Chip Robot (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Aku terkejut saat melihat sepatu yang nampak baru berwarna cokelat itu pikirku langsung melayang dan berpikir itu adalah sepatu Kakakku yang pernah ditunjukannya.
“hei, sepatu apa maksudmu?” tanyanya mengejutkanku.
“itu sepatu yang sama dengan milik Kakak.” jawabku spontan.
“Kakak siapa? Memangnya siapa Kakakmu?” tanyanya dengan sedikit ragu.
“Kakakku Panji.” jawabku tertunduk lesu.

“Refi? Apa kau Refi?” tanyanya sambil ke luar dari sudut yang gelap itu lalu membuka topengnya.
“Kakak? Aku senang bertemu dengan Kakak. Bagaimana Kakak bisa di sini?” kataku sambil memeluknya, aku sedikit terkejut karena orang bertopeng itu adalah Kakakku sendiri.
“bagaimana kau bisa tertangkap? dan Bagaimana bisa kau bertahan berjam–jam di portland dan.. dan bagaimana dengan chip itu?” tanyanya tanpa jeda, dia memang tidak suka berbasa-basi orangnya selalu serius dan cermat, aku tak sadar kalau pertanyaanku tidak dijawab olehnya.

“aku dengan Riski sembunyi di bawah tanah, chip itu ada di Riski dan sekarang dia entah di mana, Kakak sendiri kenapa tertangkap?” tanyaku.
“aduh.. kacau jika mereka berhasil mendapatkannya maka seluruh dunia akan di bawah kekuasaan pemberontak itu, ada hal yang harus…”
Tiba–tiba suara riuh terdengar dari arah ujung lorong, suara langkah kaki itu terdengar dari tempat kami duduk, kami langsung melihat ke arah mereka.

“empat orang ku lihat.” kataku.
“bukan.” kata Kakakku, aku langsung melihat ke arahnya.
“yang 2 di belakang itu adalah robot, dan yang 2 di depan adalah kaki tangan pemberontak itu.” lanjutnya, aku pun menelan ludahku dan kembali mengarahkan pandangannya pada mereka.
Mereka mendekat dan semakin memdekat.

“sepertinya mereka mau ke sini.” kataku lagi, aku sedikit ketakutan.
“Refi dengar! Kamu harus ke luar dari sini dan cari Riski dan chip itu.” katanya.
“caranya kak?” tanyaku.
“kita susun rencana, mereka ke sini untuk membawa Kakak dan kamu diam saja di sisi pintu ini, bilang kalau kamu mau apalah terserah kamu, lalu jika Kakak beri aba–aba kamu lari ke arah ujung lorong itu, kau mengerti?” jelasnya panjang.
“tapi bagaimana dengan Kakak?” tanyaku.
“tidak usah pikirkan Kakak, Kakak akan baik–baik saja di sini yang harus kamu lakukan hanyalah ke luar dari sini dan selamatkan dunia.” katanya.

“Kakak…” aku memeluk Kakak dan dia pun memelukku, mataku berkaca-kaca dan sedikit meneteskan air mata.
“dengar Refi, Kakak sayang padamu Kakak tidak mau melihat kau di sini menderita, Kakak memang bukanlah Kakak yang baik tapi Kakak akan melakukan apa yang terbaik untukmu.” kata-katanya membuatku tersentuh, tangannya yang berdebu memeluk erat tubuhku.
“baiklah.” katanya sambil melepaskan pelukannya.
“kamu ikuti rencana Kakak ya dan ini ada sapu tangan pelindung mungkin bisa membantu dan satu hal yang perlu diingat gunakan your mind.” pesannya padaku.
“bersiaplah.” lanjutnya.
“iya kak.” ucapku.

Kakak kembali memasangkan topeng ke wajahnya, kami berlagak seolah kami tidak kenal satu sama lain.
“buka!” perintah salah satu dari mereka, 2 robot mendekat ke arah ke arah penjara kami dan membuka pintu jeruji besi itu.
“bawa dia.” katanya lagi sambil menujuk ke arah Kakak, Kakak terlihat kesakitan saat dia diikat dengan borgol besi.
“maaf, boleh aku menginginkan sesuatu?” kataku dengan ragu–ragu.
“apa yang kau inginkan anak kecil?” katanya dengan nada yang menekan.
“aku ingin pipis.” kataku polos.
“pipis saja di sana bocah.” kata orang yang bersamanya.
“biarlah anak kecil ini pipis ke WC sana, robot antar anak ini ke WC sana.” kata orang yang tadi.
“Siasatku berhasil.” teriakku dalam hati.

Tiba–tiba suara gaduh terdengar di belakangku, Kakak menggeliat dari belenggunya dan melawan para robot dengan kakinya, salah satu robot tersungkur lalu robot–robot lain berdatangan.
“robot penjaga! robot penjaga!” teriak salah satu laki–laki tadi, sedangkan yang satunya sedang melawan Kakakku, Kakakku hanya menghindari serangannya, suasana semakin riuh saat semua tawanan di penjara berteriak menyemangati Kakakku dan suara banyak langkahan kaki sekelompok robot mulai terdengar di sekitar ujung lorong.

“Refi! Cepat pergi sekarang!” teriak Kakakku, aku pun memukul robot yang bersamaku walaupun pukulan itu tidak berarti apa–apa baginya tetapi setidaknya aku lepas dari genggamannya, suara alarm darurat berbunyi menambah gaduh lorong sempit itu, aku bergegas lari meninggalkan tempat itu secepat yang ku bisa, robot tadi mengejarku dan menembakiku aku hanya lari dan berusaha menghindari sinar laser yang robot itu tembakan, aku pun sampai di ujung lorong terdengar dari arah kananku sekelompok robot itu sudah tinggal beberapa langkah aku mengambil jalan kiri ternyata para robot itu mengetahui keberadaanku dan langsung menembakiku seperti halnya tadi aku hanya berlari dan berusaha menghindari tembakan.

“jalan buntu.” kataku tercengang melihat ada 2 kelompok robot yaitu robot Droid dan robot cyborg dari arah depanku, sedangkan dari arah belakangku robot–robot itu terus berlari mengejarku mereka semakin dekat dan semakin agresif menembakiku, aku pun mengandalkan sapu tangan pemberian Kakakku yang telah aku aktifkan untuk menahan tembakan mereka sambil aku memikirkan untuk lepas dari ujung tanduk ini, sapu tangan itu memancarkan semacam perisai berwarna kebiruan dari tengah-tengahnya dan ada semacam pegangan di baliknya selain itu sapu tangan ini juga mengeras saat digunakan.

“nah itu ada ventilasi.” kataku, aku pun berusaha membukanya tetapi ventilasi udara ini sangat kuat menempel, mereka mendekat dan berhasil mengepungku dan semua penjuru.
“habislah aku.” kataku lalu aku terdiam menatap robot robot di sekelilingku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ya kata–kata Kakak tadi memberiku ide.
“kalau sapu tangan ini bisa dijadikan perisai berarti sapu tangan ini kuat dan bisa membuka ventilasi ini.” kataku dalam hati.

Aku pun menghempaskan sapu tangan itu ke ventilasi dan akhirnya ventilasi itu pun terbuka walaupun dengan kerusakan yang lumayan, aku pun bergegas masuk ke dalam lorong ventilasi para robot itu menembakiku dari luar ventilasi. Aku pun mengarahkan perisai sapu tangan ke arah mereka dengan tangan kananku sementara tangan kiriku bergerak merangkak bersama kakiku menyusuri lorong kecil.

Aku akhirnya bisa kabur dari para robot itu saat aku menemui belokan dan aku menonaktifkan sapu tangan pemberian Kakakku itu, aku terus menyusuri lorong ventilasi ini dan akhirnya menemukan jalan ke luar. Aku ke luar dengan mendorong ventilasi yang sudah usang ke atasku, aku pun naik dan aku berada di dalam sebuah rumah yang tidak aku kenali, aku ke luar rumah itu dan aku melihat di sekeliling rumah ini hanya ada hutan lebat, yang penuh dengan pepohonan.

“di mana ini? Tempat apa ini?” aku mulai bertanya–tanya.
“apa mungkin ini west forest and wooden forest?” tanyaku lagi, west forest and wooden forest atau sering disingkat WF2 adalah dua nama hutan yang bersatu, dulunya kedua hutan itu terpisah oleh tebing tetapi tebing itu telah roboh dan membuat kedua hutan itu meluas dan akhirnya menyatu.
“aku yakin ini adalah hutan WF2 dilihat dari ciri fisiknya, ya aku sangat yakin dan sekarang ini aku ada di pinggiran hutannya.” lanjutku.

Aku berusaha mencari jalan ke luar dari hutan itu karena hutan ini belum pernah terjamah sama sekali walau pun peradaban sudah canggih. Aku menemukan sungai yang mengalir jernih dengan rimbunan pohon di sekelilingnya, airnya mengalir tenang dengan warna kehijauan banyangan dari pohon–pohon di sekelilingnya, aku pun membersihkan diriku yang kotor.
“aku harus bergegas.” kataku segera pergi dan akhirnya menemukan jalan ke luar di sebuah jalan di pinggiran hutan.
“aku tahu jalan ini, jalan ini sering aku lewati dan…” tiba-tiba aku teringat saat aku dan Riski pada malam itu.

….. “kamu mau apa sih menyuruh aku datang malam malam begini?” tanyaku pada Riski.
“aku ingin menunjukkan kamu sesuatu yaitu desa woodenpest, di sanalah kita akan tinggal jika sewaktu–waktu para pemberontak menyerang ke kota ini.” jelasnya.
“desa woodenpest? seberapa jauh dari sini? Dan bagaimana cara kita ke sana?” tanyaku bertubi–tubi.
“iya sekitar 3 Km dari kota Portland, nanti aku tunjukan tempatnya, tenang aku sudah pikirkan caranya yaitu munggunakan teleport punya Ayahku ini.” katanya sambil menujukkan teleport yang ada di belakangnya.

“wow.. Ayahmu menyimpan teleportnya di sini, lalu bagaimana jika desa itu juga diserang?” ucapku.
“itulah yang belum aku pikirkan.” jawabnya.
“mana petanya?” tanyaku.
“oh ini.” jawabnya singkat, aku pun melihat setiap jalan yang akan dilalui serta peta dari kenampakan dari atas dengan hologram map 3D.

Tiba–tiba dari arah belakang terlihat sebuah flying tank melaju aku pun sembunyi di balik semak–semak flying tank itu pun berhenti.
“Refi, ref ini aku, Riski.” kata orang itu.
“Riski?” aku pun bangkit dan menghampirinya.
“kau tidak apa–apa? Bagaimana kau bisa lolos?” tanyaku.
“ya, aku berhasil melarikan diri dari mereka di bantu Dogbot dan aku tidak menolongmu karena aku juga tidak ingat apapun, dogbot pun membawaku ke hutan dan ini roof.” jelasnya.
“roof! aku merindukanmu, bagaimana dengan chip itu?” ucapku.
“aman, chip itu ada di sakuku.” katanya.

Tiba–tiba seseorang berbadan kekar dan berwajah garang datang bersama 3 orang temannya.
“oh… jadi ini yang dicari oleh pemberontak itu, ini bisa menjadi keuntungan buatku.” katanya sambil tertawa.
“iya bos untukmu dan kami.” ucap seorang berambut ikal sambil tertawa bersama yang lainnya.
“bawa chip itu!!” suruh orang berbadan kekar itu.
“berikan chip itu nak!” kata orang berambut ikal.
“tidak akan.” kata Riski.

Kami pun terlibat perkelahian dengan mereka, kami dibantu Dogbot dan roof tak gentar sedikit pun, tetapi ada hal aneh yang membuatku heran yaitu salah seorang dari mereka yang berkaca mata hanya melihat kami bertarung. Tetapi aku segera menepisnya dan fokus pada pertarungan. Serangan demi serangan dilancarkan mereka menggunakan senjata pistol biasa dan kami menggunakan perisai, tentunya aku masih menggunakan sapu tangan itu, salah satu dari mereka mendekat dan menembaki Dogbot.

“Dogbot!!” teriak Riski yang melihat Dogbot diserang yang menghancurkan sistemnya, Riski pun menghampiri Dogbot dan merangkulnya, tanpa diduga orang yang semula diam itu bergerak dari arah belakang Riski membawa tongkat baseball dan mengangkatnya tinggi tinggi.
“Riski awas di belakangmu!!!” teriakku pada Riski.

Dia pun menoleh ke arah belakangnya aku pun menyapukan perisaiku ke arah orang kekar yang terus menembakiku sampai dia terhempas ke jalanan dan bergegas menyelamatkan Riski, tetapi terlambat sudah tongkat itu telah menyentuh Riski dan membuatnya tersungkur di atas Dogbot yang digenggamnya orang itu langsung membalikkan badan Riski dan menggeledah sakunya, “aku dapat!!” teriaknya, sambil mengacungkan chip robot itu.

Aku pun berlari dan berniat menghempasnya dengan perisaiku tetapi orang kekar tadi bangkit dan menodongkan pistolnya ke arahku, aku tak sempat menghindar tanganku tertembak dan aku mengaduh kesakitan aww… aku terjatuh tak berdaya melihat orang-orang itu pergi membawa chip itu dengan flying tank yang dibawa Riski mereka tampak tertawa riang menjauh dari pandangan. Mungkin hanya roof yang masih berdiri. Beberapa menit berlalu datanglah kakek tua dari arah hutan dan menolong kami tapi kakek tua itu mirip dengan seseorang yang menjadi kaki tangan sang pemberontak di penjara tadi.

“jangan-jangan… Kakek ini?” kataku dengan nada terbata bata.
“ya, aku adalah Ayah dari kaki tangan pemberontak itu.” jawabnya sambil tertawa-tawa.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayayat
Penulis tinggal di kabupaten Ciamis
Alamat blog: jawabancari.blogspot.com
Twitter: @hidayatnur698

Cerpen Chip Robot (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Paralel

Oleh:
“Andai saja di dunia ini ada dunia yang bisa membuatku pergi ke masa lalu dan memperbaiki masa depan” Ucapku sambil memandang langit senja yang indah dan bersandar di pohon

Cahaya Ku

Oleh:
Sore ini aku masih berada di sekolah karena tugas yang menumpuk. Pukul 17.45 akhirnya tugasku selesai juga, kemudian aku bergegas pergi menuju gerbang sekolah karena tadi paman bilang dia

Tora

Oleh:
Malam purnama di Niabara, lahirlah seorang anak laki-laki. Kelahiran yang dipenuhi oleh kematian. Akibat kebencian yang mencari wadah untuk berkembang. Wadah yang terpilih bernama Tora, anak sang Purnama. Tora

Bertemu Sang Idola

Oleh:
Di malam yang sunyi, di kamarnya, Aqila membayangkan wajah idolanya, yaitu Coboy Junior. Ia sangat ingin bertemu Coboy Junior. Ia selalu dilarang untuk pergi menonton konser Coboy Junior ataupun

Sebuah Es Krim

Oleh:
“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Chip Robot (Part 2)”

  1. angeli putriani says:

    yeeey… akhirnya sudah ada part 2 nya, tapi ini ada nggak part 3nya ? kalau ada ditungguyah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *