Doppelganger

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

“Hei, Rika, kemarin sombong banget sih,” Ujar Dika sambil membalikkan badannya, menatap seorang gadis bersurai cokelat ponytail yang baru saja duduk di meja di belakangnya.
“Maksudnya?” Iris caramel Rika menatap bingung ke arah Dika.
“Huh, kau bahkan tak ingat. Kemarin sore kita ketemu di toko buku, saat ku panggil kau malah pergi begitu saja. Menyebalkan,” Ujar Dika mendengus sebal saat mengingat kejadian kemarin.

Menaikkan sebelah alisnya, Rika semakin bingung begitu mendengar penuturan Dika. “Kemarin sore aku tidak ke mana-mana, karena ada tamu di rumah. Kau pasti salah orang, Dik,”
Kali ini giliran Dika yang menatap bingung. “Aku yakin itu pasti kau. Dia bahkan juga hanya mengenakan anting di telinga kanannya, sama persis denganmu kok.”
Rika mendengus sebal, “Jadi kau mau bilang jika aku berbohong gitu? Jika tak percaya, tanya saja Mamahku.” Jelas Rika.

“Doppelgänger,”

Secara refleks, Dika dan Rika menoleh. Mendapati seorang gadis bersurai hitam sebahu, menatap mereka dengan tatapan serius di balik lensa bening kacamata yang dikenakannya.
“Apa itu, Nai?” Heran Dika karena merasa asing dengan apa yang Nai katakan.
“Jika dugaanku benar, itu artinya kau harus berhati-hati Rika. Karena setahuku Doppelgänger itu menandakan jika kematian sudah dekat,” Ujar Nai dengan wajah serius. Rika dan Dika melongo mendengar penuturan Nai.

“Sialan kau, Nai! Nyesel udah dengerin serius ucapanmu!” Ujar Dika sambil mendecih kesal.
“Aku serius loh!” Ujar Nai tidak terima.
“Dosa tahu percaya begituan. Pergi jauh-jauh sana, Nai!” Ujar Dika sambil mendorong-dorong pelan punggung Nai, mengusirnya.
“Jahat! Dasar, Dika jelek!!” Ujar Nai kesal, dia pun pergi ke tempat duduknya yang berada di paling belakang.
Dika hanya menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya kembali menatap Rika. “Udah jangan dengerin orang gila macam Nai.” Rika hanya tersenyum gugup menanggapi Dika. “Ya, kau benar.”

Meskipun sudah menyetujui permintaan Dika tadi pagi, bohong jika dibilang Rika tidak memikirkan ucapan Nai. Justru sebaliknya, bahkan kalimat Nai selalu berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak. Saat ini Rika sedang duduk sambil membaca novel di perpustakaan, Dika memintanya untuk menunggunya di perpustakaan. Sebenarnya Rika heran dengan Dika hari ini. Dia merasa jika hari ini Dika sangat nempel padanya, Rika pergi ke mana-mana selalu diikuti oleh Dika. Mereka memang dekat karena sudah berteman sejak taman kanak-kanak, tapi tetap saja Rika merasa aneh pada Dika.

‘Apa jangan-jangan si Dika juga kepikiran dengan perkataan Nai tadi pagi ya?’ Pikir Rika sambil menutup novel yang baru saja ia baja, lalu merogoh saku seragamnya untuk mengambil ponsel kesayangannya. ‘Memang benar sih, di kelas Nai memang dikenal sebagai murid yang aneh karena memiliki cara berpikir yang berbeda. Tapi tak apalah, aku penasaran juga sama istilah yang Nai katakan.’ Pikir Rika mengetik sesuatu di ponsel pintarnya. Ia bermaksud untuk mencari tahu apa itu ‘Doppelgänger’. Iris caramelnya menelusuri kata demi kata dalam sebuah artikel yang ia buka. Ia terdiam sesaat begitu irisnya menemukan apa yang ia cari, sebelum akhirnya terbelalak.

‘Benarkah…’ Pikir Rika tak percaya. Ia menghembuskan napasnya pelan, tak sadar jika ia menahan napas, lalu melirik ke arah jendela yang berada di samping kanannya. ‘Benarkah… ada hal semacam itu di dunia ini?!’ Dika melirik gadis yang berjalan bersampingan dengannya. Setelah ke luar dari perpustakaan sampai sekarang Rika terus menundukkan kepalanya, membuat Dika khawatir. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya saat di perpustakaan hingga ia seperti ini? Jika benar ada maka Dika akan menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyuruh Rika menunggu di perpustakaan. ‘Apa dia memikirkan ucapan Nai ya?’ Pikir Dika sambil terus melirik Rika yang berjalan di sampingnya. Ia pun memutuskan untuk bertanya.

“Rik–”
“Hei, Dika..”

Baru saja Dika ingin memanggil Rika, tapi malah Rika yang memanggilnya duluan. Dika tersenyum kecil sebeum akhirnya menyahut. “Ya?”
“Apa aku harus menanggapi serius perkataan Nai tadi pagi?” Rika mengangkat kepalanya dan menatap Dika yang berada di sampingnya. “Aku tahu kalau kau juga kepikiran, Dika.”
Dika mendengus sebal, “Apaan sih. Sudahlah lupakan ucapan Nai, kau sendiri juga tahu kan Nai itu orangnya seperti apa.” Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Dika meluruskan pandangannya menatap jalanan dengan tatapan bosan.

“Jika kau memang tidak kepikiran, kenapa hari ini kau aneh sekali?” Tidak mau kalah, Rika kembali bertanya.
“Aneh di mananya sih?” Heran Dika menoleh ke arah Rika.
“Memangnya kau pikir aku tak sadar ya? Jelas sekali kalau hari ini kau sangat mengkhawatirkanku, bahkan sekarang kita pulang bersama, mengingat hari ini ada ekskul kesukaanmu yang bahkan tak pernah kau lewati sebelumnya.” Dika membuang mukanya menghindari tatapan tajam Rika. Ia tak bisa mengelak.

“Dika–”
“Udah ah berisik!” Ujar Dika sambil mempercepat langkahnya, membuat Rika berteriak kesal karena ditinggal begitu saja.

“Oi!!” Mengalihkan pandangannya dari ponsel, Nai menatap orang yang telah memukul mejanya pelan. Ia mengeryitkan alisnya saat mendapati Dika menatapnya sengit.
“Oh… Dika? Ada apa?” Tanya Nai dengan santainya mengabaikan tatapan tajam yang tertuju padanya.
“Karena ucapanmu kemarin,” Ujar Dika masih menatap tajam Nai.
“Ucapanku kemarin?” Ulang Nai bingung.
“Soal Doppel.. apalah itu,”
“Oh…” Nai menatap Dika dengan bingung. “Lalu?”
“Jelaskan padaku!” Ujar Dika sambil menarik bangku ke samping meja Nai dan mendudukinya.
“Kau penasaran apa itu Doppelgänger ya?” Tanya Nai sambil mengulas sebuah seringai kemenangan, ini pertama kalinya Dika penasaran dengan istilah yang ia katakan.
“Jika ini tidak menyangkut Rika, aku tidak pernah mau tahu akan hal yang keluar dari mulutmu,” Ujar Dika dengan ketus, lalu menatap Nai. “Cepat jelaskan apa itu,”

Nai menghela napas pelan sambil menyimpan ponsel ke dalam saku seragamnya, sebelum akhirnya menatap Dika.
“Doppelgänger itu berasal dari bahasa Jerman, doppel artinya Ganda dan Gaenger artinya perjalanan.”
“Dari Wikipedia yang ku baca, Doppelgaenger biasanya terlihat oleh orang itu sendiri, karena Doppelgaenger merupakan sebuah pantulan. Biasanya, orang yang melihat Doppelgangernya sendiri akan mati beberapa tahun setelah ia didatangi oleh Doppelgaenger.” Jelas Nai masih menatap Dika.

“Apa kau tahu, sebenarnya aku sendiri takut jika yang kau temui itu benar-benar Doppelganger Rika. Rika gadis yang baik…” Ujar Nai lirih sambil menatap lantai.
Dika mendecih kesal mendengar penuturan Nai. “Oke cukup. Dan ku beritahu satu hal, Nai.” Ujarnya menatap tajam Nai yang saat ini telah mendongakkan kepala menatapnya.
“Yang melihat bayangan Rika itu aku, jadi aku yakin Rika akan baik-baik saja!” Setelah mengatakan hal tersebut, Dika langsung berlari ke luar kelas meninggalkan Nai sendirian dengan ditemani langit yang mulai berubah jingga. “Yah… ketimbang mengkhawatirkan orang lain lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri, Dika.” Gumam Nai menatap langit dengan pandangan kosong.

“Bisa kabur deh dari Dika,” Gumam Rika pelan sambil menghela napas lega. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok gang, bersembunyi dari Dika. “Hm…. pergi ke toko buku dulu deh,” Gumam Rika kembali sambil melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tersebut. Saat sesampainya di toko buku, ia langsung menuju rak buku yang telah tersusun berpuluh-puluh novel tebal yang membuatnya ingin membeli dan membaca habis novel-novel tersebut. Menatap sekeliling ruangan tersebut, membuat Rika kembali mengingat perkataan Dika waktu itu.

“Ah iya…. Dika melihat seseorang yang mirip denganku di toko buku ini. Apa… aku juga akan melihatnya di sini?” Gumam Rika pelan. Ia tanpa sadar meremat pelan novel di tangannya, menyalurkan rasa khawatirnya. “Ahahah… itu tidak mungkin. Seharusnya aku tak usah memikirkan Nai, seperti yang Dika suruh padaku.” Ujar Rika sambil tertawa pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri. Ya, tak mungkin makhluk itu masih ada di sini.’ Mendudukkan dirinya di samping jendela, Rika menatap langit dengan tatapan sendu.

‘Doppelgänger itu….’

Braak!!

Rika tersentak saat mendengar suara benda yang terjatuh. Ia pun menoleh ke asal suara tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi. “A-ahh….” Rika terbelalak kaget melihatnya. Asal suara tersebut berasal dari beberapa langkah di depannya. Dimana terdapat seorang gadis yang sangat mirip dengannya namun memiliki kulit yang lebih pucat darinya berdiri dengan beberapa buku tebal terjatuh. Mata itu… Rambut itu… Dan bahkan anting itu… ‘Benarkah dia….’ Pikir Rika di sela-sela rasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat..

“Tch.. Dan sekarang aku malah kehilangan Rika. Sialan!” Rutuk Dika sambil mengacak rambutnya kesal. Ia saat ini tengah berjalan tak tentu arah. Karena berbicara dengan Nai membuatnya kehilangan Rika. Ia kembali mendecih, pasti Rika menantikan saat dimana ia bisa kabur dari pengawasannya. “Rika! Kenapa kau mematikan ponselmu, hah?!” Lagi-lagi Dika merutuk di tengah jalan. Membuat beberapa pejalan kaki menatapnya dengan tatapan aneh, Dika acuhkan begitu saja. ‘Bagus. Dan sekarang pasti aku dianggap sebagai orang tak waras.’ Pikir Dika mendengus kesal. Saat ini ia baru saja ke luar dari taman mencari eksistensi Rika, namun tidak ditemukannya. Melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, lalu mendesah lelah.

“Sudah terlalu lama aku mencari Rika dan masih belum menemukannya.” Gumam Dika pelan menatap langit yang berwarna jingga, sebelum akhirnya kembali memandang ke depan.
“Ng…?” Alis Dika saling bertautan saat menatap ke depan. Ia tak salah lihat kan? Ia mengucek kedua matanya dan kembali menatap ke depan, memastikan penglihatannya.
“A-apa?” Gumam Dika tak percaya.

Bagaimana bisa? Kenapa ada di sebrang sana? M-mustahil. Dika yakin jika ia tak punya saudara kembar. Dika juga yakin jika ia tak salah lihat. Tapi bagaimana bisa? Dika dapat melihatnya. Di seberang jalan itu. Seseorang yang sangat mirip dengannya. Wajah itu… Rambut itu… Mata itu… Dan bahkan pakaiannya sama persis dengan yang Dika kenakan saat ini. Mungkin yang membedakan hanyalah wajah orang itu terlihat begitu pucat. Mata Dika terbelalak lebar begitu mengingat sesuatu.

“Doppelgänger….” Gumam Dika tanpa sadar melangkahkan kakinya mendekati sosok tersebut. Ia sungguh tak percaya pada perkataan Nai mengenai Doppelgänger, dan sekarang ia berhadapan langsung dengan Doppelgängenya. “Hey Kau!!” Teriak Dika saat melihat sosok tersebut berjalan menjauh. Dika langsung mempercepat larinya mengejar sosok tersebut. Dan membuatnya lupa jika saat ini ia tengah melewati jalan raya… yang saat ini sedang berwarna hijau.

Braaaakk!!!

Rika menatap nanar batu nisan di hadapannya. Dika, sahabatnya, telah pergi selamanya. Rika sangat tak percaya. Padahal ia baru saja ingin bercerita pada Dika kalau gadis yang ia temui di toko buku itu memang seorang gadis yang tak sengaja berwajah mirip dengannya. Gadis itu sedang mencari sebelah antingnya yang terlepas di toko buku tersebut. Ia ingin bilang kalau seharusnya ia mengikuti perkataan Dika untuk tidak percaya akan Doppelgänger. Ia ingin melihat seringai Dika yang menyebalkan itu.

Saat ia berpisah dengan Mia -gadis yang berwajah mirip dengannya- dan saat ia ingin mengirim sms pada Dika. Ia malah mendapati telepon dari Ibu Dika yang menyampaikan berita duka, yang menyesakkan dadanya. Dika mati tertabrak truk. Ia tak bisa diselamatkan karena pendarahan di kepalanya sangat parah. Dan di sinilah Rika. Di pemakaman Dika yang mulai sepi ditinggalkan. Mungkin hanya beberapa orang saja yang tersisa di pemakaman ini. Salah satunya Rika dan Nai.

“Kau tahu, Rika…” Rika menoleh ke arah Nai yang baru saja mengeluarkan suara.
“Dika bertemu dengan Doppelgänger sebelum akhirnya dia tertabrak truk saat itu.”
Rika terbelalak mendengar penuturan Nai. “Dari mana kau tahu?”
“Aku berada di dekat situ waktu Dika tertabrak. Maaf.” Ujar Nai menatap sendu batu nisan di hadapannya.
“Kenapa Nai minta maaf? Ini bukan salahmu kok.” Ujar Rika tersenyum kecil pada Nai sebelum akhirnya mendongakkan kepalanya menghadap langit.

Ah…
Kapan ya aku bisa bertemu Doppelgänger diriku?

The End

Cerpen Karangan: Nurrahmah
Facebook: Nur Rahmah
Hai, nama saya Nurrahmah Agustia. Asal saya dari Bekasi. Saya suka membuat cerita Urban, Horor, ataupun sesuatu yang berbau Psikologi. Ini kali pertama saya mengirim cerita selain ke Fan fiction loh.. jadi maaf kalau penulisannya terasa aneh. Maklum masih baru, hahaha. Ada yang mau jadi temanku? Add aja facebookku #lol
Sekali lagi salam kenal ya para admin, penulis, dan juga reader sekalian.

Cerpen Doppelganger merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeranku Tanpa Sayap

Oleh:
Angin bertiup kencang. Langit kelabu. Daun-daun gugur berhamburan. Pohon-pohon bambu bergoyang. Ada suara seperti memanggil-manggil dari jauh. Tak lama kemudian hilang ditelan angin. Lalu guntur di langit seketika bergemuruh.

The Last Days (49 Days) Part 1

Oleh:
Mungkin mustahil jika seorang manusia dapat mengetahui hari, tanggal dan waktu mereka akan tiada.. Namun, hal mustahil pun akan terjadi jika telah dikehendaki. — Mentari pagi perlahan-lahan memancarkan cahaya

Apel Merah Untuk Nam

Oleh:
5 tahun telah berlalu semenjak kepergiannya.. Hari ini tepat tanggal 17 Oktober yang selalu aku kenang sebagai hari bersejarah. Ya tepat dimana hari kelahiran sahabat karibku, Samuel Ardi. Aku

Chaca

Oleh:
Chaca adalah gadis yatim piatu, dia tinggal bersama ibu tiri dan kakak tirinya. “Chaca! Cepat kemari!” panggil Ibu tiri. Chaca segera menghampiri ibu tiri dengan tergopoh-gopoh. “Buatkan Ibu teh!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Doppelganger”

  1. Nanda Insadani says:

    ide ceritanya unik. Doppelgänger itu beneran ada ya? -,-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *