DOT (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Aku terbangun, yah sudah tiga hari sejak aku memasuki ruangan itu. Sebuah ruangan yang berisi banyak buku, penuh misteri, dan mungkin hanya aku yang tahu. Sejak saat itu tanpa sadar aku terjatuh dari tangga yang membuatku tertidur selama tiga hari. Bukan hanya itu, yang membuatku semakin terkejut adalah rambutku berubah warna menjadi putih kekuning-kuningan. Aneh, sangat aneh. Sekarang mungkin aku layaknya orang aneh yang berdiri di tengah-tengah kumpulan orang-orang normal. Pandanganku kosong, menatap langkah-langkah kaki orang-orang di sekitarku. Suara-suara yang aneh terdengar. Derap langkah kaki, bisikan seseorang kepada temannya, suara tangan yang bergesekan dengan benda-benda di sekitarnya, serta suara napas orang yang berjalan mendekatiku terdengar sangat jelas.

“Hei!” panggilnya. Seorang laki-laki yang tentunya ku kenal. Bagaimana tidak, ia adalah orang yang selalu ada untukku. Bahkan saat kejadian yang menyebabkan aku menjadi aneh seperti ini. “Young Jae!” panggilku sambil sedikit manja padanya. Sifatnya yang pendiam dengan orang lain sangat unik menurutku, aku menyukainya hanya sebagai sahabat tidak lebih.

“Kau malu?” tanya Young Jae.
“Sedikit. Bagaimana kalau salah seorang guru tahu?” ucapku sambil sedikit membuka topiku.
“Ayo ke salon saat pulang sekolah!” ucap Young Jae.
“Ke salon?” tanyaku.
“Mengecat rambutmu. Kau tidak mau kena masalah kan karena ini? Kenapa kau masuk ke sekolah hari ini? Kau masih sakit kan?” tanya Young Jae sambil meraba keningku.
“Aku sehat. Aku hanya terjatuh dari tangga dan tidak ada luka apa pun.” ucapku berusaha menyanggah kata-katanya.
“Kau tidak sadar selama tiga hari. Bagaimana bisa tidak apa-apa?” ucap Young Jae lalu merangkulku.

Di Kelas. Wali kelasku selalu memperhatikanku. Entah apa yang ia pikirkan atau mungkin ia curiga karena topi yang kukenakan. “Ji Hyo! Buka topimu!” ucapnya.
“Maaf. Aku tidak bisa, Pak!” ucapku. “Buka sekarang!” bentaknya. Aku semakin takut. Dia berjalan mendekatiku dan menarik topiku hingga rambutku terlihat.
“Kau mengecat rambutmu?” tanyanya sambil membelalakkan matanya.
“Tidak.” ucapku. “Lalu apa ini?” tanyanya.
“Aku tidak tahu. Setelah aku terbangun, jadinya seperti ini.” ucapku sambil menundukkan kepalaku.
“Ikut saya sekarang!” ucap guru tersebut sambil menarik tanganku.
“Young Jae?” bisikku sambil menatap ke arahnya yang terlihat khawatir.

Aku duduk di sebuah kursi di sebuah salon kecantikan. Mereka siap mengecat rambutku. Namun, kejadian tak terduga membuat seisi ruangan terkejut. Warna hitam cat itu tak bisa membuat rambutku berubah warna. Ia hanya menyerap bahan pewarna itu. “Bagaimana bisa?” ucap guruku.
“Sudah ku bilang. Aku tidak mengecat rambutku.” ucapku. “Ini aneh.” ucap si pengecat rambut.
“Aku tidak akan dapat poin kan?” tanyaku.
“Apa boleh buat.” ucap guru killer tersebut. Telingaku rasanya dipenuhi oleh suara-suara yang ada. Apakah ini yang istimewa dari perubahanku. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantung orang di sekitarku. Sangat berisik.

Sekarang semua orang dengan berbagai agrumentasi tentang penampilan baruku ini membuatku sedikit risih. Setiap berjalan ku dengar mereka membicarakanku, walaupun mereka jauh. Huuh, kesal. Ku tatap sebuah bunga yang sudah layu di taman sekolah. Mawar merah yang telah layu. Ku tatap bunga itu tanpa mengalihkan pandanganku. Ku harap ia bisa hidup lagi. Menjadi bunga yang indah dengan warna merah yang menyala. Tampaknya ia semakin tegak. Warna merah pada bunganya mulai terang, batangnya mulai hijau, dan tanaman itu menjadi hidup kembali. Apa yang ku lakukan saat ini? Aku bisa menghidupkan sesuatu? Sedikit tak percaya, aku mencoba mencari bunga yang sudah layu dan mencoba membuatnya hidup dan ternyata berhasil. Rasa penasaranku semakin meningkat, apalagi saat aku terjatuh di tangga dan tak mendapat luka apa pun tapi tak bisa terbangun selama tiga hari.

Tangga sekolah! Tiba-tiba firasatku menyatakan bahwa aku harus ke sana. Mungkin saja aku bisa masuk ke dalam ruangan misterius yang waktu itu ku temukan. Aku melangkahkan kakiku menuju tangga yang menuju atap tersebut. Turun naik, berulang-ulang ku lakukan. Namun, tak ada yang terjadi. Melompat-lompat pun sudah ku lakukan, tapi tak ada yang terjadi. “Ahh! Apa yang terjadi kemarin?” ucapku mulai kesal. Aku duduk di bagian atas tangga. Apa yang menyebabkanku jatuh? Itulah yang ku tanyakan. Tak ada CCTV dan tak ada saksi mata. Ku dengar langkah kaki seseorang mulai berjalan mendekatiku. Jalan yang santai dan langkah yang kecil. “Kau?” tanyaku setelah melihat orang yang selama ini menjadi musuhku. Ia adalah adiknya Young Jae, Na Eun. Entah apa yang terjadi, ia selalu tidak suka jika aku dekat dengan Young Jae.

“Kau sudah sadar? Ku kira kau tak akan terbangun lagi.” Ucapnya santai. Rasanya hatiku seperti ditusuk oleh ribuan duri tajam mendengar orang yang satu ini berkata begitu.
“Ada yang berubah? Kau mengubah warna rambutmu? Itu tak akan membuat kak Young Jae suka padamu.” ucapnya lagi.
“Aku tidak mengubahnya dan aku hanya menganggap Young Jae sebagai teman bukan lebih. Kau kenapa? Selalu memandangku dengan tatapan tak senang begitu?” tanyaku.
Ia menatapku dan mendekatiku. “Kau tak ingat? Seperti ini!” ucapnya sambil mendorong bahuku. Saat itu aku berdiri membelakangi tangga dan posisiku sangat rentan untuk jatuh.

“Sepertinya kau lupa. Aku menyukai kak Young Jae. Kau tidak punya hak untuk mendekatinya karena aku adiknya. Aku bisa saja membuat dia menjauhimu!” ucap Na Eun sambil menatapku dengan tatapan tajam. “Lakukan saja!” ucapku tanpa tahu apa yang dipikirkan gadis yang satu ini. Tiba-tiba ia terjatuh dan mulai menangis. Ku dengar derapan langkah kaki mendekat ke arahku. “Apa salahku? Kenapa kau begitu membenciku?” tanyanya sambil menangis.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa!” ucapku sambil terus memusatkan perhatian ku ke arah suara yang ku dengar.
“Kenapa kau memukulku? Aku tahu kau menyukai kak Young Jae, tapi kau tidak seharusnya cemburu padaku!” ucap Na Eun sambil terus menangis.

“Apa yang ku lakukan? Aku tidak menyentuhmu sama sekali. Dan…”
“Berhenti!” ucap Young Jae yang ada di bagian bawah tangga.
“Young Jae?” tanyaku. Aku kehabisan kata-kata. Ia mendatangi adiknya dan membantunya berdiri sambil menatapku dengan tatapan marah.
“Aku kecewa! Tak seharusnya kau lakukan ini pada adikku.” ucap Young Jae.

Aku bingung apa yang harus ku lakukan, bahkan kata-kata yang ke luar dari mulutku menjadi tak beraturan. “Aku… tidak… aku tidak… memukulnya. Aku tidak pernah melakukan itu.” ucapku. Ku tahan air mata yang membendung di pelupuk mataku. “Aku kecewa padamu. Aku benar-benar menyesal menjadi temanmu. Kau hanya merusak kehidupanku dan adikku! Kau… Berhentilah berteman denganku!” ucap Young Jae lalu membawa adiknya menjauhiku.

Air mataku tumpah, membasahi pipiku dan jatuh ke lantai. Tak sanggup rasanya ku berdiri, aku menangis di sana. Rasanya bagai tertusuk pedang yang menembus jantungku. Tak ku sangka Na Eun bisa begitu tega membuatku menjadi seperti ini. Aku belum pernah menginginkan Young Jae menjadi pacarku. Aku hanya ingin ia menjadi sahabatku. Sahabat yang selalu ada bersamaku, namun semuanya hancur karena rasa suka dan cemburu yang ada pada adiknya. Aku menyesal, terbangun setelah tiga hari tertidur. Jika ku bisa memilih dan memutar waktu, saat ini mungkin aku lebih menginginkan tak terbangun. Hidupku hancur berkeping-keping.

Keesokan harinya. Ponselku berbunyi saat aku sedang menunggu alarmku untuk berbunyi. “Halo!” ucapku yang setengah tersadar. Mataku bengkak setelah semalaman menangis. “Cepatlah bersiap-siap. Ada sesuatu yang harus membuatmu pergi ke rumah sakit. Sekarang! Aku akan menunggumu di depan gerbang sekolah dengan teman-teman yang lainnya.” ucap salah satu temanku lalu menutup panggilannya. Rumah sakit? Siapa yang sakit? Mungkinkah guruku? Atau temanku yang lain. Atau mungkin… Young Jae. Aku bersiap tanpa memakan sarapanku, aku pergi ke sekolah dan melihat siswa siswi di kelasku menantiku di sana. Tanpa Young Jae. Perasaanku mulai tidak enak. Namun ku coba untuk mengalihkan pikiranku, mungkin Young Jae belum datang. Teman-temanku memandangiku dengan tatapan sedih.

“Ada apa?” tanyaku sambil menatap salah satu dari mereka.
“Ayo kita ke rumah sakit dulu.” ucapnya lalu membawaku ke dalam mobil. Sampai di rumah sakit, aku disambut oleh perasaan tak enak yang mengerumuni pikiranku. Suara bising terus memenuhi telingaku. Tak tahan, aku berbicara dengan sedikit berteriak.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Young Jae?” Mendengar itu, mereka menatapku.
“Kau sudah tahu?” tanya ketua kelas kami.
“Tahu apa? Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku.
“Dia dalam kondisi yang sama denganmu beberapa hari yang lalu karena sebuah kecelakaan.” ucap ketua kelas. Mendengar hal itu, rasa benci, marah, takut, sedih, bercampur menjadi satu.

Apalagi setelah melihat keadaan Young Jae yang tak sadarkan diri dengan alat-alat yang memenuhi tubuhnya, kakiku serasa tak kuat untuk menopang tubuhku. Jika aku bisa, ku ingin membuatnya hidup layaknya tanaman yang ku buat hidup waktu itu. Aku berusaha mencobanya, namun ia tak kunjung membuka matanya. Kedua orangtuanya menatap kami dari luar. Melihat keadaannya yang tak kunjung bangun, aku ke luar. Kepalaku pusing, rasanya seperti baru saja terbentur dengan sesuatu yang keras.

“Kau pucat. Apa kau sakit?” tanya salah seorang temanku.
“Kepalaku sakit.” ucapku sambil terus berpikir tentang Young Jae yang masih memendam kebencian padaku karena masalah kemarin. Ku dengar ada suara yang memanggilku. “Ji Hyo!” panggilnya. Ku rasa itu suara Young Jae, namun itu tidak mungkin. Ia masih membenciku dan masih belum terbangun. Aku menyerah, mungkin dia memang tak bisa lagi menjadi temanku. Ku langkahkan kakiku dan pergi ke sekolah. Tubuhku rasanya sakit dan kepalaku masih terus pusing. Sejenak aku berhenti di lorong rumah sakit. Beberapa menit sebelum aku masuk ke ruangan Young Jae, ku rasa aku masih baik-baik saja.

Aku duduk menatap bunga mawar yang kembali hidup dengan salah satu bunga yang juga mengalami hal yang sama. Sengaja ku letakkan keduanya bersebelahan agar aku bisa membuat ini menjadi benda saksi perpisahanku dengan Young Jae. Ku tatap langit, berharap Young Jae sudah bangun sesuai harapanku. Walaupun ia sudah membenciku sekarang, tapi tetap saja ia adalah orang yang pernah ada di hidupku sebagai seseorang yang berharga bagiku.

Kembali aku tertidur dan terbangun oleh suara dering ponselku. Ku coba menerima panggilan yang masuk ke ponselku, tapi tanpa melihat nomornya. “Halo.” ucapku sambil mencoba mengurangi rasa sakit di kepalaku dengan sedikit memijatnya.

“Ji Hyo.” ucap seseorang yang sepertinya Young Jae. Sejenak ku terdiam, apakah ia sudah bangun?
“Kenapa kau tak di sini?” tanyanya dengan suara yang masih lemah.
“Kau? Young Jae?” tanyaku.
“Siapa lagi? Maaf.” ucapnya lalu terdiam sejenak. Sedikit lega rasanya.
“Maaf. Ku rasa aku tak bisa hidup tanpamu.” ucap Young Jae perlahan.
“Tunggu di sana. Aku akan ke sana sekarang.” ucapku lalu berdiri. Kakiku sedikit lemas, rasanya tak bisa menopang tubuhku. Ku paksakan diriku untuk mempersiapkan diri agar aku bisa pergi ke tempat Young Jae sekarang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Choi Hanna

Cerpen DOT (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taman Magis

Oleh:
Gadis itu masih di sana. Duduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya, air mata masih setia membasahi wajah cantiknya, meski berkali-kali diseka dengan kasar, cairan bening itu tetap tak

Diabolik Lovers (Part 2)

Oleh:
11 tahun kemudian … “Eomma, dimana Woo Shin hyung?,” tanya Min Gyu pada eommanya yang sedang mempersiapkan sarapan, “Eomma tidak tahu. Kenapa kau mencari hyungmu? Biasanya kau selalu bertengkar

Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

Teleportasi

Oleh:
Sang raja siang mulai menjabat posisinya kembali. Hasilkan peluh bercucuran di kening. Es batu sekalipun pasti akan leleh terkena hasil pemerintahannya. Apalagi si bayu tak ingin bekerja sama dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *