Devil (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat di ujung koridor seseorang menarik tanganku dan membawaku menuju lapangan tenis.

“Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?!” kuhentakkan tanganku dengan kasar begitu ia telah menghentikan langkahnya.
“Wow… galak sekali untuk ukuran gadis kecil sepertimu.” katanya sambil terkekeh geli. Aku menatapnya tajam, laki-laki ini yang kutemui di tangga siang tadi. Dia bilang aku mempersulit pekerjaannya karena terlalu dekat dengan buruannya.
“Dengar Tuan, aku tidak punya banyak waktu. Targetku menyelesaikanmu hanya satu jam, dan aku tidak ingin itu diperpanjang.” ucapku sambil menatapnya dengan tatapan menantang.
“Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti gadis cantik sepertimu, terlebih kau adalah satu-satunya manusia yang mau bersahabat dengan putriku. Jadi aku beri kau satu kali lagi kesempatan, jauhi gadis buruanku itu dan kau akan pulang dengan selamat malam ini.” tawarnya dengan penuh percaya diri. Dia kira aku akan setuju untuk menjauhi Ayrin dan membiarkan mereka memanfaatkannya, tidak.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” tantangku.
“Aku akan membunuhmu.” jawabnya tegas.
“Lalu bagaimana bila aku yang membunuhmu?” tanyaku dengan tatapan meremehkan. Iblis bodoh ini sepertinya tidak pernah tahu sehebat apa cakraku.
“Lakukan bila memang kau bisa.” jawabnya datar. Tapi aku tahu betul ia sedang berusaha meredam emosinya.
“Aku tidak akan menjauhi gadis itu.” kataku tegas. Kulihat ia mengepalkan tangannya dan mengayunkannya ke tanah, seketika tanah yang ada di depannya meledak. Aku memundurkan tubuhku untuk menghindari ledakan itu, tapi ia terus mengulanginya dengan cepat sehingga aku tidak mampu lagi menghindar dan akhirnya tersungkur terkena ledakannya.

Belum sempat aku berdiri ia telah berlari ke arahku dan mendaratkan kuku tajamnya di pergelangan kaki kiriku. Membuatku yang tadinya sudah hampir berdiri tegak kembali tersungkur di tanah. Dia berjongkok di depanku kemudian mengusap rambutku, dengan cepat kutepis tangannya dengan kasar dari kepalaku.
“Jangan menyentuhku!” ancamku. Tangannya kembali terangkat, semula kukira dia akan mengusap rambutku lagi, tapi kemudian tangannya mulai menggenggam rambutku dan menariknya dengan kasar agar aku mendongak ke arahnya.
“Dengar gadis pembangkang, kau benar-benar menguji kesabaranku. Jangan salahkan aku jika nanti rohmu ini tidak akan pernah kembali lagi ke raganya.” ancamnya.
“Lepaskan tangan kotormu dari kepalaku!” teriakku padanya. Dia melepaskan tangannya dari rambutku dan mulai beralih ke daguku, menahan wajahku untuk tetap mendongak menatapnya.
“Kau gadis cantik yang hebat, aku tahu betul kekuatan cakramu. Jadi, alangkah lebih baiknya kau tidak membuang-buang energimu untuk menolong gadis lemah yang selalu bersamamu itu.” ucapnya datar, namun terdengar penuh ancaman. Aku menepis tangannya, lagi. Kemudian berucap tanpa sedikitpun menatapnya.
“Kau bilang cakraku kuat kan? lalu kenapa kau menginginkan raga Ayrin bukan ragaku saja yang jelas-jelas sangat menguntungkan untukmu?” tanyaku.
“Tidak ada iblis yang bisa menyentuh ragamu, mereka pasti terbakar. Jadi gadis lemah itu adalah pilihan yang tepat, raganya tidak memiliki proteksi apapun yang berarti. Cukup bahkan terlalu mudah untuk dimasuki.” jelasnya.
“Iblis licik.” desisku.
“Aku tidak akan jadi iblis yang kuat jika aku tidak licik, Manis.” bisiknya tepat di depan wajahku.

“Oh.. iya, sepertinya aku harus mengajarimu bagaimana cara bicara yang sopan dengan ayah sahabatmu.” lanjutnya. Tangannya mulai terulur menuju dadaku, tubuhku seakan terkunci hingga tanganku bahkan tak mampu menepis tangannya. Tangannya terus terulur hingga, Ya Tuhan, tangannya menembus dadaku. Menyentuh sesuatu yang ada dalam tubuhku kemudian meremasnya. Aku terus berteriak merasakan tangannya meremas sesuatu dalam tubuhku yang aku tidak tahu apa, yang jelas rasanya begitu perih setiap ia meremasnya.
“Jadi di sini pusat cakramu.” katanya sambil menarik tangannya dari tubuhku. Aku masih terengah sehingga tidak begitu mendengar setiap ucapannya.
“Ternyata aku terlalu tinggi menilaimu, buktinya aku bisa melumpuhkanmu tanpa perlawanan saat ini. Kau hanyalah gadis yang lemah.” ucapnya dengan nada meremehkan. Kedua tanganku terkepal kuat, aku paling tidak suka dianggap lemah. Aku tidak lemah!

Kuhentakkan tanganku ke tanah di depanku, membuat tanah itu retak dan terbelah. Memaksa iblis itu untuk menjauhkan tubuhnya dariku.
“Kau baru mau melawanku saat hampir mati seperti ini?” cibirnya. Aku tidak mempedulikan sedikitpun kata-katanya. Tangan kananku terulur di samping tubuhku menengadah, jari-jariku bergerak pelan seiring dengan terbentuknya sesuatu seperti bola dengan sinar berwarna biru keunguan di tanganku. Iblis itu terus melemparkan bola apinya padaku, tapi tidak ada satupun yang menyentuh kulitku karena terhalang oleh perisai yang kubangun di depan tubuhku yang masih terduduk.
Dengan sekali hentakan kulemparkan bola nila itu ke arahnya. Tidak kusangka bola itu tepat mengenai tubuhnya, membuat ia tersungkur ke tanah dengan kasar.
“Jangan pernah menganggapku lemah!” ucapku penuh penekanan.

Sebelum dia sempat untuk berdiri, kulemparkan puluhan tombak es ke tubuhnya. Kemudian kukurung dia dengan perisai nilaku. Angin bertiup sangat kencang malam itu, kilat menyambar-nyambar namun tidak ada setetes pun hujan yang turun. Kuangkat tinggi-tinggi kedua tanganku keudara, perlahan kupejamkan mataku dan mulai membayangkan hujan turun. Gerimis mulai berjatuhan menimpa tubuhku, kubuka mataku sambil mengulum senyum. Ternyata aku berhasil membuat hujan turun, kukira aku tidak cukup mampu untuk itu.
Sepertinya aku terlalu bahagia karena bisa menurunkan hujan, buktinya aku tidak sadar bahwa iblis itu telah berhasil menghancurkan perisaiku.

“Gadis sialan, kau pikir mudah mengalahkanku, hah!” geramnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, firasatku mengatakan sepertinya ada yang hendak mendekat. Dan benar saja, aku lupa memperhitungkan bahwa setiap malam selalu ada satpam yang berkeliling di sekolah ini. Meskipun dia tak mungkin bisa melihat aku dan iblis itu bertarung, lebih baik kubawa iblis ini menjauh. Aku tidak ingin manusia yang tidak tahu apa-apa terluka. Perlahan aku mulai bangkit dari dudukku, kemudian dengan tertatih aku berlari menjauhi tempat itu. Iblis itu pasti mengejarku, dia tidak akan membiarkan aku pergi.
“Hey… mau ke mana kau!” teriaknya saat kami hampir sampai di lobi. Aku menatapnya tajam. Tangan kananku mulai terulur ke atas, perlahan air hujan yang menetes di tanganku membentuk sebuah cambuk es yang disinari cahaya kebiruan. Kuayunkan cambuk itu ke arahnya tanpa ampun. Awalnya dia masih sempat menghindar, namun semakin lama, entah karena lelah atau apa, gerakannya melambat. Membuat cambuk yang kuayunkan dengan mudah membuatnya tersungkur. Tak puas dengan itu, kuayunkan terus cambukku hingga ia menggeram kesakitan. Baru setelah itu, kudekati tubuhnya yang sudah hampir tidak berdaya itu sambil mengubah cambukku menjadi pedang es.

“Dengarkan aku baik-baik, kau memang cukup hebat untuk melumpuhkanku. Tapi kau tidak cukup hebat untuk membunuhku.” kataku meremehkan. Kuayunkan pedangku ke atas lalu kuhujamkan tepat di perutnya. Seketika tubuhnya berubah menjadi debu dan hilang terbawa angin.
Aku merasakan kakiku melemah hingga tidak kuat lagi menopang tubuhku. Aku jatuh terduduk di tempatku berdiri tadi. Kupejamkan mataku sambil bergumam dalam hati, “Aku telah selesai, aku ingin pulang.”

Kubuka mataku perlahan. Aku telah ada di kamarku, duduk di bagian yang paling kusukai di sini, sudut kamarku. Kulirik jam yang menggantung di dinding kamarku, jam setengah delapan malam. Aku mencebik kesal, ini jauh sekali dari targetku. Harusnya aku sudah selesai dari satu setengah jam yang lalu, payah.

Aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Aku menyentuhnya dengan ujung jari. Darah, gumamku saat melihat cairan merah yang menempel pada ujung jariku. Segera kutarik beberapa lembar tissue di sampingku dan langsung kugunakan untuk mengusap darah itu. Setelah selesai aku berniat berjalan menuju ranjangku, tapi tiba-tiba niatku terhenti. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, bahkan dadaku terlampau perih untuk sekedar bernapas. Aku terbatuk hingga cairan merah itu keluar dari mulutku. Kuusap cairan merah di bibirku dengan kasar, aku tidak seharusnya selemah ini.

Samar-samar kudengar suara gemerisik air hujan dari luar, dewi dalam batinku tersenyum puas. Dengan sekuat tenaga, kupaksakan kakiku untuk berdiri dan berjalan ke luar rumah. Kubiarkan air hujan mengguyurku, setiap tetesnya membuat tubuhku menjadi semakin ringan dan tenang. Aku tidak apa-apa.

END

Cerpen Karangan: Lynne Asti
Blog: GiftInMyLlife.blogspot.com

Cerpen Devil (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penjelajah Waktu

Oleh:
2132- Indopolis ISIS berhasil dihancurkan. Semua orang sudah bisa tenang. Tapi hmmm… ini bisa dibilang gila tapi alien sudah menguasai Bumi (BOOM). Tapi untungnya alat pembuat atmosfer sudah dibuat

The Power of Love

Oleh:
Aku masih mengingatnya. Sepuluh tahun yang lalu, di puncak bukit itu ada sebuah pohon beringin yang rindang. Sulurnya menjulur ke bawah, berwarna kecokelatan di pangkalnya. Dulu aku dan teman-teman

Samaria (Dua Ksatria Dari Bumi)

Oleh:
Langkah kami berdua makin cepat, burung yang kami incar tepat di atas bunker tua peninggalan belanda di hadapan kami, dengan senjata ketapel di tangan dan amunisi krikil yang sudah

Evanity

Oleh:
Saya selalu bercita-cita sebagai pemimpin, dalam segala hal. Tapi sering kali saya menyadari, bahwa saya tidak bisa dikatakan pantas untuk hal itu. Oleh karena itu, saya punya banyak cita-cita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *