Cerita di Balik Pemberontakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Dua buah menara pengawasan telah dibangun dengan megah di perbatasan utara dan selatan di Kerajaan Mosie Liname. Berkat seorang pemuda ajaib keturunan marga suci Novoselova, kerajaan yang dulunya tiada keistimewaan lebih dapat disulap menjadi kerajaan yang makmur. Populasinya memang tak begitu banyak —karena sering terjadi pemberontakan, entah oleh siapa, yang membantai satu klan secara masal— namun dengan kerja keras seluruh warga dalam membangun kerajaannya, membuatnya menjadi kerajaan maju seperti Kerajaan maju Obega Tiade.

Usia sang pemuda memang baru menginjak usia kepala dua. Cukup muda untuk seorang pejuang yang pernah memimpin 1000 prajurit dan pulang dengan hasil kemenangan. Itulah mengapa sekarang ia menjabat sebagai komandan di kerajaannya. Selain karena kelihaiannya dalam bertarung, ia juga sangat populer di antara gadis kerajaan. Membuatnya dijuluki sebagai Pangeran Bintang —walaupun dirinya bukanlah seorang pangeran.

Darko Novoselona adalah namanya. Tinggal bersama keluarga besarnya di sebuah mansion di dekat kawasan pertanian bagian timur. Walau dirinya seorang berpangkat komandan di kerajaan, ia tetap memilih tinggal di kandang sendiri—kecuali jika kerajaan sedang berada di masa gentingnya. Jika sedang ada waktu luang ia sering menghabiskan waktunya di bukit belakang rumahnya. Terkadang memainkan sebuah alat musik biola atau hanya menyenandungkan bait-bait nada yang ia karang sendiri.

“Komandan, kami menerima kabar bahwa regu delapan telah selesai menjalankan tugasnya. Besok mereka akan sampai di sini, beberapa terluka, tidak ada korban jiwa.” Seorang pemuda kurus tinggi tampak melapor pada Darko di ruangan pribadinya. Bercat coklat gelap, meja besar berdiri gagah di depan kursi kayunya, buku-buku tebal tersusun rapi di rak yang menempel di tembok, bahkan ukiran-ukiran akar mendominasi ruangan tersebut membuatnya terlihat anggun.
“Terima kasih, kau boleh pergi, laporkan jika ada informasi yang lain,” Darko yang duduk manis di kursinya memberi tanggapan dengan nada bijak. Terlihatlah kewibawaannya dari sorot matanya yang teduh.
“Baik,” si utusan pergi keluar ruangan. Meninggalkan Darko sendirian di ruangan itu. ia menghela nafas, memijit pelipisnya, dan memejamkan matanya. Kepalanya agak pening tampaknya.

Sang bayu mengalun lembut melewati pipinya. Rambut hitamnya yang agak panjang berkibar pelan hingga menutupi iris matanya yang berwarna keemasan. Matanya terbelalak kaget begitu benda lembab merah muda menempel di pipi kanannya. Itulah David, kembarannya yang begitu liar. Senyum lebarnya seketika terukir di wajahnya.

“Kamu ini, apa-apaan sih?!” seru Darko begitu benda menjijikkan itu telah lepas dari pipinya. Segera ia berdiri dari kursi itu dan bergerak menjauh dari kembarannya. “Lagian, masuk dari jendela lagi?!” sekarang kewibawaan Darko ta terlihat sedikitpun di sini.
“Hah~ kau ini gak seru,” keluh David. Ia menempatkan pantatnya di kursi kayu kakaknya. Mengambil dan membaca beberapa dokumen tak penting dari atas meja Darko. Sambil memonyongkan bibirnya ia melirik kakaknya yang kini tengah menatapnya tajam dengan aura membunuh di belakangnya.
“Kau ini! kaulah yang seharusnya membenarkan sikapmu,” ujar Darko kembali pada nada wibawanya. Ia mendekati adiknya, menyuruhnya untuk pergi dari kursi pribadinya saat ini. David menggelengkan kepalanya, tetap melirik Darko dan pura-pura membaca dokumen yang sama sekali tak ia mengerti.

“To the point saja, apa yang kau inginkan?” tanya Darko pelan. Kini dokumen itu telah kembali ke tempatnya semula. David menatap intens kakaknya, tetap memonyongkan bibirnya. “Aku mau memberitahumu sesuatu,”
“Aku tak berminat mendengarkanmu bercanda,” sela Darko yang sepertinya sudah mengerti alur pembicaraan David.
“Tidak tidak, kali ini aku serius,” air muka David kini berubah serius, memperlihatkan sorot mata keemasannya yang tajam. “Tadi, ketika aku di hutan, aku melihat beberapa orang yang mencurigakan. Kau tau mereka siapa? Mereka adalah orang-orang Vosga Riami,”
“Jangan bercanda, untuk apa mereka kemari?”
“Membunuh klan marga suci Novoselova,”
“Kubilang, JANGAN BERCANDA!” Darko menggebrak mejanya. Membuat beberapa kertas terangkat ke udara. Jika muka Darko yang kelihatan marah, David tetap memasang muka seriusnya.

“Untuk apa aku bercanda di saat seperti ini? aku mendengarnya dengan telingaku sendiri. Aku sudah memasang jebakan di beberapa sudut mansion. Avudim, Grischa, dan Andrey telah kuberitahu.”
“Tetap saja, jika ini benar aku takkan menurunkan prajurit untuk menjaga wilayah mansion kita. Ini adalah urusan pribadi, aku tak bisa mengataskan urusan pribadi—“
“Sekarang, KAU YANG JANGAN BERCANDA!” mata Darko membulat sempurna ketika David berteriak di depan mukanya. Darko menelan salivanya kasar.
“Pergilah, Dav, aku tak butuh leluconmu,”
“Tch, bocah!” dengan muka kesal, David pergi meninggalkan Darko. Melompat lewat jendela.
“Maafkan aku Dav, mereka sebenarnya adalah utusanku. Bukan dari Vosga Riami.”

Cerpen Karangan: Wiji Alvivira
Facebook: Wiji Alvivira

Cerpen Cerita di Balik Pemberontakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Bukan Ragaku

Oleh:
Seperti biasanya aku hidup dengan “Membosankan”. Kadang aku sering berimajinasi menjadi pria tampan, kaya, dan disukai banyak wanita. Tapi semua itu terhenti ketika temanku memanggil.. “Hai daffa melamun terus..”

Sang Blackfire dan Putri Salju

Oleh:
Di suatu kerajaan yang bernama kerajaan Damas terdapat sebuah peraturan dimana putri kerajaan harus menikah dengan saudara laki-lakinya. Sehingga hanya keturunan rajalah yang bisa berkuasa dan mengatur semua pemerintahan.

Biarkan Aku Membalas Kebaikanmu

Oleh:
Pria itu berjalan perlahan dengan tumpukan kayu bakar di punggungnya. Berat memang, tetapi ia tidak boleh kedinginan malam ini. Ia terus melanjutkan langkahnya, walau mulai tampak kepayahan. Menapaki jalan

Story In Los Angeles

Oleh:
Edward berjalan menerusuri trotoar jalan, ia menengok kanan dan kiri menuju apartemen yang tak jauh dari menara eifel. Ya! Edward baru saja pulang dari kuliahnya. Edward memasuki apartemennya, ia

Taman Rahasia

Oleh:
Hay namaku husnul. Orangtuaku meninggal 2 hari yang lalu sekarang aku tinggal bersama bibi jauhku, aku saja baru tahu kalau aku punya Bibi jauh di sini rumahnya sederhana tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *