D (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

SMP tahun 7-9
“Akhirnya aku kembali ke dunia awal. Aku kembali segar dengan pikiran yang baru. Entah mengapa terus terngiang rasa kebencian dan penasaran terhadap diriku. Aku mencoba merenung hal itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku semakin brutal dengan dunia,” kataku kepada guruku.
Hari-hari berlalu membosankan. Banyak ulangan dan ujian semester yang selalu menuntut hasil yang menanjak. Tak butuh seberapa besar kenaikan nilai itu. Yang penting naik. Otak seperti tak bisa diajak kompromi. Setiap malam harus minum kopi pahit, sepahit kehidupan yang terus bermasalah.

Masalah itu bermula dari marahan orang tua. Padahal dahulu aku anti dimarahi. Sekarang berubah drastis. Pernah aku dipukul dan dibentak. Aku menangis tersedu-sedu. Selain itu, larinya ke warung untuk membeli es yang banyak untuk mengobati rasa sakitku. Rasa sakit ini kuhubungkan dengan sekolah. Aku sangat konflik dengan ruangan sekolah dan isinya. Mulai dari buku yang terlalu tebal, teman yang menyebalkan. Dan guru yang super sibuk. Tetapi ada guru yang selalu menyemangatiku untuk maju. Dia selalu meluangkan waktu untuk bertukar kisah dan humor. Kadang diselipi cerita mistik dan agama. Serta tokoh dan pemikiran yang fenomenal di dunia. Itulah semacam pil atau peluru yang menembus ke dalam otak dan relung jiwa terdalam yang seolah memubuatku mabuk motivasi.

Tetapi, kadang ada setan dan malaikat yang bersliweran di depanku. Mereka bergantian membuat karakterku berubah. Kadang baik, kadang jahat. Tobat maksiat sebutannya. Itu salah mereka. Mereka yang telah diciptakan Tuhan untuk hidup. Tetapi takdir. Aku yang harus sabar. Kubaca banyak buku tebal. Terpaksa. Tulisan dan huruf kadang menjadi teman hidup setia. Menyatu dalam rangkaian paragraf demi paragraf yang membuatku lusuh dan pandai.

Kualihkan pandangan dalam taman yang dibelakang sekolah siang dan sore untuk meredakan pusing. Kunang-kunang mengalir masuk dalam mataku dan sungai mengalir di bawah mata. Lengkap. Semua gara-gara masalah. Atau aku yang bermasalah.

“Aden. Mengapa kamu pintar? Aku padahal sudah belajar mati-matian dari kamu. Kenapa kamu selalu unggul. Dasar curang,” kata Rio, musuhku.
“Diam. Aku tak butuh omonganmu. Tak usah nuduh. Jangan fitnah. Pergi dari mataku, atau kau kuhajar,” balasku.
Rio langsung menanggapi karena takut dipukul. Begitulah masa sekolah yang membosankan hingga tiba di akhir semester kelas 9. Ujian Nasional lagi.
“Aden. Kali ini kamu harus berhasil lagi. Jangan kalah. Pokoknya harus menang,” semangatku.
Persiapan yang begitu matang menjadikan tubuhku kebal terhadap soal. Aku yakin bisa.

Juara satu UN se-SMP adalah Gareng dengan nilai sempurna.
Juara dua adalah Aden dengan nilai 99,99.
“Argghh. Mengapa akhirnya kalah. Apa salahku. Aku sudah maksimal. Masih kalah dengan Gareng yang bodoh. Ini pasti curang,” sesalku.
“Eh, jangan menyalahkan Gareng. Dia belajar lebih keras darimu. Jangan mengarang kamu,” kata Rio tiba-tba.
“Diam,” sahutku.

Kali ini, aku harus memilih sekolah yang baru. Tragedi di rumah terjadi. Ayah dan Ibu pergi ke pangkuan Tuhan untuk istirahat. Mereka kecelakaan mobil. Aku tak terima dan aku trauma. Aku masuk di sekolah favorit dan belajar seperti biasanya.

Kulampiaskan kemarahanku pada sekolah dengan belajar rajin. Kusinggahi kuburan mereka dengan memohonkan doa kepada Tuhan agar diberi surga yang layak. Aku meminta maaf kepada Bapak dan Ibu karena kesalahanku. Aku dengar mereka memaafkanku saat aku mimpi.

Aku terus mengasah ilmu dan belajar agar menjadi yang terbaik secara konsisten. Kematian orangtua hatus dijadikan semangat belajar. Dan aku tak akan pernah berhenti mencari pembunuh orangtuaku.

UMUR MINIMAL YANG DIPERBOLEHKAN SEKURANG-KURANGNYA 15 TAHUN.

“Ini berita bagus buatku. Aku ingin jadi Presiden seperti impianku. Aku harus masuk partai politik dan promosikan diriku agar diusulkan menjadi Presiden. Nanti siang aku mau mendaftar ke partai politik,” kataku dalam hati.
Siang sepulang sekolah.

“Permisi, Pak. Saya mau mendaftar partai politik. Bagaimana caranya?” tanyaku.
“Apa! Sekolah saja dulu. Perkuat ilmu. Jangan ke sini lagi!” kata petugas parpol.
“Saya yakin bisa menjadi anggota partai politik, Pak. Saya tidak akan melalaikan tugas sekolah. Saya… Saya yakin bisa,” balasku.
“Tidak. Sekali tidak tetap tidak. Kau harus sekolah. Jadi anggota parpol tidak mudah. Perjuangan,” lanjutnya.
“Pak, izinkan saya masuk. Atau gedung ini saya bakar,” ancamku.
“Bisa apa kau anak kecil? Masih sekolah berani mengancamku dan gedung ini?”
“Oke. Nanti malam saya buktikan.” kataku tegas sambil pulang

Malam hari
“Mana anak itu, katanya mau ke sini buktikan membakar gedung ini?” kata Pak Haru, petugas yang tadi membentak Aden.
“Tolong. Tolong,” teriak seseorang.
“Apa itu?” teriak Pak Haru menuju ke sumber suara.
“Aduh. Kebakaran… Kebakaran… Mari ambil air!” teriak Pak Haru setiba sampai di sana.
“Mana yang lain? Harusnya mereka selalu setia di sini untuk menjaga gedung. Benar-benar tak bisa dibiarkan perilaku anak itu,” kata Pak Haru.

Pak haru dengan terpaksa memadamkan sendiri. Api semakin besar dan sia-sia. Dan melihat teman-temannya diikat dengan kawat duri. Melihat itu, Pak Haru dengan emosi menyiramkan air aki ke muka mereka. Wajah teman-teman Pak Haru terbakar seperti api yang membakar gedung parpol itu. Begitu mencekam. Di ujung malam, barulah api padam karena petugas pemadam api datang membatu.

POV Aden
BARU SAJA TERJADI KEBAKARAN GEDUNG PARPOL KARENA DIDUGA KEBAKARAN DAPUR, DITEMUKAN TERSANGKA, DI TEMPAT. KARENA BUKTI YANG KUAT. DIA MEMBUNUH BANYAK ORANG YANG TERIKAT DENGAN AIR AKI. SEKIAN LAPORAN DARI TEMPAT.
Begitulah laporan berita yang aku lihat. Aku sangat senang mendengar itu. Tentu dia sekarang sedang menghadapi sidang besar di meja hijau. Lalu, aku berusaha izin masuk ke parpol lain.

“Permisi, bisakah saya mendaftar ke parpol ini, Parpol Api? Bukankah umur menjadi parpol adalah 15 tahun?” tanyaku sopan.
“Oke. Kau selesaikan semua syarat ini. Besok kembali lagi,” jawab Pak Jyu, petugas di situ.
“Sudah siap, Pak. Tinggal responnya,” kataku sambil memberi syarat yang diberikan.
“Wah, oke, kamu tinggal menjalani tes besok dan tes praktik,” lanjut Pak Jyu.
“O,” jawabku singkat.

Pagi keesokan hari.
Burung menyambutku dengan kasar. Mereka tak suka aku bergabung ke parpol. Aku tendang mereka ke atas hingga terbang menjauh. Begitu juga matahari yang begitu menyengat. Aku tak suka kali ini. Kupercepat langkahku menuju tempat tes. Sengaja aku izin untuk mengikuti tes parpol. Demi Presiden, jabatan yang aku impikan.
Sesampainya di sana, kuhadapi soal dengan sangat yakin. Soalnya tak begitu sulit karena aku sudah banyak belajar. Tak ragu aku mengerjakannya. Begitu pula tes praktik yang mengandalankan kemampuan bicara. Aku pun lancar menjalaninya.

Seminggu kemudian,
“Terimakasih, pak,” kataku pada Pak Pos sambil terima surat.
SELAMAT! ANDA DITERIMA DI PARTAI POLITIK API. JALANI TUGAS DENGAN MAKSIMAL.
Hatiku sangat bahagia setelah diterima di partai politik bergengsi di negara Lux-Verdant. Sekarang saatnya melakukan berbagai strategi agar cepat menjadi pimpinan parpol atau minimal diusulkan menjadi calon Presiden.
Hari demi hari begitu panas. Sekolah juga sudah lulus dan mendapat ijazah dengan nilai memuaskan, itu hal biasa. Sekarang aku fokus kepada tujuanku. Umurku 17 tahun. Aku sudah banyak membuat perubahan bagi partai. Aku sudah membebaskan banyak rakyat miskin dan sekarang mereka menjadi kaya. Dan juga banyak canang parpol di seluruh negara. Peminatnya juga banyak. Tak hanya itu, aku juga membuat fasilitas negara menjadi lebih baik. Bahkan lebih dari Presiden. Karena itulah aku dicalonkan jadi Presiden
“Terimakasih atas dukungan kalian. Semoga Tuhan merahmati kita,” kataku pada semua orang.

POV Intre
“Aku dengar. Sebentar lagi Presiden yang lama akan berganti. Dan aku dengar Presiden yang baru akan dipilih melalui pemilihan umum setiap 2 tahun sekali. Calonnya siapa?” tanyaku dalam hati.
Aku memutuskan berjalan agar mendapat berita tentang calon yang akan menjadi Presiden. Kutemukan di tiang listrik, ada satu dari Parpol Api, namanya Aden. Tetapi, mengapa baru satu. Lalu, aku bisa tidak? Itulah semacam pertanyaan bodoh.
Tanpa banyak bicara, aku langsung mencalonkan dri menjadi calon Presiden nomor urut dua. Bagi manusia darat, aku masih asing bagi mereka. Namaku saja juga aneh. Tapi ini satu- satunya cara untuk membalas dendamku pada manusia darat yang telah mematikan ibuku.

Kampanye Pemilihan Umum
“Rakyat yang berbahagia, aku akan membawa negara ini menjadi lebih maju dan kaya. Kalian akan merasakan kemajuannya. Lihat nanti.,” tegas Aden, calon presiden urut satu setelah membacakan visi misinya.
Lalu, dilanjutkan pidato dariku.
“Terserah kalian memilih saya atau tidak. Itu hak kalian. Yang penting, pilihlah wakil rakyat yang yang menurut kalian pantas!” begitulah penutup pidatoku dengan rendah hati.
Bagiku, kampanye tak usah dilakukan berlebihan. Tetapi cukup menyentuh rakyat dengan ikhlas dan diajukan dengan rendah hati. Jika sudah memimpin, tak perlu harta dan pujian, tetapi integritas. Tak perlu banyak harta, yang penting cukup untuk hidup. Jika nanti aku menjadi Presiden, aku akan buat semua kembali ke jalan yang benar dan rakyat fokus pada tujuan negara pada awalnya.

The End

Cerpen Karangan: Adnan Wahyudi
Facebook: Adnan Wahyudi

Cerpen D (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Failed Slang

Oleh:
Halo… perkenalkan nama aku ROY, biasa dipanggil roy. aku sama seperti kalian semua, sama-sama ganteng. Sebelum lanjut bercerita, aku mau memberitahukan sebuah info. Yaitu, saat ini di kota kita

Aelan

Oleh:
Aura bahagia dan berseri-seri nampak memancar dari wajah seorang gadis kecil. Dengan seragam putih-merah, dia melangkah pasti sambil mengayun-ayunkan tangannya. Dalam hatinya bertaburan kegembiraan sebab baru kali ini dan

Kutukan Sepele

Oleh:
Kutukan. Kutukan sering digambarkan mengerikan. Tapi kutukan yang “tidak menakutkan” kadang justru membawa dampak besar, membuat kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Aelita, anak perempuan yang sangat gemar bermain

Adi Yang Terluka

Oleh:
Sore itu dengan berteman hujan dan petir. Adi pulang dengan hati hancur. Ia berteriak sejadi-jadinya, baginya dunia sudah kiamat. Mengingat bagaimana kejamnya, wanita yang sangat ia sayangi telah menduakan

Pangeran Dan Putri Cantik

Oleh:
Dahulu kala hiduplah seorang Pangeran. Pangeran yang baik dan sederhana, pada waktu itu pangeran sedang mengendarai kendaraan yang sangat bagus nan cantik. Ketika di tengah perjalanan Pangeran diberhentikan oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *