De Javu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

Namanya Cahaya, nama itu diberikan oleh sang nenek yang juga menjadi bidan saat ibu Cahaya melahirkannya. Walaupun ibu dan ayah Cahaya kurang setuju dengan nama itu karena mereka telah menyiapkan nama sendiri untuk anaknya. Cahaya dilahirkan oleh keluarga yang kurang mampu dan hidup dalam kemiskinan. Mereka sekeluarga tinggal di daerah Yogyakarta tepatnya di kecamatan wonosari.

5 tahun semenjak kelahiran Cahaya. Kini Cahaya menjadi anak yang sangat pandai, bahkan Cahaya sudah mampu untuk membaca dan berhitung dengan sangat baik dibandingkan anak-anak seusianya. “wah, anak Pak Sudirman sangat pintar ya.” kata tetangga yang sering bermain bersama Cahaya.
“mungkin ini berkat Neneknya yang memberikan nama Cahaya.” balas tetangga lain. Neneknya memang memberikan nama Cahaya dengan maksud agar nantinya Cahaya menjadi laki-laki yang memberikan Cahaya bagi keluarganya dan mengeluarkan mereka dari rantai kemiskinan.

Kini Cahaya sudah berumur 17 tahun dan bersekolah di kota Yogyakarta berkat beasiswa yang didapatkannya. Semenjak dia bersekolah, Cahaya selalu mendapatkan ranking 1. Dia selalu menjadi yang terbaik di antara teman-teman lainnya. Namun dia tetap rendah hati dan tak sombong dengan prestasinya tersebut.

Suatu hari, ada anak baru yang datang ke kelas Cahaya dan memperkenalkan diri. “halo teman-teman nama saya Stella.” dengan wajah sedikit tertunduk karena malu Stella memperkenalkan diri. Karena memang memiliki paras yang cantik dan manis suasana kelas menjadi gaduh. Apalagi bagi mereka kaum laki-laki, ada yang bersiul-siul ada yang berteriak aku suka kamu, ada juga yang berteriak kamu tinggal di mana. Keadaan akhirnya bisa dikontrol oleh kepala sekolah setelah mempersilahkan Stella duduk. Stella duduk paling depan tepat di samping Cahaya.

“Ah, kamu enak banget Cah bisa dekat terus dengan Stella.” Sandi mencoba untuk mengangu Cahaya yang lagi konsentrasi untuk menyelesaikan soal fisika.
Sandi memang biasa memangil Cahaya dengan sebutan Cah. “kalau begitu kita tukar tempat duduk saja?” Cahaya mencoba menawarkan solusi.
“aku sih pengen, cuma…..”
“cuma apa?” cahaya penasaran.

“ya cuma kamu kan duduk paling depan nih, kamu tahu kan aku tidak pintar dalam segala hal mata pelajaran nanti kalau aku duduk depan pasti sering dipelototin guru dan disuruh kerja soal.” Sandi mencoba menjelaskan dengan panjang lebar.
“terus?” Cahaya mencoba mempertanyakan penjelasan Sandi.
“lah kok terruuus, aku nggak bisa Cah, gini aja kan Ridho yang duduk di sampingku. Bagaimana kalau kamu bujuk Ridho untuk pindah di samping kamu. Kamu kan dekat dengan Ridho.” Sandi memberikan solusi baru.

“dekat dari hongkong, dia itu dekat karena ingin dibuatin PR-nya aja.” jawab Cahaya dengan sedikit emosi. Tiba-tiba Stella berjalan di depan mereka.
“hei.. coba kamu lihat Cah, Stella emang cantik banget ya?” Sandi melihat Cahaya yang terlihat mengkhayal.
“woi, kalau lihatin cewek jangan dikhayalin juga dong, pasti kamu khayalin yang jorok-jorok ya?” Cahaya terlihat terpatung, Sandi kemudian mengoyang-goyangkan badan Cahaya yang masih terpaku.

“hhmm.. kenapa San?” wajah Sandi terlihat kaget memandangi wajah temannya tersebut yang seperti tersadar dari mimpi buruk. “San, tadi gue merasakan hal aneh, gue rasanya…” Cahaya mencoba mencari kata yang pas dengan apa yang baru dia alami.
“merasakan apa?” Sandi mulai penasaran.
“aku merasakan de javu. Ya de javu kamu tahu kan artinya?”

“de javu? Aku tidak tahu..”
“itu loh perasaan dimana kamu merasakan sudah pernah melewati hal seperti ini sebelumnya..” Cahaya menjelaskan sekenanya.
“Hahaha.. ..” Setelah mendengar perkataan Cahaya. Sandi tertawa sekeras-kerasnya.
“kalau itu mah, saya sering mengalaminya, sudah tidak usah dipikirin..” Sesudah tertawa sepuasnya Sandi merangkul sahabatnya untuk masuk kelas.

Semester awal telah selesai dan tak terdua tenyata Stella mampu mengalahkan Cahaya dalam perebutan ranking 1 di kelasya. Guru-guru pun terkagum dengan hal tersebut. Baru kali ini ada yang mampu mengalahkan Cahaya. Bahkan perolehan angka mereka sangat tipis di angka nol koma. Namun Cahaya tidak merasa terbebani dengan masalah tersebut. Dia merasakan rasa lain yang lebih aneh yaitu de javu yang semakin sering dia derita. Saat Cahaya menceritakannya ke Sandi, malah Sandi kembali menertawakannya bahkan kali ini lebih keras dari yang pertama.

“Cah, aku sudah mengenalmu dari kita SMP dulu. Tapi baru kali ini aku melihat kamu mempermasalahkan hal sekecil ini..” Sandi menatap mata Cahaya.
“tapi ini bukan hal kecil San, aku semakin sering sekali mengalaminya bahkan akhir-akhir ini aku rasa aku bisa meramal masa depan sekitar beberapa detik kedepan.” Cahaya melepas pandangan Sandi. “apa? bisa meramal sepertinya kamu sudah bisa meramal seperti Nenekmu.” Sandi mempertanyakan keabsahan pernyataan sahabatnya. Cahaya yang kesal karena Sandi tidak mempercayainya lalu pergi begitu saja meninggalkan Sandi.

Cahaya teringat dengan perkataan Sandi yang terakhir tadi. Memang pernah neneknya dimusuhi oleh warga di desanya karena menyebarkan berita bahwa dia bisa meramal masa depan. Namun sayang pada waktu itu, semua ramalan neneknya tidak ada yang terbukti. Setelah kejadian itu orangtuanya melarang Cahaya untuk bertemu dengan neneknya lagi. Cahaya pun sering bertanya ke orangtuanya kenapa dia tidak boleh bertemu dengan neneknya, tapi orangtuanya selalu memberikan respon yang sama yaitu diam.

“Aku harus pulang,” Cahaya mencoba menyakinkan dirinya untuk mengetahui lebih dalam apa yang sedang dirasakannya. Cahaya merasa bahwa ini bukan perasaan biasa atau de javu biasa. Dia merasakan bahwa ada hal lebih seperti kemampuan melihat masa depan.

Setibanya di desanya. Cahaya langsung menemui neneknya. Cahaya sudah berdiri tepat di halaman rumah neneknya. Cahaya mendekat ke pintu depan rumah itu dengan sedikit hati-hati bila mana orangtuanya ada di dalam rumah tersebut. Jarak rumah orangtuanya dan rumah neneknya hanya sekitar 200 meter jadi dia sangat berhati-hati agar tidak ketahuan. Tepat di ujung pintu dia mencondongkan kepalanya untuk melihat sekeliling isi dalam rumah tersebut.

“masuk lah Cahaya aku sudah menunggumu.” suara itu tidak asing lagi di telinganya.
“Nenek? Nenek dari mana tahu aku akan pulang?” tanya Cahaya penasaran.
“ah, sudahlah kamu duduk dan ceritakan pengalaman yang kamu sudah lihat.” neneknya memang terlihat sedang menunggu seseorang.

“pengalaman? pengalaman apa?” Cahaya mencoba menguji neneknya.
“pengalaman melihat masa depan.” setelah medengar perkataan neneknya air muka Cahaya langsung berubah ketakutan.
“dari mana Nenek tahu? Nenek bisa meramal?” pertanyaan itu mungkin sedikit bodoh.
“itu tidak penting. Sekarang kamu ceritakan apa yang kamu lihat..”

Setelah beberapa lama dan Cahaya mula bisa mengendalikan dirinya dia kemudian bercerita. “sebenarnya aku juga bingung Nek. Awalnya aku kira cuma de javu biasa namun lama kelamaan seperti sebuah mimpi panjang dan paling aneh aku bisa melihat masa depan Nek.” Cahaya mencoba menjelaskan.
“apa yang kamu lihat?” kali ini neneknya yang merasa penasaran.

“awalnya aku hanya lihat sesuatu yang terjadi sekitar 1 menit ke depan dan lama kelamaan aku bisa melihat jauh kedepan Nek.”
“apa yang kamu lihat?” kali ini wajah neneknya lebih serius.
“kosong Nek, bumi ini kosong tak ada apa pun.”
“hmm…” neneknya terlihat berpikir dan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke dapur. Tak lama berselang neneknya datang dan membawa 2 gelas minuman hangat.
“ini apa Nek?”
“ini ramuan yang akan membantumu untuk memperkuat memori ingatanmu..”

Setelah Cahaya meminum ramuan tersebut neneknya kembali melanjutkan pertanyaanya. “apakah yang kamu lihat memang benar terjadi?”
“iya Nek, sampai saat ini belum ada yang meleset. Tapi saya bisa merasakan hal itu ketika melihat Stella Nek..”
“siapa Stella?”
“dia murid baru di sekolahku, dan ketika aku de javu pasti melihat dia Nek..”

“Nek, saya boleh bertanya?”
“iya kenapa Cahaya?”
“apakah memang Nenek mampu meramal, aku dengar dari orang-orang dulu kalau Nenek mampu meramal masa depan?” neneknya hanya terdiam dan melihat wajah Cahaya dengan serius.
“saya tidak bisa meramal masa depan Cahaya hanya masa lalu yang bisa saya ramal.” kali ini giliran Cahaya yang memperhatikan wajah di neneknya apakah dia serius atau memang dia sudah gila mana ada meramal masa lalu, katanya dalam hati.

“Cahaya kamu harus segera kembali sebentar lagi orangtua kamu akan datang ke sini. Kamu tidak mau kan kalau orangtua kamu melihat.”
“iya Nek, ini juga sudah hampir kemalaman.”
“nanti kalau kamu melihat sesuatu lagi beritahu Nenek ya.”
“iya Nek.” sebelum berpisah neneknya memeluk cucuknya dengan penuh hangat dan berkata, “tenang sayang ada Nenek di sini.”

Keesokkan harinya Cahaya kembali lagi bersekolah. Di taman sekolah dia bertemu Sandi yang lagi asyik ngobrol dengan cewek-cewek teman kelas.
“San, kamu lihat Stella?”
“cie.. cie yang cari Stella.” sontak Sandi dan cewek-cewek yang berada di sampingnya meledek.
“aku serius San, ini penting..” Tiba-tiba Cahaya melihat terang yang begitu terang sangat terang bahkan dia tak mampu melihat terang itu.

“ini apa? Aku lagi mimpi?” perlahan-lahan Cahaya membuka mata dan mencoba melihat terang itu tapi matanya belum mampu. Terangnya terang.
“hei, Cahaya kamu lihatlah ke sini.” suara itu mengagetkan Cahaya yang masih melindungi matanya.
“kamu siapa?” Cahaya bertanya dengan masih menutupi matanya.
“lihatlah ke sini, bukalah matamu.” terang itu kembali menyahut.

Cahaya mulai menurunkan tangannya dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Setelah matanya terbuka dia mampu melihat terang itu namun ada yang aneh terang itu tetap seterang yang tadi tapi matanya kali ini mampu melihat. “kamu siapa?” Cahaya kembali bertanya.
“itu tidak penting, ada hal yang harus saya sampaikan.”
“tentang apa? Tentang de javu itu atau mimpi itu atau apalah itu.” Cahaya mulai bingung dengan dirinya sendiri.

“iya, itu bukan de javu atau mimpi itu hanya rekaman masa lalu yang ada di kepalamu.”
“rekaman masa lalu itu jelas masa depan aku melihat masa depan dengan jelas..”
“tidak ada yang namanya masa depan Cahaya.”
“apa? Tidak ada, jadi kami hidup ke masa lalu. Omong kosong!” Cahaya mulai marah dengan apa yang dia dengar.

“Cahaya dengarkan, kamu manusia dan segala yang ada di alam semesta ini hanya sebuah reinkarnasi, kalian akan mati namun jiwa kalian tetap hidup dan bila hari penghakiman tiba atau yang manusia kenal sebagai kiamat telah tiba, jiwa kalian dibangkitkan kembali dengan rupa dan badan yang berbeda untuk mengisi bumi ini. Kalian seperti sebuah rekaman yang diputar ulang terus menerus, jadi kalian hanya mengulang apa yang sudah pernah kalian lakukan di masa lalu.”

“Nek, apakah ini sebuah permainan? Apakah Nenek mencoba mempermainkan aku?”
“soal Nenek kamu dia adalah malaikat penjagamu. kami menurunkannya ke bumi untuk melindungimu agar kamu tidak melakukan hal bodoh dan tidak menyebarkan apa yang kamu lihat.”
“terus, kenapa ketika aku melihat Stella aku melihat penglihatan itu?”
“itu karena dialah reinkarnasimu. Seharusnya jiwamu memakai tubuh Stella untuk reinkarnasi di abad ini. Tapi karena terjadi kesalahan jiwamu memilih sendiri tubuh yang lain. Oleh karena itu ketika kamu melihat dia, ingatanmu akan tembus ke masa lalu.”

“jadi apa yang sekarang aku harus lakukan?”
“sekarang, semuanya sudah kembali seperti semula kamu dan tubuh itu dapat hidup sampai kamu mati dan akan reinkarnasi seperti seharusnya. Nikmatilah hidupmu di bumi Cahaya.” dengan cepat terang itu menghilang.

“Cah, Cah.” Sandi mengoyangkan badan Cahaya dengan kencang.
“iya, kenapa?” Cahaya sudah sadar.
“kamu kenapa mengkhayal lagi, katanya mau cari Stella? Tuh Stella baru lewat.” Sandi mulai khawatir sama sahabatnya satu ini.
“kenapa sih Cah? Apa karena kamu kalah bersaing dan menjadi ranking satu. Ayolah itu cuma kesalahan sedikit aku yakin semester ini kamu akan menjadi yang nomor 1.”
“bukan masalah itu san.”
“terus masalah apa?”
“aku baru saja de javu.”
“Hahaha….” tawa Sandi dan teman-teman yang lain memecah suasana pagi itu.

Cerpen Karangan: Ryan Aryan
Facebook: Heryanto Aryan

Cerpen De Javu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love And War

Oleh:
Aku mulai pusing dengan setumpuk barang elektronik di sudut kamarku yang tidak terpakai, membuat satu robot saja susahnya minta ampun padahal aku harus membawanya besok, aku mencoba kembali memikirkan

Pangeran Licheon Sang Pangeran Lycan

Oleh:
Pada zaman dahulu di sebuah negeri purnama atau moonlight hidup seorang pangeran yang bernama Licheon yang memimpin kerajaan moontic, tapi suatu hari kehidupan sebagai raja nya telah berakhir, setelah

Monster Love (Part 2) Adaptasi

Oleh:
Rasanya sangat melelahkan setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Garut menuju Jakarta, kepala masih terasa sangat sakit karena hmm “darar pink prof kalau nyetir suka gak pake aturan” ampun

Penyelamat

Oleh:
Di dunia nyata ini, hidupku terasa hampa. Tidak ada seorang pun teman yang dapat menghiburku ketika aku sedih. Seperti kebanyakan orang yang berada di posisi ‘merasa paling tak berguna’,

7 Pengguna Gelang

Oleh:
“Hahaha. Bocah-bocah ini yang dikirim untuk mengalahkanku. Graahhh!!! Jangan bercanda Aku adalah Rantai Makanan yang berada paling puncak” Monster Itu Berkata. “Sekarang Saatnya Ayo Semuanya” Dengan penuh semangat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *