Dunia Dalam Tengkorak (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 April 2019

Silvia, itu namaku. Aku tidak banyak berbicara, aku bukan tipe orang yang punya banyak teman. Tapi itu semua bukan karena aku mengisolasi diriku, bukan karena aku antisosial, pemalu atau apapun, itu semua karena aku adalah seorang Linker. Yup, manusia yang telah mengalami evolusi otak, di abad ini Linker tersebar dimana mana namun jumlah kami sangatlah sedikit tak lebih dari seperempat populasi dunia.

Evolusi otak yang dialami para Linker membuat kami mampu melakukan Telepati, kami dapat berbicara lengsung ke dalam pikiran orang lain, mambaca pikiran orang lain, atau bahkan masuk ke dalam pikiran orang lain.
Itulah yang membuatku tidak begitu bergaul dengan manusia lain, karena saat aku masuk ke dalam pikiran mereka, aku melihat banyak hal hal keji, jahat, egois, kedengkian, kebencian dan hal hal yang sangat buruk lainya yang dipikirkan seseorang, walau mereka tidak pernah mengucapkanya kepada orang lain. Aku selalu melihat kebenaran dalam pikiran orang lain yang tak pernah terungkap, dan terkadang kebenaran itu sangatlah menyakitkan dan mengecewakan.
Namun aku tidak pernah lelah memasuki kepala orang lain, tujuanku hanya satu, menemukan Linker lain. Aku pernah beberapa kali bertemu dengan linker lain, tanda yang membedakan manusia biasa dengan Linker adalah bahwa Linker mempunyai semacam penghalang tak terlihat yang mencegah linker lain untuk memasuki pikiranya. Mungkin juga penghalang itu adalah semacam gelombang otak khusus yang tak dimiliki manusia biasa.

Suatu hari bukanya bertemu dengan Linker lain aku malah bertemu sesuatu yang menakjubkan.
‘Duh kenapa lama sekali pelajaran ini. Sungguh membosankan sumpah..’ itu yang dipikirkan Sania, sahabatku yang duduk di sebelahku saat aku membaca pikiranya. hari itu kami sedang pelajaran Biologi di kelas Bu Isni.
‘Haduh, sudah tinggal 3 bulan menjelang Ujian Nasional tapi kenapa murid murid belum paham juga dengan beberapa materi penting ini?’ Aku mendengar apa yang dipikirkan oleh Bu Isni saat memberi soal latihan tentang bab Genetika.
Tak hanya Bu Isni dan Sania, aku membaca satu persatu pikiran teman teman di kelas. Ada yang sedang memikirkan suatu masalah yang aku harap aku bisa membantunya, namun itu jauh diluar urusan dan jangkauanku. Bisa membaca pikiran banyak orang itu selalu membuatku tidak menyukai banyak orang atau mungkin malah ingin membantu banyak orang karena mengetahui masalah mereka.

Sampai aku terkejut dengan anak laki laki bernama Radit. Radit adalah anak pendiam dan paling cerdas di kelas, bahkan mungkin paling pintar di sekolah, hari ini wajahnya terlihat sedikit pucat. Aku belum pernah membaca pikiranya sebelumnya, namun inilah yang mengejutkanku, saat aku mencoba membaca pikiranya aku tidak bisa.
Aku berpikir mungkin dia adalah Linker sama sepertiku, untuk memastikanya aku mencoba sesuatu yang lebih tinggi lagi dari membaca pikiran, yakni memasuki pikiran. Aku memejamkan mata dan mencoba masuk ke dalam pikiranya, dan… ‘blank.’

Aku membuka mata, dan sangat terkejut, aku berada di sebuah kota penuh gedung tinggi seperti New york. “dimana aku…?” aku bangun membersihkan seragam SMA ku yang entah kenapa tidak kotor walau aku sempat tergeletak di trotoar jalanan. Sesuatu yang menggangguku adalah, kota ini sangat sangat sepi, tak ada satupun manusia atau bahkan serangga sekalipun.
“Whoa.. tunggu sebentar, bukankah aku tadi ada di kelas, mencoba memasuki pikiran si Radit, kok malah.. bagaimana aku bisa sampai di sini?” Gumamku. “apa aku ada di dalam pikiran Radit? tapi bagaimana mungkin? ini jelas jelas dan nyata sekali sebuah kota.”

Lalu ada sebuah bangunan yang sangat mencolok, dan percaya atau tidak itu adalah sebuah istana. Mirip istana presiden di Jakarta. Tak ada keamanan tak ada apapun, sungguh ini seperti sebuah kota yang ditinggal penduduknya, namun anehnya semua terlihat terawat.

Aku memasuki istana terebut, entah kenapa intuisiku mengatakan kalau aku akan menemukan sesuatu di dalam sana.
“Ya Tuhan, aku tidak mengerti ini.” Saat aku memasuki istana tersebut, di dalamnya adalah sebuah ruangan luas dengan dinding dan lantai dari kayu, di dalam ruangan luas itu terdapat belasan rak buku besar dan tinggi berisi ratusan buku buku, saat aku menoleh ke atas ternyata terdapat tangga menuju ruangan lain.
‘jglek..’ ada suara mengejutkan datang dari arah tangga. Seorang laki laki menuruni tangga perlahan dengan menodongkan senjata ke arahku. Saat wajahnya terlihat ternyata dia adalah Radit. “Siapa di sana..?” katanya.
“Ra.. Radit.. kenapa kau ada di sini?”
“Hah..? kau… bagaimana kau bisa ada di sini?” dia balik bertanya.
“Tunggu sebentar, aku sungguh bingung dengan semua ini, di mana ini? di mana kita..?” Pertanyaanku menyerbu.
“Tunggu dulu, tolong jelaskan padaku bagaimana kau sampai di sini..?” dia bertanya balik untuk kedua kalinya.
“Ah.. aku.. itu..” aku sedikit kebingungan harus menjawab apa, aku ragu mengatakan pada laki laki ini bahwa aku adalah seorang Linker yang secara tidak sopan telah berusaha masuk ke kepala orang lain.
“Kau Linker ya..?” aku terkejut mendegar perkataanya, hanya sedikit sekali orang yang mengetahui tentang Linker.
“Heeh?!! Ba.. bagaimana kau tahu..?”
“Astaga, aku tahu Linker itu tidak mengenal sopan santun dengan memasuki dan membaca pikiran orang lain, tapi tak kusangka aku kedatangan tamu seorang Linker.” Dia mengajakku menaiki tangga.

Saat aku sampai di atas, aku melihat sebuah ruang baca dengan atap dan rak rak buku raksasa menjulang tinggi.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu privasimu atau apa, tapi kuakui aku mencoba memasuki pikiranmu karena aku tidak bisa membaca pikiranmu, kukira kau adalah linker, aku hanya berniat memastikanya saja.”
“Mencari linker lain ya? maaf tapi di sini hanya kau Linkernya.”
“Oke sekarang tolong jelaskan, di mana ini? bagaimana kita bisa ada di sini? Dan siapa kau sebenarnya..?” keingintahuanku menggebu.
“Well, secara teknis kita sedang berada di dalam pikiranku. Dan selamat kau berhasil memasuki pikiranku.” ujarnya dengan nada paling tenang yang pernah kudengar dalam sebuah percakapan, sebuah nada bicara yang tidak menunjukan emosi tapi juga bukan nada yang dingin.
“Dunia ini, pikiranmu..?” tanyaku “Kau tahu.. aku memasuki pikiran orang tapi isinya hanyalah gambaran gambaran kenangan dan suara pikiran orang tersebut, tapi ini.” Aku menoleh ke sekeliling dan berusaha menggunakan semua indraku untuk meyakinkan bahwa semua ini sama nyatanya dengan dunia nyata.

“Pernah dengar tentang Mind Palace..?”
“Tidak.”
“Atau nama lainya, Metode Loci..”
“Tunggu sebentar..” aku berusaha mengingat sesuatu yang tidak asing di telingaku tersebut. “Ah! maksudmu metode mengingat sesuatu itu..?”
“Benar sekali, metode Loci atau biasa dikenal dnegan Mind Palace adalah cara menyimpan informasi dan ingatan dengan cara membayangkan sebuah bangunan secara nyata dan mendetil dalam pikiranmu lalu menyimpan informasi informasi itu di ruangan atau tempat yang kau bangun tersebut. Tujuanya membentuk suatu jalur ingatan imajiner yang memudahkanmu untuk menggali suatu memori spesifik.” kali ini nadanya terlihat semangat, seperti orang yang menceritakan pengalamanya pada seseorang yang telah lama tak bertemu.
“Lalu..” aku melihat sekeliling.
“Dalam kasusku, mind palace yang kubangun bukan hanya sebuah bangunan atau ruangan, tapi sebuah Kota.”
“Kau bercanda! maksudmu seluruh kota ini adalah bangunan imajinermu..? tapi lihat sejauh mata memandang kota ini sangat luas, ini bahkan sama dengan kota kota di dunia nyata.”
Dia hanya tersenyum kecil melihat keterkejutanku.
“Astaga, kita harus kembali, kalau benar ini semua hanya di dalam pikiranmu maka artinya tubuh kita masih di kelas kan, kita harus kembali ke dunia nyata.” Aku berjalan menuju jendela Istana yang memperlihatkan pemandangan kota yang luas, langit yang biru, dan bahkan ada gunung dan bukit. Hampir mustahil untuk mempercayai semua ini hanyalah imajinasi seseorang, aku merasa berada di dalam dunia virtual.

“Tenanglah nona..”
“Silvia.. namaku Silvia.” ujarku, aku sedikit kesal karena dia tidak mengingat namaku, bahkan setelah kurang lebih satu semester di kelas yang sama.
“Oke, Sulifah-..”
“Silvia!” aku benar benar jengkel, namun terlintas dibenakku kalau mungkin orang ini hanya bercanda, walau wajahnya hampa.
“Sejak kedatanganmu ke sini hingga saat ini hanya menghabiskan waktu kurang dari satu detik di dunia nyata.”
“hah..? apa maksudmu? bagaimana mungkin..?”
“Aku bukanlah Linker, tapi aku juga bukan manusia biasa, entahlah orang menyebutku apa, tapi aku adalah manusia yang mengalami evolusi otak juga. Kemampuanku adalah berakselerasi pikiran. Dimana aku mempercepat proses berpikirku hingga ratusan kali lebih cepat dari pada pikiran manusia biasa bekerja, saat aku berpikir dunia serasa membeku dan waktu berhenti.”
“Akselerasi pikiran..? ya Tuhan aku baru tahu ada manusia dengan kemampuan seperti itu. Dan itu menjelaskan kenapa kau sangat pintar.” Kami membincangkan banyak hal, terutama hal hal yang tak bisa kubicarakan dengan manusia manusia normal. Kalimat kalimatku meluncur begitu lancar, seolah aku telah menunggu sangat lama untuk menceritakan semua yang ada di dalam pikiranku.

“Aku sudah bicara terlalu banyak, mungkin sekarang waktunya kau kembali ke dunia nyata Silvia. Kau tidak berkepentingankan di sini.” dia mengusirku dengan baik. untuk orang yang kurang berperasaan sepertinya kurasa dia cukup sopan.
“Tunggu. Aku masih ingin menanyakan banyak hal padamu. Akselerasi pikiran, dunia mind palace, wow.. ini.. aku tak pernah mengetahui hal seperti ini.”
Ini pertama kalinya aku berbicara dengan Radit, kalau kupikir pikir sifatnya sedikit mirip denganku, mungkin karena kami sama sama bukan manusia biasa.
“Baiklah, tapi sesegera mungkin kita harus kembali ke dunia nyata oke..?”
Aku mengangguk “Pertama, bagaimana bisa kau membangun semua kota secara jelas dan detil di kepalamu..? ini sungguh luar biasa.” Sejak pencarianku terhadap Linker lain aku menemukan bahwa orang orang Pendiam memiliki dunia yang luar biasa kompleks di dalam pikiranya. namun si Radit ini, ada Dunia secara harfiah di dalam kepalanya.
“Membangun mind palace tidaklah mudah kau tahu, butuh setidaknya satu minggu membangun suatu bangunan secara jelas dan detil. Setidaknya membangun seluruh kota ini sendirian menghabiskan waktu ratusan tahun” dia menjelaskan.
“Hah.. ratusan tahun..?! serius..? memangnya berapa usiamu..?”
“Di dunia nyata usiaku sama halnya denganmu, 18 tahun. Tapi di dunia ini usiaku sudah ratusan tahun. Kau ingat akselerasi pikiranku bukan?”
“Apa kau pernah membicarakan hal ini sebelumnya dengan orang lain..?”
“Tidak. kau yang pertama.”
“Whoa.. lalu selama ratusan tahun dalam dunia imajinasimu ini-..“
“Yup, aku menghabiskan ratusan tahun hidup sendiri di kota idealku ini. Kau tahu, di dunia nyata aku hanya mengupulkan informasi dan pengetahuan, lalu aku membawanya ke dunia ini, memikirkanya, mengembangkan ide, inovasi dan pemikiran lainya.”
“Lalu semua buku buku ini.. adalah buku yang kau baca di dunia nyata..” tanyaku.
“Bukan, dengan akselerasi pikiranku, biasanya aku membaca 25 buku sehari atau lima ensiklopedia sehari, lalu aku membuat ringkasan dari semua pengetahuan yang kuserap, rangkuman tadi berupa buku imajiner seperti semua buku ini, setiap bangunan di kota ini kugunakan untuk menyimpan dan mengkategorikan buku.”

“Aku tak tahu harus bicara apa, ini sungguh gila.” Semua penjelasan ini benar benar meledakan pikiranku “Kau tahu kukira mampu mendengar semua isi pikiran orang lain adalah hal terburuk yang pernah ada, tapi aku tidak bisa membayangkan kesendirian di dalam dunia ini beratus ratus tahun.” sungguh tak sanggup saat membayangkan orang ini hidup dalam kesendirianya tanpa seorangpun yang bisa diajaknya bicara tentang semua pengetahuan luar biasa ini.
Kami malah berbincang di ruang baca imajinatif ini, jujur saja aku tak pernah mengobrol begitu panjang lebar dengan manusia lain senyaman ini.

Cerpen Karangan: Aliffiandika
Blog / Facebook: Aliffiandika Nuzul

Cerpen Dunia Dalam Tengkorak (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

Lost World

Oleh:
“Kehidupan memang seperti roda berputar. Kadang kita merasa sangat bahagia namun tiba-tiba masalah muncul. Itu lah hidup.” Begitu kata orang-orang dulu. Namun pada masa yang kelam ini, tidak ada

Tragedi Badut

Oleh:
Aku selalu kagum, jika melihat gadis berjilbab itu lewat ke gang kosong lima, tempat yang dekat dengan gubuk j*di dan mabuk. Ya, dia lewat lagi, kali ini wajahnya berseri-seri,

Mimpi Buruk

Oleh:
Carrine dengan wujud virtual sendirian di tempat yang entah apa namanya. dia merasa sedikit takut ketika kabut tebal mengelilinginya. kemudian Carrine melihat sesosok wanita yang sekarat. ketika didekatinya, Carrine

Purnama Merah

Oleh:
Lapta, sebuah nama untuk menyebut sebuah pulau buatan. Hanya pulau kecil seluas 610,3 km2 dengan populasi penduduk dua juta jiwa. Sebuah pulau yang berdampingan dengan mitos para manusia di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Dunia Dalam Tengkorak (Part 1)”

  1. Lianizah says:

    good

  2. Muhammad Aldino says:

    wow favorite author akhirnya publish cerpen lagi, waktunya baca 🙂

  3. jay says:

    mind palace? persona 5?

  4. Winda says:

    Apa itu linker kenpa saya mencari di google tidak ad

  5. Andara Claresta Rabbani says:

    Uwauuu… good…

  6. Mia chan says:

    Trus berkarya kak
    Salam dr chan wkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *