Cinderella dan Lampu Ajaib

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 April 2021

Dongeng selalu punya keajaiban. Lampu ajaib yang semula berada di dunia Aladdin dan Putri Jasmine terlempar jauuuh sekali hingga sampai ke salah satu toko yang berada di pasar dekat rumah Cinderella!

Inilah keajaiban gadis itu. Tiga permintaan yang dapat mengubah hidupnya menjadi penuh dengan… aksi pembalasan dendam.

“Cinderella!”

Gadis itu terjaga lagi. Rasanya mengantuk sekali sehingga matanya tekadang menutup sendiri. Namun Lady Tremaine—Ibu tirinya—tidak akan pernah membiarkannya bersantai walau sebentar. Cinderella menghela napas. Gadis itu menatap nanar pakaian lusuh yang ia kenakan. Jika saja Ayah masih di sini… ia tidak akan kesusahan seperti sekarang.

“Cinderella!!! APA KAU TIDAK PUNYA TELINGA?!” suara menyebalkan milik salah satu saudari tirinya turut berteriak, Drizella.
“Tunggu sebentar!” Cinderella menyahut kencang. Melepas amarah yang memenuhi dadanya lewat teriakan tidak selalu ia lakukan. Namun hasilnya cukup melegakan.

Ia terburu-buru berlari menuju ruang keluarga. Di sana, terdapat Lady Tremaine dan kedua saudari tirinya tengah bersolek dan menyantap hidangan ringan yang Cinderella buatkan. Dalam hati, Cinderella melengos kesal. Ketiganya selalu semena-mena. Padahal… rumah ini miliknya. Milik keluarganya.

“Ada apa, Ibu?” tanya Cinderella pelan. Ibu tirinya menatapnya dengan tatapan mencela. Hal itu membuat Cinderella emosi setengah mati. Andai saja ia punya kuasa untuk membungkam dan menundukkan mereka bertiga, pasti hidupnya akan tentram.
“Apa telingamu sudah rusak? Mengapa butuh waktu lama bagimu untuk menjawab panggilanku?” cecar wanita setengah baya tersebut.
Cinderella menunduk. “Maafkan aku, Ibu,” cicitnya. Cinderella benci setengah mati ketika ia tidak bisa melawan seperti ini.
“Ingatlah bahwa kau hanya sebatang kara di sini. Kami sudah berbaik hati menampungmu maka layanilah kami sebaik mungkin,” desis Drizella. Sementara Anastasia hanya menatapnya tidak peduli.

Dalam tundukkannya, Cinderella meremas kedua tangannya. Rasanya sakit sekali. Ia ingin menangis dan mengadu pada Ayah dan Ibunya, namun mereka berdua sudah pergi jauh sekali. Gadis itu menguatkan hati. Ia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya di depan nenek sihir dan dua kurcacinya ini.

“Pergilah ke pasar dan belikan kami kain dan perhiasan yang cantik. Seminggu lagi pesta dansa kerajaan akan dilaksanakan. Semua gadis diundang. Kau mengerti ‘kan harus apa?” Drizella menghardiknya dengan nada yang cukup kasar.
“Belikan kami kain terbaik. Dan kau! Jangan bermimpi untuk datang ke sana,” tambah Anastasia sementara Ibu tirinya hanya tersenyum culas.
“Aku mengerti,” jawab Cinderella pelan. Persetan dengan pesta dansa. Persetan dengan pangeran dan kerajaan. Ia memang tidak berminat untuk datang ke sana kok!

Cinderella berbalik dan melangkah pergi ketika mereka memberikannya uang untuk berbelanja. Mirisnya, ia bukan berbelanja untuk dirinya sendiri. Kalau saja nenek sihir itu tidak mengancam akan membuat makam orangtuanya tidak bisa ia kunjungi, Cinderella pasti sudah merobek wajah ketiganya.

“Terima kasih, Nyonya Sei. Anda selalu baik seperti biasa,” ucap Cinderella. Nyonya Sei memberinya potongan harga sehingga uang yang diberikan Ibu tirinya masih bersisa.
“Tidak perlu berterima kasih Cinderella. Gunakan uang itu untuk dirimu. Aku masuk dulu ya?” Cinderella mengangguk. Takjub dengan kemurahan hati milik Nyonya Sei.

Ia berbalik dan matanya tertuju pada toko yang terlihat kuno. Cinderella sangat yakin ia belum pernah melihat toko itu selama hidupnya. Gadis itu hapal di luar kepala letak pertokoan di pasar ini. Dan ingatannya tidak menunjukkan eksistensi toko kuno ini. Apa orang-orang tidak ada yang melihat toko itu? Mereka melewatinya begitu saja! Cinderella penasaran. Maka dengan dorongan itu ia melangkahkan kakinya.

Ting!
Lonceng pintu berbunyi kala ia membukanya. Cinderella mengintip sedikit ke dalam dan terkejut toko ini dipenuhi oleh barang antik.

“Masuklah, Nak.” suara renta itu mengagetkannya. Dengan langkah ragu, Cinderella melangkahkan kaki lebih jauh hanya untuk takjub pada apa yang ia lihat di sana. Barang-barang ini begitu bernilai. Emas, perak. Dindingnya diukir sedemikian rupa dengan mulus dan indah. Cinderella belum pernah melihat toko seindah ini.

“Namaku Mira Cle, apa yang kau cari Nak?” tanya perempuan tua itu dengan ramah. Cinderella terkesiap. Tersadar bahwa ia sudah mengagumi terlalu lama.
“Aku… tidak yakin. Aku belum pernah ke sini sebelumnya Nyonya Cle,” ucapnya dengan nada ragu.

Nyonya Cle menatapnya lama. Cinderella entah mengapa merasa nyaman di bawah tatapan itu.
“Kau mencari keajaiban.” itu bukan pertanyaan, itu pernyataan yang membuat Cinderella tertegun. Ucapan Nyonya Cle benar. Selama ini, yang ia butuhkan adalah keajaiban untuk menjatuhkan Ibu tiri dan kedua saudari tirinya.
“Bagaimana… bagaimana cara mendapatkannya?” tanya Cinderella dengan perasaan mantap.
Nyonya Cle tersenyum. “Di sini, kau bisa temukan apapun.”

Selesai berucap demikian, benda sebesar cangkir, terbang menghampirinya. Melayang perlahan tepat di hadapan Cinderella. Gadis itu terperangah, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Itu— lampu ajaib!
“Keajaibanmu, Nak. Gosok lampunya maka tiga permintaan dapat mengubah hidupmu.”

Setelah itu, cahaya putih seperti berhasil membutakan matanya.

BYUR!
“Bangunlah pemalas!”

Cinderella membuka matanya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dingin sekali! Apa mereka tidak punya hati? Cinderella mengerjapkan matanya. Seketika ia bingung, mengapa ia berada di depan pintu rumahnya? Bukankah tadi ia berada di toko Nyonya Cle?

“Kau! Mengapa bodoh sekali sampai bisa tertidur di sini hah?!” bentak Ibu tirinya lagi.
“Untung saja pakaian kami tidak kotor, kalau sampai itu terjadi, tidak usah memberinya makan, Bu.” Drizella menambahkan. Ya ya ya. Lakukan saja, Cinderela pernah kok mengalaminya.
“Masuk dan berdiamlah di kamar. Jangan pernah keluar sampai besok,” titah Ibu tirinya yang mau tidak mau membuat Cinderela bangkit.

Cinderella berdiri dengan gigil dingin karena tubuhnya basah. Ia menyeret langkah menuju loteng di mana kamarnya berada sambil berpikir apakah yang ia lakukan tadi nyata? Atau hanya mimpi belaka? Padahal Cinderella sangat membutuhkan keajaiban itu. Ketika ia membuka kamarnya, matanya terbelalak. Lampu ajaib yang ia lihat berada tepat di atas kasur jeleknya. Begitu bersinar di antara barang-barang kumuh di dalam kamarnya. Dengan gerakan gesit, Cinderela mengunci kamarnya dan menyambar lampu itu dengan perasaan kemenangan. Lihat saja. Siapa yang akan berkuasa nanti. Cinderella menyeringai jahat.

Cinderella menggosok lampunya tiga kali sambil memejamkan mata. Dalam sekejap, hanya butuh waktu sepersekian detik, Jin lampu berwarna hijau keluar dari sana. Tawanya bergema seraya melipat kedua yang tangannya di depan dada.
“Ho ho ho. Nona Cindy yang terhormat, sebutkan tiga permintaanmu!”

Cinderella mengerutkan hidungnya kala Jin lampu memanggilnya Cindy. Namun ia mengabaikannya, hal itu tidak penting. Maka dengan pandangan dingin, Cinderella menyebutkan permintaan pertamanya. “Buat aku berkuasa atas rumah ini, Ibu tiri dan saudari tiriku. Aku muak diperlakukan rendah.”

Jin lampu tersenyum kecil. Baginya, itu permintaan mudah. Ia menjentikkan jarinya sambil mengucap mantra sederhana. “Shazam!” Cinderella menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sudah? Hanya seperti itu?

“Kau yakin kau tidak sedang menipuku?” tanya gadis itu tersenyum remeh.
Bibir Jin lampu berkedut kesal. Cinderella yang ramah? Heh! “Kau bisa buktikan sendiri.” hanya begitu saja ucapnya ketika Jin lampu memutuskan kembali ke dalam lampu ajaib.

Cinderella mempersiapkan diri dan berdiri di depan kamarnya. Ia membersihkan tenggorokan yang gatal sebelum akhirnya berteriak kencang. “DRIZELLA! ANASTASIA!” ia harus menyiapkan mental jika saja ini hanyalah tipuan sang Jin lampu. Namun… ajaib! Kedua saudari tirinya dengan tergopoh-gopoh berlari menaiki tangga. Mereka, masing-masing memegang sapu dan lap. Cinderella terperangah.

“Y-ya Cinderella? Kau memanggil kami?” Drizella tidak pernah menundukkan kepala di depannya! Pun Anastasia yang menatapnya takut-takut. Jadi? Tentu saja! Keajaibannya telah sampai!

Cinderella menyadarkan dirinya untuk tidak hanyut dalam kesenangan. Ia mengangkat dagu tinggi-tinggi. “Mulai hari ini, kalian berdua dan Ibumu yang tua itu, akan tinggal di dalam kamar ini! Dan, tidak ada makanan untuk kalian bertiga hari ini!” bentak Cinderella dengan kasar. Cinderella mampu menirukan perilaku Ibu tirinya dengan apik.
“Ap-apa? Kau tidak serius ‘kan Cinderella?” Anastasia bertanya gugup. Cinderella memelototinya.
“Kenapa Anastasia? Kau ingin membantahku? Maka tidur saja kau di luar!” Cinderella membentak mereka lagi. Karena bentakan kasar itu, Ibu tirinya datang dengan raut wajah panik. Cinderella hampir memasang raut wajah pias namun ia berhasil menjaga raut wajahnya agar tetap dingin dan datar.
“Jangan, mohon ampuni kami Cinderella. Tidak apa-apa kami tidak diberi makanan, asal jangan biarkan Anastasia tidur di luar, di luar sedang hujan deras, Anastasia akan kedinginan,” mohon Ibu tirinya. Cinderella tersenyum culas.

Itu tidak bisa dibandingkan dengan penderitaanku selama ini dasar nenek sihir jahat!
“Keputusanku tetap tak berubah. Anastasia tidur di luar atau aku akan menendang kalian semua dari sini,” putusnya. Cinderella melangkah congkak melewati ketiganya sambil memegang lampu ajaibnya dengan sayang.

Pagi-pagi sekali, Cinderela terbangun. Sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi guna menyiapkan segala hal untuk mereka bertiga. Sekarang… hal itu tidak lagi diperlukan. Cinderela tersenyum kosong. Meskipun menikmati kemewahan di rumahnya sendiri, mengapa ia merasa sepi? Cinderella bangkit dari kasur barunya yang empuk. Ia membawa serta lampu ajaibnya ke luar kamar dan mendapati Ibu tirinya sedang menatap jendela. Menunggui Anastasia, huh?

“Hei Nyonya tua!”
Ibu tirinya tersentak dan berbalik dengan sigap. Ia menghampiri Cinderella. “Sarapanmu sudah siap, Cinderella.” gadis itu hanya menatapnya dingin.
“Bolehkah… bolehkah Anastasia masuk sekarang, Cinderella? Dia menggigil di luar,” pintanya dengan lembut. Ada perasaan aneh kala Ibu tirinya meminta dengan nada selembut itu. Perasaan dengki dan iri. Drizella dan Anastasia beruntung karena mereka memiliki Ibu mereka! Cinderella tidak bisa menerima itu.
“Ya, masukkan dia.”

Cinderella melenggang pergi menuju meja makan di mana di sana Drizella sedang mengepel lantai. Dengan tatapan culas yang dipenuhi iri hati dan dengki, Cinderella mengusap lampu ajaibnya.

“Ho ho ho. Nona Cindy yang terhormat, sebutkan permintaan keduamu!” Jin lampu melayang pongah seperti biasa. Drizella tidak dapat melihat Jin lampu maka Cinderella tidak perlu repot-repot memintanya pergi. Cinderella bertolak pinggang. “Aku ingin Ibu tiriku menjadi kasar kepada kedua saudari tiriku! Aku ingin dia tidak memerdulikan anak-anak kandungnya!”

Jin lampu menatap Cinderella cukup lama. “Kau yakin, Nona Cindy? Itu permintaan yang kejam.”
Cinderella mendengus. “Memangnya kenapa? Kabulkan saja permintaanku dasar Jin botak pembangkang!” decaknya. Jin lampu melotot dengan wajah yang memerah. Tubuh transparannya kini punya dua warna.

“Kau… benar-benar. Shazam!” tepat setelah Jin Lampu menjentikkan jari, kilat petir menyambar dan Cinderella tahu permintaannya telah dikabulkan.

“Sebelum kau masuk kembali ke dalam lampu sialan itu, aku ingin menyebutkan permintaan terakhirku,” ujar Cinderella dengan nada rendah.
Jin lampu kembali ke warna hijaunya. “Katakan.”
“Aku ingin kau menghilang.”

Wajah transparan Jin lampu berubah pias. Bagaimana Cinderella tahu cara melenyapkannya? Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengabulkan permohonan itu.

“Kau akan menyesalinya, Cinderella.”

Jin lampu menghilang setelah menyebut namanya dengan benar untuk yang pertama kalinya.

Lima bulan kemudian setelah Jin lampu lenyap, Cinderella merasa kehidupannya sudah sempurna. Ibu tirinya pada akhirnya membenci anak kandungnya sendiri. Wanita tua itu kerap kali menyiksa mereka dan melihatnya membuat Cinderella merasa puas. Namun yang mengganggu adalah perhatian Ibu tirinya padanya. Cinderella tidak suka meskipun sedikit dari perasaannya yang merasa senang. Ketika Ibu tirinya memberikan perhatian layaknya seorang Ibu padanya, Cinderella akan teringat bagaimana sakit hatinya ketika wanita tua itu meracuni Ayahnya. Meracuni Ibu kandungnya. Menyiksanya dengan begitu kejam. Cinderella benci sekali.

Hari berganti minggu dan kemudian merangkap bulan. Perhatian Ibu tirinya menjadi memuakkan. Cinderella merasa marah mengapa hanya dia saja yang merasa gelisah. Apalagi yang kurang? Semua keajaiban sudah ia capai. Jadi apalagi yang kurang? Mengapa… mengapa rasa kesepian ini tidak juga menghilang? Mengapa perasaan gelap ini masih bersemayam?
Ayah! Ibu! Bagaimana ini?

Hilang sudah perangai baik Cinderella. Tidak ada lagi Putri cantik nan manis yang kerap memakai gaun biru. Tidak ada lagi Putri yang suka tersenyum. Cinderella telah sempurna berubah menjadi orang lain. Amarahnya mudah naik hanya karena hal-hal sepele.

Bagaimana akhir dari kehidupan Cinderella yang dipenuhi demdam ini?

Suatu hari di masa yang telah lewat, rumah megah di tengah-tengah kota itu berubah kosong. Orang-orang tidak berani lagi melihat bahkan menginjakkan kaki setelah penemuan empat mayat perempuan di dalam sana. Para orangtua menasehati anak mereka dengan menceritakan dongeng tentang Putri yang pendendam agar mereka tidak berani mendatangi rumah suram itu.

Rasa iri terhadap kedua saudari tirinya yang kembali mendapatkan perhatian seorang Ibu membuatnya rela mencelupkan tangan ke dalam genangan darah.

Dendam Cinderella pada Ibu tirinya telah membunuh hati nurani dan dirinya sendiri.

Cerpen Karangan: Sheny Dzalika

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Cinderella dan Lampu Ajaib merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Gadis Kecil Bergaun Ungu

Oleh:
Di penghujung senja, saat matahari beranjak pergi dan melekuk diri di antara barisan gunung, ku bawa kaki-kaki manja dan lelah ini ke sebuah tempat sunyi. Tempat di mana aku

Sarjana Kalkulator

Oleh:
Akulah si sarjana kalkulator. Di dunia ini, hanya aku yang memiliki gelar tersebut. Semenjak aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dan berhasil juga menyematkan gelar tersebut di belakang namaku, aku semakin

Sherlin in Dream

Oleh:
Tatapannya begitu tajam seolah tak pernah melihat manusia, aku berusaha berteriak, namun, tangan lembutnya menutup mulutku. Aku ingin menangis tapi tak bisa, wajahku meneteskan keringat, aku mulai takut, dimana

Pai Berry Itzel

Oleh:
Di terik yang panas itu, masih sempatnya Itzel pergi memetik berry Amberblaze. Ia masuk ke dalam hutan Dinamond yang sangat lebat. Mustahil ia bisa mendapatkan semak berry yang bagaikan

Misteri Kompas (Part 1)

Oleh:
Kehidupan biasa tidak ada yang susah tiap hari pergi bersekolah dan pulang. Aku sebagai anak yang baru masuk SMA merasa hidupku membosankan. Sampai sore semuanya berubah. Namaku Nia gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *