Cinta Mustahil Di Dua Alam Berbeda (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Seorang gadis berambut panjang itu berdiri di jendela kamarnya. Dia berdiri di sana dan melihat cerahnya mentari di pagi hari ini. Gadis itu masih berusia 11 tahun, tapi mengapa aku merasakan jatuh cinta terhadap dirinya? Aku terus memandangnya dengan pesonanya yang memukau. Semua pria pasti akan merasakan jatuh cinta yang sama sepertiku pada gadis ini. Ya, dia sangat cantik bagiku dan mungkin bagi semua pria lainnya. Gadis itu bernama Angela. Sudah lama aku mengincarnya sejak aku mengenalnya sejak dia lahir. Aku tahu masa kecilnya sampai aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama saat Angela berusia 10 tahun. Dia berasal dari keluarga konglomerat. Orangtuanya adalah sebuah pengelola mall yang ada di Jakarta. Dia memiliki teman yang sangat akrab dengannya yang bernama Laura.

Mereka saling kenal karena mereka bersekolah di SD yang sama. Dia memiliki orangtua yang sangat peduli dengan dirinya dan semua keinginannya selalu dipenuhi. Setiap sore sehabis dia pulang sekolah, Angela selalu bermain di taman bermain depan rumahnya. Kehidupannya begitu bahagia dan aku senang melihat pesona senyumnya yang sempurna itu. Senyumnya lebih hangat dibandingkan hangatnya sinar mentari pagi yang selalu dia nantikan. Pokoknya, dia adalah kebahagiaanku. Namun, semua berubah semenjak kejadian tersebut dimana dia mulai mengidap penyakit aneh. Aku tidak mengerti sebutan nama penyakit tersebut. Aku hanya tahu bahwa dia alergi dengan panasnya matahari. Ya, dia akan pingsan dan nyeri sampai ke tulangnya kalau dia terkena panas matahari.

Sejak saat itu, orangtuanya melarang Angela untuk pergi ke luar rumah, kecuali malam hari. Hal itulah yang membuat hari-hari Angela berubah drastis. Tidak ada teman, tidak ada bermain di taman bermain di depan rumahnya, tidak bisa lagi menikmati hangatnya mentari pagi, yang ada hanyalah kesepian dan kesedihan. Orangtuanya mulai tidak peduli lagi dengan Angela karena pekerjaan mereka lebih utama dibandingkan waktu bersama putrinya. Saudaranya juga tidak peduli dengan Angela. Mereka lebih mementingkan tugas sekolahnya dan pergi jalan-jalan bersama temannya dibandingkan bermain dengan dirinya. Teman dekatnya yaitu Laura pergi ke Surabaya untuk ikut orangtuanya di kota tersebut.

Kini, aku tidak bisa melihat pesona senyumnya kembali. Aku tidak bisa melihat wajah cantiknya kembali karena dia selalu menutupi mukannya dengan rambutnya. Aku tidak bisa melihat kembali gadis periang yang aku kenal dulu. Angela selalu mengurung dirinya di kamarnya dan dia sudah berubah drastis. Seandainya aku manusia, aku akan bersedia menemaninya seperti yang biasa aku lakukan sejak dia masih kecil. Namun, aku hanyalah arwah manusia yang ada di rumah Angela. Masa laluku yang membuatku seperti ini. Aku sudah lupa dengan semua memori masa laluku. Aku hanya berharap bisa menemukan pecahan demi pecahan kenangan masa lalu itu agar jiwaku bisa tenang di sini.

Memang aku dan Angela tidak akan pernah bisa saling jatuh cinta. Aku berada di alam roh, sedangkan Angela hidup di alam manusia. Bagaimana cara kami bisa saling jatuh cinta di dua alam yang berbeda? Memang cinta pada manusia itu konyol dan mustahil. Namun, aku akan terus berusaha untuk mencintainya meski aku bukanlah siapa-siapa di hatinya. Aku melihat Angela itu ke luar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Dia berusaha mencari sebuah album foto dan melihat masa-masa kecilnya yang terlukis dengan jelas pada album foto tersebut. Angela mulai menangis dan mengeluh dalam hatinya. Aku hanya bisa berusaha menghapuskan air matanya, walaupun perbuatanku ini tidak bisa dirasakan olehnya.

Angela berlari ke halaman rumahnya. “Angela, mau ke mana kamu?” tanya bibinya dari balik pintu masuk rumahnya.
Angela tampak mundur selangkah demi selangkah. “Aku mau ke depan,” jawabnya dengan suara terbata-bata.
“Non, kamu harus di dalam rumah. Di luar masih siang. Kamu nanti pingsan loh kalau di luar rumah,” nasihat bibinya. Angela tampak menghiraukan nasihat bibinya dan tampak marah pada wajahnnya. Angela tetap saja pergi ke luar rumahnya dan bibinya berusaha menghalanginya. Angela terus mengancam bibinya agar dia bisa ke luar.
“Kalau Bibi terus menghalangiku. Aku akan lapor ke Mama, Papa kalau Bibi memecahkan vas bunga ini biar dipecat sekalian,” ancam Angela sambil bersiap memecahkan vas bunga di tangannya.

Aku semakin tidak mengerti anak yang masih kecil seperti dia bisa mengancam orang yang lebih tua darinya seperti itu. Bibinya mulai berhenti menghalanginya dan Angela pergi ke luar ke halaman rumahnya. Dia berusaha memanjat tembok rumahnya dengan tali dan ke luar rumahnya dengan harapan dia bisa bermain di taman bermain depan rumahnya. Beruntung, saat itu cuaca agak mendung. Jadi, dia tidak akan pingsan ketika berada di luar rumah. Dia berhasil memanjat tembok rumahnya yang tinggi itu. Namun, kaki kanannya tersandung sebuah batu besar di bawah tembok rumahnya.

Alangkah terkejutnya dia melihat tempat bermain di mana ia sering bermain telah hilang dan menjadi sebuah proyek pembangunan rumah. Dia berdiri dengan sedikit kesakitan dan berjalan sedikit jauh melihat bagaimana mobil-mobil mewah dengan begitu ramai melintasi depan rumahnya. Darah mulai ke luar dari luka kakinnya. Ahh, inilah yang paling aku tidak suka. Aku paling jijik dengan aroma darah manusia. Aku agak menjauh darinya dan sedikit mual dengan aroma darah tersebut.

“Kamu gak apa-apa?” tanya seorang laki-laki tua yang bekerja di proyek depan rumahnya.
“Tak apa kok. Cuma berdarah saja kok,” jawabnya dengan santai. Aku bisa melihat lagi pesona senyumnya ketika dia tersenyum pada laki-laki tersebut.
“Akan aku ambilkan perban untuk menutup lukamu itu,” kata laki-laki tua itu sambil pergi meninggalkannya. Angela tampak diam dan masih merasakan sakit yang mendalam.

Tiba-tiba sekelompok remaja laki-laki melihat Angela dengan mata yang melotot dan mendekatinya. Aku segera bertindak untuk melindungi orang yang aku sayangi. Namun, matahari tampak terlihat. Jelas aku pasti akan terbakar olehnya jika aku memberanikan diri. Aku sampai lupa kalau Angela pun alergi dengan panas matahari. Dia mulai merasakan nyeri pada punggungnya dan pingsan. Pria-pria tersebut mulai melancarkan aksi jahat mereka. “Takk! Takk! Takk!” bunyi sebuah batu yang dilemparkan ke arah laki-laki tersebut. Pria tua itu tampak marah dan terus melemparkan batu ke arah mereka. Saat itu alam mimpi Angela tampak seperti pusaran air. Semua di sekelilingnya masuk dalam memori Angela dan menjadi sebuah mimpi. Aku pun juga terhisap dalam alam mimpi Angela itu.

Sampai semua terasa gelap bagiku. Aku hanya melihat cahaya kunang-kunang yang mengajakku ke sebuah tempat. Di situlah aku dapat melihat Angela tampak berdiri di sebuah dermaga pantai di mana ia sering berada di situ bersama teman dekatnya, Laura. Mereka sama-sama sering menyaksikan indahnya matahari yang baru terbit di arah timur.
Angela berdiri terus menerus di sana dan tampak Laura dengan seragam SMP-nya menghampiri Angela di ujung dermaga. “Angela, seandainya kau tahu bahwa aku rindu denganmu. Aku ingin bisa menyaksikan indahnya mentari pagi lagi bersamamu,” kata Laura. Angela tampak sedih dan menghiraukan kata sahabatnya.

“La, ketahuilah Papaku dan Mamaku telah berpisah beberapa hari yang lalu karena suatu masalah. Mamaku pergi dengan membawa Kakakku kembali ke Jakarta. Kini aku sendiri di sini. Aku hanya butuh kamu bisa di sampingku lagi,” tangis Laura.
“Nasib kita sama. Orangtua kita berasa tidak peduli lagi dengan kita. Kau masih beruntung kau masih diberikan kesehatan,” kata Angela dengan memandang lurus ke arah matahari terbit tersebut. Laura tampak bingung dengan perkataan Angela. Kakikku terasa ingin untuk menghampiri mereka. Aku maju selangkah demi selangkah dan mendengarkan percakapan mereka.

“Aku tidak akan bisa menikmati lagi indahnya mentari pagi lagi karena aku alergi dengan panas matahari,” kata Angela yang langsung menghilang.
“Angela, ke mana kau?” tanya Laura yang panik dan kebingungan.
“Tempat apa ini?” tanyaku menghampiri Laura.
“Ini adalah alam mimpi Angela,” jawab Laura.
“Apa kau nyata?” tanyaku.
“Aku tidak nyata. Aku hanyalah bagian dari pikiran Laura,” jawabnya. Aku makin dibuat bingung jawaban Laura.
Tiba-tiba petir menghantam ujung dermaga pantai. “Apa yang kau tunggu? Kau mau hancur juga?” tanya Laura sambil berlari menuju darat. Aku mencoba berlari dan menuju ke darat. Sementara, badai petir dari pantai itu menghanguskan sebagian dermaga. Beruntung, kami semua sampai di darat tepat waktu.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Semua yang ada di alam mimpi ini hanyalah kenangan Angela,” jawabnya.
“Terkadang mimpi seseorang itu aneh dan misteri. Semua yang ada di sini adalah bagian dari pikirannya,” lanjutnya.
“Hah? Berarti aku juga bagian dari pikiran Angela?” tanyaku. Laura hanya mengangguk.
“Aku tahu kau pasti datang dari dimensi roh, kan?” tanya Laura. Aku mengangguk dengan ragu-ragu.
“Yah, cobalah cari tahu mengapa kau bisa menjadi bagian pikiran dari Angela di alam mimpi ini,” katanya.

“Semua yang ada di alam mimpi ini semuanya bersifat sementara dan singkat. Semua yang ada di sini akan datang dan pergi dengan cepat,” jelas Laura.
“Hanya ada satu bagian pikiran yang susah hilang dari alam mimpinya. Namanya adalah harapan dan ketakutan,” kata Laura yang terus berjalan menuju taman bunga. Angela mulai tampak dengan pakaian putih berdiri di sebuah taman dengan bunga-bunga mawar dan tulip yang harum. Bagiku, aroma mereka jauh lebih buruk dibandingkan bau anyir darah. Angela tampak senang berputar-putar dan tersenyum menyapa setiap bunga-bunga di sekelilingnya.

“Ketahuilah, Angela sangat suka dengan aroma bunga mawar dan tulip. Baginya, menikmati aroma mereka ditambah dengan melihat mentari pagi itu lebih bahagia dibandingkan apa pun di dunia ini,” kata Laura. Aku melihat tampak Angela foto dengan sebuah alat dengan beberapa bunga di taman.
Aku tampak bingung dengan semuanya. “Itu namanya selfie. Mereka akan suka memotret dirinya dengan menggunakan kamera,” jelas Laura.
“Angela kan belum mengenal kamera, bukan?” tanyaku.
“Ya, seperti yang kau lihat dari tadi. Di sini bukanlah bagian pikiran yang ada di masa lalu dan sekarang seseorang. Namun, di sini juga ada bagian pikiran masa depan manusia itu sendiri,” jawabnya.

“Mungkin sehabis ini, Angela akan mengenal apa itu kamera dan mengenal juga dengan trend selfie,” kata Laura. Seketika, aku melihat Angela menjadi seorang gadis remaja dan Papa Angela yang berdiri di hadapannya. Angela berlari menghampiri Papannya dan berlari memeluknya dengan air mata di wajahnya.
“Kamu bukan gadis kecil lagi seperti yang Papa lihat,” kata papanya. Tiba-tiba, Laura pun menghilang dalam pusaran air di sampingku.

“Hai, apa kabar kalian semua?” sapaku menghampiri mereka berdua. Angela melepaskan pelukannya dan papannya Angela langsung menghilang begitu saja.
“Siapa kau?” tanya Angela.
“Sudah lama aku menunggumu untuk bisa bertemu seperti ini,” kataku yang membuat Angela bingung.
“Kenalkan namaku Dani,” kataku. Angela tampak mengingat sesuatu dalam pikirannya. Badai petir di langit tampak menakutkan dan makin membesar.
“Kau siapa? Aku tidak pernah kenal dengan kau sebelumnya,” kata Angela.
“Aku berasal dari alam roh manusia. Aku adalah roh manusia yang sudah ada di rumahmu sejak orangtuamu menikah,” kataku.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Angela.
“Aku masuk dalam sebuah pusaran air dan membawaku ke sini. Tapi aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Aku sudah menginginkan momen dimana aku bisa berbicara berdua bersamamu. Aku jatuh cinta padamu,” kataku yang langsung ke luar begitu saja.
“Apa itu jatuh cinta?” tanya Angela.
“Aku akan menunjukkan bagimu bahwa jatuh cinta lebih indah dibandingkan menikmati aroma bunga mawar dan tulip di pagi hari,” jawabku. Aku menggandeng tangannya dan mengajaknya ke suatu tempat yang indah di atas bukit.

“Ini? Bukankah aku pernah mengunjungi gunung ini ketika aku masih kecil?” tanyanya. Aku hanya mengangguk saja dan menunjukkan padanya sebuah hamparan bintang yang luas di langit malam. Aku duduk di suatu tempat di padang pasir di sana dan aku melihat ke arah bintang itu. Angela pun ikut duduk di sampingku.
“Berapa umurmu?” tanyanya.
“Lihat dan hitung berapa bintang yang ada di gugusan bintang langit selatan,” jawabku dengan menunjuk gugusan bintang itu.
“Umur 32 tahun?” jawab Angela yang bingung. Aku menggelengkan kepala dan terus melihat wajah kebingungannya.

Aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang memukau itu. Seakan-akan kenangan di masa laluku tampak menyatu kembali dan aku mulai terhanyut dalam pikiran masa laluku. Aku sadar bahwa saat aku masih menjadi manusia, aku pernah duduk berdua dengan seorang wanita di sebuah balkon rumah melihat indahnya bintang di malam hari. Aku melihat memoriku dimana wanita itu menghitung banyaknya bintang denganku dan aku tertawa ketika wanita itu tampak kesal terhadapku.

“Ahh, gak mungkin salah. Aku ngitung 32 bintang kok,” jawab Angela dengan agak kesal.
“Aku tidak mengerti berapa usiaku,” jawabku. Angela tampak bingung dan memperhatikan wajahku.
“Semua kenangan masa laluku menjadi manusia telah hilang dan aku hanya ingat bahwa aku sudah ada di rumahmu ketika aku membuka mata. Itu hanyalah ingatan pertamaku menjadi roh manusia,” jelasku.

Angela tampak terus mengamatiku. “Aku rasa usiamu masih belasan tahun,” katanya.
“Menurutmu? Aku rasa aku mati di usia tua,” kataku.
“Tidak mungkin. Aku rasa kau mati ketika di usia muda. Sekarang, aku akan bantu kamu untuk menemukan segala memori masa lalumu. Aku percaya kau menjadi seperti ini karena jiwamu masih tidak tenang setelah kau mati,” ajak Angela. Aku hanya mengangguk dan mengikuti semua sarannya. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenang masa laluku ketika aku masih menjadi manusia.

“Kamu tahu gak? Bintang-bintang di langit itu mewakili semua nama manusia yang ada di bumi,” kataku.
“Masa?” tanya polosnya.
“Lihat dua bintang itu,” kataku sambil menunjuk dua bintang yang saling berdampingan.
“Aku rasa bintang itu adalah kita,” kataku.
“Kok bisa?” tanya Angela.
“Lihatlah bintang itu bersinar tepat di bawah kita,” jawabku yang membuat Angela melihat arah cahaya bintang itu.
“Aku ingin ungkapkan ini bahwa aku telah jatuh cinta padamu,” kataku yang langsung ke luar begitu saja.
Angela tampak tidak terima. “Kau kan roh. Bagaimana caranya aku bisa mencintai roh manusia yang tidak jelas asal-usulnya seperti kau ini,” kata Angela. Sementara, matahari mulai terbit dari ufuk timur dan hamparan bintang itu mulai menghilang.

“Indah sekali,” kata Angela dengan takjub. Dia mulai menyadari bahwa gunung ini adalah tempat yang ia kunjungi ketika dia kecil yaitu Gunung Bromo. Angela melihat ke arahku dan berlari menuruni sebuah anak tangga. “Apakah salah roh manusia mencintai seorang manusia?” tanyaku dengan sedikit teriak.
“Aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu cinta,” jawabnya.
“Tak perlu kau menunggu jatuh cinta untuk mengerti apa itu cinta. Dari kau lahir saja, kau sudah bisa merasakan bagaimana cinta keluarga dan temanmu padamu, bahkan Tuhan sekalipun. Masikah kau tidak mengerti apa itu cinta?” tanyaku.

Angela tampak mengingat dan merenungkan setiap pikiran yang muncul dalam pikirannya. Angela tetap turun dan menghiraukan aku begitu saja. Sementara, matahari terbit bersinar semakin tinggi. Anehnya, aku tidak merasakan sakitnya panas matahari seperti di bumi. Semua berbeda di alam mimpi ini. Laura mulai datang lagi di alam mimpinya dan berdiri tepat di depan Angela. “Laura, apa kamu mengenal orang ini?” tanya Angela yang tampa panik. Laura menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah Laura tampak pucat dan tubuhnya dingin.

“Laura, kau kenapa?” tanya Angela yang makin panik.
“Aku tidak mau sahabat kecilku terbaring sakit sendirian pula,” jawab Laura.
“Maksudmu?” tanya Angela dengan suara terbata-bata.
“Kamu telah pingsan selama tiga hari dan kamu belum sadar pula dari pingsanmu itu. Aku datang di sini untuk menemanimu di bawah alam sadarmu,” jawab Laura dan tersenyum pada Angela. Seketika, senyum itu membuat tubuh dari Laura itu tampak sinar yang terang.

“Bagaimana caranya aku bisa kembali ke alam sadarku lagi, Laura?” tanya Angela. Laura menunjuk ke arahku.
“Singkirkan dia dari alam bawah sadarmu atau selamanya kau akan terus terperangkap di alam bawah sadarmu ini. Kemungkinan yang lebih buruk lagi kau akan tidak sadar kembali,” kata Laura dengan mata yang tampak marah padaku.
“Aku tidak tahu siapakah dia? Dan bagaimana cara aku mengusir dirinya dari alam bawah sadarku?” tanya Angela pada Laura. “Dia adalah bagian pikiran dari masa lalumu yang kelam. Lupakan masa lalumu karena itulah yang akan merusak mimpi indahmu di masa depan!” kata Laura dengan lantang.

Badai petir mulai datang kembali dengan awan mendung yang kian tebal dan membuat seluruh alam mimpi itu menjadi gelap. “Kuasailah dirimu, Angela!” perintah Laura dari belakangnya. Seketika, aku mulai pusing yang sangat berat dan aku dapat melihat diriku di masa lalu. Diriku dimana aku sehabis jatuh dari sebuah gedung mall dan semua orang melihat tubuhku yang terbaring terkulai dengan tangis histeris. Aku mulai sadar kembali dan menemukan diriku terbaring di tengah deru ombak pantai. Aku melihat Angela tampak mengkhawatirkan keadaanku.

“Kamu tidak apa?” tanyanya dengan suara yang lembut. Aku langsung bangun dan melihat sekelilingku.
“Di mana aku?” tanyaku dengan suara yang terbata-bata.
“Kamu masih di alam mimpiku. Tadinya, kamu pingsan di tengah badai petir tadi,” jawabnya yang dibalas dengan senyumnya. Aku mulai terhanyut lagi dalam pikiranku dan aku melihat senyum seorang gadis yang sama pada pikiran masa laluku itu. “Siapakah dia?” tanyaku yang membuat Angela bingung.
“Bicara apa kau ini?” tanya Angela dengan sedikit marah.

Bersambung

Cerpen Karangan: Albert Immanuel
Blog: Musafircinta19.blogspot.com
Facebook: Albert

Cerpen Cinta Mustahil Di Dua Alam Berbeda (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengalaman Jordi

Oleh:
Kereta melaju dengan cepat, dia memandang penumpang di depannya, wajah mereka sangat mencurigakan. Seperti ada yang akan mereka lakukan terhadap Jordi dan kakaknya, jordi terus memandangi mereka. Ada tiga

Wild Zone

Oleh:
Sebuah kecelakaan pesawat terjadi pada 4 bulan lalu, pesawat udara berpenumpang 42 orang terjatuh di sebuah pulau kecil yang sangat terpencil, pesawat jatuh setelah mengalami kerusakan pada mesin di

A Mysterious Boy

Oleh:
“Bu, aku tahu ini hari pertamaku, tapi kan aku ingin pergi sendiri.” Dengusku kesal. Ibuku hanya tersenyum matanya masih fokus dan tetap berkonsentrasi dengan laju mobilnya. Aku terdiam dengan

WC Pengubah Segala

Oleh:
Sekarang aku berada di sebuah ruangan yang menurutku itu sangat tidak sopan untuk diceritakan, yah… sebelumnya perkenalkan namaku adalah Alvin aku berada di kelas 9A sekarang untuk tempat yang

Harapan Baru

Oleh:
“satu.. dua… tiga..” aku menghitung detik jam dinding kamarku sambil terbaring lemah di tempat tidurku. Semenjak aku mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu, aku mengalami penderitaan yang amat berat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *