyambar bola tersebut.

“Aaaarrrgghhh,” pelatih tim jawara bertahan berteriak.
“Ohh… nyaris saja,” ungkap asisten pelatih. Pemain belakang tim underdog gagal menyambar bola dan berhasil ditangkap oleh penjaga gawang.

Sang mega bintang tampak menghela napas. Di satu sisi dia senang, namun di sisi lain, ia ingin tetap dimainkan. Sama seperti sang pelatih, ia juga ingin mencetak sejarah. Memenangkan turnamen tersebut empat kali secara beruntun. Ya, sang pemain diboyong satu paket dengan sang pelatih dari tim yang sama. Kala itu, jawara bertahan sudah dua tahun berturut-turut puasa gelar. Benar-benar puasa, karena tidak satu pun gelar didapatkan. Di lain sisi, sang pelatih dan mega bintang kala berhasil memenangkan turnamen tersebut bersama timnya. Saat itu, tim mereka adalah tim underdog. Bersama-sama mereka berhasil memenangkannya.

Sang pelatih mendapatkan gelar pelatih terbaik. Dan sang mega bintang menjadi pemain muda terbaik, pemain terbaik, pencetak gol terbanyak. Bahkan, hattrick atau tiga gol dari mega bintang menjadi penentu kemenangan di partai final. Alhasil, tim juara bertahan tertarik dengan keduanya. Tanpa rasa ragu keduanya pindah bersama. Gaji besar dan fasilitas yang fantastis dari tim membawa mereka pindah ke tim juara bertahan. Dan, akhirnya keduanya berhasil membuahkan prestasi, sesuai dengan ekspektasi managemen tim juara bertahan. Keduanya seakan berhasil membangunkan macan tidur.

Waktu terus berjalan, hubungan keduanya mulai merenggang. Sang mega bintang terus menunjukkan keangkuhannya. Kepercayaan diri berlebih berbanding lurus dengan prestasinya. Dan sang pelatih berhasil membangun tim dan membina pemain-pemain muda bertalenta. Meskipun tidak pernah ada yang sebanding dengan sang mega, yang dianggap pemain terbaik sepanjang masa. Namun, ia tidak suka dengan keangkuhan sang mega bintang, karena kerap seenaknya. Tidak disiplin dan kerap emosional di tengah lapangan. Begitu pula sang mega bintang kepada sang pelatih. Regenerasi-regenerasi pemain yang dilakukan pelatih, dianggapnya sebagai cara untuk menyingkirkannya.

“Hey kau bersiaplah.” Hati sang pelatih tampak luluh. Atau lebih tepatnya, terdesak oleh keinginan suporter dan anjuran asisten pelatih. Pelatih pun memerintahkan sang mega bintang untuk bermain.

Sang mega bintang dengan senyum sinisnya membuka jaket tim yang ia kenakan, berganti kostum tim juara bertahan. Meskipun belum memenangkan pertandingan, namun hatinya merasa telah menang. Menang dari sang pelatih yang telah membangku cadangkannya. Menang atas sang pelatih yang dianggapnya telah menyepelekan kemampuannya.

Suporter juara bertahan pun bersorak-sorai. Tepat ketika sang mega bintang memasuki lapangan. “Ricardo.. Ricardo.. Ricardo..” Teriakan tersebut kembali menggema, kali ini mengiringi langkah sang mega bintang ke tengah lapangan. “Aku siap.. Aku siap memenangkan pertandingan ini. Aku siap mencetak sejarah. Aku siap menjadi yang terbaik di muka bumi ini. Aku siap membungkan mulut sang pelatih,” ungkap sang mega bintang dalam hati. “Akuuuu siiiaaappp.”

Priitttt.. Priitttt.. Prittt..

Peluit panjang tanda akhir pertandingan pun menggema. Juara bertahan mengalami kekalahan, tepat di tiga menit terakhir pertandingan. Sang mega bintang mengacaukan segalanya, dua menit berada di lapangan, ia lantas berulah. Senggolan kecil dari pemain lawan, berbalas bogem mentah dari sang mega bintang. Alhasil, kartu merah dilayangkan wasit pertandingan. Dan, tim underdog memanfaatkan kekurangan pemain tim juara bertahan dengan baik. 85 menit sang mega bintang diagungkan bak dewa selama di bangku cadangan, namun setelah itu ia diperlakukan seperti seorang b*jingan.

Cerpen Karangan: William Andri
Facebook: https://www.facebook.com/william.andri
William Andri, lahir di Jambi pada tanggal 8 Mei 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua orang bersaudara. Penulis memulai pendidikan dasar pada tahun 1997 di SD Negeri 150 Kota Jambi, selama 6 tahun dan tamat pada tahun 2003. Kemudian penulis melanjutkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SMP Negeri 16 Kota Jambi selama 3 tahun. Setelah itu penulis melanjutkan sekolah selama 3 tahun di SMA Negeri 4 Kota Jambi dan tamat pada tahun 2008. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Jambi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika pada tahun 2009. Tepat pada tanggal 27 November 2013 penulis berhasil memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika. Lalu, langsung melanjutkan pendidikan di Pascasarjana Pendidikan Matematikan Universitas Jambi hingga saat ini.

Cerpen Bangku Cadangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jacob Lucifer (Pemakan Roh)

Oleh:
Angin berhembus kencang menyapu helaian rambut yang menutupi mataku. Kilatan cahaya membelah gumpalan awan yang hitam pekat tanpa disertai dengan bunyi gemuruh. Kawanan gagak api berterbangan ke mana-mana. Sebenarnya

Verdriet

Oleh:
Sejak dua jam yang lalu aku bersantai di halaman belakang rumaku, angin malam berhembus, mendinginkan otakku, memang enak sih bersantai sambil mendengarkan lagunya Shaggy dog – Bersamamu. Beberapa menit

Siapa Kalian

Oleh:
Mentari Yuna Pratiwi adalah namaku namun teman-temanku biasa memanggilku Yuna. Ini adalah hari pertamaku bekerja di sebuah cafe di pusat kota. “Yuna tolong bawakan pesanan meja nomor 7” seru

Goresan Misteri

Oleh:
Pemilihan kapten basket hari ini diselenggarakan. Dan Risty salah satu kandidatnya. Risty adalah siswa kelas 11 yang baru mengikuti ekskul ini sebulan yang lalu, tapi dia telah di kandidatkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *