DOT (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Sesampainya di sana, ku lihat Young Jae duduk memainkan ponselnya dan kemudian melihat ke arahku. “Bagaimana? Apa masih sakit?” tanyaku sambil menatapnya.
“Kau pucat?” tanyanya sambil menatap wajahku.
“Aku tidak apa-apa.” ucapku sambil memegangi wajahku.
“Kau sakit?” tanyanya. Aku hanya bisa menunduk. Tak bisa ku tutupi keadaanku yang seperti ini.
“Maaf. Saat ku sendiri, aku merasa bersalah, aku merasa tak ada lagi harapanku untuk berada di dunia ini.” ucap Young Jae.
“Aku juga minta maaf.” ucapku. Sejenak suasana di sana terasa hening. Hanya terdengar suara bising dari kejauhan.

“Kenapa jadi serius seperti ini?” tanya Young Jae sambil tersenyum.
“Harus bagaimana lagi?” ucapku sambil mencoba mencari cara untuk menghiburnya.
“Nyanyikan sesuatu untukku. Kau hebat dalam bernyanyi.” ucapnya. Ku tarik napasku dan ku nyanyikan sebuah lagu untuknya, lagu yang sering kami dengar bersama.
“Young Jae.” ucapku perlahan.
“Apa?” tanyanya.
“Ah. Aku lupa ingin mengatakan apa. Maaf yah.” ucapku sambil tersenyum.
“Kau pikun.” ucap Young Jae lalu memukul kepalaku.
“Aww. Sakit.” ucapku.
“Sakit? Apakah sesakit itu? Ku kira lukamu sudah sembuh.” ucapnya sambil mencoba mengelus kepalaku. Aku tersenyum. Rasa sakitnya tertutupi kebahagiaanku.
“Hmm tidak sakit. Kau tertipu.” ucapku. Kami tertawa bersama.

Sebuah buku terlihat di atas meja kamarku saat aku terbangun. Beberapa hari ini aku tidak sekolah karena sakitku mulai parah. Saat aku pergi ke rumah sakit, dokter hanya berkata, ‘Ini aneh. Dia sehat saat terbangun, namun setelah tiga hari ia mulai merasakan efeknya.’ Aku menjadi jarang menemui Young Jae yang masih dirawat. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat telepon saja. Pandanganku kembali tertuju pada buku di meja kamarku. Ku ambil dan ku buka serta ku baca.

“Hei bukankah kau yang memasuki perpustakaan itu. Kau mengambil buku ini sebelum tidak sadarkan diri.”
Lalu tulisan itu menghilang, berganti dengan tulisan lainnya.
“Sebuah rahasia bersembunyi di balik perubahan warna rambutmu.”
“Semakin kau menggunakan kekuatanmu, kau akan semakin terpuruk.”
“Jika kau ingin kembali normal, potonglah rambutmu. Tapi, dengan itu kau akan kehilangannya.”

Ku tutup buku itu, apa ini yang menyebabkanku menjadi seperti ini? Lalu jika ku lakukan sesuai petunjuknya, apakah aku akan kehilangan Young Jae? Ku tutup buku itu dan ku letakkan kembali di atas meja. Aku tak mau kehilangannya, namun aku juga tak mau terus dalam keadaan seperti ini. Huh, sejenak ku coba untuk lupakan apa yang tertulis di buku itu dan bersiap untuk pergi ke tempat Young Jae. Sekarang aku berhasil berjalan menuju ke tempat Young Jae di rumah sakit. Perlahan-lahan ku langkahkan kakiku agar aku bisa sampai ke tempatnya. Ku ketuk pintu kamarnya.

“Masuk.” ucapnya. Aku mencoba membuka pintu, namun tanganku terasa lemas. Ku coba membukanya dengan seluruh tenagaku yang masih tersisa dan ternyata berhasil, namun aku terjatuh saat akan melangkah masuk ke dalam. “Ji Hyo!” ucap Young Jae yang langsung mendatangiku dan membantuku berdiri.
“Kenapa kau ke sini dalam keadaan seperti ini?” tanya Young Jae yang terlihat sangat khawatir.
“Aku hanya ingin melihatmu.” ucapku. Air mataku mendadak keluar dan mengalir di pipiku. Mengingat ternyata salah satu di antara kami memang harus mati.
“Apa kau merahasiakan sesuatu dariku?” tanya Young Jae. Tak ada yang bisa ku katakan. Aku bingung. Bagaimana jika ia tahu kebenaran yang harus kami hadapi. Kemudian, ku rasakan pelukan hangatnya di tubuhku.
“Kau tidak boleh terus seperti ini. Biasanya kau menceritakan semua yang terjadi. Tapi sekarang, kau mulai berubah.” ucapnya sedih.
“Maaf.” ucapku sambil terus menangis.

“Ji Hyo! Bangunlah.” ucap Young Jae. Saat ku buka mataku, ia sudah berada di kamarku.
“Kau? Kenapa ke sini?” tanyaku.
“Apa aku tidak boleh ke sini? Biasanya kita makan di sini.” ucapnya sambil menunjukkan dua kantong pelastik berisi makanan.
Aku tersenyum, kelakuannya sedikit membuatku merasa lebih baik. “Aku akan mengambil beberapa minuman di dapur.” ucapku. Young Jae menganggukkan kepalanya. Terpikir olehku, mungkin aku tak akan sebahagia ini bila tak bersamanya. Walaupun akan menjadi penderitaan untukku, tapi aku bahagia. Ku ambil beberapa minuman dan kembali ke kamarku.

Ku lihat Young Jae berdiri menatapku, dan ku lihat buku misterius itu di tangannya. “Kau melakukannya?” tanyanya dengan nada dingin.
“Maaf.” ucapku.
“Jangan korbankan dirimu demi aku.” ucapnya.
“Tapi aku tidak bisa tanpamu.” ucapku yang tak berani menatap matanya.
“Kau pikir aku bisa? Aku tidak ingin melihatmu hancur karenaku.” ucapnya dengan nada suara yang semakin tinggi.

Aku memilih untuk diam, tak ada gunanya untuk mengatakan apa pun saat ia sedang marah. Apalagi ini menyangkut tentang dirinya. Ia berjalan mendekatiku dan memelukku. “Tolong jangan korbankan dirimu untukku.” ucapnya.
“Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja.” ucapku yang tak bisa berhenti menangis.
“Jika itu memang takdirku, kau tidak bisa mencegahnya.” ucap Young Jae. Ia melepas pelukannya dan memegangi bahuku dengan kedua tangannya.
“Lebih baik kita makan dulu.” ucapnya.

Telah ku putuskan untuk menjalani hariku walaupun dalam keadaan yang semakin melemah. Satu hal yang ku inginkan adalah tetap bersama Young Jae sampai waktunya. Belum ku katakan ini padanya karena ku rasa ia akan sangat marah padaku. Setelah mengalami semua ini, aku baru menyadari, rasa suka yang ada pada diriku bukanlah rasa suka biasa melainkan rasa sukaku sebagai seorang wanita dan ku harap ia memiliki rasa yang sama. Taman ini, mungkin menjadi salah satu tempat favoritku, karena di sinilah aku menemukan kekuatan yang menghidupkan Young Jae kembali. Entah ada di mana ia sekarang, biasanya ia akan menemuiku di pagi hari untuk sarapan bersama. Beberapa menit berlalu, ku lihat ia datang dengan sebuah bekal di tangannya.

“Hei!” panggilnya. Aku tersenyum.
“Aku membuat ini bersama ibuku. Makanlah!” ucapnya. Ada hal aneh yang ku lihat, biasanya ia membawa dua bekal, namun kali ini hanya satu yang ia bawa.
“Hanya satu?” tanyaku.
“Oh… Itu karena aku ingin memakannya bersamamu di satu tempat.” ucap Young Jae.
“Buka mulutmu!” ucapnya sambil menyuapkan makanan di sendok itu ke mulutku. “Ini enak.” ucapku. Kuambil makanan itu dan ku suapkan padanya. Begitu senang rasanya, melihat ia bisa makan dengan lahap dan senyumannya membuatku bahagia. Setelah selesai makan, kami terdiam untuk sejenak.

“Maaf. Aku terlambat datang. Sudah ku pikirkan semuanya matang-matang.” ucap Young Jae.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Sudah cukup aku membuatmu susah dengan adikku yang selalu cemburu padamu, dengan keadaanmu yang memburuk karenaku, dan dengan kau yang selalu berpikiran tentang keadaanku. Ku rasa aku harus mengakhirinya di sini.” ucap Young Jae. Sejenak kata-katanya membuatku membisu. Ku lihat dikeluarkannya sebuah pisau lipat dari dalam sakunya. “Kau harus hidup.” ucapnya.
“Tidak, kau tidak boleh melakukan itu. Kenapa kau memutuskannya tanpa persetujuanku?” ucapku.
“Maaf.” ucap Young Jae.
“Ku mohon, jangan lakukan itu.” ucapku dengan air mata yang terus mengalir.

“Kau tidak bahagia, kau selalu menangis beberapa hari ini. Setiap hari tak ada yang kau lalui tanpa tangisan.” ucap Young Jae sambil memegangi rambutku.
“Ayolah, ku mohon.” Ucapku. Aku kehabisan akal, tak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Aku… Aku menyu…” Ku hentikan kata-kataku setelah helaian-helaian rambutku jatuh di tanah. Ku tatap Young Jae yang tampaknya mulai memudar.
“Kenapa kau lakukan ini?” tanyaku sambil memegang erat tangannya. Berharap ia tidak akan pergi.
“Karena aku menyukaimu bukan sebagai sahabat tapi lebih dari itu.” ucapnya. Perlahan, ia mulai menghilang tertiup oleh angin yang terus saja bertiup kencang. Sejenak aku terdiam dan ku rasakan aku tenggelam di tengah-tengah cahaya putih yang menyelimutiku. Young Jae telah hilang, selamanya…

Ku buka mataku, tubuhku dipenuhi oleh kabel-kabel. Ku tolehkan kepalaku ke samping dan ku lihat ada seorang pria di sana. Terasa di tanganku, ia memeganginya dengan erat. Young Jae? Apakah itu dia? Ku kedip-kedipkan mataku, memperjelas pandanganku. Dia benar-benar Young Jae.

“Young Jae?” ucapku perlahan.
“Kau sudah sadar? Akan ku panggilkan dokter. Tunggu sebentar.” ucapnya. Ku genggam erat tangannya, tak bisa ku biarkan ia pergi setelah apa yang ku alami tadi.
“Kenapa?” tanya Young Jae.
“Jangan pergi.” ucapku singkat. Aku kehabisan tenaga untuk berbicara. Young Jae menatapku.
“Ku mohon jangan pergi.” ucapku. Air mataku menetes dengan sendirinya tanpa ku sadari.
“Kau menangis?” tanya Young Jae.
“Tetap di sini.” ucapku. Ku lihat ia agak bingung dengan kelakuanku.
“Mimpi buruk?” tanyanya. Mungkinkah tadi itu mimpi? Semoga saja, aku sudah sangat bahagia melihat Young Jae di sini dan masih dalam keadaan sehat, walaupun aku tak tahu kenapa aku bisa ada di sini.

“Aku kenapa?” tanyaku.
“Kau tidak ingat? Kau jatuh dari tangga saat mencariku. Kau bermimpi apa?” tanyanya.
“Aku bermimpi buruk sekali. Tapi aku juga bermimpi sesuatu yang bagus.” ucapku.
“Ceritakan yang bagus, aku tak ingin mendengar yang buruk.” ucap Young Jae sambil terus terfokus pada apel yang sedang ia kupas untukku.
“Aku bermimpi, ahh aku malu mengatakannya. Kenapa aku menyebutnya mimpi yang bagus?” ucapku sambil menundukkan kepalaku yang masih dalam keadaan diperban. “Jangan-jangan kau bermimpi hal-hal yang tidak benar?” ucap Young Jae yang membuatku tertawa.
“Haha, bukan begitu.” ucapku.
“Lalu apa?” tanya Young Jae sambil memberikan tampang imutnya di depanku.
“Semacam, kau bilang… Kau bilang…”

“Aku menyukaimu?” tanyanya.
“Eoh? Ahh, begitulah. Itu hanya mimpi tak usah dipikirkan.” ucapku sambil menahan malu.
“Itu benar. Sudah lama ingin kuvsampaikan padamu, tapi aku takut kalau aku hanya membebanimu dengan perasaan sukaku padamu.” ucapnya sambil tersenyum. Bahagia, mendengar ucapannya itu.
“Aku juga.” ucapku tanpa menatapnya.
“Benarkah?” ucap Young Jae sambil tersenyum lalu memelukku.
“Terima kasih.” ucapnya.

Aku tersenyum, syukurlah aku bisa kembali ke dunia yang jauh dari hal-hal aneh. Dunia dimana Young Jae ada bersamaku. Ku tatap bunga mawar yang ada di vas bunga itu, sangat mirip dengan yang ada di mimpiku. Sudahlah, saatnya aku menjalani kehidupan baruku dengan orang yang lebih dari sahabat di sampingku.

The End

Cerpen Karangan: Choi Hanna

Cerpen DOT (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Last Present

Oleh:
“Dad, please, trust me!” Kim So Eun hampir frustasi mengatakannya. Hari ini, untuk kesekian kalinya dia kembali bertengkar dengan temannya di sekolah high school. Bukan dia yang memulai, bukan

The Grim-visaged Man

Oleh:
Pintu kayu ek itu terbuka dengan suara keriut keras meski ia mencoba membukanya perlahan. Segera saja sosok bertudung gelap itu menghambur masuk untuk berpisah dari deras dan dinginnya hujan

Batang Singkong

Oleh:
Aku adalah sepotong batang yang telah berkayu berdiameter kurang lebih 2,5 cm, tubuhku lurus dan belum ditumbuhi oleh tunas-tunas baru. Aku sangat berterimakasih pada Allah SWT karena telah memberiku

Still Heaven At War (Part 2)

Oleh:
Tok tok tok mengetuk pintu. “masuklah.” Jend. Marvin. Natleyn berdiri dan memberi hormat. “duduklah kapten.” Kata Jend. Marvin. “terima kasih, pak” kataku. “bisakah kau tak memanggilku pak, umurku baru

Liliana

Oleh:
Liliana adalah peri yang tinggal di sebuah kerajaan awan atau lebih sering disebut kerajaan Ranjana. Ibunya bekerja sebagai pelayan istana, sedangkan ayahnya adalah penjaga kerajaan yang bekerja sepanjang hari.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “DOT (Part 2)”

  1. aliyah says:

    Jadi apa maksud dari DOT?
    Btw ceritanya keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *