Chip 7 Juta Dolar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Aku dikejar oleh seorang yang tidak aku kenal. Dia seorang pria bertubuh besar dengan penutup wajah dan membawa sebilah pisau besar. Dia mengejarku hingga ke tengah hutan yang berada di belakang rumahku.

“BERHENTI SEKARANG JUGA, Noah!” teriak si pria gila itu.

Aku terus berlari sekencang cheetah. Mungkin tidak terlalu kencang, mengingat aku seorang per*kok. Aku tidak tahu sebab orang gila ini mengejarku. Dia bahkan tahu namaku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan alasan orang gila itu menangkapku. Yang jelas, aku terus berlari menjauh dari dia.

“Noah, berhenti! Saya tidak akan menyakitimu! Saya lelah mengejar kamu!” raung si orang gila itu. Kedengarannya dia kelelahan. Dasar orang tua!
“aku tidak akan berhenti sampai kamu memberiku alasan kenapa kamu ingin menangkap saya!” aku meraung di balik sebuah pohon besar.
“Tunjukkan dirimu, akan saya beri alasan kenapa saya mengejarmu.” katanya lemah.

“Apa yang kamu inginkan dari saya?!” tanyaku panik.
“Saya ingin chip yang kamu sembunyikan sejak sebulan yang lalu!” katanya.
Sial! Dia tahu aku menyembunyikan chip yang berisi data lengkap pengiriman nark*ba ke Malaysia dan jumlah uang jutaan dolar. Aku menemukan chip ini di rumah seorang bandar nark*ba paling terkenal di Asia Tenggara, Shahrul Azam. Dia orang Singapura.

“Saya tidak memilikinya, dasar kep*rat! Kamu salah orang!” kataku berbohong.
“Saya tahu kamu bohong. Cepat berikan chip itu, dan kamu tidak akan saya bunuh.” katanya.
“Saya tidak berbohong. Kalau pun saya berbohong, saya akan kembali berlari menjauh dan memberikan chip itu kepada polisi.” kataku menantang.
“Baiklah anak muda! Jika kamu ingin mati, tunjukkan dirimu! Saya tidak hanya membawa pisau. Saya membawa pistol juga, dan pelurunya akan bersarang di jantungmu!” katanya menggertak.

Aku mulai panik. Jika aku lari, aku akan ditembak. Jika aku menampakkan diri, chip itu tidak akan sampai ke tangan polisi. Tapi, aku berada di hutan, dan dia kelelahan. Tembakannya pasti payah. Aku memilih lari sekencang-kencangnya. “Hey! Jangan kabur, anak si*lan!” raung si orang gila itu sambil menodongkan pistolnya ke arahku dari kejauhan. Dia benar. Dia membawa pistol. Aku pun berlari zigzag, sambil bersembunyi di setiap pohon yang aku temui.

DORR!!!

Suara tembakan membahana di hutan. Tembakannya meleset jauh. Dia mengarahkan tembakannya ke arah pohon yang berjarak lima meter dari tempatku bersembunyi. Aku pun melanjutkan pelarianku.

DORR!!!

Suara tembakan yang lain, namun kali ini hampir mengenai pelipis kiriku. Aku masih hidup.

“Bisakah kamu menembak dengan benar, psikopat?!” kataku mengejek.
“Berhenti sebelum pelurunya mengenai kepala besarmu, Noah!” raung si orang gila.
“saya tahu nama kamu sekarang!” raungku sambil berlari, “namamu adalah kep*rat! Benarkah itu?!”
“itu namamu yang akan tertulis di batu nisanmu!” raungnya terpancing ejekanku.

“hey kep*rat! Kenapa kamu jadi loyo?!” kataku terus mengejek.
“kamu yang mulai kelelahan, dasar napas tembakau!” raungnya marah.
“napasku memang napas tembakau, tapi pikiranku bukan pikiran pil ek*tasi!” raungku balik mengejek.
“kemarikan chipnya, Noah!” raungnya dengan penuh kemarahan. Aku tidak menjawab.

Napasku terasa habis terus-terusan berlari dan bersembunyi menghindari tembakan orang gila itu. Ujung hutan hanya beberapa puluh meter lagi. Jalan raya sebentar lagi terlihat. Aku terus berlari tanpa berhenti. Orang gila itu sepertinya menjauh. Dia kelelahan mungkin. Di ujung hutan, terdapat sebuah pondok yang dimiliki oleh Pak Soleh. Dia mungkin bisa membantuku untuk meminjamkan pick up-nya, agar aku sampai di kantor polisi dengan cepat. Setengah jam aku berlari, akhirnya aku sampai di pondok Pak Soleh. Aku menggedor pintu pondoknya dengan keras.

“Assalamu’alaikum! Pak Soleh!” kataku dengan agak keras.
“Walaikumsalam.” sahut Pak Soleh, lalu membuka pintu, “Noah, ada apa? Kamu terlihat kelelahan.”
“Pak, boleh saya meminjam pick up Bapak? Ini darurat.” pintaku.
“Darurat apa, Nak? Ada apa ini?” tanya Pak Soleh keheranan.

“Saya dikejar oleh orang suruhan Shahrul. Bapak tahu kan siapa Shahrul? Bandar nark*ba.” terangku ringkas.
“Shahrul? Bagaimana kamu bisa berurusan dengan tukang madat itu, Noah?” tanya Pak Soleh khawatir.
“Saya menemukan bukti. Sebuah chip tentang daftar pengiriman nark*ba dan jumlah uang yang sangat banyak.” kataku.
“Baiklah, Nak. Saya cari kuncinya dulu.” kata Pak Soleh, dan langsung masuk ke dalam mencari kunci.

Dua menit kemudian, Pak Soleh kembali membawa kunci mobil pick up.
“Ini, nak. Mobilnya ada di samping pondok. Mungkin tadi kamu melihatnya. Hati-hati, Nak. Allah akan melindungimu.” kata Pak Soleh.
“Terima kasih, Pak!” kataku.

“Sama-sama. Ayo cepat, sebelum orang itu mengejarmu ke sini!” kata Pak Soleh.
“Baik, Pak. Assalamualaikum.” kataku sambil bersalaman dengan Pak Soleh.
“Walaikumsalam. Hati-hati, Noah!” kata Pak Soleh.
Aku langsung menuju mobil pick up hitam, yang terparkir di sisi pondok Pak Soleh. Dengan tergesa-gesa, aku menstarter mobilnya. Dari kejauhan, aku melihat pantulan dari orang itu dari kaca spion. Dia masih menenteng pistolnya. Mobilnya menyala, dan tanpa berlama-lama, aku langsung melaju dan memacu mobil dengan cepat.

DORR! DORR!

Rentetan tembakan hampir mengenai mobil ini. Orang itu tidak akan bisa merusak mobil Pak Soleh. Sepertinya aku aman. Dia menjauh. Aku pun memacu mobil Pak Soleh dengan sangat cepat. Di tengah perjalanan, aku menelepon Ayahku. Ayahku seorang polisi. Dia bertugas di Polsek Cipacing, daerah tempat aku tinggal.

“Assalamualaikum, Yah!” kataku ketika saluran telepon tersambung.
“Walaikumsalam, Noah. Ada apa? Kamu terdengar panik.” kata Ayahku.
“Ayah, aku lagi pegang chipnya Shahrul. Dia bersembunyi di Cipacing, seperti dugaanku. Aku butuh pengawalan.” terangku, “Bisakah Ayah melacak keberadaanku, agar bisa memberi pengawalan? Aku khawatir orang suruhan Shahrul mengejarku.”
“Kamu menemukan chipnya?” kata Ayahku terkejut, “Baiklah, Nak, anak buah Ayah akan melacak keberadaan kamu lewat nomor ponselmu. Ayah akan minta bantuan dari Polda untuk pantauan udara. Kamu baik-baik aja kan?”

“Ya, aku baik, Ayah. Cepat bawa polisi untuk mengawalku. Jarak menuju Polsek agak jauh. Aku meminjam pick up Pak Soleh.” kataku.
“Ide bagus, Nak! Ayah akan usahakan secepatnya.” kata Ayah, “Asep, kamu sudah merekam percakapan ini? Bagus. Noah, Ayah menyadap percakapan kita. Kami tahu keberadaan kamu. Polisi akan datang mengawalmu dua puluh menit lagi!”
“Baik, Ayah. Makasih. Aku tutup teleponnya.” kataku, lalu aku memutus sambungan teleponnya.

Aku memacu mobil dengan sangat cepat, agar cepat sampai. Jarak menuju Polsek agak jauh. Sekitar lima belas kilometer. Aku khawatir, orang gila itu membawa kendaraan dan menambah orang lagi untuk mengejarku. Sambil memacu mobil, aku mencari senapan di sekelilingku.

Pak Soleh adalah seorang pemburu burung, jadi mungkin saja ada senapan di dalam mobilnya. Beruntung, aku menemukannya di belakang kursi di sebelahku. Ada pelurunya juga di sana. Aku aman jika orang gila itu tiba-tiba muncul. Lima menit kemudian, kekhawatiranku menjadi kenyataan. Orang gila itu mengejarku dengan sepeda motor. Dia membawa temannya dua orang. Masing-masing mengendarai sepeda motor dan membawa pistol.

“Menepi sekarang juga!” raung si orang gila dari sisi kanan mobil sambil mengetuk kaca pintu mobil dengan pistol.
Aku memacu mobil dengan sangat cepat, tapi mereka lebih cepat, bahkan ada yang mendahuluiku. Orang itu menghalangi jalanku. Aku pun menyiapkan senapanku. Peluru sudah terisi. Aku membuka kaca pintu mobil, mengarahkan senapan ke sepeda motor yang menghalangi jalanku.

DORR!

Suara tembakannya sangat keras. Aku mengenai ban belakangnya hingga pecah. Dia tersungkur ke sisi jalan. Beruntung tidak aku lindas. Tapi orang gila yang sedari tadi mengejarku berada di sisi kiri mobil.

DORR!

Dia menembakkan kaca mobil hingga pecah. Beruntung, aku menunduk di saat yang tepat.

“Meleset lagi, kep*rat! Lihat caraku menembak! Temanmu tersungkur. Kau ingin mencobanya?” raungku mengejek.
“coba saja, anak muda!” dia balik meraung.
Aku membidik senapanku ke arah orang gila itu. DORR! Aku hanya mengenai kaca spionnya. Hampir mengenai tangannya yang sedang memegang pistol.
“Hanya kaca spion, anak muda! Bahkan tidak melukai saya!” dia mengejek.

DORR!

Suara tembakan keras itu mengenai tangannya yang sedang memegang pistol. Tembakanku kali ini tepat sasaran. Tidak sia-sia Ayahku dan Pak Soleh mengajariku menembak.

“AARRGGHH!!!” raung si orang gila kesakitan.
“Oh maaf, apa tembakanku tepat sasaran? Rasakan itu, Kep*rat!” ejekku.
Suara sirine terdengar dari belakang mobil. Akhirnya mereka datang. Aku selamat. Tapi, orang gila itu tampaknya tidak mau menyerah. Temannya kabur menuju hutan. Hanya aku dan Kep*rat itu sekarang. Aku harus menahannya sampai ke Polsek. Hanya beberapa kilometer lagi aku tiba di Polsek.

“Kau takut, Kep*rat? Teman-temanku akan datang mengawalku dan menangkapmu!” kataku.
“Tidak jika aku membunuhmu lebih dulu!” katanya dengan penuh amarah.
Aku menabrakkan mobil Pak Soleh ke sisi motor orang gila itu. Lagi-lagi tak disangka. Mobil polisi yang akan mengawalku ditabrak oleh sebuah mobil SUV hitam. Itu Shahrul. Dia mendekat menuju mobil yang aku kendarai.

“Hentikan mobilnya sekarang atau kamu akan mati!” raung Shahrul. Aku terus memacu mobil Pak Soleh hingga batas kecepatan yang bisa dicapai mobil ini. Tiga kilometer menuju Polsek, aku dihimpit oleh sepeda motor si Keparat itu dan SUV Shahrul. Suara helikopter terdengar di atas mobil. Aku kembali selamat.
“Harap pengendara sepeda motor trail berwarna hijau putih dan mobil SUV berwarna hitam untuk menepi dan menjauhi pick up hitam itu!” perintah seorang polisi dari helikopter dengan pengeras suara.

DORR!

Tembakan berasal dari mobil Shahrul. Tembakannya mengenai helikopter. Beruntung tidak mengenai mesin, helikopter pun terbang agak menjauh, namun aku sudah hampir tiba di Polsek. Blokade jalan pun dilakukan di dekat Polsek. Mereka memberiku jalan, namun tidak memberi jalan kepada Shahrul dan tangan kanannya. Aku masuk ke area Kantor Polsek dan memakirkan pick up Pak Soleh tepat di depan pintu masuk kantor. Aku langsung berlari menuju ruangan Ayahku, tanpa mempedulikan bagian pelayanan.

“Ayah! Chipnya aman. Ada padaku!” kataku setengah berteriak.
“Noah! Kamu baik-baik aja?!” tanya Ayahku cemas.
“Nggak terlalu baik. Beberapa kali aku hampir tertembak. Satu mobil polisi mengalami kecelakaan, karena ditabrak SUV Shahrul.” kataku tersengal.
“Yang penting, Nak, kamu selamat.” kata Ayahku lega, “Di mana chipnya, Noah?”
“Ini, Yah.” kataku setelah merogoh saku untuk mengambil chip dan menyerahkannya kepada Ayahku.

“Bagaimana kamu menemukan chip ini?” tanya Ayahku.
“Aku menemukannya,” kataku memulai, “Di sebuah rumah persembunyian Shahrul. Rumah kosong dekat kebun singkong Pak Deri, yang di belakang rumah kita. Aku menemukannya kemarin malam. Aku sudah curiga selama tiga hari belakangan ini dengan kegiatan yang ada di rumah kosong itu. Aku melihat sekilas wajah Shahrul. Awalnya aku tidak mengenalinya, sampai Ayah membawa sebuah poster DPO ke rumah.”

“Foto Shahrul. Jadi aku menyimpulkan bahwa orang itu adalah Shahrul. Jadi, kemarin malam, tanpa sepengetahuan Ayah, aku menyelinap ke rumah persembunyian Shahrul. Aku menemukan sebuah chip yang ada di sebuah laptop. Jadi aku melihat isi chip itu sebentar. Isinya daftar pengiriman nark*ba dan jumlah uang hasil penjualan nark*ba sebesar tujuh juta dolar amerika serikat.”

“Setelah aku melihat isi chip itu, aku mengambilnya. Itulah sebabnya semalam aku tidak pulang ke rumah. Aku bersembunyi di sebuah saung di tepi sawah. Setelah itu, aku lari menuju hutan dan menuju pondok Pak Soleh untuk meminjam mobil beliau. Aku berniat melaporkannya langsung ke atasan Ayah. Tapi tangan kanan Shahrul mengetahui aku mengambil chipnya dan mengejarku sampai sini. Jadi begitulah keteranganku, Ayah. Ayah sudah mencatatnya?”

“Ayah sudah mencatatnya, nak. Kamu memang anak Ayah yang sangat berani, Noah.” kata Ayah bangga, “Asep, tolong ambilkan minum untuk Noah. Deni, bawa tersangka ke ruangan saya!”
Aku pun duduk lemas di sebuah sofa di sebuah ruangan saksi. Aku benar-benar lelah. Awalnya aku berniat menyaksikan keterangan dari Shahrul dan tangan kanannya, tapi aku super lelah, jadi aku hanya duduk dan minum segelas air putih yang diberikan Pak Asep tadi. Lumayan untuk menyegarkanku.

Semoga saja, Shahrul dan tangan kanannya dihukum mati atas kejahatannya yang tidak bisa dimaafkan, karena telah merusak generasi muda bangsa ini dengan nark*ba yang dijualnya. Dan semoga saja, Indonesia bebas dari nark*ba. Aku akan memberantas peredaran nark*ba di negeri ini, meskipun aku bukan anggota BNN ataupun perwira polisi. Aku tidak peduli. Aku punya sertifikat untuk menggunakan senjata api, jadi aku akan terlindung dari hal-hal yang membahayakan seperti tadi. Ya, mungkin saja aku akan masuk menjadi anggota BNN, karena aku memang bertekad untuk memberantas para pengedar nark*ba yang ada di negara ini.

Cerpen Karangan: Kemal H. Ramadhan
Facebook: facebook.com/kemalramadhan17
Seorang penulis yang mencoba membuat cerpen bergenre fiksi dan fans berat J. K . Rowling. Peringatan: Cerita ini hanyalah khayalan semata. Ini juga adalah cita-cita saya sejak SMP, yaitu ingin menjadi anggota BNN. Saya mohon maaf karena cerita ini hanyalah sekedar hiburan saja, tanpa bermaksud menyinggung pihak tertentu. Sekali lagi saya mohon maaf jika ada hal yang menyinggung pihak tertentu.

Cerpen Chip 7 Juta Dolar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


And The Last Time in Madrid

Oleh:
Namaku Ran Junpei. Liburan semester ini aku sangat beruntung, mungkin, di karenakan ayahku memberiku sebuah tiket travel menuju Madrid. Aku sungguh kegirangan ketika beberapa lembar mendarat di tanganku. “Ayah,

Seseorang Di Atas Loteng (Part 3)

Oleh:
“Miyaaaa…” Dari balik pintu kamar terlihat seorang wanita memanggil sebuah nama dengan nada manja. Wanita itu mempunyai mata yang sama dengan nama gadis yang dipanggilnya barusan. Begitu ia melihat

Negeri Kurcaci dan Negeri Elf

Oleh:
Semua orang di Negeri Kunocio terdiam. Ratu Valikli sedang menderita penyakit Kertek, penyakit yang sedikit membahayakan. Tabib istana berkata, obatnya adalah bunga Vivilala, bunga paling langka yang sangat sulit

Titisan Leluhur (Part 1)

Oleh:
Kisah ini dimulai dengan Pertemuan Wahyu Prihatmaka dengan Laras Harum di Sebuah Bank Syariah Swasta di salah satu Kota di Binjai-Sumatera Utara Pada sekitar bulan Oktober tahun 2003. Wahyu

Dactylogram

Oleh:
Aku termenung melihat hasil forensik berupa sidik jari yang sedang aku pegang saat ini. Sidik jari ini merupakan sidik jari paling unik menurutku. Kau tahu mengapa aku memegang kertas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *