Behind The Gate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 28 March 2016

Hujan gerimis sore itu, menyisakan hawa amat dingin. Bahkan balutan sweater tebal, tak juga menghentikan getar tubuh Ane. Kaki kecilnya melangkah hati-hati. Ia kepayahan mengambil sesuatu yang terselip di antara tanaman perdu belakang rumahnya. “Hah? Benda apa ini?” tanya Ane, membolak-balik kotak kecil di tangannya.

Di sekolah keesokan harinya.
“Ane!” panggil Tifa dengan suara melengking. Resonansinya menggema di penjuru kelas yang masih kosong pagi itu.
“Hei, kau ini! Aku kan belum tuli,” keluh Ane pada sahabatnya itu.
“Belum tuli dari Hongkong!? Ini sudah panggilan ke seribu kau tahu. Lagi pula apa yang sedang kau lakukan? Dan benda apa di tanganmu?” Kata Tifa, duduk di sebelah Ane.
“Lihat ini! Kemarin aku menemukannya di semak belukar,” Ucap Ane, menyodorkan kotak kayu antik di tangannya pada Tifa. “Kotak apa ini? Apa isinya?” Tifa menelisik tiap sudut kotak dari Ane itu penasaran.

“Ada sepasang kunci dan surat aneh di dalamnya,” Jelas Ane memandang serius.
“Kunci? Surat aneh? Apa maksudmu? Kau sudah membacanya?”
Ane hanya mengangguk pelan. “Lalu?” Tifa menginterogasi Ane. Ia makin penasaran.
“Bukalah! Kau bisa membacanya sendiri,” Tifa membuka kotak berukir menawan itu hati-hati. Benar saja, sepasang kunci kuno dan sepucuk amplop usang termakan masa bersemayam dalam kotak. Ia menemukan sebuah kalimat di balik lipatan kertas kuning itu dan membacanya.

“Temukanlah gerbang tanpa istana. Anak kunci ini kan bertemu jodohnya di sana. Lakukan apa yang seharusnya. Bebaskan jiwa yang terpenjara di sana. Hentikan kutukan yang tertanam dalam hutan Greenleaf. Jangan pernah tinggalkan apa pun! Kembalilah sebelum gelap menyebarkan kutukannya!”
“Apa maksudnya? Aku tidak mengerti,”
“Awalnya aku pun tak mengerti, tapi apa kau ingat hutan Greenleaf? Dan misteri di baliknya? Apa kau tidak penasaran apa yang sebenarnya terjadi di sana?”
“Hahaha, ya begitulah kau. Selalu tertarik dengan misteri. Tapi kita tidak mungkin ke sana. Itu hutan terkutuk, tak ada yang pernah pulang setelah masuk ke sana,” Tifa terkekeh. “Hei ayolah! Bukankah karena itu, surat ini meminta kita menghentikan kutukan hutan itu?” Ane memohon. Ia memaksakan senyumnya, memelas pada Tifa.
Tifa hanya mengembuskan napas panjang dan menatap Ane malas.

“Jadi ini tempatnya? Hutan Greenleaf?”
“Sepertinya begitu,” Ane mendongak mengamati penampakan luar hutan cemara itu. Tak beda dengan Tifa, yang sibuk menilik sisi hutan yang terlalu luas di depannya.
“Kau yakin ingin tetap masuk?” Tifa mempertanyakan keputusan Ane sekali lagi.
“Haha.. jangan bilang kalau kau takut,” Ejek Ane. Ia mulai memasuki hutan.
“Aku tidak takut,” Tifa menyusul langkah Ane ragu. Matanya memandang liar. Firasatnya buruk. Ia merasa seakan ada yang tengah mengawasi mereka sekarang.

Hari itu masih siang, walau tak tampak demikian. Pohon-pohon tinggi menjulang, bagai menopang langit kelabu. Kedua gadis remaja itu telah berjalan beratus meter, menelusup jauh ke jantung hutan. Ane melangkah tanpa ragu, seakan telah terbiasa bercengkerama dengan atmosfer hutan yang mencekam itu.
“An? kau sudah pernah ke mari? Langkahmu itu sepertinya terlalu meyakinkan,”
“Aku sudah bertanya pada beberapa orang tentang hutan ini jauh-jauh hari. Ditambah dulu aku pernah kemari sekali, bersama kakekku,”
“Bersama kakekmu? Untuk apa?”
“Mencari adikku,”

“Kau menemukannya?”
“Tidak. Kami tak pernah lagi bertemu dia hingga hari ini. Kami hanya menemukan gerbang besar di tengah hutan. Tapi anehnya tak ada bangunan di belakang gerbang itu. Dan kau ingat kalimat pertama surat dalam kotak itu? Itu mengingatkanku tentang gerbang itu,”
“Jadi.. kau masih berharap adikmu masih hidup? Menurutmu gerbang itu ada hubungannya dengan hilangnya adikmu?”
“Aku tak berharap banyak. Tapi tak ada salahnya kita mencoba kan?”

“An..” kata-kata Tifa tercekat oleh sebuah suara aneh di balik rimbunnya semak. Suara geraman. Hampir bersamaan mereka menengok semak yang tak jauh di belakang mereka. “Baiklah, kau tahu apa itu An?” Tifa berjalan mundur.
“Aku tak yakin, tapi sebaiknya kita cari cahaya matahari,” Tifa dan Ane mulai takut. Lebih tepatnya mereka panik.
“Heeh! Apa kau gila?! Mana ada cahaya matahari saat mendung begini!” Tifa setengah beteriak.

Belum habis kebingungan Tifa, Ane langsung menyeretnya. Lari tak tentu arah. “Cahaya. Ya Tuhan di mana ada cahaya?” batin Ane. Seperti yang telah Ane duga sosok bayangan di balik semak itu muncul. Mengejar Tifa dan Ane memabibuta. Tak jelas bagaimana rupanya. Hanya seperti kepulan bayangan hitam, yang sangat bernafsu mendapatkan kedua manusia lemah di depannya. Mangsa lezat yang amat langka. Kedua gadis itu menerobos semak belukar, menerjang rumput liar, atau apa pun itu. Mereka bahkan tak peduli apa pun di depan mereka. “An, An, haah. haah.. sepertinya.. mahluk aneh itu.. tak mengejar lagi,” Tifa tersengal. Mereka berhenti, berdiri saling membelakangi. Ane tak menjawab, ia hanya menelisik waspada.

“An! awas An! di atas!” pekik Tifa. Mereka masing-masing melompat dan terjerembab ke arah berlawanan. Menghindari cengkeraman bayangan menakutkan di atas mereka. Bayangan itu lantas mangayunkan cakarnya ke wajah Tifa.
“Aaaaaaaaa!!!” belum sempat ujung cakar itu mengoyak tubuh Tifa, tiba-tiba saja cahaya matahari terurai.
“Aaarrghhhh!” bayangan hitam itu menghilang. Seakan terbakar dan berubah menjadi abu yang terbang ke angkasa. Tifa terpaku, takut, tegang dan kelegaan bercampur di sorot matanya. Ia merasa beruntung tak jadi mati tadi.

“Kau tak apa Fa?” tanya Ane khawatir.
“Aku baik saja An. Mahluk itu… menghilang?”
“Iya, mahluk itu akan musnah jika terkena matahari. Itu menurut warga desa yang aku tanya. Mungkin mahluk itu kutukan kegelapan yang dimaksud surat itu,”
“Mungkin saja kau benar. Ah, kepalamu terluka An!”

“Tadi terbentur ketika kita menghindari mahluk itu. Sudahlah itu tak penting. Sekarang lihat di sana sepertinya itu gerbang yang dulu pernah ku lihat,” Ane menunjuk ke samping kanannya. “Benarkah? Kalau begitu lekas kita ke sana, sebelum gelap. Aku takut mahluk itu muncul lagi,” Kedua mudi cantik itu berjalan beberapa meter ke arah gerbang megah itu. Gerbang itu amat besar. Menjulang sekitar sepuluh meter dengan lebar kisaran tiga meter. Meski begitu, hanya ada sebuah gerbang di sana tak ada apa pun di baliknya. “Jadi ini gerbang tanpa istana itu? Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Lihat Fa! Ada dua lubang kunci di sini. Coba kemarikan sepasang kunci itu!”

Tifa memberikan sepasang kunci yang dari tadi tersimpan rapi di tasnya. Ane mencoba memasukkan salah satu dari sepasang kunci. “Eh… tunggu sebentar!” Tifa menghentikan Ane. Matanya menangkap sesuatu di permukaan pintu yang tertutup akar dan tanaman rambat di depannya. Sebuah ukiran.
“Ada apa?” Tanya Ane tak sabar.
“Coba lihat kalimat ini! ‘Lakukanlah bersama’ mungkin maksudnya….”
“Kita harus memasukkan kunci dan membuka gerbang ini bersama, begitu?” lanjut Ane menebak. Tifa mengangguk. Ane memberikan salah satu kunci di tangannya pada Tifa.
“1.. 2.. 3…” mereka mengaba-aba bersama. Dan…. KLIK.

Kedua gadis itu saling pandang. Satu sisi mereka senang berhasil membuka kunci gerbang itu, namun di sisi lain, mereka juga takut serta penasaran. Apakah gerangan yang disembunyikan gerbang megah itu? Perlahan gerbang terbuka lebar. Kedua gadis itu saling pandang sekali lagi dan mengangguk bersamaan. Mereka memasuki gerbang itu. Kemudian, hal yang disembunyikan sang gerbang mulai nampak. Masih sebuah hutan, namun berbeda. Cahaya matahari nampak cerah namun sedikit membias, melewati sela daun membentuk dispersi yang indah. Terhampar kabut tipis di atas rerumputan yang mereka injak. Seakan mereka tengah bertandang ke dunia lain.

“Kalian siapa?” seorang gadis kecil muncul dari balik kabut. Gadis yang cantik. Rambutnya panjang. Gaun putihnya begitu cantik dan manis.
“Kami….” sahut Tifa.
“Ikut aku! Anak cerewet itu telah menunggumu kak An,”
“Eh? Apa?” Ane heran. Dari mana anak itu tahu namanya.
Ane dan Tifa mengikuti gadis kecil itu dari belakang. Mereka terus saja memperhatikan rantai yang mengikat kaki telanjang gadis itu. Sebenarnya sepanjang apa rantai itu? Mereka telah berjalan cukup jauh ke dalam hutan namun, rantai itu seakan tak habis.
“Mmm.. sebenarnya kita mau ke mana dik? Da.. dan kakimu itu..” tanya Ane ragu.
“Kita sudah sampai kak An,” anak gadis di depan Ane dan Tifa berhenti, lalu menengok ke arah mereka. Tatapannya datar. Tiba-tiba saja kabut putih menyeruak ke arah kedua gadis itu, seakan menelan gadis kecil di depan mereka.

“Gadis kecil itu hilang An. An? An?” Tifa celingukan, tak ada Ane atau siapa pun di mana-mana.
“An?! An! Ane! Di mana kau?” suara Tifa menggema di hutan yang sunyi.
Di tempat lain Ane terbelalak, ia tak percaya dengan penglihatannya.
“Nick? Kau Nicky?” Ane hampir menangis. Ia bahkan tak sadar terpisah dari Tifa.
Anak sembilan tahunan itu berlari memeluk Ane. Ane membalas pelukan adik laki-lakinya –yang telah lama hilang– itu erat.

“Nick ke mana saja kau? Aku menyesal Nick, maafkan kakak. Mari kita pulang Nick kakek begitu merindukanmu,” Ajak Ane. Tangisannya makin deras.
“Aku tak bisa kak An. Aku sudah tak bisa lagi pulang,” Nick menepis tangan Ane dan memandang kakinya yang dirantai.
“Kenapa Nick? Siapa yang melakukan ini padamu? Gadis tadi juga..” Ane memandangi tubuh adiknya. Ia sadar Nick bahkan tak berubah sedikit pun sejak terakhir hilang lima tahun lalu. “Lisa? Ya dia juga sama denganku kak. Kami yang sudah diikat rantai ini tak mungkin lagi pulang kak. Kami tak mampu lagi menghadapi matahari yang sebenarnya. Dan di malam hari pun bayangan kutukan itu akan memakan kami jika kami ke luar dari sini. Tak ada lagi cara kami terbebas,”
“Tak mungkin Nick. Katakan apa yang bisa ku perbuat untuk membantumu, huh?”

Tifa mencari Ane ke seluruh penjuru hutan. Ia terus berjalan hingga hampir putus asa. Berulang kali mulutnya memanggil nama Ane, namun tak ada respon. Langkah kakinya pun terhenti. Tifa lelah berjalan amat jauh seharian. Tiba-tiba ia merasa ada yang mengawasinya di antara pohon sekelilingnya. Tifa memeriksa segala penjuru. “Siapa itu?!” Tifa ketakutan. Napasnya memburu. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang tak asing. Gerbang, ya! Itu seperti gerbang awal ia masuk bersama Ane tadi. Tifa mendekati gerbang itu, hendak membukanya. GREP! Tiba-tiba saja ada yang memegang pundak Tifa. “Si.. siapa?” sekarang Tifa benar-benar katakutan bukan kepalang. Ia tak berani menengok. Tangan di pundaknya itu benar-benar dingin, bagaikan tak ada darah yang mengalir di tubuh pemilik tangan itu.

“HANTU!” jawab suara di belakang Tifa menakuti.
“Aaah! Aneee! Kau menakutiku! Ke mana saja kau? Huh apa kau tahu betapa lelahnya aku mencarimu ke mana-mana?”
“Hei hei! Jelas-jelas kau mau pergi meninggalkanku tadi,”
“Hmm, i… itu.”
“Huh, sudahlah. Sekarang dengar Fa! Mulai sekarang kita akan berjuang lebih keras, mengerti?! Sekarang mari kita pulang! Sebelum gelap kita harus ke luar dari sini,”
“Hah? Apa maksudmu? Bagaimana dengan adikmu?”
“Aku sudah bertemu dengannya,”

“Lalu di mana dia? Kenapa kita pergi tanpa adikmu?”
“Kita akan datang lagi Fa, jika telah tiba waktunya. Kita akan bebaskan jiwa-jiwa itu serta adikku dan memusnahkan kutukan hutan ini. Bersiaplah!”
“Huh?” Tifa tak mengerti.
“Baiklah mari kita keluar!” ajak Ane. Gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Ane dan Tifa keluar bergandengan tangan, menuruni anak tangga di depan mereka. Tanpa kedua gadis itu sadari sepasang kunci antik telah bertengger cantik di leher masing-masing dari mereka.
“Kakak berjanji Nick, kali ini aku akan membawamu pulang. Tunggulah!” batin Ane sambil terus melihat gerbang yang mulai tertutup.

“Nick? Kenapa kau tak menjawab kakak?”
“Kak aku ini sudah mati sejak hari itu. Aku tak mungkin lagi..”
“Tidak! Itu mustahil Nick! Adikku sayang maafkan kakak, saharusnya dulu aku lebih menyayangimu. Maaf aku selalu buruk padamu. Aku menyesal, tak bisakah kau pulang?”
“Kak An… ada hal yang tidak dapat kau ulang. Tapi jika Tuhan memberimu kesempatan kedua, waktu akan menjawab semua pertanyaanmu kak An. Sampai saat itu tiba aku akan menunggumu di sini. Aku percaya kau bisa membebaskan kami. Sekarang pulanglah! Jika sudah gelap kau tak akan bisa ke luar dari sini.”
“Nick….”
“Dengar kak, hiduplah dengan baik! Kau harus tahu aku tak pernah marah padamu tentang semuanya. Aku sangat menyayangimu. Aku bangga pernah hidup sebagai adikmu,”
“Baiklah Nick, tunggulah! Bagaimanapun, aku akan menemukan caranya. Aku akan datang lagi untuk membawamu pulang.”

Cerpen Karangan: Aprilia Krizna

Cerpen Behind The Gate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fairyland, Peri Tanpa Sayap

Oleh:
Suasana menjadi genting. Semua terpaku melihat bunga labrogo (sejenis bunga anggrek tetapi hidup di darat dan berukuran besar). Satu per satu helaian bunga labrogo itu menjuntai keluar, sedikit demi

I Have a Dream

Oleh:
“Ini… di mal?” Anne melihat ke sekelilingnya dengan tatapan tak percaya. Di sekelilingnya terdapat banyak toko-toko dengan lampu menyala-nyala. “Yup!” Seseorang membalas gumamannya, ternyata dia seorang gadis yang sangat

The Dog Story

Oleh:
Ada seekor anjing yang hidup di bawah sebuah gerbong kereta api yang tidak berguna lagi. Setelah anjing itu bangun ia berkeliling-keliling mengitari jalan kereta api di stasiun kereta api

Cinta Terdalam

Oleh:
Ketika polisi tiba di tempat itu, mereka hanya menemukan 2 jasad yang telah mati. Dua-duanya dengan luka tusuk tepat di jantung. Darah menggenang di sekitarnya. Keduanya terbaring berdampingan, dengan

Evolusi

Oleh:
Tahun 2227, populasi manusia tak sebanding dengan alien, atau mungkin alien blasteran manusia. Entah bagaimana mulanya, tapi satu cerita yang ku percaya, bahwa alien adalah manusia itu sendiri. Manusia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Behind The Gate”

  1. Kintan says:

    Ditunggu kelanjutannya #kaloada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *