Diriku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 30 September 2013

Berawal ketika matahari terbit begitu menyilaukan, aku terpekur di depan cermin dengan sisir di tangan. Terdiam membisu mengamati bayangan yang kian tua dan tumbuh. Teringat olehku kejadian seminggu yang lalu, ketika pesta perpisahan sma digelar. Riuh rendah suara tawa, bising dan higar bingar musik ini memekakkan telingaku namun apa mau dikata, ini adalah acara terakhirku bersama temanku jadi mau tak mau aku harus menikmatinya – setidaknya berpura-pura menikmati.

“key? Kenapa bengong? Ringgo sudah menunggu di depan.” ibu menepuk pundakku sekali, membuat lamunanku buyar berantakan.
“iya bu, aku selesaikan dulu menyisirnya. Biarkan saja perjaka tua itu menunggu.” ucapku asal.
Dengan tampang kecut ibu beranjak dari sisiku, ia terlihat tak suka akan komentarku tapi tak jua mengatakannya. Aku tau, ibu bukan orang yang gemar mengajakku ribut, tidak seperti ayah, yang selalu punya alasan untuk menentang setiap kata yang ku ucapkan.

Lambat kuselesaikan kegiatanku di depan cermin lalu menggiring tubuhku menuju ruang tamu, sepasang mata mengamati kedatanganku. Mata itu mata teman sdku yang beranjak dewasa tanpa ku tahu perkembangannya.
“sudah lama?” tanyaku basa-basi
“tidak, baru saja aku datang.” dia terlihat kikuk, tapi juga terlihat buas bagiku.
“kalau begitu ada apa? Aku tak ingin membuang waktumu yang sangat berharga, jadi aku pikir seorang anak juragan perkebunan tidak akan mau membuang waktunya hanya untuk berbasa-basi di rumah teman lamanya bukan?” ujarku sarkastik. Haha, tawaku tertahan melihat pria yang kumisnya baru tumbuh itu gelisah. Aku melihatnya meremas remas tangannya sendiri dan mulutnya terkatup lalu terbuka, persis ikan salmon.
“kata bapak, kita dijodohkan dan kupikir aku harus menemuimu untuk membahas ini. Aku tidak mau dijodohkan begitu saja key, aku mau yang jadi istriku kelak adalah wanita yang mencintaiku”
Wah, aku tak menyangka ia bisa melancarkan kata-kata seperti itu. Sungguh tidak!
“lalu, apa kamu mau dijodohkan denganku key? Apa kamu cinta?”
“yaa! Aku cinta. Tapi bukan padamu, melainkan pada bapak ibuku yang ayahmu rentenirkan hutangnya menjadi berjuta-juta. Dan aku cinta pada teman sma ku yang kau caci penampilannya di malam perpisahan sma kemarin. Dan kau tahu, aku juga cinta pada nisan kakakku yang tanahnya belum kering jua, ia mati karena kepatuhannya kepada ayahmu yang tega menyuruhnya mencari seekor kambing yang tak pernah hilang.”
“tapi key, aku tak pernah menyuruh mereka melakukan itu. Itu salah bapakku, bukan salahku”
“terlambat, aku sudah berpikir bahwa itu salahmu juga. Dan aku tak mau menikah dengan anak rentenir busuk yang mempermainkan keluargaku. Habiskan teh mu, lalu pergilah dengan tenang!”

Ya! Begitu ia menghabiskan tehnya, ia pergi. Saat tubuhnya mencapai pagar rumah kami, aku melihatnya tersungkur dengan mulut berbusa. Beberapa warga menyemut dan berteriak, ibuku ikut berteriak, aku mendekat memeluk bapak dengan rasa puas. Tak lama setelahnya ambulans datang dengan denging yang tak ku suka. Suara itu mengingatkanku ketika abang dibawa dengan badan membiru dan menggigil dan pulang tanpa nyawa.

Aku tak sengaja memasukkan segumpal obat itu ke dalam tehnya ketika dia sedang tak melihat. Memang bukan salahnya, tapi ayahnya harus merasakan apa yang bapak rasakan. Aku tak akan menyesal melakukannya meski tubuhku terkurung di balik jeruji besi yang dingin, setidaknya disini tak ada suara bising yang menggangguku.

Cerpen Karangan: Ndahsulistyanin
Blog: Http://backpackwriters.blogspot.com
cuma seorang penulis lepas yang iseng mampir dan mengunggah kreasinya. terima kasih jika suka. bisa mengunjungi blog saya untuk sekedar melongok tentang saya

Cerpen Diriku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rena Dan Qilla

Oleh:
Namaku Saffi. Aku bersekolah di SMPN Pelita dan duduk di kelas 7. Pagi ini adalah hari ketujuhku bersekolah. Ku hirup udara segar di pagi hari. Burung berkicau merdu, langit

Delapan April

Oleh:
Hari ini aku berjalan lagi tanpa arah, kesana kemari mencari makanan untuk mengisi perut yang keroncongan ini. Di taman itu aku lihat dia duduk sendirian disana. Aku mulai menghampirinya,

Arwah, I Love You

Oleh:
Disinilah aku saat ini, menangis sendirian di sebuah lorong belakang sekolah, mencoba menyendiri dan menenangkan diri. Apa salahku? Mereka selalu saja membullyku, tidak ada yang membelaku sama sekali. Oh

Beauty Spirit

Oleh:
Dia cantik, lebih cantik dariku. Namun sayang ia tidak pernah bicara sama sekali. Penampilan dan sifatnya yang misterius membuat semua murid di kelasku tak mau mendekatinya sama sekali. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Diriku”

  1. lia'Z says:

    Kren critanya,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *