Destroy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 December 2017

Aku bangun dari tidurku. Keringat membasahi wajah dan rambut pirangku, tanganku gemetaran. Aku bukan lagi di rumahku. Aku berada di tempat aneh yang agak gelap. Pakaian ketat berwarna hitam melekat di tubuhku. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Selanjutnya,” terdengar suara seorang robot pria, dari speaker yang tergantung di plafon. “Reviz Arnoldi.”
Aku kaget, namaku disebut.

Dua menit berlalu. Dua robot datang. Mereka memaksaku berjalan, hinggai sampai di tempat luas, canggih, dan modern. Salah satu robot, memberiku pedang yang bersinar terang. Mereka meninggalkanku sendirian. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka memberikaniku pedang bersinar itu.

“Bersiaplah Reviz,” terdengar suara dari speaker lagi. “Pertarungan akan dimulai.”
Pertarungan? Aku tak mengerti. Tiba-tiba, tembok terbuka secara otomatis. Di sana ada robot berwarna hitam, memakai helm, tingginya dua meter.
Robot itu mendekati aku. Aku mengangkat pedangku, bersiap jika si robot itu datang. Si robot, ditemani motor canggihnya. Dia mengendarai motornya dengan cepat, mendekati aku. Aku nyaris tertabrak, untungnya aku menghindar.

Si robot, memarkirkan motornya, dia mengambil senjata, mirip seperti pisau lipat. Dia membuka pisau lipat, pisau itu bersinar terang. Si robot berlari mendekati aku. Aku mengayunkan pedang, tapi si robot menghindar. Sekali lagi, aku menyerang dan robot itu menghindar.

Si robot, menendang perutku, hingga aku terpelanting dua meter. Si robot berjalan ke arahku. Dia hendak mengayunkan pisaunya ke arahku, tapi dengan sigap aku menyandung kakinya, hingga dia terjatuh. Aku bangkit berdiri, menancapkan pedangku ke dada si robot. Robot itu rusak, percikan listrik nyaris mengenai kakikku.
Aku berhasil mengalahkannya. Aku senang. Aku menatap sekeliling, untuk melihat apakah ada yang memujiku atau tidak.

Lima orang datang, mereka bukan robot. Aku sudah yakin, lima orang itu akan memberikanku pujian atau hadiah, tapi ternyata bukan. Mereka menatapku dengan tatapan penuh kebencian.
“Tangkap dia!” Teriak salah satu orang.
Aku kaget, berusaha kabur. Aku melihat sekeliling, mencari jalan keluar, tapi semua pintu dan jendela telah ditutup. Lima orang itu mendekati aku.
Dengan sigap, aku berlari ke arah motor si robot. Tak ada kunci, tapi aku mencoba mengendarai motor itu, dan ternyata berhasil. Aku mengendari motor dengan cepat, menabrak dinding, hingga dinding itu hancur.

Aku sekarang berada di luar tempat aneh tadi. Kelima orang itu masih mengejarku. Aku terus menjalankan motor sejauh mungkin, sampai akhirnya aku berhasil lolos dari kejaran lima orang itu.

Dua puluh tahun berlalu.
Aku punya anak. Ricky Arnoldi, dia masih sepuluh tahun.
Sudah jam sebelas malam, tapi anakku masih belum tidur, dia sedang melamun di tempat tidurnya. Aku mendekatinya,
“Hai, jagoan,” kataku. “Kenapa belum tidur?”
“Aku belum ngantuk,” sahut Ricky. “Ayah harus menceritakkan tentang robot gila itu lagi.”
Aku memang sering menceritakkan tentang pengalaman pertarungan dengan robot, tapi sepertinya Ricky tidak bosan.
“Aku membunuh robot gila itu dengan pedang…”
“Aku sudah sering dengar yang itu,” potong Ricky. “Ceritakan bagaimana ayah bisa ada di tempat itu.”
“Oke,” jawabku gagap. Aku menarik napas panjang.

“Jadi, di tahun 2057. Umur ayah masih dua puluh tahun. Aku dan ratusan pemuda lainnya diculik oleh suatu kelompok, mereka bertujuan ingin menggantikan seluruh manusia di bumi dengan robot. Mereka menculikku, untuk menguji coba apakah robot milik mereka sudah kuat.”
“Lalu?” tanya Ricky tak sabar dengan cerita setelah aku kabur dari tempat itu.
“Aku melapor pada polisi. Walaupun tadinya mereka tak percaya dengan ceritaku, tapi akhirnya mereka menyelidiki kasus itu. Dan akhirnya, mereka menangkap kelompok itu.”
“Lalu bagaimana dengan robot gila itu, yah?”
“Mereka dihancurkan.”
Ricky terlihat ketakutan. “Aku takut robot itu akan menyerangku.”
“Itu tidak akan terjadi, ada ayah di sisimu,” aku menengkan. “Sebaiknya kau tidur saja, Ricky.”

Aku pergi dari kamar Ricky. Ricky menutup matanya, walaupun aku tahu dia hanya pura-pura tidur, dia pasti sedang memikirkan tentang masa laluku, dan dia bangga padaku. Dia pasti akan menceritakkan tentang ayahnya kepada teman-temannya.

Cerpen Karangan: Verrell Axel
Facebook: facebook.com/Verrell.Axel.VEVO
Nama saya Verrell Axel. Saya lahir dan tinggal di Bandung. Umur saya 14 tahun
Social Media:
Instagram: instagram.com/verrellaxel_
Facebook: facebook.com/Verrell.Axel.VEVO
YouTube: youtube.com/channel/UCDjqGqn9CkDWjw5ZklB46qQ
SoundCloud: soundcloud.com/verrell-axel-358445850

Cerpen Destroy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last Memory of Kei (Part 1)

Oleh:
Aku manusia Android. Aku diciptakan karena permohonan seorang Ayah yang anak gadis semata wayangnya tengah dirundung duka yang amat teramat dalam. Serra, gadis (18 thn) yang 1 tahun lalu

Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 1)

Oleh:
“Namaku Aria Alexandra. Biasa dipanggil Aria.” Gadis itu mengenalkan diri di depan teman-teman barunya. Hari ini adalah hari pertama dirinya masuk, tetapi Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa antusias.

The Evil That I Love You

Oleh:
Namaku Rin. Umurku tujuh belas tahun. Hobiku bermain game. Kegiatanku sehari-hari hanya seputar pergi ke sekolah, pulang, makan, main game, belajar, tidur.. dan seterusnya. Kehidupanku sama normalnya dengan jutaan

Jejak Kematian di Lorong Sepi

Oleh:
Di lorong gelap, sepi dan dingin, tubuh kaku menelungkup itu menyeruakkan bau amis darah yang mengalir dari pangkal lehernya. Luka terkuak lebar hingga hampir memisahkan kepala dengan tubuh. Cairan

The Bladekeeper

Oleh:
Di hari yang cerah di suatu desa terdapat orang yang bernama Yunero, dia adalah anggota terakhir dari klannya, dulu semua klannya dibunuh dan desanya dibakar, kecuali ia dan ibunya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *