Cahaya di Ujung Sana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 19 August 2019

Asap-asap rokok mengepul hebat, membumbung di udara lantas melebur bersama angin yang kemudian berdesir lembut.
Asap-asap kopi tak mau kalah. Ia berlomba-lomba mengepul ke atas sana. Berampur dan melebur bersama asap rokok dan partikel-partikel angin.
Sebuah tawa pecah. Kebahagiaan menyeruak.
Lima anak SMA itu tengah menikmati kebebasannya dari ingar-bingar angka-angka. Mereka bersepakat untuk kabur dari pelajaran matematika dan memilih untuk berleha-leha di sebuah lepau kecil depan sekolah.
Oleh mata telanjang, bisa dilihat bahwa mereka memiliki perwakan yang tinggi serta berisi. Kulitnya putih, parasnya tampan. Matanya selalu sukses memikat siapa saja yang menatapnya. Hidungnya mancung, bagai sebuah perosotan di taman kanak-kanak. Lalu mulutnya, berwarna merah bagai delima yang merekah.

“Eh bro. Ngomong-ngomong, yang di kelas apa kabar ya? Pada lagi mabok angka-angka kali ya, hahahaha.” Ujar Haikal diakhiri dengan tawa super renyah-nya.
Lagi-lagi, tawa kembali pecah. Tak hanya Haikal saja, kini Alvaro, Nathan, Dilan, dan Ge pun ikut tertawa.
“Kalau gue sekarang ada di sana, mungkin otak gue udah bucat, bro.” Nathan ikut berkomentar.
“Bener, mending gue main bola sampe 100 hari 100 malam nonstop daripada harus berkutat sama matematika,” timpal Alvaro.
Dan, semuanya satu per satu ikut angkat bicara. Membicarakan tentang mereka yang syukur-syukur sudah terbebas dari belenggu matematika.
Setelah semuanya telah angkat bicara, Nathan menggant topik. Ia meluncurkan lawakannya, membuat tawa lagi-lagi meledak.
Tapi, ada satu yang kini tidak ikut tertawa. Yaitu Ge.

Ada sebuah sinar di ujung sebelah barat, menyita perhatiannya. Sinar putih yang semula kecil, lalu bermetamorfosis menjadi besar lalu membesar hingga mega giga besar.
Dan entah mengapa, Ge sangat penasaran. Saat dirinya hendak menanyakan kepada keempat temannya apakah mereka juga melihat cahaya putih atau tidak, mulutnya tidak bisa berkata-kata. Sementara itu, teman-temannya seketika berubah seperti patung. Diam tak bergeming sekalipun. Seakan wantu berhenti.
Ge kaget bukan main. Ia berusaha menggerak-gerakan badannya, dan… bisa!
Tapi mengapa teman-temannya membeku, tidak bergerak bahkan tidak berkedip sedangkan dirinya bebas bergerak?

Bagai ada yang menghipnotisnya, Ge berjalan mendekati cahaya di ujung sana. Setelahnya ia berlari secepat mungkin sebab ia penasaran bukan main akan cahaya itu.
Belum sampai ia mendekati cahaya itu, dunia tiba-tiba mengamuk. Seperti dibolak-balikkan oleh Tuhan.
“Anjrit, ini gempa?” gumam Ge terkaget. Begitulah seorang Ge. Berkata kasar dan seenaknya memang merupakan kebiasaannya. Buruk sekali memang.
Tiba-tiba, pandangan Ge berubah menjadi hitam.

Ge membuka matanya. Kali ini tidak silau.
Ia tidak tahu ada di mana, yang jelas kini bau tidak sedap menusuk hidungnya. Menghunus-hunus hidungnya.
Ge mengedarkan pandangan.
“Ini kolong jembatan?” tanyanya pelan, pelan sekali.
Ia berjalan tak tentu arah, sembari menutup hidungnya. Bau yang menyengat ini sangat mengganggu Ge. Rasa-rasanya, ia ingin muntah hingga beribu-ribu liter muntahan.
Dan…
Ge menghentikan jalannya. Ia terkejut. Tenggorokannya tercekat dan mulutnya membentuk huruf O.
Pasalnya, ia melihat dirinya di sana. Di dekat tumpukan-tumpukan sampah. Memakai baju kumal yang tak layak pakai. Sedang memegang buku yang jeleknya minta ampun—bahkan lebih bagus bungkus gorengan.

Ge mendekati anak yang mirip dengannya. Setelah berada di dekatnya, anak itu menoleh. Pandangan matanya yang semula berpusat pada buku, sekarang beralih pada Ge.
Anak yang mirip dengan Ge itu menebar senyum.
“Hai.” Katanya pendek. “Kenalkan, namaku Ge. Aku di sini sedang belajar, berharap agar aku bisa menjadi orang sukses.” Anak itu mengulurkan tangannya. Rupanya namanya juga sama seperti Ge. Sama-sama bernama Ge.
“Andai saja aku bisa sekolah. Kau tahu? Dari dulu, aku sangat ingin sekolah. Kalau aku bisa, aku akan snagat bersyukur sekali. Aku rela mengorbankan satu paru-paruku demi sekolah. Sayangnya, tindakan itu konyol sekali. Tak ada yang mau membeli paru-paruku. Hahahaha,” Anak itu tertawa datar.
“Tapi, meski aku tidak bisa sekolah, bukan berarti aku harus menyerah bukan? Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju roma. Jadi, aku masih punya cara lain walau tidak dengan sekolah. Yaa… seperti ini contohnya. Aku harus belajar dari buku-buku bekas yang kuambil dari tumpukan sampah,”
Selesai anak itu berbicara, dunia kembali berguncang. Dalam sekejap, Ge sudah berada di lain tempat.

Di mana ini? Pikirnya seraya mengerlingkan matanya.
Sebenarnya, kalau boleh jujur, dalam hati ia masih memikirkan kejadian aneh tadi. Tentang siapa anak tadi sebenarnya. Mengapa ia belajar di kolong jembatan? Dan mengapa ia mirip dirinya sendiri?

“Ge, kamu sedang berada di masa depan. Ini masa depanmu.”
Tiba-tiba sebuah suara asing terdengar. Menggema. Menggetarkan hati Ge.
Ge semakin tidak mengerti atas apa yang sedang ia alami saat ini.
“Jalanlah lurus ke depan, lalu belok ke kanan. Kau akan menemukan dirimu di sana.” Lagi-lagi, suara itu berbicara.
Ge mencari-cari sumber suara, tapi sayangnya tidak ada orang di sekitarnya. Hanya ada jalanan beraspal rapi, pohon-pohon menjulang yang berdiri kokoh di setiap pinggir jalan, dan trotoar berwarna-warni.

“Gue di mana sekarang?” dahi Ge mengernyit. Berharap suara itu menjawab pertanyaannya.
“Kau ada di masa depan sekarang. Sekali lagi, jika kau ingin menemukan dirimu, jalanlah lurus ke depan lalu belok ke kanan saat ada jalan yang berbelok ke kanan.”
Ge pun melakukan itu secara tidak sadar. Ia baru tersadar ketika ia sudah berjalan lurus. Toh, nasi sudah menjadi bubur. Ge akhirnya melanjutkan perjalanannya.

Sesuai perintah, ia berbelok ke kanan saat ada belokan ke kanan.
Rupanya itu gang sempit. Ge berjalan snatai sembari bersenandung lagu Akad dari Payung Teduh. Itu lagu kesukaannya, karena maknanya dalam dan sangat berarti bagi seorang lelaki sepertinya.
Tapi, nyanyian dan langkahnya terhenti saat Ge melihat…
Ada seseorang di gang sempit itu, tidur di jalanan tanpa sehelai pun alas. Wajahnya tertutup topi kusam.

“Ini siapa? Ini gue? Ah sh*t, ga mungkin lah gue yang ganteng jadi gelandangan kaya gini. Cita-cita gue kan tentara.” Ucap Ge sembari melipat tangannya.
“Itu adalah dirimu, Ge. Percaya atau tidak. Maka dari itu, bukalah topi yang menutupi wajah seorang gelandangan itu.”
Tangan Ge spontan menyingkapkan topi itu dari wajah seorang gelandangan. Alangkah terkejutnya Ge. Karena, yang sedang tergeletak di jalanan gang sempit itu… Dirinya sendiri.
“Inilah kamu 6 tahun yang akan datang, Ge. Inilah masa depanmu. Kamu menjadi seorang gelandangan, yag tidak punya tempat tinggal. Orangtuamu bahkan sudah menyerah mengurusmu.” Suara itu terdengar lagi.
“Jika saja kamu dulu tidak bermalas-malasan, pasti kamu tidak akan menjadi gelandangan seperti ini. Pasti kamu bisa menggapai cita-citamu menjadi tentara, asal kamu gigih dan mau berusaha serta mau belajar.”
Sepersekian detik, sebuah cahaya menyeruak. Membesar dan membesar. Menyilaukan mata, membuat Ge menyipitkan mata sampai menutupnya.
Dunia berguncang kembali, lalu memuntahkan Ge ke tempat asalnya; lepau yang penuh dengan asap-asap rokok.

Waktu kembali lagi seperti biasa.
Asap-asap rokok kembali mengepul bebas, membumbung di udara. Disusul dengan asap-asap kopi yang tak mau kalah mengepul.
Ge membuang jauh-jauh rokoknya. Ia melemparkannya dengan sekuat tenaga.

“Ge, lu kenapa njir?”
“Ge kayanya lu kudu diruqyah deh.”
“Ge lu udah gesrek ya?”
Berbagai komentar melesat dair mulut teman-temannya. Tapi Ge tidak peduli. Kemudian ia menghampiri Bibi sang pemilik lepau depan sekolah dan membayar rokok serta kopi yang tadi telah ia konsumsinya.
Setelah itu, ia berlari meninggalkan lepau itu.
Keempat temannya, Alvaro, Nathan, Dilan, dan Haikal berteriak-teriak memanggil Ge namun Ge mengabaikannya.

Ge memanjat pagar belakang sekolah dalam satu menit. Rasa semangatnya berkobar hebat. Ia pun berlari ke kelasnya. Tak peduli ia akan dimarahi atau tidak, tapi yang jelas tekadnya sudah bulat. Bahwa ia ingin belajar. Bahwa ia ingin sukses.

Sementara di lepau depan sekolah, Alvaro, Nathan, Dilan, dan Haikal membicarakan tingkah aneh Ge.
Saat sedang membahas, ada cahaya tertangkap di mata Alvaro. Itu membuat Alvaro penasaran. Kemudian, waktu seakan terhenti. Dan Alvaro berjalan menuju cahaya itu.
Cahaya di ujung sana, cahaya yang sama dengan cahaya yang tadi membawa Ge. Cahaya yang sukses mengajarkan kita bahwa belajar itu penting untuk masa depan.

Dan satu per satu, semuanya mengalaminya. Setelah Alvaro, disusul oleh Haikal, Dilan, lalu Nathan.

Bandung, 10 September 2017

Cerpen Karangan: Creafids
Creafids (ig; mrnr_18), adalah seorang remaja penggemar sepak bola dan penyuka sastra. Selalu berdoa agar menjadi finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017 dan menjuarainya.
Dan, hobinya saat ini tidak lain dan tidak bukan ialah menyemangati dirinya sendiri.

Cerpen Cahaya di Ujung Sana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Imprecnable (Part 1)

Oleh:
Angin bertiup kencang menerpa pohon-pohon besar di malam yang amat gelap itu. Seorang wanita berlari dengan menggendong seorang bayi perempuan. Sementara bayinya terus menangis wanita itu tetap meneruskan pelariannya

Keluar Dari Tubuhku!

Oleh:
Perlahan-lahan, aku bisa merasakan di mana diriku. Bau obat-obatan, bunyi peralatan medis, dan percakapan beberapa orang di dekat tempatku terbaring. Tak ada lagi anesthetize, dan aku akan segera bangun

Diam Diam Suka

Oleh:
Namaku Angela Garavani S. Aku akrab dipanggil Angel. Ceritaku ini berawal dari aku duduk di bangku SMP. Aku sekolah di SMPN 1 CIKARANG UTARA. Aku mempunyai 2 sahabat yang

Si Anu

Oleh:
Hari ini seperti biasa, aku bertengger di tempat dudukku sambil membaca novel, aku malas mengoleksi eh maksudku mempunyai banyak teman, cukup mereka yang menjadi temanku. Novel Sherlock Holmes sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cahaya di Ujung Sana”

  1. moderator says:

    Tipe cerpen yang mengandung nilai nilai positif kehidupan… Keren! banyak bocah bocah bandel yang bisa dibikin insaf kalo kayak gini… ^_^

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *