Dia Adalah Fana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

Sore ini awan hitam penuhi angkasa. Udara menjadi dingin. Senja tak akan berwarna kemerahan hari ini. Kemudian sepi kembali merambat secara perlahan menyelubungi tubuhnya yang telah terduduk di tepi jendela. Tak ada senyum di bibirnya. Matanya sendu.

Dari matanya gedung-gedung, jalanan dan orang-orang lenyap. Hanya ada awan, tanaman, bebatuan. Di matanya menjelma taman yang ditumbuhi rerumputan juga pohon beringin yang menjulang. Di matanya, warna menghilang, kecuali hitam dan putih, lalu kelabu, lalu abu-abu.

Angin kemudian datang menjemput. Membawa bisikan dari suara yang sunyi. Angin datang menerpa wajahnya melukiskan mawar yang layu yang berwarna kehitaman. Ia tak beranjak dari jendela dan membiarkan angin membelai rambutnya yang kelabu. Rambut itu menari bersama angin diiringi nyanyian sunyi yang dibawanya.

Hujan turun membasahi setiap jengkal taman di matanya. Membawa bau tanah dan rumput naik dan bercampur dengan udara. Ia menghirup udara itu dengan dalam, memenuhi rongga dadanya yang telah lama sesak. Sesak karena bosan menghirup udara kotor perkotaan yang penuh polusi, bau busuk sampah, dan aspal yang selalu ramai oleh kendaraan yang berlomba untuk datang dan pergi. Ia menghirup udara dari hujan, tanah dan rumput itu dengan rakus. Orang-orang sudah lenyap dari matanya, siapa lagi yang butuh udara beraroma hujan, tanah, dan rerumputan itu selain dirinya? Begitu pikirnya.

Ia mengeluarkan udara itu, menghirupnya lagi dan lagi. Kini paru-parunya penuh oleh bau hujan, tanah, dan rerumputan. Bunga mawar layu di wajahnya mekar lagi. Wajahnya tak sendu lagi. Rambutnya berhenti melambai. Dia tersenyum lagi.
Mawar di wajahnya kembali layu. Senyumnya memudar. Rambutnya kembali melambai. Wajah itu sendu kembali.

Waktu berhenti, menjelma menjadi sebuah tangan. Tangan itu menggenggam dia. Dia berdiri mengikuti tangan itu menuju ke detik yang berjalan secara terbalik, tangan itu menyerahkan dia ke detik. Detik membawa dia pergi ke malam hari. Malam yang tidak hitam putih. Malam di atas bukit yang di bawahnya lampu kota sedang menyala-nyala. Malam yang langitnya begitu jelas, karena awan sedang menemani hujan di sore hari yang hitam putih. Malam yang dihiasi bulan tanpa bintang, dan oleh karena sinarnya malam menjadi bermandikan cahaya keperakan yang romantis.

Gambar di wajahnya mewujud menjadi sapu tangan. Kemudian. Air mata menetes satu demi satu dari wajahnya, lalu deras. Semakin deras diiringi raungan yang pilu. Yang membuat semua pajangan malam merunduk. Satu persatu cahaya lampu kota itu mati. bulan pun meminjam awan dari hujan dan menutupi cahayanya. Malam pun menjadi pekat sempurna. Ia terus menagis tersedu-sedu.

Waktu yang tak tahan mendengar isakan dia kembali menjadi tangan. Mencoba menghapus air mata dia dengan sapu tangan, membelai rambut dia dengan lembut, menundukannya di pangkuan malam yang gelap. Dia berhenti terisak.
“Aku mau pulang sekarang”

Waktu membawanya kembali ke balik jendela. Kenyataan kembali, semua normal lagi di mata dia. Ia bangkit dan waktu meninggalkanya.

Cerpen Karangan: Bazilie
Blog: Sastraanonim.blogspot.com

Cerpen Dia Adalah Fana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chaca

Oleh:
Chaca adalah gadis yatim piatu, dia tinggal bersama ibu tiri dan kakak tirinya. “Chaca! Cepat kemari!” panggil Ibu tiri. Chaca segera menghampiri ibu tiri dengan tergopoh-gopoh. “Buatkan Ibu teh!

Penyelamat

Oleh:
Di dunia nyata ini, hidupku terasa hampa. Tidak ada seorang pun teman yang dapat menghiburku ketika aku sedih. Seperti kebanyakan orang yang berada di posisi ‘merasa paling tak berguna’,

Hidup Memberi Pilihan

Oleh:
Tahun 2020 hiduplah dua anak. Mereka tinggal di sebuah kota tua di Utara Indonesia yang bernama Bukit Senegal. Mereka berdua kembar. Mereka bernama Rini dan Riski. Mereka terlahir sebagai

Bunga Mawar Dan Rumput Liar

Oleh:
“Hai, Mawar selamat pagi? Ceria sekali kamu hari ini?” sapa merpati yang hinggap di salah satu batang daun pohon jambu dekat bunga Mawar. “Kau rupanya Merpati, tentu saja aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *