Cold War in The North (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 27 May 2017

Pagi yang terlalu dingin di pagi hari ini. Ini merupakan musim dingin yang terpanjang yang pernah ada. Hal yang begitu menyenangkan. Tapi berlangsung terlalu lama juga membuatku tak nyaman. Bagaimana tidak? hampir 4 tahun lamanya kami tak melihat matahari. semua tertutup salju yang membuat kami tak bisa berbuat banyak.

Ayahku, menceritakan bahwa malam-malam kedepannya takkan pernah sama seperti malam-malam yang lalu. Aku terdiam, entah apa yang dimaksudkan ayahku. Dia tak menceritakan mendetail semua kepadaku. Bingung rasanya melihat ayahku merasakan ketakutan seperti itu. Ayahku merupakan orang yang terpandang tinggi di desaku. Ia ketua komando pasukan di wilayah utara ini. Dimasa-masa seperti ini, ayahku begitu kerepotan meng-komandoi semua bagian di desaku. Di desaku sudah tak terlalu banyak pria dewasa. Desa ini terlalu menumpuk lansia-lansia tua yang dapat melakukan apa-apa. Aku masih merasa bingung, kenapa ayahku tak kunjung mengajakku bergabung di pasukannya.

“Biarkan aku membantumu yah? kau sudah tampak lelah berjaga” celetukku.
“Jangan sekarang, kamu tak mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok” Ayahku, menjawab dengan cepat.
“Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi?” Balasku lagi.
“Umurku takkan bertahan lama lagi, kumohon kamu belajar dengan secepat mungkin bagaimana menjadi pemimpin yang disegani namun tak arogan. Kedepannya takkan pernah terasa mudah seperti sekarang. Kamu lihat saja sudah beberapa yang pergi bersama namun ada yang tak kembali?” Sergah ayahku.
“Baiklah. Namun hal apa yang sedang kita hadapi? Bagaimana caraku menghadapinya jika ayah saja tak mampu mengalahkannya?” Tanyaku lagi.
“Pergilah kamu pagi-pagi esok, siapkan semua kebutuhan dan perlengkapanmu secukupnya. Kamu akan ayah antar menuju ke saudara kembarmu” Tegas Ayahku.
Aku hanya terdiam. Aku tak pernah tahu bahwa aku memiliki saudara kembar. Bahkan Ibuku telah meninggal sejak aku dilahirkan. Kenapa ayahku baru memberi tahu sekarang bahwa aku memiliki saudara kembar.

Tidurku tak nyenyak, aku memikirkan di mana saudara kembarku berada dan tinggal bersama siapa. Kenapa ayah rela meninggalkannya sendiri? Apakah ibuku masih hidup juga! Dengan pikiranku yang tak tenang tubuhku terasa panas aku begitu resah malam ini dan akhirnya aku terlelap.

Aku terbangun, namun aku tak tahu diriku berada di mana ini tak seperti di desaku yang dingin di sini begitu hangat dan aku dapat melihat matahari.
“Di mana aku? Kenapa aku berada di tempat ini?” gumamku sendiri.
Aku berjalan mengelilingi tempat ini, tak ada satu tempat pun yang aku kenali di sini begitu bertolak belakang dengan kehidupanku. Aku ingin pulang namun aku tak tahu cara keluar dari tempat ini. Namun secara tiba-tiba datang segerombolan kuda mengelilingiku. Mereka terus berputar yang membuat seluruh debu di tanah beterbangan ke udara. Aku merasa pusing, tak ada satu orang yang mengendarai kuda-kuda ini. Tapi tampak dari jauh seorang berjalan mendekatiku. Namun kepalaku begitu berat dan akhirnya diriku tak sadarkan diri.

“Luke, bangun Luke!” Terdengar sayu kecil suara Ayahku.
Mataku begitu berat ketika ingin kubuka, tubuhku terasa lemah sekali untuk berdiri pun kurasa aku tak mampu.
“Apa yang terjadi yah? kenapa semua mengerubungiku” Tanyaku.
“Kamu sudah tak sadarkan diri selama 3 hari Luke. Apa yang terjadi denganmu?”
Aku tak percaya, bagaimana bisa aku tak sadarkan diri selama 3 hari lamanya. Apa mimpi tersebut ada kaitanya dengan semua ini. Aku ingin bercerita kepada ayahku namun di sini begitu ramai.

Di malam harinya, aku mencari ayahku dengan tubuhku yang begitu terasa lemah sekali tetapi rasa keingintahuanku mengalahkan semuanya.
“Apa kau sudah tahu penyebab semua ini?” Bentakku.
“Baiklah Luke, akan kuceritakan semua yang selama ini Ayah sembunyikan darimu.”
“Penyebabmu tak sadarkan diri selama itu karena kesalahanku memberitahu keberadaan saudara kembarmu. Ia datang ke mimpimu bukan? Kalian sebenarnya tak boleh dipertemukan secara sengaja seperti yang kurencanakan. Kelahiran kalian berdua telah diramalkan oleh ketua desa kita dahulu. Kalian memiliki kekuatan yang begitu besar untuk dipersatukan maka dari itu kalian dipisahakan sedari dini agar kalian tak sama-sama tahu memiliki saudara kembar”
Aku tak menyangka, aku terdiam tak dapat berkata-kata mendengar cerita ayahku.
“Apa ibuku masih hidup? Kenapa kau begitu tega memisahkan aku dari ibuku sendiri!!” Bentakku
“Maafkan ayahmu, memang ibu mu masih hidup. Ialah yang merawat yang merawat saudaramu di sana. Di kultur yang berbeda dari keadaan kita di sini. Jika kalian tinggal secara bersama di sini satu dari kalian harus ada yang mati!” Tegas Ayahku
“Apa maksud Ayah?”
“Kehidupan kalian akan sangat dibutuhkan untuk masa depan, namun tampaknya dugaan kepala desa kita salah. Keadaan bahaya datang lebih cepat dari perkiraannya. Kau ingat apa yang Ayah beri tahu beberapa hari yang lalu? Kau dan saudara kembarmu la yang bisa menghentikan ini semua”
“Menghentikan apa? dan dari apa Ayah?”
“Dunia Penyihir!” Bentak Ayahku.

Begitu pagi aku dan Ayahku berangkat. Kami pergi berkelompok dengan 10 pengelana kuda berpengalaman yang dipilih langsung oleh Ayahku. Ia tak mau mengambil resiko dengan hanya berpergi berdua denganku karena Sang Penyihir telah memerintahkan pasukannya untuk membunuhku agar tak dapat bergabung dengan saudara kembarku. Karena ia juga mengetahui ramalan tentangku dan kembaranku umtuk mencegah dinasti Penyihir menguasai sisi utara ini. Di satu sisi aku takut akan keadaan bisa menjadi buruk secara tiba-tiba. Namun di sisi yang berbeda aku ingin bertemu dan bergabung secepat mungkin dengan saudara kembarku agar menyelesaikan ini semua secara cepat.

Dimalam hari kami berhenti untuk beristirahat dan bersembunyi. karena menurut Ayahku para pesuruh Sang penyihir bergerak begitu lihai dan tak terdeteksi dan itulah penyebab beberapa ksatria dari desaku tak pernah kembali lagi.
“Katamu mereka begitu lihai di malam hari tapi kenapa kau membuat api yang begitu besar Ayah? bukan itu terlalu mencolok memberitahu keberadaan kita” Kataku, sembari mengasah pedang baruku
“Memang kita memberitahu posisi kita terhadap musuh, tapi mereka takut akan api maupun cahaya. Takkan ada satupun dari mereka yang akan berani mendekati kita. Oleh sebab itu, kita harus bergantian satu atau dua orang untuk menjaga api tetap menyala hingga fajar datang” Jelas Ayahku.

Fajar telah datang, kami melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan akan memakan 2 hari 2 malam lagi perjalanan masih sangat jauh. Aku melihat di sisi-sisi hutan begitu banyak kepala hewan yang terpenggal.
“Kenapa kepala hewan-hewan itu terpenggal di satu tempat dan begitu banyak. Apakah manusia yang melakukannya?” Tanyaku.
“Tidak, ini bukan kelakuan manusia, namun ini ulah para-para pesuruh Sang Penyihir tersebut’ Mereka memang makan segalanya dan hanya meninggalkan sisa-sisa kepala buruan mereka di satu tempat seperti ini” Jelas Ayahku.
“Tetaplah Fokus para Ksatria kehidupan ada di tangan kita!! Bentak Ayahku.
“YOSHHHHH!!!” Mereka menjawab secara kompak yang membuatku merasa nyaman di perjalanan ini.

Perjalanan ini tak terasa membuatku lelah. Semua ksatria ini tampak bersahabat mereka tak memandanng remeh diriku. Hari pun sudah menuju senja kami bersiap untuk membuat api unggun kembali untuk menghindari para pengintai Sang Penyihir yaitu “Ocrus” Rupa mereka tak ada yang mengetahui mereka datang dan pergi secara cepat tanpa menunjukan wujud mereka. Angin begitu kencang malam ini. Firasatku tidak enak dan tubuhku terasa lelah sekali. Dan akhirnya aku terjatuh entah mengapa.

Drap drap drap!!” hentakan kaki kuda membuatku terbangun lagi namun kembali aku tersadar di tempat yang sama dengan mimpiku yang lalu. Namun tak ada kuda lagi yang mengelilingiku. Tampak dari jauh pandanganku sedang berjalan dengan tertatih menujuku dan ia terjatuh. Aku bergegas menuju dirinya, apakah ia saudara kembarku? Kenapa ia berjalan dengan tertatih.
“Apa yang terjadi? kenapa kau terluka? apa Sang Penyihir yang menyebabkan ini” tanyaku.
“Benar, tapi aku bukanlah saudara kembarmu aku hanya sebuah ingatan kecil yang ditanam ibumu sejak kau terlahir. Aku terluka, ini karena ibumu juga sedang terluka! Ada yang meyerang mereka secara mendadak dan berhasil menghancurkan portal pelindungmu untuk saudaramu agar tak diketahui keberadaannya. Dan diluar kesadaranmu juga diperlukan, rombonganmu juga sedang bertarung dengan Ocrus mereka semua membutuhkanmu!

Aku tersadar, namun semua tampak kacau. Aku tak melihat ayahku, dan para ksatria sedang bertarung melindungiku!! Badailah yang mengakibatkan api unggun kami mati dan memberikan kesempatan Ocrus untuk menyerang kami.
“Di mana Ayahku??” namun tak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku.
Aku berdiri dan membantu para ksatria. Dan di titik inilah akhirnya kami mengetahui rupa para Ocrus! Mereka semua adalah para-para ksatria yang hilang dan dirubah oleh Sang Penyihir menjadi manusia buas yang mengerikan dengan mata tiga!

Hari akan menuju fajar namun tak kunjung juga aku melihat tanda-tanda keberadaan ayahku. Dan para Ocrus telah ingin menghindar dari kejaran kami. Namun ayahku tiba secara tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan ia tampak lelah dengan penuh darah ia berjalan gontai. Namun secara tiba-tiba Ocrus menyeretnya kembali ke dalam hutan tanpa perlawanan. “Pergi!!! cari cepat Sam. Itu nama saudaramu Luke!!!

To Be Continue..

Cerpen Karangan: Kukuh Putra Pamugkas
Blog: Readtokuh.blogspot.co.id
Penulis: Kukuh ptr pamungkas
Blog: Readtokuh.blogspot.co.id

Cerpen Cold War in The North (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hutan Misteri (Part 2)

Oleh:
“Mereka sebuah pohon!!” Aries menggaruk kepalanya, wajahnya dipenuhi kebingungan. “Tapi bagaimana bisa mereka mempunyai tangan dan kaki? Bahkan mata dan mulut layaknya manusia” Untuk sesaat kami sibuk dengan pikiran

Love Trip

Oleh:
Pelajaran pertama, sastra klasik. “Hari ini kita belajar tentang sastrawan, buka halaman 102” kata guru Katsuya. “Eh, SMS dari Kazu,” ucapku pada diri sendiri. Namaku Hirose Sara, 14 tahun.

Lucas Revolver

Oleh:
Natasha Alford, wanita berusia empat tahun lebih muda dari Lucas Draw itu berlari kecil menuju taman, kebahagiaan terlihat jelas dari wajahnya. “Natasha, ini taman bunga. Kau membunuh mereka jika

Lexarion (Part 1)

Oleh:
Desing kipas angin menderu kencang. Menggema hingga ke setiap sudut ruangan. Seorang gadis sedang menikmati semilir angin dari kipas angin yang menggantung di plafon kamarnya sambil merebahkan diri di

Rumah Berhantu

Oleh:
Sebuah rumah besar yang sudah tak berpenghuni kurang lebih 150 tahun itu menjadi buah bibir masyarakat desa Enggak Makmur -nama yang aneh. Ada yang mengatakan kalau di dalam rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cold War in The North (Part 1)”

  1. masbay says:

    Sangat menarik. Ditunggu part 2 nya, ya.

  2. kapan part 2 nya di tayangkan? nggak sabar membaca kelanjutannya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *