Bebas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Bebas, apakah salah jika seseorang mengharapkan kebebasan di hidupnya? Menjalani segala sesuatu tanpa mengkhawatirkan apapun. Sayangnya hal itu takkan pernah bisa terwujud karena hidup itu sendiri tidaklah bebas. banyak hal yang dituntut oleh kehidupan dan kau tidak bisa begitu saja mengabaikan hal tersebut. Keluarga, lingkungan, masyarakat, teman, dan lain-lain semua itu selalu menuntut sesuatu darimu. Tak ada hal yang bisa kau lakukan dengan bebas selama kau terjebak di dunia ini, di dalam raga yang seakan memenjarakaan jiwamu. Ibarat burung dalam sangkar.

“Bebas!”
Rio mendongak dan mengangkat tangannya seolah hendak menggapai langit seraya mengulangi kata-kata itu dengan sengaja dan riang.
“Bebas!”
Ia memandang ke sekelilingnya dengan perasaan puas. Taman itu sudah sangat tua, dengan pohon besar di sudut taman, serta hamparan bunga beraneka macam yang sangat terawat keberadaannya. Menimbulkan perasaan nostalgia yang sangat kuat. Itu sebabnya Rio merasa puas.

“Rio! Apa kau akan terus di sana? Menghabiskan waktumu dengan berdiri saja dan membiarkan nenekmu yang sudah tua dan renta ini menunggu untuk mendapat sebuah pelukan?” Suara khas dan juga senyum di wajah tuanya, berhasil membuat cucu kesayangannya itu menoleh ke arahnya.
Ia melihat perempuan itu berdiri di sana. Berdiri di ambang pintu menanti dirinya dengan wajah bahagia yang selalu dapat menghangatkan hatinya. Rio menatap sang nenek dengan perasaan bahagia. Dia menghampiri sang nenek dengan tergesa-gesa, rasanya ia hendak segera meluapkan semua rasa rindunya terhadap sosok yang selama ini membesarkannya. di setiap langkah dia mengingat kenangan demi kenangan yang ia lalui bersama neneknya di tempat itu.

Matanya berkaca-kaca kala ia tepat berada di hadapan sang nenek. Senyuman hangat sang nenek seolah melengkapi rasa nostalgianya. keduanya larut dalam balutan kerinduan yang meletup-letup.
“Nenek sangat merindukanmu.” Ucap sang Nenek seraya membuka tangan hendak merangkul cucunya tetapi tangan kekar sang cucu menahannya lalu tersenyum.
“Jangan ucapkan itu nek. Kalau kau melakukannya aku takkan pernah bisa hidup bebas dan hanya akan selalu bergantung padamu”. Valdo meraih menyambut sang nenek, dia memeluk neneknya dengan erat.
“Alasanku pergi selama ini adalah untuk menemukan arti kebebasan sejati dan akhirnya aku kembali ke sini agar aku bisa bebas. Aku tersadar alasan selama ini aku tak bisa bebas adalah dirimu, nek.”
Riovald melepas pelukannya dan menatap neneknya dengan tatapan serius. Sang nenek menatap cucunya itu dengan tatapan sedih.
“valdo—”.
“aku tau, aku sangat mengerti akan hal itu. Tapi, bisakah kali ini nenek membiarkanku?” ucap valdo berharap neneknya akan mengerti akan keinginannya.
Nenek tersenyum mendengar perkataan valdo. Dia bahagia kini cucu yang selalu dianggapnya seorang anak yang memerlukan perhatian itu kini telah dewasa. Nenek sedikit menjauh dari valdo seraya berkata.
“valdo, Nenek tak bisa terus melarangmu! Jika itu maumu maka lakukanlah tapi ingatlah bahwa nenek akan selalu ada untukmu! Bebaslah seperti yang kau inginkan” ucap sang nenek.
Valdo bahagia ketika mendengar ucapan sang nenek. Rasanya Ia akan bisa menikmati kebebasannya. Disaat yang bersamaan seluruh tempat itu bersinar. Dia sangat bingung, apa yang sedang terjadi? Pikirnya. Dia melihat sang nenek.
“Ikutilah kata hatimu lalu bebaslah!”
Nenek juga ikut bersinar semua menjadi sangat terang sehingga valdo tak dapat melihat apapun.
“apa yang terjadi sebenarnya?”

Brakkkk
Pintu dibuka dengan keras. Cahaya menyeruak masuk saat pintu dibuka. Cahaya tersebut menerangi ruangan. Seseorang dengan tubuh kurus kering tengah memeluk lutut di sudut ruangan.
“Bangun! Bersiaplah hari ini kau akan menebus semuanya.” Ucap penjaga pada orang itu.
Dia hanya diam seraya menaikan wajahnya menatap sang penjaga yang pergi begitu saja. Tatapan itu kosong, dengan senyum mengembang di wajahnya dia berkata
“Bebas! Sebentar lagi Aku akan bebas Nek”.

Cerpen Karangan: Priaanto
Facebook: prianto

Cerpen Bebas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahlawan Kampung

Oleh:
“Mengapa tidak belajar?” Tanya Ibu kepada Rofa. “Bentar, lagi asyik nonton nih” jawab Rofa sambil asyik melihat televisi. Ya Rofa adalah anak yang cukup pemalas, hari harinya hanya bermain

Keluarga Penyihir

Oleh:
Pagi yang cerah, aku bangun karena teriakan mamaku yang menggema di seluruh ruangan, namaku nia putri stefanny aku biasa dipanggil fanny, aku berumur 12 tahun aku mempunyai adik namanya

Fungus in Love

Oleh:
Pukul 2.30 PM. Hujan seakan menuntun gue pada suatu tempat yang kadang jadi tumbal PHP angkot cs. Gue ngerasa kayak manusia labil yang lagi long distance transportationship dan galau

Popo Si Raksasa Salju

Oleh:
Di sebuah gunung yang diselimuti salju tebal, tinggal raksasa bernama Pipo. Raksasa ini sangat kesepian. Dulu Pipo si raksasa tinggal di negeri yang selalu disinari matahari dengan rerumputan hijau

Ghostie Following Me

Oleh:
Cindy akhirnya beranjak remaja, orangtua Cindy sudah menganggap Cindy sudah pintar bertanggung jawab, akhirnya Cindy dibelikan Iphone oleh Papanya. “Thanks, Pa!” ujar Cindy. Cindy mulai membuat sosial media (sosmed)

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *