Butir Butir Memori yang Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 28 April 2016

Namaku Elis. Setidaknya, itulah yang ku ingat. Sejak kejadian itu, aku tak mampu mengingat apa pun kecuali namaku. Aku bahkan tak tahu dari mana aku berasal, siapa orangtuaku, dan bagaimana caranya aku dapat sampai di tempat ini, pulau kosong tak berpenghuni. Sudah tiga hari aku di sini, dan aku masih belum menemukan seorang pun. Aku begitu lapar, aku tak menemukan apa pun untuk dimakan. Sekalipun aku menemukan sesuatu, aku tak akan tahu apakah itu dapat dimakan atau tidak.

Setiap hari aku berjalan menyusuri pantai itu. Pantai itu awalnya nampak seperti pantai biasa, pantai dengan pasir putih, laut yang luas, udara yang menyejukkan, dan sebagainya. Namun suatu hari ketika aku berjalan masuk agak ke dalam, aku menemukan suatu keanehan –tumpukan tulang belulang. Aku bergidik ngeri, siapakah gerangan yang dapat menghabiskan makanan sebanyak itu? Sesaat kemudian aku mencium suatu aroma, aroma khas yang begitu familiar di ingatanku. Aroma itu membuat perutku yang telah berbunyi sejak tadi semakin meraung, semakin kencang, hingga aku pun terkejut olehnya.

Tanpa ku sadari, kakiku melangkah maju menuju sumber aroma itu. Aku tak sadar berapa lama aku berjalan, mungkin 5 menit, mungkin 10 menit, atau mungkin lebih. Begitu aku sadar, aku telah berdiri di belakang semak-semak, semak-semak yang tingginya bahkan melebihi diriku. Tak pernah aku melihat semak-semak setinggi itu, namun hal itu tidaklah penting saat ini. Yang terpenting adalah, apakah yang sedang mereka lakukan di sana? Apa arti teriakan-teriakan itu? Mengapa kedengarannya mereka sedang berpesta? Apa yang membuat mereka begitu bahagia? Tanpa sengaja, aku menginjak sesuatu di bawah kakiku. “Tunggu, apa ini? Aaaaa!!!” Tanpa ku sadari aku berteriak begitu kencang. Sebenarnya aku tak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, namun satu hal yang pasti: tubuhku terjaring dan tergantung di atas pohon. Teriakanku nampaknya cukup kencang, orang-orang yang tadinya sedang berpesta itu segera berbondong-bondong mendekatiku.

Aku begitu takut. Sangat takut. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku berusaha untuk tetap berpikir positif. Aku terus mengulang-ulang kalimat itu dalam benakku. “Mereka hanyalah penduduk di pulau ini. Mereka pasti mengira aku hewan liar yang baru saja terperangkap. Ketika mereka tahu aku ini manusia seperti mereka, mereka akan melepaskanku. Ya, pasti begitu.” Setidaknya itulah yang ku pikirkan selama beberapa saat. Kalimat-kalimat yang terus berputar dalam benakku tersebut langsung pecah begitu saja ketika aku melihat orang-orang yang menghampiriku itu. Sebentar, apakah ‘orang’ memiliki rambut tebal di sekujur tubuhnya, kulit hitam, dan tinggi lebih dari 7 kaki? Lalu, apakah mereka ini?

Mereka berteriak dan bersorak-sorai dengan sangat gembira saat melihat diriku. Di saat yang bersamaan, mereka menatapku dengan tajam. Aku merasakan sesuatu yang aneh dengan tatapan itu. Tatapan itu nampak seperti ingin membunuh, bagaikan seekor predator yang sedang menatap mangsanya. Lalu, apakah aku ini mangsanya? Pikiran yang terlintas di benakku itu langsung membuatku bergidik ngeri. “Mmm.. Apa yang sedang kalian lakukan? Kalian akan membawaku ke mana?” Aku terus bertanya, namun mereka tak menjawab sepatah kata pun untukku. Mereka kemudian mengangkatku dan membawaku masuk ke dalam pelosok pulau yang gelap. Setelah beberapa saat, mereka menghempaskan tubuhku dengan kencang ke tanah. Tubuhku seakan remuk, rasa sakit yang membuatku sesak, begitu sakit –bagaikan dilemparkan dari atas tebing yang curam. Aku semakin takut, sangat takut. Kini aku cukup yakin bahwa mereka telah menganggapku sebagai mangsa. “Tolong aku!!! Tolong! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!!!” Aku berteriak. Aku menangis. Aku meraung-raung ketakutan.

Hingga pada akhirnya, aku menyadari bahwa yang ku lakukan itu hanyalah sia-sia belaka. Pada akhirnya, aku hanya diam dan pasrah. Aku sadar, apa pun yang ku lakukan tak akan membuahkan hasil. Mereka meninggalkanku selama beberapa saat, meski masih ada beberapa yang menjagaku. Tak lama kemudian, mereka kembali. Kini mereka kembali dengan membawa sesuatu. Tangan mereka menggenggam sesuatu dengan erat –pisau dan tombak. Saat itu juga, aku yakin betul bahwa akulah mangsa mereka. Mereka semakin mendekatiku. Pisau-pisau dan tombak-tombak itu mereka angkat tinggi-tinggi, siap untuk menusukku. Aku sudah siap, aku tak peduli lagi. Toh, aku juga tak tahu bagaimana caranya untuk kembali.

Aku memejamkan mataku, menunggu ajal menjemput. Tak lama kemudian, aku mendengar suara auman, auman itu entah mengapa terdengar familiar. Kemudian aku membuka mataku secara perlahan. Aku begitu terkejut dengan kejadian yang berada di depan mataku. Seekor harimau besar berwarna oranye dengan loreng-loreng cokelat di sekujur tubuhnya sedang mengejar dan mencakar ‘orang-orang’ yang tadi membawaku ke sini. Aku tak tahu, apakah harimau itu berusaha menyelamatkanku, atau ia sedang kelaparan dan berusaha mencari makanan di sini? Dengan perlahan, ku coba melepaskan diri dari jaring yang sedari tadi membelenggu tubuhku. Ketika jaring itu hampir lepas, harimau itu berjalan ke arahku.

“Tidak, tidak, jangan mangsa aku. Tolong..” Aku memejamkan mataku dengan erat, tubuhku terpaku di tempat. Meski kelopak mataku tertutup, aku dapat merasakan bahwa harimau itu masih berada dekat denganku. Jaring yang awalnya membelenggu tubuhku kini terlepas. “Tunggu, harimau itukah yang melakukannya?” gumamku dalam hati. Harimau itu menatapku dalam-dalam. Namun tatapan itu tidak membuatku takut. Sebaliknya, tatapan itu memberiku kehangatan. Harimau itu seakan berkata, “Tenanglah, kau aman di sini.” Setelah menatapku sebentar, harimau itu kembali menerkam ‘orang-orang’ yang berada di dekatku.

Tiba-tiba, berbagai macam adegan seperti potongan-potongan memori terputarkan di dalam pikiranku. Aku seakan-akan melihat seekor harimau yang sedang terperangkap. Harimau oranye berloreng cokelat itu meraung kesakitan. Aku berjalan mendekatinya, saat itu ku dapati bahwa kaki depannya telah tergores luka yang cukup dalam. Aku berusaha untuk menyentuhnya, namun jaring itu menembus melewati tanganku dan harimau itu seakan-akan tidak menyadari kehadiranku. Tak lama, ada seorang perempuan yang berusaha melepaskan harimau itu dari jeratan jaringnya. Wanita itu, nampaknya ia seseorang yang ku kenal. Ia nampak seperti.. diriku?

Kini aku mengingat kembali jati diriku. Aku adalah seorang peneliti. Aku datang ke pulau ini karena diberi misi untuk meneliti perilaku hewan-hewan liar khususnya harimau di alam bebas. Sebenarnya aku datang bersama teman-teman penelitiku dan akan kembali bersama mereka juga. Namun, tidak lama setelah kami berlayar pulang, badai mulai berkecamuk dengan kerasnya dan mengguncang kapal yang kami tumpangi. Ombak-ombak kian meninggi, kapal kami mulai goyah, hingga akhirnya kapal kami terbelah dua. Saat ini, aku tidak tahu bagaimana nasib rekan-rekanku.

Setelah kejadian itu, aku tak sadarkan diri. Mungkin aku terombang-ambing di atas sebuah kayu dan akhirnya terhempaskan kembali ke pulau ini, sehingga aku dapat selamat. Setelah ‘orang-orang’ itu berlari ketakutan, harimau tersebut kembali mendekatiku, dan kini ia duduk di sampingku. Dengan ragu, aku mengangkat tanganku lalu meletakkannya di atas tubuh harimau tersebut. Aku sedikit tersentak ketika menyadari goresan luka di kedua kaki depannya. Aku semakin yakin bahwa ingatan yang tadi terputarkan di kepalaku itu benar. Tak lama kemudian, aku mendengar suara bising dari atas langit. Ketika aku menengadah ke atas langit, aku mendapati sebuah helikopter yang sedang terbang tepat di atasku.

“Tolong, tolong aku!!!” secara insting aku berteriak dengan kencang meski pada akhirnya aku sadar bahwa teriakanku itu tidak cukup kencang sehingga dapat terdengar dari atas sana. Aku kemudian mencari-mencari apa pun yang dapat ku gunakan agar mereka dapat menyadari keberadaanku. Aku terus berlari, hingga tanpa sadar aku menendang sesuatu. Benda itu nampak seperti sebuah keong raksasa. Aku kemudian mengangkatnya, mengamatinya, dan meletakkan benda itu pada mulutku. Aku meniup benda itu sekencang-kencangnya. Benda itu kemudian mengeluarkan bunyi yang sangat kencang dan melengking. Aku terus meniupnya semakin lama semakin kencang lagi. Pada akhirnya, helikopter tersebut menyadari keberadaanku dan kemudian turun secara perlahan.

Harimau yang sedari tadi berada di sampingku kemudian mendekatiku. Ia menghampiriku, menggosok-gosok badannya ke tubuhku dan menatapku untuk terakhir kalinya. Tak sempat aku memeluknya, harimau itu pergi dan berjalan ke arah hutan lebat di seberangku tanpa berpaling kembali. Helikopter itu menurunkan tangga kurang lebih 10 meter jauhnya dariku. Aku berjalan setengah berlari ke helikopter itu, namun karena kakiku yang begitu lemas, aku terjatuh karena tak mampu menopang tubuhku lagi. Dari atas helikopter, turun seorang pria paruh baya yang wajahnya tak asing bagiku. Sesaat setelah orang itu melihatku, matanya seakan berbinar dan ia pun langsung memanggilku dengan penuh rindu, “ELIS!!” Ia berlari dengan sigap ke arahku dan langsung memelukku. Pecahan-pecahan memoriku kembali menunjukkan sesuatu padaku. Ya, muka orang ini. Dia adalah rekan kerjaku sekaligus kekasihku yang ditugaskan ke pulau lain.

“Rai!!” Aku pun memeluknya kembali dengan erat. Kehangatan yang begitu ku rindukan membuatku menitikkan air mataku.
“Ayo kita pergi dari sini.” katanya padaku sambil mengusap air mata di pipiku. Ia pun mengecup keningku dan menopangku untuk bangun. Entah kelelahan entah terlalu bahagia, aku kehilangan kesadaran setelah kejadian itu. Saat aku bangun, aku telah berada di suatu ranjang putih dengan jarum infus di tangan kananku. Aku menoleh ke sisi kiriku dan mendapati Rai yang sedang duduk terlelap di sampingku. Wajah itu, wajah yang sama yang tak akan pernah ku lupakan. Aku mengusap rambut di keningnya sambil berbisik, “Terima kasih untuk segalanya.”

Cerpen Karangan: Jesslyn
Facebook: Jesslyn Tjioe

Cerpen Butir Butir Memori yang Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mermaid itu Ada? (Part 2)

Oleh:
Kami mulai menyelam. Sepanjang berenang sama sekali tak ada obrolan yang berlangsung. Aku jadi bingung, tapi terlalu malas untuk bertanya. Semkain dalam kami menyelam, semakin jarang kutemukan tanda-tanda kehidupan

Boneka Kayu

Oleh:
Rena telah menjadi teman baikku selama ini. Setiap hari aku selalu bermain dengannya. Paman Dani, ayah dari Rena pun sangat baik dan ia sudah seperti ayahku sendiri. Aku tinggal

The Magic of Dreamcatcher (Part 2)

Oleh:
“Bagaimana bisa dia kesini!?” Ratu terlihat sangat marah pada anaknya yang telah gagal menghalangi Andel untuk menginjak Andelion. Kepalanya terasa sangat sakit. “Maafkan aku, Ibu. Aku tak menyangka dia

Sakura Harumi

Oleh:
Namaku Violetta, panggil saja Vio. Ada siswi baru yang pendiam di kelasku ini. Dia bernama Sakura Harumi. Sifat dingin, cuek dan misterius, tapi dia cantik, cerdas dan juga kaya.

Malaikat Terkutuk

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah kerajaan Wington, turun seorang malaikat laki laki dari atas langit. Malaikat laki laki bernama Tragus ini adalah malaikat kuat dan perkasa, dia mempunyai hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *