Cerita Lo Nggak Lucu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 26 June 2017

Kenta berlari menembus pepohonan, di sampingnya ada Eka yang membawa tas yang cukup besar, membuat gadis itu cukup kewalahan.
“Sepertinya, kita harus mencari tempat untuk sembunyi,” kata Eka sambil sesekali melihat ke belakang, beberapa teroris yang berpakaian hitam terlihat mengejar mereka,
“Baiklah gue pikirin itu,” kata Kenta, dalam hati dia merutuki pengeboman yang terjadi beberapa saat yang lalu, ketika ia dan teman-teman sepasukannya sedang kembali dari medan perang, membuatnya harus terpisah dengan rombongan, bersama dengan Eka, gadis cerewet yang merupakan teman sekelasnya dulu, sebelum perang dengan teroris ini terjadi.
Sedangkan Eka, ia bersyukur karena mendapatkan pendidikan militer selama 3 bulan, sebelum akhirnya ia belajar menjadi seorang PMI. Kalau tidak, mungkin ia sudah tidak kuat berlari sejauh ini, dengan obat-obatanya

“Mereka kehabisan peluru,” ucap Eka saat ia tidak mendengar suara senapan lagi,
“Yah, setidaknnya kita sudah imbang untuk masalah senjata,” kata Kenta, di punggungnya ada sebuah senapan yang telah habis pelurunya.

Mereka terus berlari, sebelum akhirnya mereka berdua tersandung, lalu ditarik ke dalam semak semak.
Kenta refleks memukul orang yang menarik kakinya, dengan sembarang. Namun berhasil dielak dengan sempurna.
“Mentari?” ucap Eka saat menyadari orang yang menarik kakinya, Mentari mengangguk mendengar perkataan Eka.
“Lo berdua bikin kaget saja,” kata Kenta, sambil menarik tangannya lagi.
“ssst! Mereka datang” bisik Eden, pemuda yang menarik Kenta tadi.

Setelah terasa aman, keempat remaja itu lalu keluar dari persembunyian mereka.
“Bagaimana kalian bisa dikejar-kejar musuh?” tanya Eden, sambil memberikan peluru senapan pada Kenta, “Seharusnya mereka mengejar Mentari atau aku, kami kan kurir sandi,” ucap Eden.
“Entahlah, gue nggak tau Den,” jawab Kenta.
“Melihat keadaan ini, sepertinya kita harus balik ke markas,” ucap Eka, dan dijawab anggukan oleh ketiga temannya,
“Akan sangat berbahaya untuk melewati jalan di depan, terutama hutan lebat. Kita harus pilih jalan dimana nggak mungkin ada musuh di sana” kata Eden
“Gimana kalo ke sana?” kata Kenta sambil menunjuk ke arah belakang Eden, “Setau gue di sana mereka emang nggak bersiap buat perang, tapi kemungkinan besar di sana juga ada markas mereka,”
“Lebih baik begitu, kita ke sana saja.” kata Eden
“What? Ke markas musuh? Kita akan masuk lubang buaya!” kata Eka
“Mereka memproitaskan untuk menyerang daerah sekitar, mungkin ada sedikit orang di sana, menurut pengamatanku,” kata Mentari
“Kamu juga mata-matain mereka?” tanya Eka, Mentari menggeleng.
“Kami selalu melewati jalan-jalan anti maintsream saat bertugas, jadi kami pernah sesekali melewati pos-pos musuh,” ucap Eden

Mereka berempat lalu menuju ke arah kota yang sudah kosong itu, menurut pengamatan Kenta, dengan melewati kota itu mereka akan sampai di markas dengan cepat, kalau tidak ada halangan.
Beberapa musuh terlihat bersliweran, beberapa kali mereka harus bersembunyi. Kenta, Eden dan Mentari sudah biasa dalam hal bersembunyi, namun Eka kurang biasa. Jadi beberapa kali mereka menahan nafas dan mempersiapkan senapan untuk kemungkinan terburuk.

Kota kosong ini kemungkinan tidak lama ditinggalkan, beberapa bangunan masih mempunyai warna terang walau beberapa dinding terlihat berlubang dan rusak, mungkin kota ini diserang seminggu yang lalu.
Hujan lalu mengguyur, membuat mereka mencari tempat berteduh. Keempat remaja itu masuk ke dalam gedung mall, tempat berteduh yang terdekat dari posisi mereka.
“Ini pasti akan lama sekali,” keluh Eka,
“Mereka melakukan perang di bulan november, jadi wajar saja hujan sering turun.” sahut Mentari
“Kalau gitu, gue mau nyari ponco.” kata Kenta lalu masuk lebih ke dalam, diikuti oleh ketiga temannya.

Seperti biasa, Kenta dan Eka sesekali beradu argumen, sedangkan Mentari dan Eden memilih untuk diam. Seharusnya mereka menghentikan mulut kedua orang itu, karena mungkin saja ada musuh di dalam gedung mall ini. Namun mereka berdua juga tidak mungkin membiarkan “momen” saat mereka bertengkar lewat begitu saja, setidaknya mereka bisa melupakan peperang sebentar dan sedikit berkhayal kalau sekarang mereka hanyalah sekumpulan remaja berusia 17 tahun yang sedang jalan-jalan ke mall.

“Aku jadi ingat sebuah cerita,” kata Mentari, membuat ketiga temannya yang sedang mengambil ponco menoleh ke arahnya.
“Ada seorang tentara yang pernah tersesat di sebuah kota kosong, dia lalu berkeliling sebelum akhirnya masuk di dalam sebuah mall, di sana ia menemukan seorang anak kecil. Ia berniat untuk membawa anak kecil itu ke pengungsian lalu baru kembali ke markas. Namun sebelum si tentara dan di anak kecil itu meninggalkan mall, anak kecil itu membunuh si tentara,” ucap Mentari lalu membuka plastik pembungkus novel yang ia dapatkan dari tempat penjualan buku tadi.
“Kenapa? Apa dia takut kalau tentara itu akan membunuhnya?” tanya Eka
“Bukan, anak kecil itu membunuh tentara itu karena dia itu hantu,” jawab Mentari lalu membaca novel percintaan yang kontras sekali dengan cerita yang keluar dari mulutnya.
“Jangan membuatku takut!” kata Eka sambil menggoyang-goyangkan bahu Mentari.
“Gitu aja takut, dasar tikus” sahut Kenta lalu dibalas jitakan oleh Eka,
“Sudah-sudah, mending kita keluar” kata Eden

Ketika mereka berjalan melewati bagian Food store sebuah bayangan kecil berkelebat membuat Eka bergidik.
“Den, den, kamu liat tadi nggak?” tanya Eka sambil menggoyangkan lengan Eden yang berada di dekatnya,
“Dasar penakut,” sahut Kenta,
“Hei! Aku nggak takut! Cuma khawatir saja!” kata Eka
“Lalu apa bedanya? Ujung-ujungnya lo bakalan kencing sambil gemetaran,” ucap Kenta
“Enggak akan!” kata Eka,
“Aku mendengar suara,” ucap Mentari lalu menempelkan telunjuknya di bibir, isyarat untuk diam.

Kresek, kresek, kresek
“Itu mungkin suara tikus,” ucap Eden, “Aku akan memeriksanya,” ucap pemuda itu sambil mendekati sumber suara,
Saat Eden melihat apa yang berada di balik rak besar di depannya, pemuda tersebut lalu berteriak.
“Eka! Aku butuh bantuanmu!”
Eka langsung menghampiri diikuti oleh Kenta dan Mentari, ternyata di balik lemari besar itu ada dua orang anak kecil yang sedang meringkuk.
“Mereka demam,” ucap Eka, lalu mengubrak ngabrik tasnya,
“Tak ada gunanya, mana mungkin di medan perang ada pasukan yang tiba-tiba saja terserang demam,” kata Kenta
“Aku akan mencari obat di bagian apotik, mall ini cukup lengkap kan?” kata Eden lalu pergi mencari obat demam,
“Mentari, bisakah kau mengambil baskom, air dan handuk kecil?” kata Eka, Mentari mengangguk lalu pergi.
Eka merawat kedua anak kecil itu, demam mereka memang tidak terlalu tinggi namun tetap saja keempat remaja itu khawatir.

Salah satu dari anak kecil itu terbangun,
“Bagaimana keadaaanmu? Sudah Merasa baikan? Ada yang sakit?” tanya Eka, anak itu menggelang,
“Kakak, aku lapar,” ucap anak kecil itu,
Setelah memberikan pertolongan pertama, dan juga makanan. Mereka berempat mulai memikirkan cara untuk pergi sambil membawa dua anak kecil, bukan perkara mudah untuk pergi sambil membawa dua anak kecil, apalagi jika musuh tiba-tiba menyerang. Mereka harus fokus untuk mempertahankan diri dan kedua anak kecil itu. Dian dan Dion, nama mereka, umur mereka tidak lebih dari 10 tahun. Menurut penuturan mereka, kota ini sudah diserang seminggu yang lalu, dan saat evakuasi mereka terpisah dari orangtua mereka, sehingga hanya mereka saja yang terjebak di sini. Untungnya musuh tidak menggunakan bahan-bahan radioaktif saat menyerang, kalau tidak mungkin makanan yang ada di mall ini sudah terkontaminasi.

Kenta membuka makanan kaleng lalu memanaskannya menggunakan kompor listrik, Eka mengajak kedua anak kecil itu bermain, sedangkan Eden dan Mentari keluar untuk memeriksa keadaan.
“Ada musuh di bawah, mungkin mereka sedang berteduh juga,” kata Eden, saat mereka kembali
“Ada berapa banyak?” tanya Eka,
“Kurang lebih sepuluh orang, jadi apa keputusan kita? Kembali sekarang atau besok?” ucap Eden
“Kalau kita kembali besok, mungkin ada lebih banyak musuh, karena mungkin saja ada pasukan lain yang datang, usahakan jangan sampai kita kemalaman di sini,” ucap Kenta
“Kita bergerak saja sekarang,” kata Mentari sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya,
“Sekarang?!” ucap Eka kaget,
“Ini sudah jam 4 sore, masih ada 2 jam sebelum matahari benar-benar tenggelam.” sahut mentari
“Baiklah, ayo kita buat rencana,” ucap Eden.

Kenta mengamati empat orang musuh, sambil memegang ketapel, dia harus menumbangkan salah satu dari mereka, namun jangan sampai ia ketahuan. Matanya mencari cela untuk menembak, Ada dua buah lemari besar, dan juga langit-langit yang mulai roboh, mungkin jika ia bisa menembak dengan tepat di celah itu, langit-langit itu akan roboh dan menghantam lemari serta empat orang itu. Disaat-saat seperti ini, ketapel memang yang paling berguna, setidaknya mainan tradisional itu tidak banyak mengeluarkan suara.

Hanya dengan sekali tarikan, langit-langit itu roboh, menghantam salah satu dari musuh dan menjatuhkan kedua lemari, dua lainnya tertimpa lemari. Hanya ada satu dari mereka yang masih sadar.
“Bangunan ini, sudah tak layak pakai,” ucapnya, sambil memeriksa keadaaan teman-temannya.
“Pos 1 sudah beres?” tanya Eden melalui earphone
“Masih ada 1,” jawab Kenta,
“Ck! Mereka udah mati,” ucap lelaki yang selamat, ia lalu mengangkat lemari yang menindih satu-satunya teman yang masih hidup walau belum sadar.
Apa mereka benar-benar prajurit? Kenapa mereka nggak tanggap dan kuat? Batin Kenta, ia tidak mengerti kenapa musuh-musuhnya itu baru ditimpa lemari dan reruntuhan sudah KO, tapi ya anggap saja ini adalah keuntungan baginya.
Kenta mengambil pistolnya, lalu membidik.
DOR!

“Kak, apakah kita akan keluar?” tanya Dion, Eka mengangguk,
“Apakah di luar sana ada tentara? Ada perang?” tanya Dian, Eka memeluk gadis kecil itu, menenangkannya,
“Mentari, tolong urus navigasinya,” ucap Eden, Mentari mengangguk lalu masuk ke dalam ruang CCTV
“Den, apa menurutmu dia bisa?” tanya Eka ragu,
“Tentu saja, kita harus percaya penuh pada rekan kita,” jawab Eden lalu memberikan walkie talkie dan earphone kepada Eka,
“Kita harus merasa beruntung, mall ini memiliki semua yang kita perlukan,” kata Eden.

Mentari mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, serta menyalakan komputer yang ada di depannya. Sesekali matanya melihat ke dalam buku dan layar komputer, tangannya tidak berhenti dalam memencet tombol.
“Jalan aman, tidak ada musuh, Kenta bisakah kau pindah posisi?” ucap Mentari,
Setelah melumpuhkan musuhnya, Kenta berjalan ke arah yang diucapkan oleh Mentari, baru kali ini ia merasakan sensasi seperti di film-film aksi di TV.
“Kenta hati-hati! Ada dua orang di sekitarmu!” kata Mentari memperingati.
“Oke,” ucap Kenta sambil mempersiapkan senjatanya dan menajamkan indranya,
Kedua musuh itu berjalan berdampingan, mengawasi sekitar, mereka juga membawa senjata.
Mungkin tugas patroli, pikir Kenta,
Kedua anak kecil yang bersama mereka mungkin kelewat beruntung karena bisa bertahan di sini seminggu tanpa diketahuiu musuh.

Kenta menimang nimang, tidak ada benda yang bisa ia pakai untuk merobohkan kedua orang itu, jika ia menggunakan senapannya, mungkin ini akan menjadi pertarungan 2 lawan 1. Baiklah mungkin itu menarik.
Pemuda itu membidik, lalu melepaskan tembakannya. Tepat mengenai sasaranya, lengan musuhnya kini dibanjiri dengan darah, setidaknya satu dari musuhnya tidak akan bisa menggunakan senjata untuk menyerangnya. Temannya lalu menembak ke arah Kenta, Pemuda itu lalu berlindung sambil sesekali membalas tembakan musuhnya.
“Ini baru seru!” ucap Kenta.
Kenta memperhatikan sekitar, musuh yang tadi terluka karena tembakannya, dengan brutal berlari ka rahnya sambil menodong senjata tajam. Kenta menembaknya hingga jatuh,
“Benar-benar brutal,” ucap Kenta.
Kenta lalu menembak ke arah atas, tepat ke arah lampu besar hingga jatuh, musuhnya lalu menghindar dari lampu sambil tetap menembaknya. Pelurunya lalu habis, Kenta berdecak sebal, sepertinya musuhnya juga kehabisan peluru. Ia mendekati mayat temannya berniat untuk mengambil senjatanya, namun Kenta lebih dahulu sampai, ia dengan cepat mengambil senjata itu dan menembaki musuhnya.

“Bocah, habis ini ke mana?” tanya Kenta, saat musuhnya sudah roboh.
“Lurus, saja –Tiit!!!” Kenta lalu melepas earphonenya, saat suara dengungan itu sampai ke telinganya.
“Apa yang dilakukan oleh si datar itu?”

Dian memegang erat baju Eka, anak kecil itu sepertinya ketakutan, setelah mendengar suara tembakan yang berasal dari tempatnya Kenta, gadis kecil itu tidak henti-hentinya bertanya, kapan kita akan sampai? Berbeda dengan temannya, wajah Dion menegang, bocah kecil itu malah semakin waspada melihat ke sana sini, mencari sesuatu yang berbahaya di sekitarnya.

“Sembunyi!” komando Eden, keempatnya refleks bersembunyi, ada dua orang musuh di depan mereka, yang satunya membawa senapan sedangkan temannya yang lagi satu tidak membawa senapan, namun di punggungnya Eden dapat melihat jelas katana yang panjang dan siap digunakan kapan saja.
Disaat seperti ini, dia membutuhkan Kenta atau setidaknya Mentari, mereka berdua ahli dalam pertarungan jarak dekat, sedangkan ia lebih cocok dalam pertarungan jarak jauh.
“Kalian, carilah jalan keluar, aku akan mengalihkan mereka,” kata Eden.
Eka memandu kedua anak kecil itu, jantungnya tidak pernah berhenti untuk berdegup kencang, walaupun sudah pernah melihat medan perang, menurutnya inilah pertama kalinya adrenalinnya dipompa begitu cepat. Eka dan kedua anak kecil itu jalan jongkok di balik bak-bak tempat sandal obralan di dekat tembok. Sedangkan Eden, pemuda itu mulai fokus untuk membidik.
Dian tidak sengaja menyenggol bak dan membuat beberapa tumpukan sandal jatuh,
“Siapa di sana?!”
DER!
Eden, menembak membuat perhatian musuh beralih ke arahnya, Pria yang membawa senapan langsung menembak ke arahnya, Eden sesekali membalasnya, prinsipnya sekarang adalah membuat ketiga manusia yang ada di sana keluar dengan selamat.
Eden sesekali berpindah tempat sambil menembaki kedua pria tersebut,
Sial! Rutuk Eden, saat pelurunya sudah habis, tas senjatanya dibawa oleh Eka,
Sepertinya musuhnya juga kehabisan peluru, baguslah setidaknya mereka agak imbang.
Lelaki yang membawa katana, berjalan ke arahnya, oke ini baru sangat gawat. Mengingat kalau dirinya bukan ahlinya dalam pertarungan jarak dekat.

Mentari refleks menunduk ke bawah saat kapak itu dilayangkan kearahnya, salah satu musuh entah bagaimana bisa, mengetahui keberadaannya di sini, sengaja atau tidak.
“Ternyata ada segerombolan bocah di sini, pantesan anak buahku ada yang mati karena tertembak,” ucapnya,
Mentari mengambil tongkat besi yang ada di dekatnya, membuatnya sebagai pelindung dan senjata. Saat kapak itu dilayangkan Mentari menangkisnya lalu menendang perut orang itu secara bersamaan, ia terjatuh, kapaknya terpental dan mengenai layar monitor.
“Dasar bocah!” ucap orang itu sambil mendekat ke arahnya, Mentari memasang kuda-kuda, memukul orang itu menggunakan tongkatnya, namun tongkat itu ditahan dan dipatahkan oleh musuhnya,
“Baiklah cukup bermainnya nona,” ujar musuh,
Mentari melayangkan tendangannya, ditangkis oleh musuhnya. Saat melihat bayangan di balik pintu, gadis itu refleks menunduk, musuh yang ada di depannya lalu roboh.
Pintu lalu terbuka, Kenta meniup pistolnya layaknya seorang koboi di film-film.

Eden beberapa kali berhasil menghindar dari katana itu, beruntunglah kecepatannya dilatih sedimikian rupa, setidaknya lehernya selamat dari pisau super panjang itu. Teman si musuh dari belakang, juga datang menghampiri, sepertinya mereka akan bermain kroyokan.
Eden mengayunkan senapannya seperti musuhnya yang mengayunkan katananya, ujung senapannya lalu patah terkena katana, Eden menelan ludah.
“Rasakan ini!” teriak Dion sambil melempar sandal-sandal kearah musuh, anak kecil itu dengan sekuat tenaga melemparnya, di sampingnya ada Eka yang melempar sandal itu dengan membabi buta, sedangkan Dian bersembunyi dibalik punggungnya.
“Brengsek!” ucap si pemegang katana kosentrasinya terganggu,
Musuh yang membawa senapan berjalan ke arah Dion, Eka secara refleks menghalanginya sambil membawa sepasang sepatu berhak,
“Rasakan ini!” kata Eka sambil menyerang si musuh menggunakan sepatu berhak, harus diakui si musuh harus kewalahan menghadapi Eka yang menyerangnya membabi buta layaknya seorang gadis yang sedang marah-marah pada pacarnya, apalagi Dion melempar sandal kearahnya membuat kosentrasinya agak terpecah.
Sedangkan Eden, pemuda itu beberapa kali melahan nafas saat katana itu hampir menyentuh kulitnya, senapannya bahkan sudah tinggal sepertiga.
Suara tembakan disusul dengan suara langkah kaki menyelamatkan Eden, berkat tembakan jarak jauh Kenta, si pemegang katana dan temannya jatuh ke lantai.

“Oke, musuh beres, kita harus segera pergi,” ucap Eka, mereka berenam lalu keluar dari mall, dan dengan gerakan mengendap endap super cepat mereka berhasil melewati daerah itu. berjalan di daerah semak dan pepohonan selama 15 menit, Dion tidak henti-hentinya bercerita tentang perannya dalam melempar sandal tadi, anak kecil itu terlihat sangat bersemangat.

“Dion kalau sudah besar nanti mau jadi tentara?” tanya Eka
“Tentu! Nanti Dion mau nembak musuhnya kayak Kak Kenta!” ujar Dion sambil mengacungkan telunjuknya.

Setelah mereka sampai di pengungsian, kedua anak kecil itu mengucapkan terima kasih dan berlarian menuju ke arah ibu mereka. Keempat remaja itu melambaikan tangan ke arah si Ibu dan anak-anak mereka itu, sebelum akhirnya ke tenda tempat teman-teman mereka berada.

“Eh? Eden, Mentari? Kelian sudah kembali? Cepat sekali! Lho ada Kenta dan Eka juga?!” ujar Zen,
“Kau mungkin tidak akan percaya apa yang kami lewati tadi,” ucap Eden,
“Tadi rombongan kami terpecah lalu kami bertemu dengan kedua bocah ini,” kata Kenta
“Dalam perjalanan kami juga bertemu dengan dua anak kecil mereka kembar, namanya Dion dan Dian, kami menemukan mereka di mall dekat kota hancur sana,” lanjut Eka
“Hah? Tunggu dulu? Dion dan Dian? Maksudmu anak kecil berumur 10 tahun? Setahuku mereka sudah meninggal seminggu yang lalu, mereka tetanggaku dulu,” sahut Zen.
“Tunggu dulu, jadi maksudnya…” perkataan Eden menggantung, mereka lalu menyadari sesuatu,
Ketiga pasang mata itu lalu menatap Mentari yang sedang membaca buku dengan kesal,
“Cerita Lo NGGAK LUCU!”

Cerpen Karangan: Shanti Savitri Ni Wayan
Facebook: Yan Shanti

Cerpen Cerita Lo Nggak Lucu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unique Stories

Oleh:
“Hai mama.. Aku merindukanmu… kenapa aku tidak bisa melihatmu? Setidaknya hadirlah dalam mimpiku. Aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin memelukmu, mama. Jawab ma! Mama tidak pernah membalas suratku.. mamaaa!!!” Sudah

MyCerpen 4: Hantu Sepatu Baru

Oleh:
Hanya duduk sendiri dan tenggelam dalam buku Sastra, yang membuatku semakin ngantuk. Malam minggu yang cukup membosankan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Aku tidak datang mengapeli Devi

On Your Side

Oleh:
Jantungku berdegup begitu kencang saat aku melewati sebuah lorong di sekolah baruku. Aku kembali melihat tangan kiriku, di mana sebuah jam tangan hitam melingkar. Jarum pendeknya menunjuk angka 7

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Cerita Lo Nggak Lucu”

  1. Vira D Ace says:

    Gagal paham kak

  2. Seru eh cerpennya….

  3. Cicilia Rohmawati says:

    Bagus bangett ceritanya

  4. Nanda Insadani says:

    Haha, menegangkan sih. Tapi saya kok gak nemu ya apa inti dari cerita ini. Kurang paham apa yang ingin disampaikan.

  5. Rashif says:

    Meskipun rada membingungkan (saya bacanya sampe 2x), ceritanya bagus bgt

  6. IFA says:

    Ceritanya menarik dan saya bisa menangkap apa yang ingin disampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *