Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 27 December 2014

Aku duduk terdiam menatap danau yang indah sambil tidur di pundak Rafa. Aku merasa sulit untuk meninggalkannya, umpatku dalam hati. Dia mengusap rambutku dengan lembut, lalu mencium keningku.
Seorang gadis kecil yang anggun, lucu dan cantik menghampiri aku dan Rafa. Dia menatap kagum padaku, tapi tatapannya berubah jadi sedih. Aku mengajaknya untuk duduk lebih dekat denganku. Rafa menatap gadis itu penuh gemas.
“Hay, adik cantik! ngapain kamu disini?”
“Kakak begitu sangat serasi, tapi…” kata gadis itu tak meneruskan kata-katanya lalu menunduk kepala.
“Kenapa?” tanyaku lembut.
“Tapi kalian belum pernah berani berkorban satu sama lain. Kalian hanya tau bahwa pengorbanan adalah keegoisan semata. Dan itu adalah kesalahan yang sangat besar. Kalian selalu memikirkan kebahagiaan dan kepenting diri sendiri saja…”
“Jika suatu saat nanti kalian bersatu, kalian takkan pernah merasakan kebahagiaan sebuah keluarga. Dan jika kalian tidak bersatu, kalian berdua takkan pernah menemukan orang yang benar-benar tulus dan itu juga akan menghancurkan masa depan kalian….”
“Dari mana kamu tau?” tanya Rafa bingung.
“Aku melihatnya! Kalian harus tau dan merasakan pengorbanan cinta yang sebenarnya, itu sangat menyakitkan tapi akan berbuah kebahagiaan yang nyata…” kata gadis itu tersenyum tapi tatapannya tajam.
“Bagaimana caranya?” tanya Rafa ingin tau.
“Makanlah apel kuning mas ini, dan kalian akan dibawa ke alam dimana kalian akan diuji kebesaran dan kekuatan cinta kalian….”
“Tidak, aku tak percaya” kataku dengan menerima apel dengan warna yang sangat aneh.
“Aku adalah putri dewi cinta, ini memang mustahil di dunia tapi tidak untuk saat ini. Aku ditugaskan oleh bunda dewi untuk mencari sepasang cinta sejati, dan itu kalian. Percayalah! Makanlah buah itu, dan kalian akan pindah ke alam lain”
“Okey, aku akan coba. Bagaimana dengan kamu Raf?”
“Entahlah, apa yang akan kami lakukan di alam itu?”
“Kalian akan bertemu dengan dewi cinta, tapi kalian harus berjalan selama tujuh hari pada jarak yang sangat panjang. Kalian juga akan berubah pada bentuk yang berbeda, lelaki ini akan menjadi seekor singa, dan gadis ini akan menjadi seekor burung pipit yang bisa terbang tak begitu tinggi dengan sayap yang tak begitu kuat…”
“Dan yang harus kalian lakukan adalah saling melindungi satu sama lain. Perjalanan kalian adalah terus berjalan ke arah barat… Dan di depan dewi cinta, kalian akan berubah menjadi manusia lagi dan dewi cinta akan memberi kalian air keabadian cinta. Dan pada saat itulah kalian menjadi sepasang kekasih sejati…”
“Jika salah satu di antara kalian tak kuat untuk meneruskan perjalanan menghadap dewi cinta, tinggalkanlah pada tempat yang aman dan salah satu dari kalian harus tetap meneruskan perjalanan. Tujuh hari kalian tidak bisa sampai pada dewi cinta, kalian akan kembali dengan perasaan benci…”
“Oke, aku bisa” kata Rafa yakin.
“Makanlah buah itu, dan ikuti jalan merah ke arah utara ke pohon keabadian cinta yang daunnya berwarna kuning emas” saran gadis itu lalu menghilang tanpa jejak.
“Kemana gadis tadi?” tanya Rafa bingung.
“Entahlah, dia menghilang begitu saja”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Rafa menatapku.
“Makan apel aneh ini” kataku sambil terus menatap apel aneh.
“Apa itu benar-benar buah apel?”
“Kurasa begitu”
“Aku yang akan memakannya terlebih dahulu” kata Rafa sambil mengambil buah itu dengan cekatan lalu menggigitnya. “Enak” katanya saat menggigit apel itu lalu menyodorkan kepadaku. Aku juga ikut memakannya. Dan “Waw” ini memang sangat enak.
Tiba-tiba kepala kita berdua sangat pusing. Mataku lelah, lelah, lelah. Rasanya, aku seperti terbang ke awan yang begitu sejuk dan indah. Tentunya bersama Rafa. Tanganku tetap berpegangan kuat dengan tangannya.

Aku terbangun. Kulihat sekeliling penuh dengan pohon-pohon berbagai macam. Awan tampak sangat cerah. Kulihat tanganku penuh dengan bulu-bulu hitam. Dan aku memang berubah menjadi seekor burung.
Aku berdiri. Tanah yang kupijak berwarna merah, seperti darah tapi bukan darah. Aku mencari Rafa. Dia tidur agak jauh dari tempatku berdiri. Aku menghampirinya dengan berjalan karena belum terbiasa untuk terbang.
Rafa telah berubah menjadi seekor singa yang mengerikan. Aku sangat merinding saat membangunkannya. Aku takut kalau dia bukan Rafa yang sebenarnya. Aku mengusap kepalanya dengan sayapku.
Dia membuka matanya pelan sekali, lalu bangun dengan hati-hati. Dia melihat sekililing tampak amat bingung. Mungkin dia belum sadar apa yang telah terjadi. Lalu melihat perubahan badannya yang bukan manusia lagi. Dia menatapku.
“Clavin” panggilnya dengan suara yang amat berat dan menyeramkan.
“Yeah” jawaku singkat.
“Jadi aku gak bermimpi tentang gadis itu” katanya saat menyadarinya.
“Yeah, kita harus menghadap dewi cinta sebelum tujuh hari berlalu” kataku mengingatkannya.
“Iya, ayo ikuti jalan merah ini” katanya sambil berjalan mendahuluiku.

Aku pun berjalan mengikutinya. Langkahnya begitu besar hingga sulit untukku bisa mengejarnya. Tunggu, ada hal yang ganjil? Aku sekarang adalah seekor burung pipit, dimana seekor burung bisa terbang bukan berjalan seperti ini. Aku mencoba mengepakkan sayapku. Waw, aku terbang. Aku segera menyusul Rafa.
“Aku haus” kataku mendesah.
“Aku juga, sepertinya di ujung sana ada sebuah telaga jadi kemungkinan kita bisa minum disana”
“Aku bisa melihatnya terlebih dahulu, jika kau mengizinkanku”
“Tidak, kita kesana bersama” katanya tegas.
“Oke lah”

Aku terus berjalan menuju sebuah tempat seperti telaga dan itu searah dengan jalan merah ini. Dan memang benar, di situ ada sebuah telaga yang sangat jernih dan sejuk. Rafa berlari menghampiri telaga itu, sedangkan aku terbang. Kami meminum sebanyak mungkin agar tak merasa haus lagi.

Setelah selesai, aku melihat sebuah pisang yang sudah kuning. Aku memetiknya lalu menjatuhkannya sebanyak mungkin. Aku memanggil Rafa untuk makan pisang bareng.
Rafa senang melihat makanan sebegitu banyak. Dia mendekat lalu membuka pisang itu dengan mulutnya lalu memakannya. Aku lebih dulu darinya, bahkan satu pisang sudah hampir habis.
“Rasanya aneh, sangat tidak enak” katanya mengomentari.
“Tidak, ini enak sekali seperti pisang-pisang yang biasa kita makan dan ini jauh lebih enak” kataku.
“Mungkin selera makanku juga berubah”
“Yah, kau singa makananmu adalah daging. Kalau begitu, pergilah ke telaga itu lalu makan daging ikan yang ada di sana, setidaknya itulah daging yang bisa kau makan selain aku”

Begitulah hari-hari yang bisa kami lakukan untuk bertahan hidup. Sangat sulit untuk Rafa bisa makan enak. Bahkan terkadang seharian dia tidak makan, tapi dia menutupi laparnya untuk tetap tegar. Ini pengorbanan yang harus dijalani dengan berat hati.
Hingga di suatu hari, seekor singa lain menghajarnya karena tidak menjadikanku sebagai santapannya. Singa itu juga sangat kelaparan. Tapi dengan berani Rafa menolongku. Dia saling menghajar singa itu. Luka di sekujur tubuhnya. Aku hanya bisa membantu mencari obat-obatan herbal dari daun yang ada disini.

Ini adalah hari kelima. Keadaan Rafa sangatlah mengkhawatirkan. Sudah dua hari dia tidak makan dan luka-lukanya semakin parah. Jalan saja sudah semakin pelan. Aku tak tega melihatnya. Berkali-kali aku menyuruhnya istirahat. Tapi dia menolak, dia tetap terus berjalan agar lebih cepat sampai.
Aku membalut lukanya dengan dedaunan yang menurutku bermanfaat untuk lukanya. Dan sedikit demi sedikit lukanya mulai membaik, setidaknya dia cukup kuat untuk berjalan. Jika dia manusia, pasti wajahnya sangat pucat. Dia sangat lemah, belum lagi luka di perut dan kepalanya cukup parah.

“Raf?”
“Ya?”
“Sakit banget ya?”
“Begitulah, jangan terlalu dipikirkan” katanya berusaha untuk tenang.
“Kamu pasti lapar banget”
“Yeah”
“Raf, kalau kamu udah gak kuat meneruskan perjalanan ini lebih baik istirahat dulu sejenak. Lukamu sangat parah. Aku juga tau kamu sangat lapar dan itu sangat mebuatmu lemah”
“Vin, waktu kita cuma tinggal dua hari lagi dan perjalanan ini belum ada tanda-tanda mau sampai”
“Kalau begini caranya, aku yang gak kuat meneruskan perjalanan ini dengan melihat kondisimu yang sangat… mengkhawatirkan”
“Aku tau, aku masih kuat. Jangan khawatir”
“Raf, aku mau kau melakukan sesuatu untukku dan ini sudah aku pikirkan dan keputusanku sudah bulat”
“Apa?”
“Aku tau kau sangat lapar dan aku tak yakin dalam dua hari ini kau masih bisa bertahan hidup sedangkan kamu sangat lapar dan kesakitan. Raf… makanlah aku. Agar kamu punya tenaga lebih untuk bisa sampai di pohon keabadian cinta”
“Tidak, aku tak mungkin melakukan hal bodoh itu”
“Raf, aku mohon. Jika kau mati, aku belum tentu bisa sampai di pohon itu dengan selamat. Padahal masih banyak singa-singa kelaparan di sini, aku juga tak bisa terbang tinggi hingga dengan mudah membuat mereka bisa memakanku…”
“Dan jika kau yang hidup, setidaknya masih ada yang bisa menjadi saksi kepada dewi cinta atas pengorbananku untuk cinta kita. Makanlah aku, kecuali hatiku. Dan jika kamu sudah tiba di pohon itu, kuburlah hatiku di bawah pohon itu.”
“Aku masih kuat dan aku yakin ada cara lain untuk ini semua”
“Tidak, Raf. Pikirkanlah! Kita harus membuktikan kepada dewi cinta dan putrinya itu bahwa kita sudah melakukan pengorbanan yang lebih dari yang mereka harapkan. Raf, kau sudah terlalu banyak berkorban demi aku sedangkan aku hanya bisa menatap kepedihanmu. Aku tak bisa berbuat sesuatu, jadi makanlah aku.”
“Awww” Rafa berteriak histeris.
“Kenapa Raf?” tanyaku panik.
“Tidak… aku tak apa, hanya perutku sedikit nyeri” katanya lalu terus melanjutkan perjalanannya.
“Raf, makanlah aku. Dagingku akan membuatmu kenyang dan itu akan membuatmu kuat untuk sampai lebih cepat. Aku mohon Raf!!! Ikuti permintaanku ini!!!” kataku terus memohon dan memohon.
“Kau serius Vin?”
“Yeah”
“Baiklah, maafkan aku Vin”
“Tidak, tak ada yang salah atas pengorbanan ini. Raf, kau boleh makan aku. Tapi… jangan makan hatiku ya? Bawalah hatiku ikut bersamamu ke pohon itu. Setidaknya dengan begitu aku juga merasa selalu bersamamu. Kuburlah aku di bawah pohon itu pada malam hari sebelum hari ketujuh.”
“Yah, aku janji”
Dengan penuh pasrah Rafa memakanku. Sakit yang kurasakan, dan akhirnya rasa sakitnya hilang begitu saja. Rafa terlalu lelah dan kenyang, hingga membuatnya tertidur pulas. Aku merasa puas karena sudah melakukan hal yang benar untuk kebaikan bersama.

Aku terbangun. Lalu mencari sosok kecil yang sangat kurindukan. Tapi dia tak ada disini. Aku bingung, dan aku lihat sebuah hati burung dan darah di sekitar kakiku. Kini aku ingat bahwa aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku sudah memakan orang yang saat ini kuperjuangkan. Dan kini dia telah pergi. Aku menangis.
“Clavin, aku sayang kamu”
Tanpa berpikir lama, aku berlari dan berlari untuk bisa sampai di pohon itu sebelum pagi tiba. Tak memikirkan lelah, sakit dan haus. Janji tetaplah janji dan itulah janjiku yang terakhir untuknya. Aku harus melakukan permintaan terakhirnya.

Pada saat terbenamnya matahari, aku sudah sampai di pohon itu. Pohon berdaun emas yang kucari selama 6 hari ini. Aku mendekati pohon itu dan membuat lubang untuk mengubur hati Clavin. Aku menangis.
“Luar biasa, pengorbanan kalian sudah lebih dari luar biasa”
Seorang gadis memakai gaun putih. Rambutnya pendek, kulitnya sawo matang, dan dia sangat bijak. Aku tak menjawab dan terus memandang ke arah kuburan hati Clavin. Gadis itu menyodorkan botol kaca kecil berisi air berwarna kuning kepadaku.
“Minumlah setengah getah pohon ini dan siramkan setengahnya di kuburan itu” perintahnya
Aku menuruti perintahnya. Aku meminum getah yang pahit itu dan menyiramkannya ke kuburan hati Clavin. Aku mengelu-elus kuburannya dengan lembut seolah untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan tiba-tiba kulihat cahaya dari kuburan Clavin bersamaan saat aku berubah menjadi manusia lagi.
Seorang gadis duduk lemah di atas kuburan hati Clavin. Aku belum bisa melihatnya dengan jelas. Semakin jelas dan sangat jelas. Seorang gadis yang kurindukan dan tak bisa kupercaya atas penglihatanku ini.
“Clavin” aku memeluknya dan melihat dia tersenyum padaku.
“Kalian harus segera pergi ke pohon apel dengan mengikuti jalan kuning ke barat untuk kembali ke alam kalian semula sebelum terbit matahari karena esok sudah hari ke tujuh dan itu kesempatan baik agar kalian lebih cepat kembali ke alam kalian”
“Ayo Vin, kita akan segera pulang” ajakku.
“Tidak bisakah aku beristirahat sebentar, aku masih belum kuat berdiri”
“Aku akan menggendongmu”
Aku tersenyum simpul, “Dengan satu syarat?” kataku sambil tersenyum nakal.
“Kau harus melamarku”
“Itu yang aku pikirkan setelah lulus kuliah bulan depan”
“Janji?”
“Aku janji, aku sayang kamu. Kau lebih penting dari nyawaku, sayang” katanya seraya menggendongku untuk segera pergi ke pohon apel yang tak jauh dari pohon ini. Aku senang akhirnya kita sudah pernah saling berkorban yang begitu besar demi meraih cinta sejati. Dan akhirnya kita menikah sebulan setelah semua ini terjadi.

Selesai

Cerpen Karangan: Fitri Chubby
Facebook: Vitri Ingiin D Saiiank

Nama Penulis: Fitri
Alamat: Situbondo, Jawa timur
pengalaman: Baru belajar jadi penulis

Cerpen Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cup Cake

Oleh:
“Tiittt… tiiittt… tiiittt….” Suara jam weker membangunkanku. Ku raih dan ku matikan, ku lihat sebuah Cup cake dengan krim strawberry favoritku terletak tepat di sebelahnya. Sepucuk surat bersandar di

6 Tahun Yang Lalu

Oleh:
Pandangan cinta tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang melukis di halaman sekolah. Dia adalah raka. Seorang laki-laki yang sangat tampan dan juga menawan, banyak orang yang bilang kalau dia

Story of The Arthur Pendragon

Oleh:
Kau percaya pada neraka? Pada Karma dan segalanya? Well Arthur tidak percaya akan itu semua. Karena, hatinya sudah terlalu lelah menunggu saat-saat karma melaksanakan tugasnya dengan baik sedang sang

In The Illusion

Oleh:
Dunia begitu kejam. Tak peduli seberapa keras aku berusaha, dunia seakan-akan hanya menganggapnya sebagai angin yang berlalu. Aku menyerah. Aku sudah lelah. Aku sudah tidak kuat lagi. Buat apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *