Bukan Tukang Urut Biasa (BTUB)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Gokil, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 2 August 2013

Kemampuan turun-temurun yang diwariskan nenek moyang gue, bisa dibilang sangat bermanfaat untuk orang banyak. Pasalnya, sudah hampir ratusan orang merasakan goyangan tangan gue di seluruh tubuh mereka. Goyangan yang membuat otot yang semula menegang, menjadi lemes. Alias ga kaku lagi. Yah, gue sih bersyukur banget punya keahlian di bidang urut mengurut. Karena, selain mengurut ini adalah profesi, gue juga bisa memanfaatkannya untuk menolong orang banyak.

Misalnya, kejadian dua bulan lalu. Saat gue sedang keliling kampung bersama dua asisten gue, yaitu Idham dan Miftah. Kami menemukan seseorang yang sedang terjepit di antara reruntuhan kasur. Gue juga ga ngerti kenapa kasur itu bisa menimpa badan tuh orang. Sempat terpikir di benak gue, kalau orang itu sedang main petak umpet. Tapi, ngapain ngumpet di bawah kasur. Emangnya kasur rela buat main petak umpet? Lagian, fungsi kasur itu buat tidur, bukan buat main petak umpet. Ga berperikekasuran banget sih!

Melihat orang yang sedang kesulitan, kami pun refleks menolongnya. Sebelum menolong, Kami atur formasi terlebih dahulu. Hal ini memang biasa kami lakukan sebelum beroperasi. Formasinya tuh, kami baris berbanjar, lancang kanan, kemudian gue nungging ke belakang sambil goyang itik. Idham yang ada di samping kanan gue pun ga kalah menarik. Dia bergoyang kepala ala Trio Macan. Setelah pusing, minyak gosok yang dibuat dari ingus cicak, ia keluarkan dari kantongnya untuk digosokan di kepala. Sementara Miftah, di sebelah kiri gue; mengeluarkan korek dan rokok dari kantungnya. Korek untuk mengeruk jigong di giginya. Sedangkan rokok, berfungsi untuk menyumpal hidungnya yang mampet.

Gimana? Keren kan formasinya?

“Mif, lo ke sudut kiri. Idham ke kanan. Gue ke tengah.” Perintah gue lugas.
“Ngapain, bos?” Tanya Idham.
“Main karet!. Bego lo! Yah, angkat kasurnya.”
“Tau lu, Dham! Bos jadi marah tuh. Kita angkat kasurnya buat tidur di kontrakan. Iya kan, bos?” Ucap dan tanya Miftah dengan polos.
“Keplek!” Tangan gue mendarat di kepala Miftah
“Aduh, bos sakit.” Miftah mengeluh kesakitan.
“Hahaha, sukurin lu! Berarti mendingan gue. Biar kata bos marah, tapi ga sampe geplak kepala gue.”
”Ahhh, diem lu. Banyak bacot.” Tangan gue mendarat di kepala Idham.
“Aduh… Bos, kok gue kena juga.”
“Udah-udah… Bisa naik darah turun tai kalau gue terus-terusan punya anak buah kayak lu berdua. Pokonya lu angkat tuh kasur. Cepetan!” Amarah gue meledak karena kelakuan dua bocah yang lahirnya dienter pake komputer, keluarnya dari CPU.

Pertolongan pertama yang kami lakukan setelah mengangkat kasur dari diri orang tersebut adalah mengecek nadinya. Apakah masih berdenyut atau tidak. Setelah dipastikan korban masih hidup, kami langsung mengoleskan minyak angin cap kodok galau dibagian hidung guna menyadarkannya dari pingsan.

“Sadar, bos. Sadar…” Miftah berucap senang
“Iye, gua juga tau.” Ujar gue
“Tolong…! tolong…” Orang itu berteriak menjerit dengan wajah setengah takut.
“Tenang… tenang bu, kita orang baik… baaaa…” Ucapan gue terpotong karena rongrongan Ibu tersebut yang semakin menjadi.
“Tolong…! saya mau diperk*sa… tolong…!

Sial… Mimpi apa gue semalam? Niat baik nolongin, malah dikira mau memperk*sa. Hadoh… lagian, tuh ibu kaga tau diri banget sih. Mana doyan gue sama dia. Badanya aja kayak bis malem. Mukanya udah kadaluarsa. Selain itu, yang paling bikin gue ga nahan adalah bibirnya. Bibir sama spakbor motor ga beda jauh. Haha… untung ga ketuker.

Teriakan ibu ga tau diri itu semakin keras. Sehingga mengundang warga sekitar datang untuk menghakimi kami. Melihat kondisi yang sangat darurat seperti ini, mau tak mau kami harus mengeluarkan jurus, “Tauran”. Yah, sebenarnya jurus ini ga pernah digunakan, lantaran kami tahu betapa bahayanya apabila seseorang terkena bumerang dari jurus ini.

Filosofi yang terkandung dalam jurus, “Tauran” adalah “Tau” dan “Ran”. Tau berarti mengetahui. Sementara, Ran diambil dari bahasa Inggris yang artinya lari. Jadi, Tauran yang kami maksud adalah apabila mengetahui ada masa yang ingin menghakimi, lebih baik kita, “Lari…!” alias kabur. Haha

Itulah seuntai pengalaman yang kami rasakan sebagai tukang urut kampung gono-gini.

Hari ini, kami mendapatkan pesanan tugas mengurut salah satu pasien di kampung seberang. Seperti biasa, kami berangkat menggunakan si jagur motor revo biru yang udah hampir 1 tahun ga gue cuci. Gue sengaja ga mencuci si jagur, soalnya menurut mendiang kakek gue, kalau seandainya jagur dicuci, maka kemampuan mengurut yang gue miliki akan hilang. Dan kalau sudah hilang, gue harus betapa di gunung berapi selama setahun. Ga boleh makan dan ga boleh minum. Waduh, ngeri juga yaa ancemannya. Itulah mengapa si jagur ga pernah gue cuci hampir setahun. Jadi, ga heran kalau motor gue ini udah kayak motornya tukang bawang. Haha

Perjalanan setengah jam kami tempuh. Motor yang ditigalin, memang ga akan pernah bisa bohong. Padahal gue udah ngegas full lho.Tapi, tetap aja fakta berbicara lain. Kalau si jagur emang udah angkat tangan menampung tiga tukang urut yang badannya mirip kuproy yang ga berperikemotoran.

“Udah sampe nih…” Gumam gue sembari turun dari motor.
“Bener ga nih, bos alamatnya?” Tanya Idham…
“Ya, benerlah. Mana mungkin salah…”
“Udah bos, kita langsung masuk aja.” Ujar Miftah.
“Ya udah, lo panggil dah!”
“Assalammu’alaikum… assalammu’alaikum.” Salam Miftah.
“Wa’alaikumussalam.”

Wow… Luar biasa bukan kepalang. Yang keluar cewek cantik, bro. Gue perhatiin dari ujung rambut sampe ujung kaki, kaga ada cacatnya sama sekali. Waduh, kalau yang ini minta urut sama agen gue, ga usah dibayar; gue rela dah.

“Permisi, mba. Kami dari agen Pijet Sabeni…”
“Oh, iya iya silahkan masuk. Bang, kalau pijet bagian sini bisa, kan?”. Sembari memegang pundaknya yang tak tertutup sehelai benang pun. Karena tuh cewek pas keluar pake baju yang kaga ada tangannya.
“Oh, bisa mba… bisa banget.” kami menjawab serentak, seolah merasa senang.
“Kalau bagian yang ini, bang?” Sambil menunjuk ke arah pahanya yang mulus.
“Wah… apalagi yang itu, mba. Bisa banget.” Jawab Idham.
“Iye, mba. Pokoknya kita mah tukang pijet multi talent. Bagian apa aja bisa kita kerjain.” Serobot gue menambahkan…
“Oh gitu yaa… Ya udah, tunggu sebentar ya, bang!”
“Kita main pijet-pijetan dimana, mba?” Tanya Miftah.
“Di sini aja…” sambil menunjuk teras rumah dan ia beranjak ke dalam.
“Oke siap, mba.” Idham langsung gelar tiker yang dibawanya di depan teras.
“Eh, tapi apa ga malu ngurut cewek di teras rumah kayak gini? Kan banyak orang yang lewat, bro”. Miftah bertanya sembari melihat situasi.
“Ahh bodo amat! Yang penting hepi. Hahaha, asik. Pasien kita kali ini cantik bin demplon.” Idham kesenangan.
“Hm.. ya udah… Bos, kita berdua aja ya yang ngurut?” Pinta Miftah memelas.
“Aelah… Giliran yang begini aja, pada rebutan lu. Lagian emang lo udah lulus belajar ngurut sama gue? Hah? Belum, kan?” Gue menodong pertanyaan.
“Belum sih, bos. Tapi, kan kita udah 25 tahun jadi asisten bos. Masa kita ga pernah kebagian ngurut…” Protes Idham ke gue.
“Woy… umur lu aja baru 20 tahun!”
“Oh iya, bos lupa… haha”.
“Ya udah, kali ini gue ijinin lu berdua buat ngurut.”
“Hahaha, makasih, bos…” Mereka berujar serentak.
“Iye… Dasar mata keranjang lu!”

Beberapa saat kemudian, cewek cantik tersebut keluar dengan membawa seorang kakek tua lagi kerempeng.

“Bang, tolong pijitin kakek saya, ya. Kasian dia baru dateng dari kampung.”

Wajah mereka melongo kaget. Dahi mengerut, perasaan heran pun menyertai. Perlahan, bibir mereka terbuka seolah ragu berucap.

“bbbb-booss… kita ga jadi ngurut deh. Kepala kita mendadak pusing.”
“Hahaha… Makan tuh, kakek-kakek lumutan. Sono lu urut!” Tawa gue terbahak-bahak
“Yaelah, bos. Kita kan ga bisa ngurut.”
“Bodo amat, lu urus sendiri tuh kakek-kakek. Gue mau pulang dulu.” Gue langsung menuju motor dan pergi meninggalkan mereka.

Sementara, mereka tetap mengurut kakek tua tersebut tanpa bayaran. Hahaha pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini adalah, tukang urut kudu profesional. Siapa pun pasiennya, tetap harus dilayani dengan pelayanan prima. Emang enak lo ngurut kakek tua kaga dibayar pula. Sukurin!

Cerpen Karangan: Tara Prayoga
Blog: taraprayogaipm.blogspot.com
Facebook: Tara Prayoga
Penulis bernama Tara Prayoga lahir pada 29 Agustus 1994 di Jakarta. Saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Pendidikan Agama Islam. Penulis beralamat di Jalan Benda Timur 1 Blok F37 No. 5 Desa Benda Baru, Pamulang-Tangerang Selatan. Kontak person bisa melalui nomor HP di 083873379838 atau Email : ipmawan.sejati[-at-]gmail.com

Cerpen Bukan Tukang Urut Biasa (BTUB) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biru Tua

Oleh:
– Angel’s View Si Adrian itu!! Tak bisakah tak menatap sinis terus terhadapku? Hanya karena aku tak sengaja menumpahkan minumanku ke catatan fisikanya. Walaupun sudah ku ganti dengan salinan

Butir Butir Memori yang Terlupakan

Oleh:
Namaku Elis. Setidaknya, itulah yang ku ingat. Sejak kejadian itu, aku tak mampu mengingat apa pun kecuali namaku. Aku bahkan tak tahu dari mana aku berasal, siapa orangtuaku, dan

Hantu Kemamang

Oleh:
Tegal, siapa yang gak tau kota tegal. Kota yang terkenal dengan jawa medoknya, ya. Dan disinilah kota tempat lima anak ini tinggal, Rono, caul, moso, indun dan dedy. Tepatnya

Komitmen Pria Berkumis Tebal

Oleh:
Kali ini seorang pria berkumis tebal akan pergi ke sekolah. Dia adalah lelaki yang sangat suka bereksperimen dengan hal-hal yang bisa dibilang anti-mainstream. Usianya sudah berkepala empat, tapi jangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Bukan Tukang Urut Biasa (BTUB)”

  1. Norwinda Ekasaptia Purnama says:

    gokil XD

  2. Soojunx says:

    kakeknya kenapa sih? encok pegel pegel linu?

  3. Hilma Aulia Andriani P says:

    Ha ha ha lucu ceritanya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *