Buku-Buku yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 28 March 2013

Malam semakin larut. Setiap malam, di saat orang-orang terlelap tidur, langit malam kota Gaston yang tadinya cemerlang dipenuhi oleh bintang-bintang, kini berubah gelap dipenuhi oleh sesuatu yang beterbangan. Apakah sesuatu yang beterbangan itu burung? Bukan. Itu bukanlah burung. Mereka memang beterbangan seperti layaknya burung. Banyak sekali jumlahnya. Mungkin puluhan atau ratusan. Tidak, tidak, itu terlalu sedikit. Bahkan mungkin mencapai jutaan.
***
Perpustakaan adalah tempat yang sering Zaky kunjungi. Sepulang sekolah dia selalu menyempatkan diri mampir kesana. Yeah, untuk sekedar baca-baca atau meminjam buku. Dia begitu mencintai buku. Jadi tidak mengherankan, dia selalu menjadi murid yang terbaik di kelas dan di sekolahya.

Devender. Itulah nama perpustakaannya. Perpustakaan terbesar, termegah, dan terlengkap di kota Gaston, tempat tinggal Zaky. Selain bangunannya mewah, jelas nyaman dan membuat Zaky betah. Perpustakaan ini terletak di pojok alun-alun kota Gaston. Devender dibangun dengan gaya Gothik Victoria. Terdiri dari tiga lantai dan memiliki tirai dinding dengan jendela yang besar.

“Selamat datang, Zaky!” Sapa Bu Ani, pemilik Devender, saat Zaki mendekatinnya yang tengah duduk dibelakang meja peminjaman buku.
“Ini, Bu, Zaky mau mengembalikan buku,” katanya sambil tersenyum. “Seharusnya buku yang Zaky pinjam ini dikembalikan kemarin, tapi Zaky sedikit lupa.
“Tidak apa-apa, Zaky, cuma telat sehari ini. Yang terpenting kamu bisa merawat buku yang kamu pinjam ini supaya tidak rusak.”
“Terima kasih, Bu Ani. Zaky berjanji tidak akan telat lagi sewaktu mengembalikan buku. Ehm… kalau tidak lupa lagi itu juga.” Guraunya.
Bu Ani tertawa mendengarnya. “Iya, terserah kamu saja.”

Kemudian pandangan Zaky tertuju pada sebuah surat kabar yang tergeletak diatas meja Bu Ani yang memuat judul berita: PERPUSTAKAAN DI SELURUH DUNIA SETIAP HARINYA KEHILANGAN BEBERAPA BUKU KOLEKSINYA.
“Boleh Zaky lihat sebentar surat kabar ini?” ujarnya seraya tangannya menunjuk kearah surat kabar itu.

“Owh.. ini, silakan.”
Zaky mulai membaca. Tatapan matanya menunjukkan keseriusan saat membacanya.
“Sungguh aneh,” gumamnya tiba-tiba. “Kenapa bisa sampai seperti ini?”
“Hei.. hei.. ada apa, Zaky? Tanya Bu Ani sambil mengernyitkan kening.
“Coba Ibu lihat artikel yang ini,” Zaky memberitahu dan menaruh surat kabar yang telah dia baca diatas meja menghadap Bu Ani. “Disini dikatakan sejak sebulan terakhir ini perpustakaan diseluruh dunia setiap harinya kehilangan beberapa koleksi bukunya.”
“Yeah.. Ibu tahu itu, Zaky. Perpustakaan Devender ini juga mengalami hal yang sama dengan perpustakaan lainnya diseluruh dunia.”
“Benarkah itu?”
Bu Ani mengangguk dan meneruskan bicaranya, “Buku-buku yang berada di lantai tiga setiap harinya berkurang. Bisa dibilang buku-buku itu menghilang.”
“Apakah Ibu sudah melaporkannya ke polisi?”
“Kemarin lusa Ibu melaporkannya. Tapi polisi tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak menemukan sedikit pun tanda-tanda adanya pencurian.”
Zaky berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau kita selidiki saja langsung, seperti yang sering dilakukan para detektif dalam film-film actions.” Kata Zaky, menjentikkan jari.
“Maksudnya?” Tanya Bu Ani tidak mengerti.
“Maksudnya kita melakukan pengintaiaan, nanti malam, dilantai tiga perpustakaan ini.”
“Ah, selama ini Ibu belum pernah berpikir kesitu. Kamu jenius, Zaky.”
Bu Ani dan Zaky saling pandang dan tersenyum.
***
Ruangan di lantai tiga Perpustakaan Devender pada waktu malam hari begitu suram, pengap, dan aneh. Bu Ani menyorotkan senternya kesana-kemari, nampak beribu-ribu buku berjejer-jejer diatas rak, sepuluh buah meja panjang dengan kursi-kursi disekelilingnya. Bu Ani segaja tidak membiarkan lampu diruangan lantai tiga menyala. Alasannya agar mempermudah pengintaiannya.

Bu Ani dan Zaky bersembunyi dibalik rak dekat pintu masuk. Sudah satu jam mereka berada disana tanpa membuat suara-suara. Selama itu, mereka tidak melihat keistimewaan atau gerak-gerik mencurigakan. Zaky menyorotkan senter ke jam tangannya. Rupanya waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam.

“Di sini mungkin sudah tidak ada apa-apa,” bisik Bu Ani. “Sebaiknya kita akhiri saja pengintaiaan ini.”
“Tidak, Bu. Kita harus terus melakukan pengintaiaan. Masih cukup banyak waktu sebelum matahari menampakkan dirinya.” Zaky mengusulkan.
“Sudahlah, kita ? Astaga, coba lihat itu, Zaky!”
Sesuatu yang aneh tejadi pada beberapa buku yang berada di rak dekat jendela. Buku-buku itu keluar sendirinya dari rak dan berusaha membuka jendela.
Setelah jendela berhasil dibuka, kemudian buku-buku itu keluar dan terbang meninggalkan ruangan di lantai tiga Perpustakaan Devender.
“Ayo, Zaky, kita ikuti kemana buku-buku itu akan pergi!” kata Bu Ani gelisah.

Keduanya segera berlari menuruni tangga. Langkah demi langkah, merekapun akhirnya tiba dipintu masuk perpustakaan. Bu Ani menarik tombol pintu. Begitu pintu terbuka, terdengar bunyi bergemerisik seperti kepakan sayap burung jauh di atas kepala mereka. Keduanya cepat-cepat mendongak, kemudian meneguk ludah karena merasa terkejut dengan apa yang telah mereka lihat. Banyak sekali buku-buku yang berterbangan.

“Ya ampun, buku-buku itu seperti jutaan barisan hantu yang melintas di atas kepalaku.” Kata Zaky. Giginya gemeletuk. Kegugupan luar biasa sudah mulai dirasakan oleh Zaky.
“Ibu pun berpikiran seperti itu juga, Zaky.” Kata Bu Ani dengan suara pelan. “Cepat masuk ke mobil Ibu. Kita akan membuntuti kemana buku-buku itu terbang.”
Bu Ani membuka pintu depan. “Cepat masuk, Zaky!”
“Iya,” kata Zaky sambil masuk kedalam mobil. Sementara Bu Ani mengambil tempat dibelakang setir.

Mobil itu melucur ke jalan kecil yang dikiri-kanan jalannya terbentang padang rumput yang luas. Lajunya cepat sekali. Bu Ani sepertinya tidak mau kehilangan jejak dari buku-buku yang berterbangan itu.
“Buku-buku itu sekarang berbelok ke arah timur, Bu.” Kata Zaky memberitahu.
“Sebentar lagi kita akan sampai di ujung jalan,” kata Bu Ani. “Setelah itu kita akan berbelok kesebelah kanan untuk terus mengejar buku-buku itu.”
Mobil membelok ke kanan. Jalanan yang dilalui oleh mobil yang ditumpangi Zaky dan Bu Ani kini meluncur menyusur jalan yang berkelok-kelok. Setelah melaju sekitar lima mil, mereka tiba di awal jalan yang bernama “Jalan Aghosh”. Jalannya berbatu-batu, sehingga laju mobil pun diperlambat. Selain itu, Jalan Aghosh begitu sunyi, sepertinya tidak ada pemukiman penduduknya. Semakin lama Jalan Aghosh semakin menampakkan kesunyiannya. Dikiri-kanan jalannya terdapat hutan yang begitu mengerikan bagi Zaky dan Bu Ani.

“Sepertinya kita sudah sampai di ujung jalan,” kata Bu Ani. Kita tidak bisa meneruskan perjalanan dengan menggunakan mobil. Jalannya begitu sempit. Kita harus turun dari mobil dan mulai berjalan kaki”
“Iya, benar,” kata Zaky setuju.

Dari kejauhan, buku-buku yang berterbangan itu ? dengan gerakan cepat ? sudah mulai menuking melakukan pendaratan. Zaky dan Bu Ani pun, dengan langkah panjang, bergegas mengikuti ke arah mana buku-buku itu melakukan pendaratan.

Setelah beberapa menit, setelah menerobos diantara semak-semak dan pohon-pohon, mereka tiba disebuah lahan luas yang diseberangnya terdapat sebuah pondok kecil. Lahan itu mampu menampung jutaan buku-buku yang tergelak diatas permukaan tanahnya.

Buku-buku itu bertumpukan dan berjejer tak beraturan di atas permukaan tanahnya. “Wow! Keren!” Kata Zaky takjub. Mulutnya pun menganga.
Zaky dan Bu Ani mulai melawati tumpukan buku-buku itu dengan langkah yang kecil.

“I-ini seperti sebuah labirin yang terbuat dari tumpukan buku!” Bu Ani tergagap-gagap.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan pintu pondok kecil itu.
“Permisi, apakah ada orang!” Teriak Zaky.
Menungu beberapa saat. “Sepertinya tidak ada orang, Zaky.” Kata Bu Ani.
“Tidak-tidak!” Zaky berseru. “Zaky mendengar suara langkah kaki dari dalam pondok ini yang sedang menuju kemari.

Pintu pondok terbuka perlahan-lahan. Dari dalam pondok itu keluar seorang lelaki tua yang bertampang lusuh yang berpenampilan seperti gelandangan dan agak bungkuk.

“Ada perlu apa kalian datang kemari?” Tanya lelaki tua itu menggeram.
Suaranya berat. Matanya seakan-akan menunjukkan kebencian. Dengan rasa takut, Bu Ani memberanikan diri untuk bicara kepadanya. “Saya mau bertanya, apakah buku-buku yang tergeletak di sana itu milik anda?” Bu Ani berbalik dan tangannya menunjuk ke arah buku-buku itu.
“Iya-milik saya-sekarang.” Bibir lelaki tua itu bergerak untuk menjawab pertanyaan dari Bu Ani.
“Sekarang? Apa maksudnya dengan ‘sekarang’? Anda berbicara seperti itu seolah-olah tadinya buku-buku itu bukan milik anda.”
“Tentu saja bukan. Saya mengambilnya dari semua perpustakaan yang ada di seluruh dunia.”
“Berarti anda pencuri!?”
“Saya mengambilnya karena saya kasihan pada semua buku-buku itu.”
“Lalu?”
“Sekarang sudah banyak orang yang tidak peduli lagi dengan perpustakaan. Akibatnya, perpustakaan sepi pengunjung dan buku-buku koleksinya hanya menjadi hiasan dan pajangan saja.”
“Bagaimana anda bisa membawa buku-buku itu kemari? Bagaimana caranya?”
“Saya melakukannya dengan sedikit keajaiban. Buku-buku itu saya suruh kemari.”
“Buku-bukunya berterbangan. Seperti itukah caranya mereka sampai kemari?”
Lelaki tua itu menganggukkan kepala.
“Dengan hilangnya buku-buku tersebut,” lelaki tua itu melanjutkan, “keberadaan perpustakaan akan di ingat kembali oleh orang-orang yang ada di seluruh dunia. Tapi jangan khawatir, saya akan mengembalikkan semua buku-buku itu ketempat asalnya masing-masing. Dua mingguan lagi saya berniat mengembalikannya.”
“Baiklah, saya akan pegang kata-kata yang telah anda ucapkan barusan. Kalau anda sampai berbohong, saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke polisi.”
Lelaki tua itu malah tertawa. “Polisi tidak akan bisa berkutik jika harus berhadapan dengan saya.”

Tawa dan tampangnya sama-sama mengerikan, pikir Zaky. Setelah mendengar semua penjelasan dari lelaki tua itu, Zaky dan Bu Ani pun segera berbalik dan meninggalkan pondok itu.
***
Dua minggu kemudian, perpustakaan diseluruh dunia mulai kembali normal, buku-bukunya kembali dan tidak ada lagi yang hilang secara misterius.

Cerpen Karangan: Gusty Adya Herdy
Blog: http://indonesiasharklovers.blogspot.com

Cerpen Buku-Buku yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss Photo Box

Oleh:
Dipikiranku, dari dulu hanyalah Photo Box. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Aku terus bertanya-tanya Photo Box itu apa kepada diriku sendiri. Sampai saat ini, hari ini, jam ini,

Dunia Manisan

Oleh:
Dahulu kala ada seorang anak yang sangat baik dan pintar, namanya adalah ely, ely adalah anak yang sangat baik dan pintar. Suatu peristiwa terjadi Pada malam yang sunyi ada

Marcen (Part 1)

Oleh:
Ada ketukan di pintu kamarku. Aku mencoba bergerak dan keluar dari selimut, kucoba merengangkan otot dan merapikan baju. Langkahku gontai menapaki ubin dingin kamarku. Ya, aku ingat ini kamarku,

Asam Manis Masa Sekolah

Oleh:
Tahun 2054, dimana mesin-mesin canggih di dunia sudah berevolusi ke level yang lebih tinggi. Di depan cermin, berdiri seorang gadis dengan rambut lurus sepinggang yang cantik sedang bersiap-siap pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Buku-Buku yang Hilang”

  1. hantu_dumay says:

    ceritannya lumayan asik dibaca dan menegangkan

  2. nadia el haq says:

    oh buku buku……
    sungguh kasihan engkau….
    memang sama laki laki tua itu buku buku nya dibaca?
    bukunya dibesihkan?
    dan seberapa besar pondok itu?

  3. kayla says:

    Menegangkan dan saya kira buku itu dibawa hantu huuuuuu…..

  4. rizqi says:

    boleh minta resensinya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *