Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 27 December 2014

Sangat sulit menjelaskan mengapa aku sangat mencintainya. Kesempurnaan yang begitu nyata dari segi fisiknya. Namun, pengorbanan yang tak begitu tulus membuatku selalu mengalah. Tapi aku yakin suatu saat nanti dia pasti sadar betapa aku mencintainya, hingga membuatnya sadar betapa pentingnya sebuah pengorbanan cinta sejati.

Rafa, pacarku. Hubungan kita sudah berjalan selama 2 tahun. Tapi sifat buruknya tak pernah bisa berubah. Mungkin Tuhan sedang mengujiku untuk bersabar dalam menemukan cinta sejati yang sebenarnya.

Dia begitu mempesona. Tapi untung saja si Rafa tak pernah peduli rayuan-rayuan genit cewek alay. Terkadang dia juga sering bersama teman gadisnya untuk mengerjakan tugas kelompok dari dosennya. Aku percaya bahwa cintanya hanyalah aku.

Di kampus…
Aku menunggunya sudah labih se-jam lamanya. Mencoba untuk tidak berburuk sangka tentangnya. Dua gelas jus mangga sudah ludes kuminum tapi Rafa belum datang juga. Tak bisakah dia tepat waktu untukku.
“Maaf vin, aku telat” suara itu terdengar di belakangku.
“Eh, berapa lama kamu telat?” tanyaku tegas agak sedikit marah.
“1 jam 35 menit” jawabnya sambil melihat jam di tangannya.
“Plis Rafa, gak bisakah kamu menghargai waktu buat aku?”
“Clavin, maaf. Tadi aku harus cari buku buat tugas besok”
“Bahkan kamu tak mengajakku, padahal aku bisa saja membantu”
“Aku tak mau merepotkanmu! Udah lah vin, yang penting sekarang aku udah disini, di sampingmu. Lagian apa kamu tak mengerti pengorbanan waktuku ini, aku sudah membatalkan acara tour bersama teman-teman, tidak ikut lomba diskusi ajakan dosenku, bahkan aku rela tidak ikut kumpul di acara keluarga”
“Yeah, aku minta maaf jika mengganggu waktumu yang sangat begitu sibuk” sindirku
“Tak apa, untuk kali ini aku tak ingin berdebat denganmu”
Bayangkan saja, betapa dia sangat keji mengucapkan itu semua padaku tanpa harus menghargai perasaanku. Mengorbankan waktu saja, udah seperti bertaruh nyawa. Aku sama sekali tak mengerti jalan pikiran cowok ini, selalu menguji kesabaranku.

“5 menit lagi, aku ada kelas pak joko” katanya setelah berdiam agak lama.
“Ya, tak apa. Aku juga pengen cepet-cepet pulang” kataku pasrah.
“Mau aku antar?” tanya Rafa menawarkan.
“Tidak, aku bareng Levy aja” kataku menolak.
”Oh, ya udah hati-hati!” katanya sambil mencium keningku dan pergi menuju kelasnya.
Aku melihat kepergiannya dengan menahan air mata agar tak keluar di depan orang banyak. Sabar… sabar… sabar… Clavin.

Aku segera menuju kantin dan taman untuk mencari Levy, sahabatku. Setidaknya cuma dia yang selalu ada di dekatku disaat hatiku sedang seperti ini.
“Levy” aku langsung memeluknya saat kutemukan dia di sebuah kursi taman di dekat pohon cemara.
“Hmmm, kenapa lagi si Rafa? Nyakitin kamu? Ninggalin kamu?” tanya dia sambil mengusap kepalaku, bahkan dia sudah bisa menebak apa yang aku rasakan saat ini.
“Yeah, begitulah” jawabku, tetap menangis dipelukannya.
“Clavin, kenapa sih cowok kayak dia masih dipertahanin. Tinggalin aja dia, loe cari yang baru, yang lebih sayang ke loe dari pada si biangkerok itu”
“Aku sayang dia, Lev”
“Tapi dia gak bisa memperlakukan loe seperti bukan pacar kayak gini”
“Terus?” tanyaku menanyakan pendapat yang tepat.
“Yeah, loe cuma bersabar atau tinggalin dia dan cari yang baru” sarannya.
“Entahlah. Loe tau dia mengorbankan waktunya buat gue, udah seperti mengorbankan nyawanya aja” curhatku.
“Mungkin waktu untuk bernyawa, hahaha” ejeknya.
“Ih, jahat banget sih kamu”
“Sorry-sorry, gue bercanda! Pulang yuk, males gue disini. Kita ke rumah loe aja, ngampung makan siang”
“Yaelah, makan mulu yang dipikirin. Pantesan susah cari cowok, sapa juga yang mau sama kebo kayak gini”
“Ih, jahat deh. Dari pada kamu cantik-cantik bikin sengsara jiwa, raga dan batin, mending gue happy ending nantinya”
“Ok, bener juga kata loe. Ya udah kita pulang naik mobil gue” ajakku segera untuk tidak melanjutkan perdebatan yang menyakitkan ini.

Hari ini aku tidak ada kuliah, jadi bisa males-malesan di rumah. Levy tak bisa ke rumah karena ada acara sama keluarganya. Sedangkan Rafa belum tau ada dimana, Hp-nya juga belum aktif padahal dia juga gak ada kuliah hari ini.
Aku langsung pada kegiatan rutin pertama yaitu tawaf keliling rumah 7 kali, hitung-hitung olahraga pagi gitu deh. Lalu sarapan roti dan susu yang katanya bergizi banget untuk sarapan setelah olahraga. Mandi dulu, terus dilanjutkan pingsan di depan TV sambil menonton acara kesukaanku Si “Spongebob squerpants”.
Banyak orang bilang aku itu MKKB (Masa kecil kurang bahagia). Emang masa kecil doang yang harus bahagia, masa remaja juga boleh bahagia. Jadi aku masih boleh nonton yang beginian. Lagian selama aku sekolah dari SD sampai kuliah, gak ada tuh hukuman nonton kartun di usia remaja, atau peraturan kalau kartun hanya boleh untuk anak kecil. Jadi gak boleh ada yang ngelarang aku nonton kartun.

Hp-ku berdering tanda ada panggilan masuk. Kulihat nama si pemanggil yang sudah sangat kukenal. “Levy” , ada apa nih anak nelfon aku? Padahal sekarang kan dia ada acara keluarga jadi pasti ada acara makan-makannya. kalau gak ada acara makan, mana mungkin nih anak dateng.
“Halo, ada apa Lev?” tanyaku saat mengangkat telvonnya.
“Nanti malem gue ke rumah loe ya? Pinjem laptop, soalnya gue banyak tugas nih.. Santai aja nanti gue bawain kue banyak deh buat pesta kecil-kecilan”
“Ntar malem gue gak ada di rumah, gue harus ke salon buat perawatan kulit gue. Tapi gak apa-apa, nanti loe minta aja ke Bi atun nanti gue titipin sama dia”
“Yeah, gimana kalau gue temenin kamu ke salonnya?”
“Lho, katanya kamu lagi banyak tugas. Kok malah mau ikut gue ke salon? Tugasnya juga mau disalon apa?”
“Nggak sih, kan gak enak aja bawa laptop loe ke rumah”
“Udah, gak apa-apa. Inget ya, jangan sampe otak loe kriting gara-gara tugas”
“Yaelah, loe tuh jangan lupa otaknya di salon juga”
“Br*ngsek lo! Gue pecat jadi sahabat gue, baru tau rasa ya”
“Pecat? Dengan senang hati, dari pada jadi sukarelawan dengerin curhatan loe yang galau mulu mending pecat aja”
“Eh, jangan lah. Ya udah nanti laptopnya ambil aja ke Bi atun, gue ada kerjaan nih. Bye, Good days” kataku lalu mematikan telvonnya tanpa mendengar jawabnya.
Lalu kembali ke “Spongebob squerpants”, dari pada ngoceh sama Levy gak jelas itu. Tuh anak memang pinter dengan ide-ide gila yang keluar dari otak bulusnya. Sebenarnya dia sangat menyenangkan, asyik diajak ngobrol sama curhat tapi sedikit nyebelin.

Kring… kring
Kacau, Hp-nya bunyi pas di dekat telingaku. Aduh, nih anak bikin kesal aja. Gak tau apa kalau gue lagi sibuk melakukan aktifitas liburku, malah diganggu sama setan terkutuk si “Levy”. Awas aja kalau ngomong gak penting, gak bakalan selesai tuh tugas gara-gara gue gangguin juga.
“Aduh apa lagi sih Lev?” tanyaku kesal tanpa melihat nama si penelfon.
“Calvin, ini Rafa bukan Levy” suara seorang cowok di seberang sana.
Aku kaget, lalu kulihat lagi nama si penelfon untuk memastikan lagi kalau memang bener-bener rafa. Ternyata memang bener, ini Rafa. “Eh, Rafa. aku kira Levy. Maaf” kataku kemudian.
“Gak apa-apa, Kamu lagi apa Vin?”
“Nonton TV doang”
“Kalau jam segini pasti lagi nonton spongebob squerpants, bener kan?”
“Kok tau?”
“Kamu orangnya mudah ditebak, Vin. Sifat-sifat kamu yang lucu, konyol, dan unik yang bikin aku sayang sama kamu dan gak mungkin berpaling dari kamu”
Gombal.com
“Hmm, bisa aja kamu”
“Gimana kalau aku ajak kamu jalan-jalan, mau nggak?”
What? Gak salah denger nih?. Biasanya aku yang selalu ajak dia duluan kalau mau pergi. Kok sekarang malah dia duluan. Aneh.com. ada apa dengan dirimu sayang?. mencubit tangan sendiri, mungkin saja ini mimpi. Aww, ini nyata. Menghirup nafas dalam-dalam, keluarkan.
“Oke, dengan senang hati” jawabku riang gembira.
“Satu jam lagi aku sampai”
Telfon pun mati. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan badan sebersih dan sewangi mungkin. Lalu memilih pakaian yang paling bagus yang kumiliki, dan memakai sepatu yang agak anggun, lalu pakek make up setebal mungkin. Sekarang aku gak lebih seperti Luna Maya lah!.

Kurang lima belas menit lagi. Aku mengambil tas pink-ku satu-satunya lalu mengisinya dengan, handphone, parfum, tissu, bedak, kaca, lipstik, dan handbody lotion. Ini semua untuk jaga-jaga supaya kecantikanku tidak memudar. Hehehe

Bel pintu berbunyi.
Aku segera menebak kalau itu Si pujaan hatiku tercinta, Rafa. Kulihat dia berdiri di pintu. Aku segera membukanya. Senyum manis keluar dari bibir manisnya, membuatku selalu merasa mempesona akan keindahan wajahnya. Rafa menyodorkanku seikat bunga bermacam warna. Aku menerimanya dengan senyum tulus, walau sebenarnya aku tak suka bunga.
“Kita mau kemana?” tanyaku saat di dalam mobil rafa.
“Entahlah, gimana kalau ke Danau aja?”
“Ide bagus” kataku menyetujuinya, kemanapun kita pergi, asal kita selalu berdua, aku senang.

Perjalanan menuju Danau begitu sangat singkat. Obrolan yang menyenangkan, yang tak biasanya dia lakukan padaku. Tapi, aku tetap diam seolah menikmati, agar tidak mengganggu setiap detik keromantisannya.
“Raf… aku mau tanya sesuatu! Hitung-hitung uji seberapa besar cintamu padaku” kataku saat kami sedang mencari tempat duduk yang enak.
“Oke”
“Jika suatu saat nanti aku tenggelam di Danau ini, tak bisa berenang. Kau melihatnya, tapi pada saat itu kamu sedang ujian dadakan. Apakah kau akan menyelamatkanku?” tanyaku sambil menatapnya penuh arti.
“Apakah segitu kejam aku padamu? Sampai-sampai aku tak menyelamatkanmu” katanya seperti agak tersinggung.
“Bukan gitu. Tadi aku kan udah bilang kalau ini uji seberapa besar cintamu padaku”
“Aku pasti akan menyelamatkanmu. Karena nyawamu lebih penting dari segala hal. Aku akan selalu melindungimu walau pada akhirnya aku yang sakit, aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja, aku sayang kamu Vin”
Jawabannya membuat aku tersentuh. Aku kaget juga saat aku tau dia juga punya rasa yang sama sepertiku, dan akan mengorbankan segala demi aku. Dan satu hal lagi, jika suatu saat nanti kita benar-benar bersatu di hubungan yang lebih kuat dan erat, mungkin akulah orang yang harus sangat bersyukur memiliki laki-laki yang hampir sempurna seperti Rafa ini.
“Oh ya? Bagaimana cara kamu menyelamatkanku?”
“Dengan cepat aku memanggil penjaga danau ini untuk segera menyelamatkanmu”
“Kenapa kamu gak menyelamatkanku sendiri aja, tanpa pertolongan orang lain. Kamu bilang bilang akan selalu melindungiku tapi kenapa harus orang lain yang mewakilkanmu untuk melindungiku?” tanyaku agak marah dan kecewa yang amat sangat.
“Kamu kan tau sendiri Vin, aku gak bisa renang bahkan aku trauma ada di dalam air yang begitu dalam. Aku… aku takut Vin” katanya seperti membayangkan pengalaman yang begitu menyeramkan dan sangat menegangkan.
“Yeah, aku ngerti” jawabku pasrah.
Yang bener aja, aku kira dia akan bener-bener berkorban demi aku. Aku tau dia punya pengalaman buruk tentang air. Tapi bagaimana kalau suatu saat nanti tak ada orang di danau ini, dan cuma dia seorang. Argh… aku menyesal telah menanyakan hal aneh seperti ini padanya.
“Itu cara terbaik untuk keselamatan kita berdua kan?”
Aku mengangguk dengan senyum yang dibuat tulus. Keselamatan kita berdua? Kesalahan besar, yang ada itu hanya untuk keselamatannya sendiri. Terserah dia mau bilang apa, yang jelas jalan pikiranku tak pernah sama dengan jalan pikirannya yang aneh.com.

Cerpen Karangan: Fitri Chubby
Facebook: Vitri Ingiin D Saiiank

Nama Penulis: Fitri
Alamat: Situbondo, Jawa timur
pengalaman: Baru belajar jadi penulis

Cerpen Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ann

Oleh:
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya

Chip Robot (Part 1)

Oleh:
Malam ini aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar, di balik kelamnya ternyata menyimpan banyak pesona, jarang-jarang aku bepergian malam hari, ya aku sedang berjalan pulang ke rumah setelah tadi aku

Rio

Oleh:
Sudah terlalu banyak puisi yang kuciptakan untukmu Rio! Entah kenapa kau belum juga mengerti perasaanku. Tidakkah kau tahu bahwa di luar sana banyak yang menanti dan menungguku untuk hadir

Sang Dewa Kematian dan si Pengembara

Oleh:
Dulu disebuah desa terpencil konon ceritanya terdapat mahkluk yang mengerikan, ia dikenal warga sebagai Sang Dewa Kematian karena barang siapapun yang berhadapan langsung dengan dirinya orang tersebut akan mati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *