D’Bengal 4ever

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Waktu itu kisaran jam 20.00 disaat hujan rintik-rintik menemani kebersamaan kami, setelah ‘ngaso’ sebentar di warung, kami bertiga sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tinggal kami bertiga yang tertinggal dari rombongan, semua karena kemanjaan kami yang terlalu asik mencari tanaman anggrek hingga akhirnya terpisah dari rombongan.

“Semua karena salah kamu Lil!” Sungut salah seorang dari mereka sambil mulutnya sibuk mengulum permen kojek.
“Salah aku gimana?”
“Iya salah kamu semuanya, coba kalo kita ikutin omongan Uchu… kagak kaya begini deh jadinya” “Mana udah malam dan hujan lagi, bikin sutres aja, iya nggak Chu?”
“Kebiasan! Udah begini saling salahin. Mendingan kita nikmati aja perjalanan ini dan tetap cool…bisa nggak?” jawab Uchu sambil meminta kedua rekannya tetap tenang.
“Tapi Chu… jujur perasaan aku nggak enak banget nih” “Kepikiran terus sama apa yang diceritakan oleh pemilik warung tadi… nih liat bulu kuduk aku merinding cuy!”
“Itu hanya perasaan dik Viona aja, lagian percaya aja sama takhayul” Canda Uchu ke Viona, Kemudian “Kamu juga Ulil, jalannya agak cepetan jangan manja biar kita cepat sampai atau bertemu dengan rombongan”
“Iya bos! Siap dilaksanakan” Sambil mengangkat kelima jemarinya membentuk sikap hormat ala tentara dan, berlari kecil mendahului kami.

Tak lama kemudian, ia kembali ke arah kami dengan wajah pucat pasi dengan suara terbata-bata dan napas terengah.
“Kenapa Lil?… Kaya habis liat ‘Momo’ aja?”
“Li..li..liat di sana!” Tunjuknya, sambil mengarahkan jari telunjuk ke belakang.
Sontak saja perjalanan terpaksa kami hentikan manakala tampak seorang pria tegap berdiri sekitar 100 meteran dari arah kami. Sorot matanya tajam bak serigala yang sedang mengancam mangsanya, tampak merah menyala pantulan bola matanya pertanda ia tidak main-main. Kaki kami terasa kaku, lidah terasa kelut tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rasanya mulut ini sudah menjerit meminta tolong namun, tidak ada suara yang keluar dari rongga ini, seakan tertahan oleh cekikan tangan yang kokoh.

“A..a..a.papa..pakah itu?”
“Iya… Taaa.. Taaa..kuuut?”
“Ja…ja..ngan… ini yang diceritakan oleh pemilik warung itu”
“ki…ki..ta… balik lagi”
“Si…siapa Kisanak?” Salah seorang di antara mereka bertanya, lalu memberanikan diri maju ke depan “Apa Maksud Kisanak menghalangi jalan?”
“Aku! Aku Kalaweungit… Iya! aku biasa dipanggil Eungit, tidak usah takut… aku ini hanya seorang pencari madu lebah odeng dan kayu bakar”
“Benarkah itu?”
“Iya sungguh! Aku hanya ingin memastikan siapa kalian? Ada apa malam-malam menyusuri hutan?” “Aku kuatir kalian orang-orang yang akan merusak hutan”
“Maafkan kami sudah berprasangka buruk, kami hendak ke bukit perkemahan”
“Kami tertinggal rombongan, apakah Kisanak tadi melihat beberapa orang berjalan ke arah sini?”
“Tidak apa-apa!… Kalian tertinggal rombongan?… aku tidak melihat rombongan orang-orang ke arah sini” “Bukit Perkemahan mana? Pondok Saladah?”
“Iya Kisanak… Pondok Saladah, masih jauhkah?”
“Tidak! Sekitar satu jam perjalanan dari sini, tapi aku sarankan istirahatlah dulu! Hujan rintik-rintik mengakibatkan jalanan menjadi licin”
“Jika hanya satu jam lagi, kami akan tetap melanjutkan perjalanan… terimakasih kisanak atas tawarannya”
“Kalau kalian bersikeras untuk melanjutkan perjalanan silahkan, tapi kalian tetap harus hati-hati” Katanya sambil tersenyum

Kami merasakan ada yang aneh dengan senyuman itu entah kenapa perasaan menjadi tidak enak. Dengan mempercepat langkah, kami berharap segera dapat bertemu dengan rombongan atau mungkin saja kami segera sampai di tujuan. Semilir angin yang dingin membuat langkah kami sedikit tersendat, karena sibuk mengatur ritme tubuh ini agar kehangatan tetap terjaga. Padahal kami sudah memakai jas hujan khusus naik gunung yang sengaja dibeli dari gerai outdoor ternama, yah! kami memang sangat fanatik dengan merk ini. Dari sepatu, sandal gunung, tas, jaket, tenda dan peralatan lainnya berasal dari Eiger. Namun, tetap saja hawa dingin ini masih menembus badan kami.

Memasuki areal hutan pinus perjalanan menjadi agak berat dikarenakan faktor cuaca yang habis turun hujan mengakibatkan kabut turun lebih cepat. Langkah kami yang tadinya dipercepat kini mulai sedikit agak mengendap, kami sepakat untuk menghentikan perjalanan. Kami keluarkan senter, lampu ikat kepala dan juga sarung tangan tebal. Untuk menjaga kehangatan, kami minum ‘bandrek’ seduh yang memang sudah dipersiapkan. Kemudian kami mengulum gula merah sebagai stimulus daya tahan tubuh supaya tetap bugar. Agar tetap dapat bersama-sama dalam perjalanan akhirnya, kami sepakat untuk mengikat pinggang kami dengan tali yang lentur. Semua dilakukan supaya tetap dalam satu barisan. Kabut yang turun begitu tebal membuat jarak pandang menjadi kabur. Tadinya kami hendak berhenti saja dan melanjutkan perjalanan jika cuaca sedikit membaik. Namun, jika kami berhenti dikhawtirkan cuaca akan bertambah buruk dan juga tempatnya dirasa kurang aman. Akhirnya, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Menurut perkiraan tidak lebih dari tiga puluh menit perjalanan kami akan sampai di tujuan.

“Vi! Coba kontak lagi walkie talki-nya, apa sudah bisa terhubung? Sinyal HP sangat buruk di sini”
“Break… Break… D’Bengal… monitor…”
Srrrkkkk… srkkk… tiiiit…

“Gak konek aja! Mungkin masih di luar jangkauan atau karena faktor cuaca”

Srrkkkk… Srrrrkkkkk… tiiitttt
Srrkkkk… Srrrrkkkkk… tiiitttt

“Tapi tidak ada salahnya kalo terus dicoba, jangkauannya kan 2 kilo meter-an toh?” Sahut Uchu
“Iya Vi… coba terus tidak ada salahnya, tapi cek juga baterainya” Ulil ikutan nimbrung

“Break… Break… D’Bengal.. Monitor…”
“Srkkk.. mon…tor… delapan enam” Sambut suara dari seberang sana “Aman terkendali kah? Ganti”
“Delapan enam D’Bengal… dicopy… Kondisi pekat… tatap terbungkam… merayap gitu… posisi di mana… ganti”
“Posisi Pondok Saladah… 4Ever langkah di obor… kekang pinggang.. info 4Ever..”
“Delapan Enam dicopy… posisi pinus… langkah 30 menuju posko”
“Tetap stabil… langkah diendap… jangan di jangkar… Tiga jawara diterjunkan menghadang… copy”
“Delapan enam di monitor… didayung terjang… ganti”
“Langkah 15 posko… dihadang jawara.. begitu 4Ever”
“Dicopy… delapan enam… Balik kanan menuju TKP”
“Dilanjut 4Ever… keep smile… semangat!”

Akhirnya kami dapat terhubung juga dengan rombongan, hal ini tentunya menambah semangat kami naik kembali. Menurut estimasi kami, mereka berada tidak jauh dari tempat kami jika, mendengar dari informasi yang diperoleh dan juga suara yang terdengar kuat yang keluar dari walkie talki. Kami telah lama merencanakan perjalanan ini dan sebelumnya kami sudah menggali informasi mengenai lokasi yang akan kami kunjungi. Sudah menjadi program khusus bagi kami setiap selesai semesteran pastilah kami mengadakan kemah ke lokasi yang jauh dari wilayah tempat tinggal kami.

Untuk acara kemah kali ini kami memilih Gunung Papandayan sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut itu, benar-benar memiliki keindahan yang luar biasa. Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Selain itu topografi dalam kawasan pegunungan ini memiliki tingkat kecuraman yang sedikit ekstrim, dan temperatur disini sekitar 10 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban udara 70 – 80 %.

Selain itu Gunung Papandayan juga memiliki potensi Flora dan Fauna yang lumayan banyak serta diantaranya banyak yang masuk kategori langka dan dilindungi, jadi kami dapat menambah wawasan pengetahuan tentang ragam flora dan fauna. Diantaranya; Eldeweis (Anaphalis Javanica), Puspa (Schima Walichii), Suagi (Vaccinium Valium), Kihujan (Engelhardia Spicata). Sedangkan potensi Fauna kawasan diantaranya Trenggiling (Manis Javanicus), Kijang (Muntiacul), Lutung (Trachypitecus Auratus) serta beberapa jenis burung antara lain Walik, Kutilang, Elang Bondol dan lain sebagainya.

Kabut masih menyelimuti perjalanan menuju titik tujuan, langkah terasa semakin berat, dengan jarak pandang yang sangat sempit membuat perjalanan tertatih-tatih. Angin dingin menusuk setiap sendi-sendi di sekujur tubuh, uap helaan nafas membumbung di udara. Dengan bantuan tongkat kami tetap melanjutkan perjalanan, berharap segera dapat bertemu dengan ‘penjemput’ yang dijanjikan.

“Sedari tadi perasaan belum sampai juga bro!”
“Kaki mulai letih nih!”
“Bukankah, estimasi kisaran 30 menit sampai di-tkp?”
“Menurutku, ini sudah lebih dari 30 menit lo” “Nih lihat jam digital ku!… lihat kan, pukul 22.00… seharusnya pukul 21.25 kita sudah sampai”
“Masa sih pukul 22.00? jamnya kagak salah kan?”
“Apa kita salah jalan?”
“Coba cek GPS-nya?”
“GPS pale lu peyang… sinyal dari mana cin?”
“Kalo gitu lihat kompas… dan lihat lagi peta”
“Woles Cin! Bagaimana kalo kita rehat dulu?… mudah-mudahan cuaca sedikit ramah”
“Woles… woles… yang ada gue mules!”
“Udeh.. udeh.. kita rehat dulu aja… entu ide yang brilian cuy!”

Akhirnya diputuskan oleh ketiganya rehat sebentar untuk memastikan arah yang sedang dilalui. Mereka pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan sedikit membuka camilan dan minum air ‘bandrek’ yang masih hangat dalam termos kecil. Perlahan-lahan cuaca mulai ramah terhadap alam, nyanyian dedaunan dan bebatangan pun saling berlomba riuh, kini alam bertambah ramai dengan kehadiran suara serangga-serangga malam yang saling bersahutan. Kegembiraan penghuni hutan pertanda alam mulai kembali ramah dan membaik. Di langit, awan menyibakan kelambu sang rembulan yang sedari tadi malu menampakkan dirinya, cahayanya tampak berangsur menembus sela-sela dedaunan.

“Kabutnya menghilang cin!, cepat sekali alam berubah”
“Di sini juga terang… indah banget itu bulan”
“Lihat! Di sebelah kiri dan kanan ada jalan setapak!”
“Nah lo… kita lewat yang mana?”
“Wah! Kagak jelas nih Peta digital mati, GPS semaput dan HP modar… kayanya ini daerah kagak ada dalam peta kali yah? Ampe sinyal aja kagak bisa nembus dimari”
“Guy! Semua peralatan elektronik yang ada di gue pada kolap semua… padahal tadi baterainya masih pada nyala” “Aduh perasaan gue jadi kagak enak begini”
“Mulai dah Baper” “Mending lo makan nih cokelat! gue masih ada sebatang lagi, agar hati elo kagak melow”
“Mana dong cokelatnya?”
“Gue juga bagi Cin!”

“Sssttt… jangan berisik!” “Pasang telinga lebar-lebar… pada denger gak?”
“I…Iiii..tuuu… suara gamelan cuy!”
“Bener! Tuh kan, suara suling ama kecapinya!”
“Apa ada yang hajatan gitu? Masak malam-malam begini?”
“Biasa aja Keles! mereka mungkin lagi gelar wayang golek”
“Tapi gue bingung, apa di mari ada perkampungan?”
“Di bukit seperti ini ada perkampungan? Kalo di Puncak Bogor gue nggak heran… ini???”
“Dasar si Baper! Mungkin aja ada perkampungan, coba tengok! Jalan setapaknya aja rapih… ini pasti jalan menuju perkampungan”

Kami bertiga sepakat untuk mengambil sebuah keputusan. Namiun, suasana hati sudah campur aduk nggak karuan, tidak mudah bagi kami untuk membuat sebuah keputusan dalam suasana seperti ini. Tetapi waktu pun terus berjalan tidak serta-merta berhenti menunggu kami berembug beroleh satu keputusan, pergerakan waktu dirasa semakin cepat berputar, alih-alih lambat bertindak maka kesempatan menemukan titik terang akan sirna.

“Begini deh! Bagaimana kalau kita ke arah suara gamelan itu?” “Siapa tahu itu adalah jalan keluar bagi kita”
“Tapi aku kuatir…”
“Ssstt! Kagak pake baper cin! Positif thinking!” sambil menutup mulutnya dengan telunjuk, ia mengingatkan salah seorang di antara mereka.
“Baiklah, terserah aja deh… aku ikut apa kata kalian”
“Kita sepakat yah! Fix nih! Kita ambil arah jalan ke tempat dimana suara gamelan itu berbunyi”

Atas kesepakatan bersama, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan menuju suara gamelan itu. Sesampainya di pertigaan, kami berhenti untuk memastikan arah yang mana, ke kiri ataukah ke kanan?. Telinga benar-benar kami pasang dengan seksama, karena bunyi gamelan itu sayup-sayup terbawa oleh angin dan agak terganggu oleh keramaian dedaunan serta serangga hutan lainnya. Untuk lebiih memastikan akhirnya, kami berpencar satu orang berdiri ke arah kiri, yang satu di kanan dan seorang lagi menuju ke depan. Dengan serius kami memasang pendengaran, dengan menempelkan telapak tangan di kuping, masing-masing mulai mendengarkan apa yang masuk ke dalam pendengaran.

“Guy! Suaranya dari arah kiri! Jelas banget!”
“Coba kamu dengar, benarkan suaranya dari arah sana?” Sambil menunjukkan jarinya ke arah rerimbunan pohon di depan sana,
“Benar! Suaranya dari arah sana…”
“Ayo gank! Kita let’s go!”

Dengan semangat 45 kami pun melangkah berharap secercah asa dapat kami raih. Keadaan memang sedikit mengenaskan, karena persedian air sudah tidak ada lagi dan makanan kecil pun telah ludes yang tersisa tinggallah sepotong gula merah. Perbekalan utama ada di rombongan, sedangkan kami hanya membawa perbekalan apa adanya untuk mengisi kekosongan perut selama perjalanan. Terbayang sudah dalam benak kami untuk mendapatkan setetes air pelepas dahaga dan sepotong roti isi selesai kacang… ehmm! atau lebih mantapnya mendapatkan seloyang pizza dengan pinggirannya yang berisi keju lumer… alamak… pasti yummy!. Sepertinya kalbu kami sudah mulai dihantui perasaan berjuta keinginan… ingin minum… ingin makan… ingin tidur… dan segala macam awalan ingin. Apalagi saat piaraan abadi, cacing-cacing nakal di dalam perut ini sudah mulai menendang-nendang dan berteriak kelaparan… tambah parno aja dah… halu dibuatnya!.

Tiba-tiba saja…
“Ada rumah… ada rumah! Lihat di depan sana! Suara gamelan pun semakin riuh”
“Sepertinya ramai sekali, coba dengar! Seperti sebuah lakon wayang golek!”
“Bener cin! Lagi keluar punakawan sepertinya”
“Punakawan?…”
“Itu lo yang suka ‘ngelucu’ kaya *Opera Van Java, kalo di wayang golek ada Petruk, Gareng, Bagong dan Semar”
“Oh gitu toh, sering nonton wayang golek yah?”
“Nggak juga, tahu dari *bokap, *doi doyan banget nonton wayang golek”
“Kita samperin cin! Cepetan jalannya biar lekas sampai”

Tak berapa lama kami pun tiba dekat rumah yang dimaksud. Ternyata tempat ini benar-benar sebuah perkampungan, banyak juga penghuninya. Rumah-rumah panggung pedesaan tempo dulu tertata dengan apik. Suasananya asri tidak seperti di perkotaan yang semrawut tidak karuan. Seperti dugaan awal, di tempat ini sepertinya sedang diadakan pesta, entah pesta apa yang digelar dan yang jelasnya si empu pesta pastinya orang berada. Dilihat dari rumahnya yang besar dengan arsitektur gaya joglo, berhalaman luas dan kiri-kanannya ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang. Di depan rumah tersebut banyak sekali kerumunan masa yang sedang asyik menonton acara wayang golek, gelak tawa terdengar di sana manakala lakon punakawan sedang dilakonkan.

“Permisi… Selamat malam”
“Salah salamnya cin!” “*Sampurasun Para Sawargi sadaya”
“Lampes”
“Maaf kami mengganggu, ini desa apa yah?”
“Gak apa-apa, Parakan Leungit!… *Neng, mau ke mana?”
“Kampung Parakan…K ami mau ke Pondok Saladah, masih jauhkah arah ke sana?” Sambil mengeryitkan dahi dan menengok ke arah rekannya dengan tatapan penuh kebingungan, karena di peta tidak ada nama kampung tersebut.
“Pondok Saladah… Masih jauh dari sini, arahnya lurus ke depan nanti ada perempatan pertama belok kiri… lurus terus ke kanan dari situ kira-kira dua jam perjalanan lagi sampai ke Pondok Saladah”

“Kenapa malah diam?”
“Bingung *Teh, seharusnya hanya tiga puluh menit perjalanan… ternyata masih sangat jauh sekali” “Kami juga sangat lelah sekali, jika diperkenankan boleh kami istirahat di sini?”
“Boleh neng, sebentar saya izin dulu sama *Nyai” “Sebab ia yang punya rumah ini dan juga kepala kampung di sini”
“Baiklah Teh! Terimakasih”

Ternyata yang diajak bincang-bincang adalah seorang gadis, yang kira-kira berumur 17-18 tahun berparas cantik dan bertutur sangat sopan. Kami yakin gadis itu pasti bukan anak pemilik rumah ini, karena ia memanggil pemilik rumah dengan sebutan nyai, hebatnya lagi nyai adalah seorang kepala kampung. Tepat juga kami mengambil keputusan ke tempat ini karena dapat menemui kepala kampung yang pastinya lebih mengenal wilayah dan syukur-syukur dapat menolong menemukan rombongan kami.

“Li… Liat cin!” Dengan gemetar Ulil menyahut, dan tangannya meremas pergelanganku dengan sangat keras belum rasa kaget ini reda tiba-tiba, Uchu mendekap dengan erat sambil mulutnya mendarat tepat di kupingku.
“Vi… gu…gue.. ta..ta..uut” “Entu Kala… kolor… apa dah…” Dengan terbata-bata dan kata-kata yang nggak karuan meluncur dari mulutnya,

Sebetulnya kaki ini lemas, dengkul terasa mau copot dan jantung kepengen lepas… tapi aku menenangkan diri agar tidak panik. Sebagaimana kedua rekanku yang panik, setelah melihat keanehan yang nyata. Yup! Kalaweungit ternyata ada di depan mata, padahal dia bertemu kami di bawah sana jauh sebelum kedatangan kami di sini. Logikaku mulai mengukur, apa mungkin seorang manusia bisa secepat itu sampai di sini? Namun, aku tidak boleh terbawa halunisasi perasaan… it’s not real, i believe a Mighty God! Begitu aku memenangkan pertandingan batin ini.

“Selamat datang gadis-gadis cantik” “Kita berjumpa lagi” Katanya sambil tangannya usil mencolek tubuh Ulil, sontak saja Ulil tambah gemetaran kemudian
“Vi… ak..ak…ku.. ngompol”
“Ak..ku… juga gak kuat Vi, lihat itu Nyai serem banget… iyyyy” Bisik Uchu ketelinga-ku
“Hei! Jangan kurang ajar kamu!” “Aku tidak takut sama kamu.. Kaladower!” Bentakku sambil mengejek Kalaweungit yang memang mulutnya dower kaya *Mick Jagger tapi lebih cakepan Mick Jagger, udah itu badannya bau banget kaya domba nggak mandi tiga bulan (Emang domba suka mandi yah?).
“Apa katamu? Aku Kalaweungit Panglima perang Nyai Ratu Lurikcakti penguasa Lereng Parakan Leungit, tidak takutkah kamu?”
“Aku tidak takut sama kalian, tak satu pun yang aku takuti!”

Suara gamelan terhenti dan orang-orang yang berkerumun di halaman memandang ke arah kami, dan menyeringai penuh gembira dari celah bibirnya menetes air liur seperti serigala kelaparan yang menemukan seonggok daging dan tulang. Hanya aku yang masih bertahan dari rasa takut kedua rekanku telah termakan ketakutan. Ingin rasanya aku menjerit… berteriak meminta pertolongan… tapi aku percaya bahwa di atas langit masih ada langit, tidak ada yang mustahil di dunia ini… aku pasti dapat mengalahkan mereka seperti aku telah menundukkan ketakutan yang ada dalam diriku.

Sekonyong-konyong Nyai Ratu Lurikcakti mendekat ke arahku dan hampir-hampir saja menabrak tubuh ini.
“Hai! Kamu sudah berlaku kurang ajar pada panglimaku, apa kamu sudah bosan hidup?” “Aku akan memberi kamu pengampunan dan pengharapan”
“Apa maksudmu dengan perkataan itu?” Dengan sorot mata tajam aku berkata padanya,
“Anak gadis! Berani sekali kau menentang!” Ia berteriak sambil memperlihatkan taring tajamnya dan lidah yang menjulur seperti lidah kadal.
“Jika tidak Sang Panglima yang duluan berlaku tidak sopan tentunya, kami tidak seperti ini”
“Selain memberi pengampunan tadinya, aku akan beri kamu makan, minum, dan tempat istirahat… juga aku antar ke tempat kawan-kawan kalian” “Namun, karena kalian membangkang maka kemurahanku akan berubah menjadi kemarahan!”
“Aku tidak takut Nyai! Sedikit pun hati tidak gentar” Aku berteriak sambil otakku berpikir mencari solusi dalam mengalahkan Nyai Lurikcakti, dengan keras aku berpikir sambil tetap siaga penuh… dalam beberapa saat otak ini ‘nge-klik’… byarrrr! teringat sudah dengan apa yang dikisahkan oleh pemilik warung jika berhadapan dengan Nyai harus tenang dan melakukan beberapa siasat agar tanpa sadar Nyai menyingkapkan kelemahannya. Aku minta Ulil dan Uchu untuk menyingkir dari arena, agar aku lebih sigap dalam melawan Nyai Lurikcakti.

“Hai anak gadis! Terima ini” Nyai menyemburkan ludahnya yang beracun seperti bisa ular cobra, aku melompat ke belakang mengelak… belum juga udara ditelan, ia menyerang kembali dengan serangan yamg lebih mematikan. Kepalanya menyerang ke arah leherku dengan posisi mulutnya terbuka dan siap menggigit tepat di leher. Aku mengelak dan secepatnya membalikan badan ini kemudian, aku serang dengan senjata rahasia… Ceeeesssssstttt

“Kurang ajar!” “Bau apaan ini? Kaya bau *cubluk…” Nyai menutup hidungnya
“Hahahaha… rasakan! senjata saktiku” “Enak tenan toh? Mak nyuuss!” Sengaja aku pancing amarahnya… benar saja Nyai terpancing,
“Ka.. Kamu! Aku lahap kau hidup-hidup!” Matanya melotot dan hampir-hampir saja keluar dari kelopaknya, lidahnya terjulur memanjang dan taringnya yang tajam seperti sengaja di pamerkan.

Amarahnya begitu memuncak, sambil menunjukkan jari telunjuknya… Nyai siap menerkam!. Aku bersiap untuk melawannya, tangan kanan aku taruh di depan dan yang kiri ditekuk ke bawah. Badan aku condongkan ke depan sedangkan kakiku bersiap dengan posisi kuda-kuda yang kokoh seperti latihan kareta yang biasa aku jalani. Aku konsentrasi penuh, hampir-hampir mata ini tak berkedip walau hanya sedetik, karena kuatir ada serangan dari arah yang tak diduga. Dengan kecepatan penuh Nyai Lurikcakti melesak, menerkam bak harimau yang sedang memburu mangsanya, aku sudah siap sedari tadi… saat jarak Nyai kira-kira sekitar 30 centi meter dari tubuhku, aku akan tangan kanan ke atas dan kepalan jemari aku buka…

“Menang! Aku menang! Kamu kalah Nyai…” Teriak aku penuh gembira,
“Kamu curang!” teriak Nyai
“Curang bagaimana? Nyai lihat itu kan jari telunjuk sedangkan punya aku jempol, jadi aku yang menang dong!”

“Demikian kisahnya, terimakasih banyak sudah menyimak dengan seksama” sambil tersenyum puas dan kulirik wajah kawan-kawan yang tampak terpaku. Tetapi ada juga yang menampakkan raut wajah sedikit kesal dengan kisah yang aku ceritakan.

Begitulah Viona yang berdiri di di depan, bercerita menghibur kawan-kawan dengan ditemani api unggun di tengah padang rumput tempat kami berkemah. Di setiap acara berkemah sudah biasa diadakan acara yang menampilkan atraksi dari beberapa rekan sebagai hiburan. Ada sedikit kejutan yang ditampilkan Viona yang biasanya bergabung dengan gank-nya D’Bengal 4Ever dengan penampilan musiknya, untuk malam ini ia performance tunggal dengan berkisah yang konyol tetapi bikin kita-kita tertawa dan terhibur. (AR. Rahadian)

Catatan:
*bokap: Bapak (bahasa gaul anak muda)
*doi: Kamu (bahasa gaul anak muda)
*Sampurasun Para Sawargi sadaya: Permisi Saudara Semua
*Mick Jagger: Vokalis Band Rock Amerika era 70-an
*Teh: Sebutan kakak perempuan orang sunda
*Nyai: Nyonya besar
*Cubluk: Got/Saluran air yang mengeluarkan bau

Cerpen Karangan: AR. Rahadian

Cerpen D’Bengal 4ever merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

Di Dalam Ketidaksadaranku (Part 1)

Oleh:
Brreeemm.. Brremmm Tiitttiiittt… Tittt… “aaarrrggghhhh…” “ughh… Ouch!!” ‘kenapa kasur gue kasar sih!, kayak tembok aja’ keluhku sambil kuusap-usap jidatku yang sakit akibat terbentur benda keras tadi. Kulirik sekelilingku dengan

Ini Hanya Fantasi

Oleh:
Pagi itu Bery sedang duduk santai di bangku taman dekat rumahnya, sambil menulis buku karangannya yang berjudul hanya fantasi, tak lama kemudian sesuatu yang aneh terjadi di balik semak

The Evil That I Love You

Oleh:
Namaku Rin. Umurku tujuh belas tahun. Hobiku bermain game. Kegiatanku sehari-hari hanya seputar pergi ke sekolah, pulang, makan, main game, belajar, tidur.. dan seterusnya. Kehidupanku sama normalnya dengan jutaan

Dunia Terbalik

Oleh:
Hari ini sama seperti kemarin. Tak ada yang berbeda, tak ada yang spesial. Cuma satu kata yang dapat aku simpulkan, yaitu “membosankan”. Aku yang selalu datang paling terlambat ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *