D (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

Labil. Tatkala angin sedang bergejolak ke sana-sini, semua yang disapanya bergerak mengikuti alur balapnya. Entah karena semangat, atau karena alasan lain, menjadi bergerak. Batu juga. Kata kisah orang-orang terdidik, dia bisa berlubang kalau ditetesi air. Tetapi, setelah disirami air yang banyak, batu itu menjadi bergerak menjauh dari air. Begitulah kakakter manusia di negara Lux-Verdant.

Seperti airlah yang seharusnya bening tak tergoda oleh apa pun. Yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh umat, tanpa pandang bulu. Ketika marah, bisa menjadi malapetaka. Air selalu menyesuaikan lingkungan. Nasibnya diombang-ambingkan oleh semua rasa di dunia, padahal air adalah sesuatu yang baik dan menakjubkan. Itulah sebuah kebenaran yang dipengaruhi negara Lux-Verdant.

“Bu, aku dengar ada sebuah negara yang makmur dan hijau. Menurut Ibu bagaimana?” tanya anak yang paling kecil.
“Intre, kita harusnya bersyukur. Kita hidup di lautan yang sangat megah dan luas. Dan kita adalah makhluk yang sangat terhormat di sini. Seolah seperti kahyangan yang Ibu impikan,” jawab Ibunya.
“Hei, Intre. Tak usah aneh-aneh kamu. Untuk apa kita ke sana. Ke tempat yang belum kita ketahui. Jalani saja hidup di laut. Makan rumput laut, menemukan sesuatu yang baru dan bertemu kawan baru,” timpa kakaknya.
“Kak Intra, aku hanya bertanya pendapat Ibu. Memangnya aku mau pindah? Aku hanya ingin tahu,” jawab Intre.

Dengan rambut yang keriting dan muka yang bersih, dan juga tubuh yang ideal, serta mata yang tidak terlalu sipit atau lebar, membuat seorang lelaki yang bernama Intre berenang sedemikian senangnya. Diikuti teman-temannya dan dia memang seperti mereka. Tentu berbeda kalau Intre sedang menyendiri. Pikirannya begitu luas dan ingin merambah segala sesuatu yang asing dan kadang berbahaya baginya. Salah satu tujuannya adalah berkunjung ke negara Lux-Verdant. Negara yang pernah ia dengar dari nelayan yang lewat perairan negerinya itu. Sebuah negara yang makmur dan hijau serta sangat nyaman untuk disinggahi.

“Boom. Boom. Boommm,” suara ledakan di laut terjadi.
“Tolong. Tolong,” jeritan penghuni laut kala itu.
“Intre, ayo kita pergi dari sini. Tempat ini sangat berbahaya,” ajak Intra, kakaknya.

Segera tanpa berpikir, Intre berenang secepat mungkin untuk menghindari ledakan. Sebenarnya bukan itu, tetapi dia hanya ingin tahu lebih dalam lagi untuk berpikir dengan segala isi dunia ini. Makanya dia menghindari ledakan itu. Dia melihat banyak temannya, rata-rata yang bertubuh kecil, mati. Tatkala melihat itu, Intre terpikir oleh ibunya. Karena terlalu jauh berenang, dia kembali dengan cepat ke rumahnya untuk melihat kondisi ibunya.

“Intre, kau bodoh, ya. Kau jangan terlalu jauh berenangnya. Seharusnya kau lihat juga kondisi keluargamu. Apakah baik atau tidak,” marah Intra.
“Tadi kakak berkata kalau menyuruh Intre pergi dan berenang cepat. Sekarang mengapa jadi seperti ini,” balas Intre.
“Sudah. Sekarang kita angkut jenazah Ibu. Kakak sangat sedih dengan kondisi ini. Hanya karena ledakan, Ibu kita meninggal. Ini semua salah orang di negara yang kau anggap makmur,” ucap Intra.
“Hah, Ibu meninggal? Ibu! Jangan tinggalkan kami berdua. Ayah sudah mendahului kita. Kau juga menyusul. Lalu, bagaimana nasib kita di lautan?” tanya Intre dengan pasrah.

Mereka berdua, kakak-beradik membawa Ibunya ke makam lautan untuk dihormati terakhir kalinya. Mereka sangat kecewa dengan semua ini. Karena kasta mereka yang tinggi, para penghuni laut banyak yang melayat Ibunya. Mereka juga menangis. Mereka kehilangan pemimpin para penghuni laut saat itu, yaitu Ibu dari Intre dan Intra.

Hari demi hari kian berlalu dengan aturan alam. Sekian lama penghuni luat tanpa pemimpin sejak ledakan itu. Kebetulan umur Intra, sang anak dari Uniko, Ibu dari Intra, sudah mencukupi. Intra diangkat menjadi pemimpin. Rakyat juga bersorak dengan pemimpin yang baru bagi penghuni laut itu. Impian Intra menjadi pemimpin telah terwujud.

Di padang lamun yang kura-kura makan di sana, Intre meyendiri dan merenungi nasibnya. Begitu lama ia termenung. Hingga suatu kabar dari bisikan muncul di benak Intre. Kabar yang tak tahu datangnya dari siapa.
“Ini semua pasti karena makhluk negara sialan itu. Sekarang aku tak boleh lagi kagum dengan negara yang katanya makmur dan hijau. Besok aku akan berkunjung ke negara itu. Tak ada yang akan melarangku pergi ke daratan. Tubuhku juga sama seperti mereka. Tentu aku mampu, tetapi agar tak diketahui dari laut, aku harus menyamar,” kata Intre.

Karena terlalu sibuk dengan urusan laut, Intra tak mengetahui kepergian adiknya ke daratan. Adiknya telah pergi dari laut dan menuntut balas terhadap kerusakan negerinya. Adiknya memang sangat pandai dalam mengatur strategi. Itulah yang menjadi masalah bagi Intra. Intra tak terlalu pandai dalam mengatur negerinya. Intra begitu dibenci rakyat karena sikapnya yang semena-mena dan tidak bertanggungjawab. Intra baru menyadari kesalahannya.

POV Aden
Polos. Itulah anak yang kecil dan berangan-angan besar. Tubuh yang kecil dan miskin. Dengan mata yang sipit dan kulit putih serta logatnya agak aneh di telinga manusia. Sehari-hari hanya menggembala kambing majikannya. Dan hanya diupah sedikit oleh majikannya. Itulah aku.

Aku tak terima dengan semua ini. Makanya, aku ingin mengubah negara ini menjadi negara yang lebih baik. Aku harus membebaskan negara Lux-Verdant. Bagaimanapun caranya. Aku harus belajar dengan rajin. Itulah pemikiranku. Pemikiran yang berbeda dari yang lain. Seperti mataku.

Teman-temanku banyak yang main bola, basket, dan lain-lain. Aku hanya bisa menatapnya. Pernah aku ingin balas dendam dengan temanku. Tetapi aku bukan siapa-siapa. Aku hanya makhluk yang jalang tak dianggap oleh alam.

“Lebih baik waktu senggang ini kugunakan untuk belajar. Berarti aku lebih baik dari mereka. Aku harus meraih cita-citaku menjadi Presiden,” ujarku.
“Brukk,” bola mneghantam buku.
“Aden, tidak usah kau belajar. Hanya membebani Bapakmu. Lebih baik mati saja,” kata teman-temanku.
Spontan aku langsung mengambil bukuku yang jatuh. Dendamku semakin tambah tatkala temanku mengolok-olok aku. Aku menangis sampai rumah. Dan aku belajar lagi hingga malam tanpa henti setiap hari. Itulah yang bisa kulakukan. Bukan menggembala kambing lagi. Majikan aku sudah mati kubunuh. Jadi, aku memutuskan belajar agar pintar.

SD tahun 1-3
Waktu ini sangatlah menyenangkan bagiku. Bagaimana tidak? Aku hanyalah diajak berhitung sambil bermain. Dimanja dan banyak makanan. Diantar-jemput oleh Bapak. Sangatlah nyaman. Prestasiku juga sangat melejit. Di atas angin. Hal itu membuat temanku benci dan ingin menyaingiku. Biarlah. Aku sekarang bisa menggambar dan mengoperasikan komputer. Menulis dengan rapi dan membaca cepat. Selain itu, juga bisa mengalahkan dalam permainan catur beberapa orang dewasa. Baca Al-Qur’an sangat mudah. Mungkin, otakku didesain untuk semua ini.

Tak ada rasa benci dan marah masa ini, hanya ada satu yang membuatku menangis. Temanku mati. Dia kalah oleh pertarungan melawan sakit perutnya,. Dia jihad. Dikalahkan oleh nafsu roti. Mungkin karena terlalu banyak makan roti buaya, dia mati. Aku tak peduli itu. Entah mengapa aku menangis, yang jelas bukan karena temanku. Atau karena aku takut terjangkit penyakit yang sama.

SD tahun 4-6
Karena Bapak yang memutuskan pindah, kami sekeluarga pindah ke wilayah yang baru. Pergi ke luar negara Lux-Verdant. Pokoknya pindah. Tak peduli negara apa. Aku marah. Aku sudah nyaman dengan pengalaman sekolah di tahun 1-3. Waktu itu seperti angin yang membawaku ke sana sini menikmati hamparan alam. Tetapi sekarang? Ini sangat fatal. Prestasiku memburuk. Aku tak suka sekolah. Teman-teman serasa asing. Tidak ada yang mengenal. Aku tak minat dengan teman. Jika bisa, ingin kubunuh dan tikam semua temanku. Mereka bisanya mengejekku, menghina. Dan tidak menolong saat aku susah.

“Bapak, aku ingin pindah dari negara ini. Kita pindah ke Lux-Verdant saja,” keluh aku.
“Apa katamu? Pindah?” marah bapak sambil memukulku.
“Mengapa Bapak sekarang berani memukul? Dulu, Bapak sangat sayang kepadaku. Bapak jahat,” sahutku sambil pergi menangis.

Apa maksud Bapak memukulku. Seharian aku menikmati hujan yang tak henti mengguyur rumahku yang tak layak. Semoga saja rusak oleh hujan. Aku benci dengan ini. Kulihat bayangan yang menuju diriku. Mataku terpejam dan tak sanggup melihat rupanya. Sekejap langsung menghilang. Ternyata aku tertidur. Aku di dunia yang begitu singkat.

Begitulah rasa kian cepat menyatu dalam diriku. Kematian. Hanya itu yang sangat akrab bicara. Seolah berkata kalau dia teman dekatku. Aku membuat sejarah. Ya, aku harus membuat sejarah dan orang-orang harus mengenangku. Alunan gamelan dalam otak semakin terdengar seperti menyayat. Inilah dendam. Aku harus kembali belajar menjadi yang terbaik. Merebut hak rakyat yang sekarang terusik oleh peradaban baru. Dan aku harus memerangi itu.

Di sekolah, banyak pertanyaan yang kulontarkan. Aku semakin ingin tahu apa yang belum kutahu. Kurasakan getaran cinta ilmu datang. Kulihat masa depan yang belum jelas. Kudengar alunan gamelan yang bersorak-sorak menyemangatiku. Kucium bau kematian di hari terakhir hidupku jika Tuhan mengizinkan.

Hingga akhir ujian, aku semakin giat belajar. Demi nilai terbaik. Rumus demi rumus aku hafal. Terkadang aku ragu dalam latihan soal. Rumus mana yang akan aku gunakan. Bimbang memilih jawaban. Semakin bingung, semakin rumit pikiranku. Dari situlah pikiranku mulai rumit dan tak diketahui banyak orang. Aku hanya mengikuti alur pikiranku. Dan berhasil menjadi terbaik di SD dengan nilai sempurna. Berhasil.

Cerpen Karangan: Adnan Wahyudi
Facebook: Adnan Wahyudi

Cerpen D (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boneka Yang Sombong

Oleh:
Namaku Grace, umurku entah berapa. Aku telah lama terpisah dengan keluargaku. Dulu orang bilang aku cantik dan lucu, namun lain dulu lain sekarang. Rumahku di mana saja, aku bisa

Katakan Dengan Hati (Part 1)

Oleh:
Aahhh… Nyamannya… tempat ini begitu membuatku tenang, serasa ku ingin istirahatkan tubuhku yang lelah ini. Aku rasa aku akan memejamkan mata sebentar saja… “andi… andii…” terngiang suara di kepalaku

Rio

Oleh:
Sudah terlalu banyak puisi yang kuciptakan untukmu Rio! Entah kenapa kau belum juga mengerti perasaanku. Tidakkah kau tahu bahwa di luar sana banyak yang menanti dan menungguku untuk hadir

Pink City

Oleh:
Halo namaku Amanda Aisyah Azaly Nafisa aku punya sahabat namanya Maisa Anatasha Mutika Hafiza dipanggil Tika kalau aku dipanggil Fisa aku juga punya Kakak loh namanya Ananda Dievarra Rallya

The Fly Fairy Anskalovia

Oleh:
Terlihat bahwa air itu masih turun dari atas langit. Hujan deras masih setia mengguyur daratan Anskalovia sejak siang tadi dan belum menunjukkan tanda-tanda hendak beranjak. Padahal, hari mulai larut,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *