Di Balik Horizon (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 14 August 2017

“rino ke sini!” seru redi yang menggenggam tangan rio

Mereka bersembunyi di balik sebuah pohon, peluru mengenai dedaunan dan pepohonan, semakin sering dan semakin jauh ke depan mereka menembakan peluru itu, di samping mereka terdengar suara beberapa kuda berlari menuju arah depan,

“ayo kita ke timur” kata redi yang sudah merangkak di depan,
“rio! Kau sedang apa? Lari dari sana dan bawa pergi tas itu” suara redi begitu kencang mengejutkan rio yang sedang membayangkan kejadian beberapa waktu lalu itu, rio segera tersadar dan segera mengambil tas itu pergi, kesempatan inilah yang dimanfaatkan penyamun untuk mengalahkan redi dan menebaskan sayatan ke lengan redi
“ah..” kata redi begitu kesakitan,
Sebelumnya penyamun itu berhasil melumpuhkan rino di bagian kakinya
Penyamun itu kembali ke ke kuda dan segera mengejar rio, lari rio tak cukup cepat untuk menandingi lari kuda sampai sampai rio terjatuh, dan tasnya terlempar, mengeluarkan beberapa isinya penyamun itu mulai mendekat

“rio ambil ini!” kata redi melemparkan sesuatu dengan tangan kirinya sambil berlari ke arahnya,
“ri.. rio?” kata penyamun itu terkejut melihat wajah rio dan suara panggilan dari redi,
ternyata apa yang dilemparkan redi tidak cukup jauh mencapai rio sedangkan penyamun itu mulai mengeluarkan pedangnya,
“rio temanku” kata penyamun itu,
Rio mengenali suara itu,
“farhan?” kata rio, mereka saling berpelukan karena lama tidak berjumpa setelah peristiwa penembakan itu, redi dan rino hanya menatap heran dari kejauhan
“bagaimana kau bisa selamat? Kenapa kau jadi penyamun? Dan dan kenapa kau punya semua ini?” tanya rio sambil menunjuk pedang dan kuda penyamun itu yang ternayata adalah farhan,
“akan aku jelaskan di perjalanan dan aku sudah tahu tentang kalian sekarang” kata farhan,
Mereka menghampiri redi dan rino,
“kalian jangan banyak tanya dan maafkan aku melukai kalian, sepertinya kalian perlu nama samaran” kata farhan kepada redi dan rino juga ke arah rio,
“semua orang tahu nama kalian” kata farhan,
“aku sudah duga” kata redi,
“ayo ikut aku ke desa kecilku sunny forest” kata farhan lalu menjelaskan pertanyaan rio tadi, bagaimana farhan mencoba menyelinap masuk dari kerumunan itu menuju pintu dan berhasil selamat, semua yang selamat diungsikan ke portland, tapi farhan tidak mau, dia menyusuri jalan sendiri menuju desa kecil sunny forest dimana pamannya tinggal, dia dilatih dan diberi kuda oleh pamannya untuk mencari temannya yaitu rio yang semua orang tahu sebagai orang yang menuju sunrise menyelamatakan semua orang dari kelompok berkuda dan bersenjata yang namanya phenomian atau orang orang phenom yang berasal dari kota phenom, kota dimana tersebar berbagai jenis ular berbisa, dia juga memberikan nama samaran untuk ketiga orang itu, yaitu kelompok peluit, tidak ada makna khusus dibalik nama itu, penyebaran nama mereka dilakukan oleh para phenomian sendiri yang berhasil menangkap 2 teman redi.

Sesampainya di sana ternyata ada dua perempuan cantik menarik hati rio, sementara redi dan rino diobati, rio berkeliling desa bersama farhan untuk mencari perempuan tadi,
“hei namaku farhan” kata farhan mengenalkan diri sambil menyodorkan lengannya,
“aku peluit 3” kata rio melakukan hal yang sama,
“aku rina” kata gadis itu,
“aku rika” kata seorang gadis di sebelahnya.

Farhan mengajak gadis itu duduk rio ikut duduk dan mendengarkan cerita farhan, sepertinya rina menyukai farhan pada pandangan pertamanya apalagi rika yang begitu antusias, rio menyadari hal itu dan tidak bisa berdaya melawan menyaingi farhan yang memang lebih baik dari rio, setelah mendengar cerita farhan gadis gadis itu bangkit dan segera pergi.

“ada apa dengan mereka?” tanya rio,
“aku belum pernah melihat wanita secantik dia” kata farhan,
“menyebalkan” kata rio memalingkan mukanya tanda kalau dia mulai membenci sahabatnya sendiri

Paginya mereka berangkat melanjutkan perjalanan, farhan ikut bersama mereka tapi ada yang menarik ternyata kedua gadis itu ingin turut serta melakukan perjalanan, tentu saja farhan dan rio tidak menolak, tetapi redi menolaknya, walaupun akhirnya redi setuju mereka ikut,
“sungai pelangi” kata redi,
Mereka menyewa perahu dan menyeberangi sungai,
“aku tahu jalan pintas menuju portland yaitu denga menyusuri sungai ini dan sampai ke pelabuhan” kata farhan
“ide bagus” kata redi,

Tanpa hambatan, mereka sampai di portland,
“kota pelabuhan” kata rino,
Penjagaan di perketat ke semua pintu masuk kota, mereka menyamar menjadi pengungsi dari kota kota lain, tak mudah memang tapi redi punya ide cemerlang, yaitu sebagai anak anak yang mencari orangtuanya di portland dan memang itu tujuan rio dan farhan mencari orangtuanya yang berharap selamat dari kejadian itu, tak banyak pengungsi dari sunnylow yang selamat kebanyakan mereka tewas termasuk orangtua rio dan farhan, tentu saja mereka sedih, rina dan rika mencoba menenangkan mereka, mereka mengenal rio sebagai peluit 3, ada keganjilan memang yang seharusnya mereka saudara peluit tapi hanya rio yang merasa sedih, kedua gadis itu mulai curiga dan berusaha membongkar nama asli peluit, secara tidak sengaja rio melontarkan kata kata yang cukup membuat farhan marah,

“cobaan apalagi? Orangtuaku mati, orang yang kusukai direbut oleh temanku sendiri”,
“apa maksudmu? Kau mau dia?” tanya farhan,
“kau tidak mengerti perasaanku” kata rio, kedua sahabat itu beradu mulut,
“rio!! Sekarang aku benar benar marah denganmu” kata farhan,
Redi dan rino mencoba melerai, tapi rina malah pergi entah ke mana, rika yang menyusul rina tidak mengetahui jejaknya,
“ke mana rina?” tanya redi,
“aku kehilangan jejak” kata rika,

Mereka tak terlalu lama di kota kecil itu, mereka berhasil menyelinap keluar dari kota itu dan melanjutkan perjalanan menuju sunrise,
Perjalanan mereka tidak pernah semudah ini, redi agak curiga dengan itu semua,
“semenjak kita bersama kedua gadis itu perjalanan ini semakin mudah, aku jadi curiga terhadap mereka” kata redi,
Rio dan farhan yang belum juga akur tidak melontarkan sedikit patah kata pun di perjalanan,
“rino! Coba kamu cek tempat tempat di sekitar sini, o ya kamu pergi saja ke bukit itu” kata redi,

Rino mulai menuju bukit itu dia melihat ke arah timur dan melihat kota yang indah dan megah dan dia melihat ke arah barat daya matanya terbelalak melihat segerombolan pasukan berkuda yang menyerang mereka dulu, rino tunggang langgang menuruni bukit,
“hei kalian, bisakah kalian akur? Kita hampir sampai ke sunrise” kata redi,
“semuanya kita harus pergi dari sini dan sebisa mungkin cepat menuju sunrise” kata rino dengan nafas yang terengah engah,
“tidak ada waktu untuk bertanya” kata rino yang melihat mulut redi yang mulai membuka,
Mereka segera lari dan bersembunyi di sebuah gua yang sempit,

“syukurlah kita lolos” kata rino setelah segeromolan orang itu melewati gua itu dan tidak menemukan mereka,
“ayo kita harus cepat” kata redi,
Mereka bergegas keluar gua dengan hati hati, lalu berlari ke arah sebuah kota yang tampak jelas di hadapan mereka, saat mereka sampai di bebuah lembah dengan perbukitaan kecil di sekelilingnya, mereka melihat beberapa orang sedang memperhatikan di atas bukit, lalu semakin banyak dan menyeluruh mengitari setiap bukit,
“kita dikepung” kata redi,
Mereka segera turun dari bukit dengan jumlah yang tak terhingga,
“sekarang aku benar benar akan mati” kata rio yang mulai membuka suaranya,
“kalian pasti heran kenapa kami mengerjar kalian? Dan tahu posisi kalian” kata salah seorang di antara mereka yang sepertinya pemimpin pemberontak itu,
“serahkan tas itu dengan damai, maka aku akan melepaskan kalian” kata orang itu,
“rina kemari dan bawa alat itu” kata pemimpin kelompok itu,
Mereka melihat rina yang bersama mereka saat itu membawa alat peta holo yang sepertinya terjatuh saat mereka di serang farhan,
“rina?” kata rio dan farhan berbarengan,
“aku sudah menduga ada firasat buruk tentang mereka, sepertinya kita harus hati hati dengan wanita yang bersama kita ini” kata redi,
“tidak, aku tidak menyangka temanku masuk dalam kelompok pemberontak itu” kata rika,
“tentu saja kalian terlalu mudah untuk dibodohi” kata rina dari kejauhan,
“lihatlah orang yang kalian perebutkan” kata rino,
Rio dan farhan mulai mencairkan suasana mereka yang selalu panas,
“lalu bagaimana kita sekarang?” tanya rino,
Redi mengeluarkan pedangnya, rino, rio dan farhan juga mengikuti sementara rika hanya menyiapkan kuda kuda dengan 2 pisau di tangannya,

“kalian ingin cara kekerasan, pedang kalian tak akan berguna” kata pemimpin gerombolan itu,
Pasukan itu tiba tiba menyiapkan kuda kuda menembak, tentu saja redi dan teman temannya terkejut, mereka tak akan bisa melawan peluru yang ditembakan,
“siap?” kata redi,
“siap mati?” tanya rino,
“tentu saja siap melarikan diri” jawab redi,
“apa?” mereka terkejut,
“iya” kata redi,
“kau mulai gila redi” kata rino,
“segila itu?” kata redi yang menunjuk ke arah langit lalu tiba tiba muncul beberapa helikopter yang mulai menembaki pasukan yang mengepung mereka,
“apa?” pimpinan kelompok itu terkejut juga semua pasukannya dan langsung mengerahkan peluru ke arah heli heli itu,
“ayo!” kata redi seraya mengajak lari, mereka berlari menuju heli heli itu dan menumbangkan pasukan bersenjata itu,
“jangan sampai mereka lolos” seru pemimpin pemberontak, yang langsung menembaki redi dan teman temannya, tentu saja mereka bisa menghindari peluru di tengah kerumunan dan langsung menaiki salah satu helikopter, beberapa helikopter lainnya telah jatuh dan meledak, mereka segera pergi ke sunset yang tinggal beberapa kilo lagi,

“kenapa kamu bisa tahu itu?” tanya rino ke redi,
“aku akan singkat saja, aku menemukan kertas saat tas itu terjatuh dari tangan rio kertas itu berisi sebuah nomor telepon aku menelepon nomor itu saat di portland, sederhana kan?” kata redi,
“kenapa tidak disuruh jemput saja dari sana?” tanya rio,
“aku ingin sesuatu yang lebih menantang” jawab redi,
“apa? Kau membahayakan kami” kata farhan yang mencoba memukul redi dengan keras,
“tenanglah, lagi pula kita jadi tahu berada di pihak manakah gadis itu” kata redi sambil menahan tangan farhan,
“kau benar, temanku itu penghianat” kata rika yang sedang murung,

“kita sampai” kata redi,
Mereka langsung menyerahkan, tas itu ke seseorang yang ternyata orang itulah yang memberikan tas itu,
“terima kasih kalian telah menjaga tas ini” kata orang itu,
“kenapa kau tak membawanya sendiri?” kata redi yang terkejut tentu semuanya terkejut,
“aku tidak mungkin membawa ini sendirian, aku menyamar sebagai pengungsi ke kota ini” jawab orang itu, lalu mencerikan panjang lebar tentang perjalanannya, mereka mulai mengerti,

“tapi bagaimana dengan pemberontak itu?” kata rio,
“tenang mereka sudah dikepung kemiliteran dan pasti akan tertangkap” kata orang itu,
“baguslah sekarang aku tidak takut” kata rino,
“ayo kalian ikut aku” kata orang itu,

Mereka akhirnya mendapat kehormatan sebagai pejuang melawan pemberontak, tapi sepertinya rio belum puas lalu dia mengajukan pertanyaan,
“bagaimana kau menciptakan alat alat itu? Dan apa fungsi bola yang pemberontak itu inginkan?” tanya rio pada orang tadi,
“kau harus banyak belajar untuk mengetahui segala hal tapi kau tak perlu mengetahui semuanya” kata orang itu memegangi rambut rio.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayayat
ig: @hidayatnur698

Cerpen Di Balik Horizon (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kami Tak Berwajah

Oleh:
Pukul sepuluh pagi, kereta tiba di stasiun. Terlambat lima belas menit karena perbaikan jalur, sebuah hal yang sangat tidak biasa terjadi. Rumor mengatakan bahwa ada sekelompok teroris yang merusak

Reincarnation

Oleh:
“Bangsa Peri itu ialah makhluk hidup yang tinggal di hutan lebat. Mereka adalah makhluk yang memiliki sayap yang indah dan dipenuhi kemilau. Kehidupannya pun hampir mirip dengan kita. Bedanya,

The Guardian Weather and Little Girl

Oleh:
Samar-samar dari kejauhan terlihat ada sorang anak perempuan sedang menghampiriku dan teman-temanku. Kelihatannya anak perempuan itu bingung sekali saat tepat brada di depan kami. Entah apa yang dipikirkannya waktu

Chocolateland

Oleh:
Semilir angin berhembus, menerpa poni rambut Cellen yang berwarna hitam kecokelatan. Di tangan kanannya, ada sebungkus cokelat, tanpa menunggu lama, Cellen menghabiskan cokelat itu dalam waktu singkat. Belakangan ini,

Arkhan Si Kesatria

Oleh:
Pada suatu masa terdapatlah sebuah kota kerajaan yang bernama Hunts yang diserang oleh sekelompok setan api. Kelompok tersebut dipimpin oleh masternya yang bernama Dray. Wujud Dray berupa setan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Di Balik Horizon (Part 3)”

  1. messy says:

    I always read the short story every night.Thanks your cerpen.mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *